apa jadinya jika seorang santri pondok pesantren diharuskan bersekolah disekolah umum. annasya semenjak ayahnya meninggal dia harus menikah muda kemudian pindah sekolah ke sekolah umum.
araf abinaya diusianya yg masih 18 tahun dia harus menikah dengan seorang gadis anak dari sahabat ayahnya. akankah cinta berpihak pada mereka? akankah annasya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rulinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Saat karen masuk kekelasnya dia merasa jemgkel sekali dengan nasya, dia melihat ke arah araf yang sedang duduk dengan teman-temannya. Karen menghampiri araf, "raf.... " rengek karen sambil memeluk araf.
Araf langsung melepas pelukan karen," lo apa-apaan sih!"
Karen menatap pada araf, "raf nasya nendang meja ke arah gue dia juga mau nampar gue" adu karen pada araf.
Araf dan teman-temannya melongo, "ga mungkin nasya kaya gitu" ucap araf
"serius araf bahkan 3 orang cowo teman nasya ikut belain dia kalau lo ga percaya tanya tuh temen-temen gue mereka ikut dan nyaksiin sendiri kok" ucap karen
"ahhh dasar uler paling bisa emang lo kalau ngadu domba orang!" celetuk david tidak senang
"lo ngapain bisa kekelas nasya?" tanya araf serius
"gue.... gue.... gue cuma mau kenalan kok" ucap karen
"hah.... bullshit" sinis david
"lo pikir kita ga tau lo apa ren, lo sama temen-temen lo itu suka cari perkara dan menindas orang lain" ujar daffa dengan tatapan sinisnya
"jangan berani-berani lo sentuh nasya, gue ga peduli lo cewe sampe nasya lecet sedikit aja gara-gara lo habis lo sama gue!" ancam araf
Karen tak percaya kini araf lebih membela nasya dari pada dirinya, "kok lo jadi belain nasya sih, emang dia segitu pentingnya buat lo?"
Araf menatap tajam arah karen, "bukan urusan lo"
****
Saat jam pulang sekolah nasya berpapasan dengan karen and the geng, karen menghadang jalan nasya. Nasya menatap karen, "mo apa kalian?" ucap nasya dengan kesal
"jangan pikir lo sekarang menang, gue peringatin sekali lagi jangan berani-berani lo deketin araf!"
"Apa diotak kalian cuma ada cowo?" tanya nasya menantang, "pakai otak kalian untuk hal yang lebih penting daripada sekedar ribut soal cowo!" ujar nasya sambil menabrak karen keras dan berjalan meninggalkan mereka.
"hah... kurang ajar banget dia" karen yang shock hanya bisa berdiri ditempat.
Nasya melihat araf yang sudah menunggunya digerbang sekolah. Araf melihat arah nasya, "sya... " panggil araf
tidak lama kemudian supir datang menjemput mereka
"ya..." jawab nasya singkat
"Aku dengar tadi kamu ribut sama karen?" tanya araf
Nasya melirik tajam pada araf dan menatap kedepan lagi, "penting emang aku jelasin?" Nasya balik bertanya
"sya.... kalau ada apa-apa bilang sama aku, biar gimana aku suami kamu. Aku harus tau biar bisa lindungin kamu"
"Bukan aku yang cari ribut tapi pacar-pacar mas aja yang mulai"
"pacar?"
"dia bilang dia pacar mas"
"Bohong sya,"
"Aku ga peduli selagi aku permaisurinya mereka cuma selir" ujar nasya ketus
Araf melongo mendengar ucapan nasya, "tapi kamu ga apa-apain mereka kan?"
Nasya menatap pada araf heran, "maksud mas apa?"
"ya aku ada dengar katanya kamu nendang meja dan..."
"iya aku nendang meja ke arah pacar mas itu, karena dia 2x gebrak meja depan aku, karena aku ga peduli dia mo narik kerudung aku ya aku tendang mejalah ehhh dia malah jatoh" jelas nasya panjang lebar
"3 orang teman aku dikelas cowo menghadang mereka yang mau nyerang aku lagi. mereka ga jadi nyerang dan pergi" sambung nasya
"tapi kamu...."
"mas mau belain mereka? hmmhhh.... terserah sih tapi 1 hal yang pasti aku ga akan mengotori tanganku untuk hal kaya gitu" ucap nasya
Supir yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum, "nyonya leni memang tidak salah pilih menantu" batin si supir.
"bukan belain syaa... aku cuma ga mau kamu kenapa-napa" ucap araf
"i'm fine" ujar nasya singkat
"ternyata nasya ga selugu yang gue pikir" gumam araf pelan namun masih terdengar oleh nasya
"Aku memang dari kampung tapi aku bukan orang yang mudah ditindas. Semenjak aku tinggal di ponpes aku terbiasa hidup mandiri dan menjadi lebih kuat"
Araf mengangguk paham,"Dia seperti singa tidur yang kalau diganggu bisa memakan mangsanya" batin araf
"hari ini kita pindah ke apartemen, aku sudah minta bi tini sama bi imah beresin barang kita" ucap araf yang hanya diangguki nasya
***
Mendengar laporan dari supirnya tentang hari pertama disekolah membuat leni geram pda araf. Dia ingin menyidang araf, dia pun memutuskan untuk pulang segera. Saat tini dan imah membawa koper ke mobil leni yang baru pulang langsung masuk.
"araf..." panggil mami yang melihat araf sedang membawa koper turun
"ya mi..."
nasya dan araf mencium punggung tangan leni
"nasya are you ok?" tanya mami sambil mengelus kepala nasya
"iya mi, kenapa?" tanya nasya heran
Mami melihat pada araf, "mami sudah tau kejadian disekolah hari ini raf, mami ga mau ada kejadian serupa lagi. kalau sampai dia ganggu anak mami siap-siap dia dikeluarkan dari sekolah dan mami bisa jamin dia ga akan bisa masuk kesekolah mana pun diindonesia"
"mi..." panggil nasya, "nasya gapapa mi, mereka cuma cemburu karena nasya dekat dengan mas araf" ucap nasya lembut pada mami
"Lain kali kamu harus menjaga nasya lebih baik lagi araf" ucap mami pada anaknya yang diangguki araf
"kami pamit mi,,, hari ini kita pindah ke apartemen" pamit araf pada mami.
"tapi sabtu minggu kalau mami dijakarta kalian nginep disini ya" pinta mami yang masih tidak rela jauh dari nasya
"in shaa Allah mi" jawab araf
"mami baru ngerasain punya anak perempuan yang care sama mami, sekarang harus ditinggal" ujar mami dengan nada sedih
"mami lebay deh kita juga pindah masih dijakarta kok, kalau mami kangen bisa ke apartemen, lagian ga biasanya mami mellow gini"
"kamu ga ngerasain sih gimana rasanya punya anak perempuan yang bisa diajak bareng ngelakuin apapun. kalian anak laki-laki cuek banget sama mami" gerutu mami
Araf memeluk maminya, "maaf ya mi kalau araf cuek selama ini sama mami, tapi araf sayang banget kok sama mami"
Nasya yang sudah tidak canggung oleh mami leni pun ikut memeluk disebelah kanan mami, "nasya juga sayang mami" kemudian nasya mencium pipi mami
"ya sudah kalian hati-hati disana ya, jangan bertengkar ya. Mami sayang kalian" mami mencium araf dan nasya bergantian
"mi... bi tinah aku bawa dulu hari ini untuk bantu merapikan barang ya" ujar araf yang diangguki mami.
***
Dimobil araf yang sedang menyetir melihat nasya yang terus menatap ke depan. Araf menggenggam tangan nasya, nasya menoleh, "maaf untuk hari ini" ujar araf yang disambut senyum oleh nasya kemudian nasya menatap keluar jendela lagi
Jangan lupa like ya, terimakasih
mau belikan rumah utk kamu.
tapi kama Erika masih merayu2 Araf.
dasar perempuan nga punya harga diri