Dunia dimana yang kuat yang menjadi raja dan yang lemah ditindas serta dihina. Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Lima sekawan dalam melawan kekuatan jahat milik Tuan Putri Quinella Valencia de Harvest, yaitu bibi dari Putri Mahkota Kerajaan Harvest. Di dunia ini tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kekayaan saja, tapi juga mengandalkan Panggilan Sistem (System Call). Dapatkah Putri Mahkota beserta teman-temannya mengalahkan Tuan Putri Quinella beserta keluarganya, dan mendapatkan kembali haknya sebagai pewaris tahta yang sah, lalu bagaimana nasib keluarga Tuan Putri Quinella? Mari kita simak cerita ini bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SJ K.R.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Pertemuan Yang Tidak Terduga (3)
"Baiklah, aku akan ke barat, Sena kau ke selatan..." Ucap Eugeo terpotong oleh adiknya Sena.
"Baik, siap laksanakan kak." Ucap Sena tegas.
"Dan, Alice kau ke utara. Kita akan berkumpul kembali disini 3 menit lagi. Apa kalian mengerti?" Ucap Eugeo memberikan instruksi kepada Sena dan Alice.
"Kami mengerti." Ucap Sena dan Alice bersama.
"Baiklah ayo kita berpencar cari Luca." Ucap Eugeo yang mulai lari ke arah barat festival lentera lebih dulu.
"Luca!" Ucap Alice berteriak memanggil nama Luca.
"Luca!" Begitu pula dengan Sena yang berteriak memanggil nama Luca dengan kerasnya.
"Kau dimana, Luca!" Ucap mereka bertiga secara bersama ditempat yang berbeda.
"Permisi tuan apa anda pernah melihat orang yang mengunakan baju berwarna putih dengan kerah hijau, lengan kuning dan celana panjang berwarna hitam disini?" Ucap Eugeo bertanya kepada salah satu pedagang yang ada disana.
"Dia juga memiliki rambut berwarna putih perak dengan sedikit warna hitam di sela-sela rambutnya yang berwarna putih perak itu..." Ucap Sena yang berusaha menjelaskannya juga.
"Lalu dia memiliki mata berwarna ungu cerah, dan usianya 15 tahun dia sedikit lebih tinggi dari saya sekitar 1 cm, apa anda melihatnya tuan?" Ucap Alice sedikit cemas.
"Maaf tuan saya tidak pernah melihat orang yang anda bicarakan." Ucap pemilik toko butik itu kepada Eugeo.
"Saya tidak melihatnya Nona." Ucap pemilik toko bunga tersebut pada Sena.
"Hmmm... Kalau tidak salah tadi ada satu orang pelanggan yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan yang anda katakan itu Nona." Ucap pemilik toko buku keliling itu pada Alice.
"Benarkah anda melihatnya, Tuan?" Ucap Alice kepada pemilik toko buku tersebut.
"Ya, Nona. 2 menit yang lalu saya melihat orang itu datang bersama 2 orang perempuan." Ucap pemilik toko buku tersebut.
"2 orang perempuan? Kalau saya boleh tahu bagaimana penampilan dan nama mereka tuan?" Ucap Alice berusaha menggali informasi.
"Hmm... Sebentar saya ingat-ingat dulu, kalau nama kedua perempuan itu Lea dan Ivy mereka menggunakan jubah jadi saya tidak memperhatikannya."
"Orang yang bernama Lea itu memiliki gaya rambut yang unik, rambutnya panjang lurus berwarna ungu cerah dengan potongan rambut pendek disekitar telinganya, dia juga memiliki wajah dan suara yang cukup menawan dan cantik."
"Sedangkan yang bernama Ivy itu di memiliki rambut panjang kepang satu disebelah kanan dia juga memiliki warna rambut kuning kecoklatan, oh ya dia juga memiliki bintik-bintik kecil di sekitar bawah matanya." Ucap Pemilik Toko Buku itu.
"Kemana mereka pergi tuan?" Ucap Alice semakin penasaran.
"Hmm.. sepertinya mereka pergi ke Danau Worthington. Katanya acara pembukaan Festival akan diadakan disana, Nona." Ucap Pemilik Toko Buku tersebut.
"Danau Worthington?" Ucap Alice di dalam hati.
"Terima kasih atas penjelasannya, Tuan. Ini ada beberapa koin emas didalamnya silahkan di ambil, Tuan jangan ragu-ragu." Ucap Alice.
"Terima kasih, terima kasih banyak Nona. Kalau Nona butuh sesuatu silahkan datang ke Toko Buku saya." Ucap Pemilik Toko Buku tersebut.
3 menit kemudian Alice, Sena, dan Eugeo berkumpul kembali di alun-alun festival mereka bertukar informasi tentang keberadaan Luca Castina adiknya Alice.
"Aku tidak menemukan keberadaan Luca, bagaimana denganmu kak?" Ucap Sena sambil sedih diiringi dengan suara helaan nafasnya.
"Sama, aku juga tidak menemukannya, kau Alice bagaimana?" Tanya Eugeo.
"Aku menemukannya." Ucap Alice senang.
"Benarkah? Apa benar kau dimana Luca berada?" Ucap Sena dan Eugeo teriak berbarengan.
"Ya, aku tahu dimana Luca berada." Ucap Alice sambil menceritakan apa yang dia dengar dari Pemilik Toko Buku tersebut.
"Apa Danau Worthington??? Apa kau yakin Luca ada disana, Alice?" Ucap Sena dan Eugeo semakin meninggikan suaranya.
"Aku tidak begitu yakin tapi Pemilik Toko Buku itu bilang kalau Luca ada disana, mau tidak mau kita harus kesana dan mencarinya. Tapi kenapa kalian tiba-tiba meninggikan suara kalian? Telingaku jadi sakit gara-gara teriakan kalian tadi." Ucap Alice sambil menutup telinganya.
"Maaf, maaf kami hanya terkejut saja." Ucap Sena dan Eugeo.
"Ya sudah, ayo kita ke Danau Worthington sekarang. Tapi... Apa kalian tahu dimana letaknya Danau Worthington itu?" Ucap Alice kepada Sena dan Eugeo.
"Tentu kami tahu, karena kami sering pergi kesana kalau sedang bosan." Ucap Eugeo yang penuh dengan percaya diri.
"Ayo kita kesana sebelum hari tambah gelap." Ucap Eugeo lagi.
"Mhmm..." Ucap Sena dan Alice bersamaan sambil menganggukkan kepalanya. Setibanya di Danau Worthington mereka berpencar dan berkumpul kembali untuk istirahat sejenak di bangku sekitar danau.
"Ahh... Capeknya kita sudah berkeliling danau ini sebanyak 3x tapi kita tidak menemukan apapun kita harus bagaimana, kak?" Ucap Sena yg sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku itu.
"Yah.. mau bagaimana lagi kita harus mencarinya kalau tidak Tuan dan Nyonya Castina akan khawatir saat mengetahui bahwa anak laki-lakinya menghilangkan." Ucap Eugeo.
"Hmm.. benar juga apa yang kakak bilang itu. Ayo kita lanjut mencarinya." Ucap Sena sambil berdiri.
......................
Sementara itu di suatu tempat di dekat Danau Worthington. Ada seorang anak laki yang sedang memilihkan lampion untuk teman barunya.
"Berapa harga lampion ini?" Ucap Luca yang sedang membeli lampion.
"Owh... Anda memiliki pengelihatan yang bagus tuan, lampion ini hanya ada tiga di kekaisaran ini, lampion ini dibuat saat kaisar pertama naik takhta setelah beliau memenangkan pertempuran di wilayah Wilona, bagian utara kekaisaran. Karena sekarang hari pertama Festival Lentera dimulai, lampion ini dijual seharga 20 ribu koin emas Harvest saja tuan. Apa anda tertarik untuk membelinya?" Ucap Penjual itu.
"Saya beli semua lampion ini. Dan ini uangnya." Ucap Luca yang mengeluarkan satu kantong berisi koin emas.
"Terima kasih, Tuan. silahkan datang lagi lain kali." Ucap Penjual tersebut sambil melambaikan tangannya ke Luca.
"Hmm... Aku sudah membeli lampionnya dan juga air, apa lagi yang harus aku beli ya?" Ucap Luca berjalan sambil berpikir.
"Hei, bukankah itu Luca?" Ucap Sena sambil menunjuk orang yang dia anggap seperti Luca.
"Hmm... Sepertinya benar, bagaimana kalau kita coba sapa dia?" Ucap Alice, mereka bertiga pun yang langsung menghampiri orang yang Alice tunjuk.
"Hai, apa kau tersesat, bagaimana kalau kami antar---." Ucap Eugeo yang tiba-tiba tersentak karena terkejut.
"Kakak, Eugeo, Sena kenapa kalian ada disini?" Ucap Luca yang ikut terkejut.
"Seharusnya kami yang bilang seperti itu! Kau tahu berapa lama kami mencarimu Luca?" Ucap Sena marah.
"Maaf, aku lupa... Aawwhh!!! Kakak kenapa kau memukul ku?" Ucap Luca yang kesakitan karena dipukul oleh kakaknya.
"Hmm.. entahlah, mungkin kau tau jawabannya, Luca." Ucap Alice sambil tersenyum paksa karena harus menahan amarahnya.
"Wow.. wow.. Alice tenanglah ini diluar, kau jangan menarik perhatian semua orang yang ada di sini." Ucap Eugeo menenangkan Alice yang sedang marah.
"Hmph." Ucap Alice marah.
"Apa mungkin kakak marah? Ini pertama kalinya aku melihat kakak seperti ini. Apa." Ucap Luca berpikir dalam hati.
"Kakak apa kau marah gara-gara aku pergi tanpa memberitahumu?" Ucap Luca cemas melihat kakaknya yang tiba-tiba marah.
"Huh!!" Ucap Alice kesal.
Sukses terus Thor ... Salam kenal dari saya, Aulia 🥰
aku beri vote bunga like n fav
salam. dari istri yang bisu 🙏
semangat ya
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪❤❤❤❤❤❤