Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Rindu ibu
Setelah drama dipasar Safa tidak lagi meminta izin untuk pergi lagi ke pasar.Safa lebih sering terlihat murung,sudah tiga minggu Safa tinggal di Jakarta.
Tiga minggu tidak pulang, tiga minggu hanya video call dengan HP baru pemberian Arga. Tapi malam ini, Safa tidak bisa tidur.
Jam 2 pagi di kamarnya, Safa menatap foto ibunya di HP barunya. Foto ibunya yang sedang duduk di depan rumah panggung mereka dikampung, ibunya masih terlihat kurus namun jauh lebih segar karna mendapatkan pengobatan terbaik dari Arga.
Ditengah lamunannya,mendadak ponselnya berdering.Panggilam vidio masuk dari nomor tidak dikenal.
"Assalamualaikum Safa?"
"Waalaikumsalam,ko Bu Yati.Ada apa Bu?telfon saya malam-malam?"
Di layar ponselnya wajah Bu yati terlihat panik."Safa, ibumu demam lagi dari sore, panasnya tinggi. Tadi sudah dibawa ke puskesmas, tapi dokter bilang harus dibawa ke rumah sakit kota. Obat yang biasa ibu kamu minum susah habis,merasa sudah baik ibu kamu tidak mau menembus lagi.Ibu kamu,terus berkata dia mau minum obat setelah kamu pulang."
Jantung Safa langsung berdegup kencang, Tangannya mendadak gemetar.
"Ibu demam lagi? Panas tinggi? Ya Allah..."
"Iya safa dia terus manggil-manggil nama kamu."
Safa mendengar hal itu air mata Safa mengalir tanpa di komando,dia menangis tanpa suara.Dia menutup mulutnya dengan bantal agar suaranya tak terdengar oleh arga.
Setelah sambungan telfonya terputus,safa tergugu di lantai kamarnya, memeluk lututnya.Rasa rindu, sedih ,hawatir dan rasa bersalah bercampur semua jadi satu.
Entah sampai jam berapa Safa terjaga,air matanya terus mengalir ia sama sekali tak bisa memejamkan mata.
Pagi harinya jam 06.00 pagi Safa sudah rapi. Dia mengenakan gamis yang paling bagus berwarna hijau sagde dengan warna hijab senada.Dia memasukkan dua potong gamis dan hijabnya kedalam tas kecil.
Setelah solat subuh,safa sudah membuat keputusan jika dia harus pulang menjenguk ibunya dengan atau tanpa izin dari Arga.
Dia berdiri di depan pintu ruang kerja Arga, kebetulan Arga susah bangun pagi dan tengah menikmati secangkir kopinya di ruang kerjanya."
"Mas Arga..." panggil Safa dengan suara sedikit parau karna tidak bisa tidur semalaman.
Arga menoleh,melihat Safa sudah terlihat rapi dengan membawa tas kecil ditangannya dan Arga melihat dengan jelas mata Safa bengkak bekas menangis semalaman.
"Mau kemana?"
"Mas, aku... aku mau pulang ke kampung. Mau jenguk ibu. Ibu demam lagi, panasnya tinggi. Tadi malam Bu Yati telpon memberikan kabar."
Arga tampak diam sejenak,dia meletakkan cangkir kopinya.
"Kan bisa video call. Kamu baru 3 minggu di sini, diperjanjian kontrak tertulis kamu tidak boleh pulang tanpa seizin saya!"
Safa menunduk, air matanya jatuh lagi. "Aku tahu Mas, tapi aku khawatir. Ibu cuma punya aku mas Bapak sudah nggak ada. Kalau ibu kenapa-napa dan aku ngga ada disampingnya,aku akan merasa sangat buruk dan aku,"
Kata-kata Safa berhasil menyentuh bagian paling dalam dihati Arga.
Safa melanjutkan dengan suara serak. "Aku janji Mas, cuma 2 hari. Aku cuman mau jenguk ibu, memastikan ibu sembuh, terus aku balik lagi ke sini. Aku nggak bakal kabur dari kami mas aku masih ingat kontrak kita itu satu tahun masih ada 11 bulan 1 Minggu lagi yang tersisa."
Arga melihat Safa menangis seperti itu, hatinya merasa tidak tega ,namun lagi-lagi gengsinya terlalu tinggi untuk seorang Arga Mahendra.
"Kalau kamu pulang sekarang, siapa yang mau masak buat saya? Siapa yang mengurus penthouse? Siapa yang beresin Robi si robot sapu kalau dia nabrak meja lagi? Siapa yang bikin gaduh setiap pagi?siapa yang saya marahi?"
Safa mengusap air matanya. "Nanti aku masak dulu sebelum berangkat Mas. Aku beresin semuanya dulu. Aku cuma minta izin 2 hari saja."
Arga menghela napas panjang. Dia berdiri, mengambil kunci mobil dan dompetnya.
"Sudah, jangan nangis terus brisik!"
Safa mengira Arga menolak. "Mas nggak bolehin ya? Ya udah nggak apa-apa, aku..."
"Siapa bilang tidak boleh? Saya antar!Sekarang!"
Safa melongo.
"Mas,mas Arga serius ? Mas mau anter aku pulang kampung?Jauh loh Mas, 7 jam naik mobil. Terus kerjaan mas gimana?"
"Ya, makanya jangan banyak tanya, ambil barang kamu. Kita berangkat sekarang."
Safa mematung 5 detik.
"Mas beneran mau nganter aku mas? Serius mas?"
"Jangan bikin saya berubah pikiran."
Perjalanan 7 jam itu adalah perjalanan paling canggung sekaligus paling hangat.
Safa duduk di kursi penumpang Alphard, awalnya diam karena masih sedih. Tapi lama-lama dia banyak bercerita tentang ibunya, tentang kampungnya.
"Mas, di kampung aku jalannya masih tanah, kalau hujan becek. Nanti mobil Mas kotor nggak apa-apa ya?"
"Tidak apa-apa."
"Mas, rumah aku kecil dari kayu, nggak ada AC kayak dirumah mas ,cuma ada kipas angin kecil yang sudah sering mati. Mas nanti kepanasan nggak?"
"Tidak."
"Mas, ibu aku nanti pasti kaget lihat Mas, soalnya Mas ganteng, orang kampung belum pernah lihat orang seganteng Mas."
Arga yang nyetir hampir oleng mendengar pujian polos itu. Telinganya berwarna merah.
"Sudah, jangan banyak ngomong brisik mending kamu tidur!"
Sampai dikampunh tepat jam 4 sore. Jalan memang becek, mobil Alphard mewah itu harus pelan-pelan melewati pematang sawah.
Warga kampung keluar semua melihat mobil mewah masuk kampung. Seketika kampung menjadi Heboh.
"Itu Safa pulang! Bawa suaminya yang orang kota!"
Sampai di depan rumah panggung kayu yang sederhana, ibu Safa sudah duduk di kursi roda bambu, dibantu Bu Yati. Wajahnya pucat, tapi begitu melihat Safa turun dari mobil, dia langsung menangis.
"Safa... anakku..."
"Bu!"
Safa lari memeluk ibunya begitu erat. Tangisnya pecah. Tiga minggu menahan rindu akhirnya pecah di pelukan ibunya.
"Bu, ibu sakit ya? Kenapa nggak bilang?"
"Ibu nggak apa-apa, cuma kangen kamu, Nduk."
Arga turun dari mobil dengan canggung. Semua warga melihatnya. Pria tinggi, memakai kemeja mahal, sepatu mahal, berdiri di depan rumah kayu.
Ibu Safa melihat Arga dan langsung mau berdiri, tapi tidak kuat.
"Nak Arga ya? Menantu ibu?"
Arga langsung mendekat dan mencium tangan ibu Safa dengan takzim. "Iya Bu, saya Arga. Maaf baru bisa antar Safa pulang."
Ibu Safa memegang tangan Arga. "Terima kasih ya Nak sudah mejaga Safa. Safa itu anaknya polos, kalau ada salah dimaafin ya."
"Iya Bu."
Malam itu, Arga menginap di rumah kayu itu. Tidak ada kamar tamu mewah, hanya ada tikar dan kelambu. Tapi Arga tidak mengeluh sama sekali.
Dia melihat Safa menyuapi ibunya bubur, memijit kaki ibunya, mengaji di samping ibunya.
Pemandangan itu membuat Arga sadar, kenapa Safa bisa sekuat itu, sepolos itu, dan setulus itu. Karena dia dibesarkan oleh ibu yang luar biasa.
Tengah malam, saat ibu Safa sudah tidur, Safa duduk di dapur kayu sambil menangis pelan. Arga menghampirinya.
"Kenapa nangis lagi?"
Safa mengusap air matanya. "Aku bahagia Mas, tapi aku juga sedih. Bahagia bisa pulang, sedih lihat ibu sakit. Makasih ya Mas udah mau antar aku jauh-jauh ke sini, mau tidur di rumah kayu begini. Aku kira Mas nggak bakal mau."
Arga duduk di sebelah Safa, di lantai kayu.
"Saya kan suami kamu. Walaupun suami kontrak, tapi kalau sudah menyangkut tentang ibu saya tidak tega."
Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Safa, itu adalah kata-kata paling indah yang pernah dia dengar dari mulut Arga yang biasanya dingin dan kaku.
"Mas..."
"Sudah, jangan nangis. Nanti ibu kamu dengar. Kamu itu kalau nangis jelek."
Safa tertawa di tengah tangisnya. "Iya deh, jelek-jelek gini kan istri Mas."
Arga tidak menjawab, tapi dia mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Safa dengan tisu.
Pertama kalinya, Arga mengusap air mata Safa dengan tangannya sendiri.
Di luar rumah kayu, suara jangkrik dan kodok sawah bersahutan. Di dalam, dua orang yang awalnya hanya terikat kontrak, kini duduk bersebelahan di lantai kayu, menjaga ibu yang sedang sakit bersama-sama.
Dan malam itu, Safa tahu, suami kontraknya yang kaku dan dingin itu, hatinya sudah tidak sedingin dulu lagi.
Bersambung