Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Lesbi?
Bab 11 Lesbi?
Kalila merebahkan tubuhnya sambil memandang langit-langit kamar. Berkali-kali Kalila membuang napas kasar saat menginggat hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. Entah kenapa, semenjak bertemu kembali dengan Akbar, hidup damai Kalila semakin terusik. Ditambah Danes yang terus menerus membuat dia kesal dengan tingkah lakunya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” teriak Kalila sambil melihat ke arah pintu kamarnya. Ana membuka pintu dan langsung melemparkan senyuman manis untuk anak gadisnya.
Ana pun berjalan mendekati Kalila dan duduk di pinggir kasurnya. Melihat kedatangan sang ibu, Kalila langsung duduk menghadapnya.
“Ada apa, Mi?” tanya Kalila yang cukup pnasaran dengan kedatangan ibundanya.
“Nak, ibu mau bicara sesuatu padamu.” Kalila mengangguk san memandang serius wajah sang ibu.
“... kamu masih menyukai lawan jenis 'kan?" pertanyaan itu membuat Kalila seketika tertawa. Memang selama ini Ana sangat mengkhawatirkan anak gadisnya. Dia sangat takut kalau anaknya menyukai sesama jenis. Pasalnya, setiap pria yang mendekati Kalila semua ditolak oleh anaknya. Itulah yang membuat Ana semakin khawatir tentang kejiwaan anaknya.
“Mami, kok bisa berpikir seperti itu sih? Hahaha ... Lila normal Mi! Lila masih menyukai lain jenis kelamin. Mami ini suka ada-ada saja deh!” Kalila terus terawa mengingat pertanyaan dari sang ibu.
“Ya habisnya kamu enggak pernah kenalin teman cowok yang lagi dekat kecuali Andri. Setiap ada yang mendekati kamu, pasti mundur secara perlahan, karena sikap kamu yang jutek. Cuma Danes yang bertahan sampai detik ini. Itu juga kalau dia masih bersabar.” Kalila tersenyum dan memeluk tubuh sang ibu.
“Mami, Sayang jangan khawatir ya! Lila menolak orang-orang yang mendekati Lila, bukan karena Lila suka dengan sesama jenis, karena memang Lila tidak menyukai mereka. Pasti ada saatnya Lila mengenali lelaki yang membuat hati Lila luluh. Tapi untuk saat ini Lila masih ingin konsentrasi sekolah, 'kan sebentar lagi Kalila ujian. Mami, maafin Kalila ya, selalu saja buat Mami khawatir.”
Ana melepaskan pelukan anaknya dan langsung mengecup keningnya.
“Iya Nak! Sebenarnya, bukan Mami ingin kamu segera menjalin hubungan, mami sadar kalau kamu masih sekolah, tapi setidaknya kamu jangan terlalu jutek dengan teman-teman lelakimu. Kasian mereka kalau kamu jutekin terus. Makanya mami khawatir kalau kamu ....”
“Tidaaaak, Mi!” teriak Kalila sambil tertawa memeluk kembali tubuh Ana. Ana juga ikut tertawa dan memeluk erat tubuh Kalila.
“Sudah malam, kamu istirahat ya, Nak! jangan lupa baca doa!” Ana berjalan keluar kamar sambil melemparkan senyuman dan mematikan lampu sebelum dia keluar dari kamar anaknya.
Kalila jadi berpikir tentang apa yang dikatakan ibunya. ‘Bisa-bisanya ibu berpikiran aku lesbi,’ gumam Kalila sambil tertawa kecil.
Jam weker dan alarm ponsel yang bunyi secara bersamaan nyatanya tidak membuat Kalila bangun dari tidurnya. Seperti biasa, Ana masuk ke kamar anak gadisnya untuk membangunkan Kalila.
“De, suara alarm kamu sudah membangunkan orang serumah, masa kamu enggak bangun-bangun juga?” kesal Ana sambil membuka tirai kamarnya.
“Iya Mi, siap!” ucapnya yang masih tertidur pulas.
“Siap apa? Wong kamu masih tidur. Ayo bangun-bangun! Ana menarik tangan Anaknya sampai dia terbangun dari tidur.
“Mami Kenapa sih? Aku masih ngantuk!” ucapnya tanpa sadar jam sudah menunjukan 06.00.
“Mau Mami siram pake air atau ....” seperti biasa cara jitu itu pasti berhasil membuat Kalila langsung terbangun dan berlari masuk ke kamar mandi. Ana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak dan berjalan keluar kamar Kalila.
Seperti biasa, seusai makan Kalila dan Kama akan pamit, karena Elina yang sudah menunggu mereka. Selama perjalanan, Kalila hanya sibuk dengan ponselnya. Sampai-sampai Kama dan Elina yang sejak tadi mengajaknya bicara hanya dibalas dengan angukan.
Sampai di sekolah, Kalila yang asik memainkan ponselnya.
Bug! “Aw!” teriak Kalila sambil memegangi keningnya yang sakit.
“Makanya kalau jalan itu jangan asik main ponsel!” ucap Akbar yang ada di depannya dan langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Kalila.
“Makanya kalau jalan itu lihat ke depan bukan maen ponsel.” Kalila mengikuti apa yang diucapkan Akbar dan langsung menarik paksa ponselnya dan berjalan meninggalkan Akbar. Akbar terus menatap punggung Kalila sambil tersenyum.
~Bersambung~
Maaf ya Part ini pendek soalnya Author lagi sibuk didunia nyata wkwkwkw...
Terima Kasih All sudah selalu mendukung dan setia❤️