Gadis ABG yang di dekati seorang dokter tampan berwajah bule asli Perancis tapi sayangnya dia adalah seorang Casanova.
Sebuah pernikahan yang terjadi karena kondisi yang tidak diinginkan sang gadis, membuatnya frustasi, merasa kehilangan masa depannya. Cintanya dengan laki-laki yang telah mengisi hatinya semenjak pertama bertemu harus kandas sebelum di mulai.
Bagaimana kisah mereka bertiga? Akankah si gadis bahagia dengan pernikahannya, atau ia akan memperjuangkan cintanya kepada laki-laki yang ia cintai semenjak awal???
Nantikan dan simak terus ceritanya di sini sampai tamat yah ...
jangan lupa untuk di share ke teman, di like, juga klik favorit...🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu itu berat
" Pit, kamu jadi pulang besok? " tanya nyonya Ruth ke Pipit sambil memangku cucunya.
Setelah di rawat di rumah sakit selama tiga hari, akhirnya Armell and the new baby born pulang ke rumah. Dan kini, bayi mungil itu sudah berusia satu bulan.
" Jadi ma. Rencananya Pipit berangkat pagi, ikut bus yang berangkat pertama. Soalnya besok jam 10 harus sudah di sekolah. Gurunya bilang, mau ada pembinaan dari kepala sekolah dulu sebelum cap tiga jari. "
" Kamu mau naik bis? Sendiri? Kamu anak gadis loh."
" Iya, ma. Rencananya abang mau minta bang Damar buat nganter, tapi bang Damar tiba-tiba harus pulang karena ibunya sedang sakit. "
" Mau minta tolong bang Rezky juga nggak mungkin ma. Bang Rezky kan harus membantu mas Seno di kantor. Biar Pipit pulang naik bis aja. Dia ini cewek, tapi jagoan loh ma." tambah Armell.
" Biar di antar sama mang Supri aja. "
" Nggak usah ma. Kalau mama mau kemana-mana, kalau mang Supri nggak ada kan repot. Dan Pipit juga di kampung dua hari. Nggak bisa terus balik kesini. " sahut Pipit karena tidak enak.
" Biar Bryan aja yang antar ma. Kebetulan besok hari Jumat, jadwal praktek cuma bentar. Biar Bryan minta cuti dadakan aja. " ujar Bryan menawarkan diri.
Pipit langsung menoleh ke arah Bryan yang sedang duduk di sofa single. Hatinya menjadi was-was. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak saat mendengar Bryan menawarkan diri untuk mengantarnya.
" Eh, nggak usah, bang... Makasih.. Pipit naik bis aja. Sepertinya lebih aman kalau naik bis ketimbang di antar sama abang bule. " sahut Pipit.
Bryan melotot ke arah Pipit, lalu berdecak kesal. Susah sekali mendekati bocah satu ini, pikir Bryan. Sepertinya gadis ini lebih keras kepala daripada kakaknya. Baru kali ini Bryan merasa susah mendekati seorang perempuan. Biasanya, perempuan-perempuan yang lain, cuma di kasih kedipan mata saja sudah langsung menawarkan diri.
" Bagus juga tuh, Pit. Biar di antar Bryan aja. Daripada naik bis pagi buta lagi. " sahut Nyonya Ruth.
" Eh, nggak usah ma. Beneran, Pipit pulang sendiri aja naik bis. "
" Boleh juga tuh usul jeng Ruth. Mending diantar sama nak Bryan aja, kalau memang nggak ngerepotin. " sambung sang ibu.
Haduh nih ibu kok malah iya-iyain aja sih. Anak gadismu bisa dalam bahaya Bu, kalau di antar sama bule mesum ini. gumam Pipit dalam hati.
Bryan tertawa dalam hati penuh kemenangan. Dia merasa menang karena punya dua orang pendukung utama.
" Mau berangkat jam berapa besok? " tanya Bryan sambil dengan senyum tersembunyi.
Pipit tidak menjawab.
" Pit....di tanyain tuh .." tegur sang ibu.
" Ck. Pagi, sebelum Subuh, biar nggak telat Pipit ke sekolahnya. " jawab Pipit ketus.
" Oke. Aku kesini jam empat besok. "
🧚
🧚
Malam tiba. Pipit sedang berada di dalam kamarnya sambil memainkan ponselnya. Entah kenapa, ia begitu gelisah malam ini.
Tring
Sebuah pesan masuk. Tapi karena Pipit sedang melamun, ia tidak menyadari jika ada pesan yang masuk di ponselnya.
Sedangkan di seberang, seseorang yang sedang menunggu pesannya di balas juga terlihat gelisah. Akhirnya ia menekan ikon hijau panggilan telepon.
Pipit sedikit terkejut ketika mendengar nada dering ponselnya. Ia melihat ke layar ponselnya, melihat siapa gerangan yang malam-malam begini meneleponnya.
Setelah melihat nama si pemanggil, Pipit terlihat begitu bahagia.
" Halo, assalamualaikum bang.." sapa Pipit ke orang di seberang.
" Waalaikum salam..Kamu lagi ngapain, kok Abang kirim pesan nggak di buka. "
" Oh ya? Abang ngechat tadi? Maaf bang, Pipit nggak tahu. "
" Iya, nggak pa-pa. Kamu kok belum tidur udah malam gini? "
" Belum ngantuk, bang. "
" Bukannya besok kamu harus berangkat pagi ya? "
" Iya. "
" Jadi naik bis, besok? Maaf ya, abang malah nggak jadi bisa nganter Pipit pulang. "
" Nggak apa-apa, bang. Kan Abang juga lagi ada halangan. Gimana kabar ibu abang? Nggak parah kan bang, sakitnya? "
" Hem? Ah, ng-nggak.. " jawab Damar dengan nada suara gugup.
" Ibu abang emang sakit apa ? "
" Sakiitt.....Sakit ini ..Asam lambung...Iya, asam lambungnya naik, jadi perutnya sakit. " Damar kembali kesulitan mencari jawaban. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan Damar ini.
" Di rawat di rumah sakit bang? "
" Nggak. Ibu nggak mau abang bawa ke rumah sakit. Cuma di periksa dokter, terus di kasih obat aja. " jawab Damar. " Eh, pertanyaan abang tadi belum di jawab. Pipit besok jadi naik bis? " tanya Damar mengalihkan pembicaraan.
" Eh iya...he...he...he..." Pipit tertawa. " Nggak jadi naik bis bang. Besok di antar sama om dokter bule. "
" Om dokter bule? " tanya Damar agak bingung. " Oh, maksud Pipit, dokter Bryan? " akhirnya Damar ingat siapa yang Pipit sering panggil dengan sebutan om dokter.
" He em. "
" Kok, dokter Bryan yang antar? Bukannya dokter Bryan harus praktek di rumah sakit? " tanya Damar keheranan.
" Dia bilang besok mau cuti. Terus nganter Pipit pulang. Dia sendiri kok yang nawarin diri. Bang Damar doa'in ya, Pipit baik-baik saja, terus balik ke Jakarta dalam keadaan utuh. "
" Maksud Pipit apa? "
" Abang tahu kan, om dokter bule itu cowok macam apa. Pipit takut aja, pulang-pulang udah nggak utuh lagi. "
Jawaban Pipit membuat Damar terkekeh, " Kamu ini terlalu parno-an. Dokter Bryan nggak akan berani ngapa-ngapain kamu. Secara, Pipit kan adik ipar bos Seno. Bisa di pukuli habis-habisan kalau sampai dokter Bryan berani macam-macam. "
" Ya udah, mending sekarang Pipit tidur. Biar besok nggak kesiangan bangunnya. "
" Iya deh..." jawab Pipit. " Eh, bang Damar balik Jakarta kapan? "
" Insyaallah Pipit balik ke Jakarta, Abang juga balik ke Jakarta. Kenapa? "
" Kangeeennnn....." ucap Pipit sambil malu-malu. " Abang kangen nggak sama Pipit? "
" E hem. " Damar tidak menjawab, tapi dia berdehem. Bingung harus jawab gimana. Kalau di suruh jujur, ia juga merindukan gadis ABG itu. Tapi ia ingat akan apa yang hendak ia hadapi esok hari. Bibirnya terasa kelu untuk berucap.
" Bang....." panggil Pipit.
" Iya? "
" Pipit tanya kok nggak di jawab? Abang nggak kangen ya sama Pipit? Apa jangan-jangan, abang di suruh pulang sama ibu abang karena mau di kenalin sama gadis di sana? "
Uhuk....uhuk...uhuk....Damar tersedak ludahnya sendiri.
" Kenapa bang? Abang lagi minum ya? Maaf kalau Pipit buat abang kaget terus kesedak. "
" Ng-nggak kok. Abang nggak lagi minum. "
" Kalau gitu jawab dong bang...Bang Damar di jodohin sama ibu abang? Kalau emang iya, mending jujur aja ke Pipit sekarang deh. Daripada Pipit terlalu berharap. "
" Ng-nggak kok . "
" Kalau nggak, kenapa abang nggak jawab pertanyaan Pipit tadi? Abang rindu nggak sama Pipit? Soalnya Pipit rindu banget sama Abang. Benar apa kata Dilan bang...Jangan rindu, karena rindu itu berat. Tapi Pipit nggak bisa memenuhi larangan Dilan itu. Pipit terlanjur rindu sama abang. " celoteh Pipit.
" Pfft..." Damar menahan tawanya mendengar celotehan anak ABG itu.
" Kok di ketawain sih? Ih, Abang. " Pipit mode merajuk.
" Iya, maaf. Habis Pipit ngomongnya bawa-bawa Dilan segala. "
" Ck! Udah deh bang...cepetan bilang, Abang kangen nggak sama Pipit? Jangan bikin Pipit nggak bisa tidur karena penasaran. Atau Abang bakal Pipit ributin Abang sampai pagi. "
Damar menarik nafas dalam-dalam, " Abang juga kangen sama Pipit. " ucap damar dengan cepat.
" Cie...cie...cie...." Pipit menggoda Damar. " Ya udah deh, kalau gini Pipit bakalan tidur nyenyak. Assalamualaikum, Abang. "
" Waalaikum salam. "
Setelah jawaban salam dari Damar, Pipit lalu mematikan panggilannya, terus melempar tubuhnya ke atas kasur, dan menaruh ponselnya di atas dada sambil menutup mata dan tersenyum sampai akhirnya ia terbuai ke dalam alam mimpi.
Sedangkan laki-laki di seberang sana, nampak gundah dan gelisah. Ia terus berpikir, kenapa jalan hidupnya jadi seperti ini. Bahkan kemarin semuanya masih baik-baik saja. Hidungnya berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.
***
bersambung
Up lagi check......😍😍😍
KARNA BIKIN TRAUMA RMH TANGGAKU YG PERTAMA.😡😡😡😡😡😢😢😢😢😢