NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — Dunia yang Runtuh dalam Semalam

Tiga bulan sebelum semuanya berubah, Kirana masih menjadi gadis yang mengeluh karena AC mobilnya kurang dingin.

"Pak Slamet, ini AC kayaknya perlu diservis deh," katanya sambil merengut, menatap layar ponsel yang menampilkan story Instagram teman-temannya yang sedang berlibur di Santorini. Ia sendiri baru pulang dari Santorini dua minggu lalu, jadi sebenarnya tidak ada urgensi apa pun selain rasa bosan yang mendera.

Pak Slamet, sopir pribadi keluarga Wibowo selama lebih dari sepuluh tahun, hanya mengangguk sabar dari kursi kemudi. "Baik, Non. Nanti saya bawa ke bengkel langganan."

Begitulah hari-hari Kirana berjalan. Bangun siang karena tidak ada alasan untuk bangun pagi, sarapan yang disiapkan Bi Inem sesuai pesanan semalam sebelumnya, lalu menghabiskan waktu antara nongkrong di kafe mahal bersama teman-teman sosialita, belanja di mal premium, atau sesekali datang ke kantor Wibowo Group hanya untuk duduk di ruangan bertuliskan "Aurelia K. Wibowo — Junior Consultant" yang sebenarnya cuma gelar formalitas dari papanya, karena Kirana jarang benar-benar mengerjakan apa pun di sana selain menandatangani beberapa dokumen yang sudah disiapkan asistennya.

"Kamu tuh," ujar Dewi suatu sore, saat mereka duduk di kafe langganan sambil menyeruput kopi seharga ratusan ribu rupiah, "kerja doang, tapi nggak pernah cerita kerjaannya apa."

"Kerjaanku itu jadi cantik dan menyenangkan buat dilihat di ruang meeting," jawab Kirana enteng, sambil tertawa kecil. "Lagian, aku kan nanti bakal warisin perusahaan Papa. Ngapain capek-capek belajar dari bawah kalau ujung-ujungnya bakal jadi bos?"

Dewi hanya menggeleng, meski senyumnya tetap ada. Dewi satu-satunya teman Kirana yang berasal dari keluarga biasa—ayahnya seorang guru SMA negeri, ibunya membuka usaha katering kecil-kecilan. Mereka berteman sejak SMA, saat Kirana yang duduk sebangku dengannya tanpa sengaja meminjamkan penghapus, dan entah bagaimana persahabatan aneh nan tak sepadan secara ekonomi itu bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.

"Nanti kalau udah jadi bos, jangan lupa gaji aku gede-gede ya," canda Dewi.

"Pasti dong. Kamu kan calon manajer HRD paling galak sedunia," balas Kirana, tertawa.

Mereka tidak tahu, percakapan ringan sore itu adalah salah satu momen terakhir sebelum dunia Kirana yang nyaman itu mulai retak.

Tiga hari kemudian, papa dan mama Kirana terbang ke Singapura untuk pertemuan bisnis penting—sesuatu soal ekspansi Wibowo Group ke pasar Asia Tenggara, meski Kirana tidak terlalu memperhatikan detailnya. Ia hanya melambaikan tangan malas dari balkon rumah saat mobil orang tuanya meninggalkan halaman, sambil berjanji dalam hati akan meminta oleh-oleh tas baru dari mamanya.

Itu adalah lambaian tangan terakhirnya pada mereka berdua.

Kabar kecelakaan itu datang dua hari kemudian, saat Kirana sedang duduk di kursi salon, rambutnya setengah dikeriting oleh stylist langganan. Suara telepon yang bergetar tanpa henti di tasnya awalnya ia abaikan—paling juga notifikasi promo dari toko online. Tapi ketika ia akhirnya mengangkat, suara sekretaris pribadi papanya di ujung telepon membuat dunianya seketika berhenti berputar.

"Kirana... maaf harus mengabari lewat telepon... pesawat Pak Hartono dan Bu Anastasia... mengalami kecelakaan di atas Selat Malaka..."

Kirana tidak ingat persis bagaimana ia keluar dari salon itu. Yang ia ingat hanya sensasi dingin yang menjalar dari ujung jari kakinya hingga ke kepala, seperti seluruh darahnya berhenti mengalir sesaat, dan suara tangisnya sendiri yang terdengar begitu asing di telinganya—seolah bukan dirinya yang menangis, melainkan orang lain yang kebetulan meminjam tubuhnya.

Pemakaman berlangsung megah—ironisnya, kemewahan terakhir yang bisa diberikan keluarga Wibowo untuk kedua pendirinya. Ratusan pelayat datang, dari kolega bisnis hingga pejabat, semua mengucapkan belasungkawa dengan wajah sedih yang entah tulus atau sekadar formalitas sosial. Kirana berdiri di depan dua peti mati, mengenakan gaun hitam yang—entah kenapa hal sekecil itu masih sempat terlintas di pikirannya yang kalut—adalah gaun paling mahal yang pernah ia pakai untuk acara paling menyedihkan dalam hidupnya.

"Aku sendirian sekarang," bisiknya pelan, saat tanah mulai ditaburkan ke atas peti orang tuanya. "Aku beneran sendirian."

Dewi, yang berdiri di sampingnya sepanjang prosesi, menggenggam tangan Kirana erat-erat. Tidak berkata apa-apa, hanya hadir—dan entah kenapa, kehadiran sederhana itu terasa jauh lebih berarti daripada seluruh karangan bunga mahal yang memenuhi area pemakaman.

Setelah pemakaman, Kirana pikir bagian tersulit sudah lewat. Ia pikir yang tersisa hanyalah berduka, menyesuaikan diri dengan kesepian, mungkin belajar mengurus beberapa urusan warisan bersama pengacara keluarga.

Ia tidak tahu, bagian tersulit sesungguhnya baru saja dimulai.

Satu minggu setelah pemakaman, Om Broto—adik papanya yang selama ini selalu tersenyum ramah setiap kali datang ke rumah, selalu membawa oleh-oleh mahal dari luar negeri, selalu memanggil Kirana "princess kesayangan Om"—muncul di rumah dengan wajah yang jauh berbeda dari biasanya. Serius, dingin, dan ditemani dua orang berjas rapi yang membawa map tebal berisi dokumen.

"Kirana, kita perlu bicara serius," katanya, duduk di ruang tamu yang biasanya dipenuhi tawa keluarga saat acara kumpul-kumpul, kini terasa asing dan mencekam. "Ini soal kondisi keuangan Wibowo Group."

Kirana, yang masih dibalut kesedihan mendalam, hanya mengangguk lemah, tidak menyangka apa yang akan menyusul.

"Papa kamu... sebenarnya sudah dalam masalah keuangan besar sejak dua tahun terakhir," Om Broto melanjutkan, suaranya tenang namun setiap kata terasa seperti pukulan. "Investasi-investasi berisiko yang dia ambil, semuanya gagal. Utang perusahaan sudah jauh melebihi aset yang dimiliki. Kalau tidak segera ditangani, seluruh grup bisa dinyatakan pailit, dan itu akan berdampak ke ratusan karyawan yang bekerja di sana."

"Tapi... tapi kenapa Papa nggak pernah cerita?" suara Kirana bergetar.

"Karena dia terlalu bangga untuk mengakui kegagalannya," jawab Om Broto, dengan nada yang—baru disadari Kirana bertahun-tahun kemudian—terdengar terlalu siap, seperti jawaban yang sudah dilatih berkali-kali. "Untungnya, sebagai adiknya, aku sudah menyiapkan beberapa langkah penyelamatan. Aku sudah bicara dengan bank dan beberapa investor. Mereka bersedia membantu, tapi dengan syarat—sebagian besar aset keluarga, termasuk rumah ini, harus dialihkan sementara untuk restrukturisasi utang."

Kirana, yang saat itu masih terlalu hancur untuk berpikir jernih, terlalu lelah untuk mempertanyakan detail hukum yang rumit, terlalu percaya pada sosok paman yang selama ini ia anggap keluarga—menandatangani dokumen-dokumen yang disodorkan tanpa benar-benar memahami isinya.

Kesalahan yang baru ia sadari beberapa bulan kemudian, ketika satu per satu aset keluarga—rumah, mobil, bahkan rekening pribadinya—mulai berpindah tangan, sementara Om Broto perlahan menghilang dari kehidupannya, tak pernah lagi mengangkat telepon, tak pernah lagi muncul membawa oleh-oleh, seolah topeng "paman baik hati" itu memang sengaja dipakai hanya untuk satu momen krusial: saat Kirana paling lemah dan paling mudah dimanfaatkan.

"Aku bodoh," gumam Kirana suatu malam, duduk sendirian di kamar kos sempit yang baru ia tempati—satu-satunya tempat yang mampu ia bayar dengan sisa uang tabungan pribadinya yang tidak ikut dibekukan proses hukum. Kamar berukuran tiga kali empat meter, dengan kasur tipis, lemari plastik, dan kipas angin tua yang berputar dengan suara berdecit setiap beberapa detik—jauh, sangat jauh dari kamar tidurnya dulu yang luasnya bisa memuat lima kamar seperti ini.

Ia menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas, mendengar suara berisik tetangga kos yang sedang menonton sinetron dari televisi tuanya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup dua puluh empat tahunnya, Kirana benar-benar merasa tidak berdaya.

Tidak ada lagi Pak Slamet yang siap mengantar ke mana pun ia mau.

Tidak ada lagi Bi Inem yang menyiapkan sarapan sesuai selera.

Tidak ada lagi kartu kredit tanpa batas yang tinggal digesek kapan saja.

Yang ada hanyalah dirinya sendiri, uang tabungan yang menipis setiap hari, dan pertanyaan besar yang menggantung di kepalanya: sekarang aku harus apa?

Malam itu, sambil menangis dalam diam agar tidak terdengar tetangga kos, Kirana mengambil ponselnya—ponsel lama yang jauh lebih murah dari yang biasa ia pakai, karena yang lama sudah dijual untuk menambah uang sewa kos—dan mulai mengetik di kolom pencarian: "lowongan kerja fresh graduate Jakarta."

Ia tidak tahu bahwa pencarian sederhana malam itu akan membawanya ke sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, ke sebuah perusahaan bernama Arka Corporation, dan ke pertemuan pertama dengan seorang pria yang—tanpa disadarinya—akan mengubah seluruh arah hidupnya untuk kedua kalinya.

Tapi untuk saat ini, yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: ia harus belajar bertahan hidup, sendirian, dari nol.

Dan malam itu, dengan mata sembab dan hati yang masih berdarah karena kehilangan bertubi-tubi, Aurelia Kirana Wibowo mengirimkan lamaran kerja pertamanya dalam hidup—dengan tangan gemetar, tapi dengan tekad yang perlahan mulai tumbuh di tengah reruntuhan dunianya yang lama.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!