“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelunas Utang...
Tapi lo keliatan pucat banget hari ini, Celin. Ada masalah lagi di rumah?" Kirei merendahkan suaranya, matanya tertuju pada pergelangan tangan Celin yang tertutup jam tangan lebar.
Celin segera menarik tangannya ke bawah meja. "Cuma kurang tidur."
Kirei terdiam sejenak. Ia tahu Celin sedang berbohong. Ia tahu Celin terlalu keras pada dirinya sendiri. "Nyokap gue nanyain lo kemarin. Dia bilang kalau lo lagi butuh uang lebih buat... lo tahu, buat dia, lo bilang aja, ya? Jangan dipendam sendiri."
"Gue masih bisa tangani, Rei. Makasih, ya," jawab Celin tegas.
Ia sangat menyayangi Kirei, tapi harga dirinya tetap menjadi tembok yang tinggi. Ia tidak ingin belas kasihan, ia hanya ingin dukungan.
Kring... Kring...
Bel masuk berbunyi, memecah momen emosional itu. Celin berdiri, merapikan seragamnya yang terasa semakin sesak.
Ia harus kembali ke kelas, menghadapi tatapan memuja semua orang pada Reja, dan menyembunyikan kenyataan pahit bahwa ia dan pangeran sekolah itu terikat dalam sebuah transaksi yang menjijikkan.
"Celin!" panggil Kirei saat mereka mulai berjalan menuju kelas. "Ingat, lo itu kuat. Jangan biarin siapa pun, termasuk Reja atau bokap lo, bikin lo ngerasa nggak berharga."
Celin mengangguk, namun di dalam hati ia berbisik pahit, 'Masalahnya, Rei... gue sendiri yang sering ngerasa nggak berharga sampai gue harus nyayat diri gue sendiri.'
Suasana kelas XII-IPA 1 sedang riuh karena jam kosong, namun Celin hanya terdiam menatap buku biologinya dengan kosong. Kirei, yang duduk tepat di sebelahnya, menyenggol lengan Celin pelan.
"Celin, lo ngelamun lagi? Tadi di koridor Reja beneran keterlaluan. Gue benci banget lihat mukanya yang sok berkuasa itu," gerutu Kirei sambil membuka bungkus cokelat.
Celin tersentak. Refleks, ia menarik tangan kirinya ke bawah meja agar Kirei tidak melihat perban yang sedikit mengintip dari balik jam tangan besarnya. "Gue cuma capek, Rei. Semalam lembur kerja in tugas."
Kirei menatap sahabatnya itu dengan iba. Sejak kelas satu SMA, ia sudah mengagumi ketangguhan Celin.
Ia tahu betul bagaimana Celin harus membagi waktu antara belajar demi mempertahankan beasiswa dan bekerja paruh waktu di kafe milik ibunya demi menghidupi ayahnya yang kian tenggelam dalam judi.
"Nanti sore di kafe, lo bagian kasir aja, ya? Biar gue yang urus meja-meja di depan. Lo pucat banget, Celin," tawar Kirei tulus.
"Nggak usah, Rei. Gue masih kuat," jawab Celin tegas. Ia tidak ingin terlihat lemah, bahkan di depan Kirei.
"Lo selalu gitu," Kirei menghela napas, namun sorot matanya tetap penuh kekaguman. "Gue selalu heran, gimana bisa lo tetap berdiri tegak padahal beban di pundak lo itu berat banget. Kalau gue jadi lo, mungkin gue udah menyerah dari lama."
Celin hanya tersenyum pahit. Menyerah? Ia sudah hampir melakukan itu berkali-kali. Yang Kirei tahu, beban Celin hanyalah ayah pemabuk dan masalah finansial.
Kirei belum tahu bahwa dua hari lalu, hidup Celin sudah resmi dibeli. Kirei belum tahu bahwa setiap malam, Celin harus pulang ke rumah mewah yang terasa seperti penjara, menghadapi pria yang sama yang tadi menghinanya di koridor.
"Rei, kalau suatu saat gue nggak seperti yang lo kira... apa lo bakal tetap jadi teman gue?" tanya Celin tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik.
Kirei mengerutkan kening, lalu merangkul bahu Celin erat. "Pertanyaan macam apa itu? Lo itu Celin yang paling hebat yang pernah gue kenal. Mau lo berubah jadi apa pun, lo tetap sahabat gue. Kenapa? Ada rahasia yang lo sembunyiin, ya?" Kirei terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
Celin hanya menggeleng pelan, meski dadanya terasa sesak oleh rahasia besar yang ingin ia teriakkan. Gue udah nikah, Rei. Sama monster yang paling lo benci di sekolah ini, batinnya perih.
Tiba-tiba, seorang adik kelas mengetuk pintu kelas mereka. "Permisi, Kak Celin dipanggil ke ruang OSIS sekarang. Katanya ada urusan penting soal data beasiswa."
Celin berdiri, merapikan seragamnya. Namun, ia tahu itu bukan soal beasiswa. Ruang OSIS bersebelahan dengan ruang peralatan yang sepi. Dan ia tahu siapa yang punya kuasa untuk memanggilnya lewat orang lain.
"Gue pergi bentar ya, Rei," pamit Celin.
"Perlu gue temenin?"
"Nggak usah. Gue bisa sendiri."
Celin melangkah keluar kelas dengan dagu tegak, namun tangannya terkepal kuat di dalam saku roknya. Ia harus menghadapi Reja lagi.
Di sekolah ini, mereka adalah musuh dari kasta yang berbeda. Namun di balik pintu yang tertutup nanti, Reja akan mengingatkannya lagi bahwa ia hanyalah seorang budak.
Celin melangkah menyusuri koridor dengan detak jantung yang tak beraturan, meski wajahnya tetap sedingin es. Ia tahu betul, panggilan ke ruang OSIS hanyalah akal-akalan.
Reja adalah orang yang berkuasa dalam segala hal di sekolah ini. Sebagai putra donatur, memerintah adik kelas untuk menjebaknya adalah hal kecil bagi pria itu.
Alih-alih ke ruang OSIS, langkah Celin berbelok ke arah ruang peralatan di belakang laboratorium Fisika yang sudah lama tidak dipakai.
Benar saja, pintu itu sedikit terbuka. Begitu Celin masuk, sebuah tangan kekar langsung menarik lengannya dan membanting pintu hingga tertutup rapat.
Brak!
"Lama banget," desis Reja. Ia berdiri di sana, masih dengan seragamnya yang berantakan, menatap Celin dengan sorot mata yang seolah ingin menguliti gadis itu.
Celin menyentak tangannya dengan kasar. "Gue nggak punya banyak waktu. Kirei bisa curiga kalau gue lama-lama."
Mendengar nama Kirei, Reja tertawa sinis. Ia melangkah maju, memojokkan Celin ke rak kayu tua hingga debu berterbangan. "Kirei? Oh, sahabat tercinta lo itu? Apa yang bakal dia lakuin kalau tahu kalau robot beasiswa ini tiap malam tidur di rumah gue sebagai barang rampasan?"
"Jaga mulut lo, Reja!" Celin menatap tajam, sedikit pun tidak gentar meski jarak mereka sangat dekat.
"Gue nggak suka lo nolak perintah gue di depan mading tadi," Reja mencengkeram dagu Celin, menekannya hingga gadis itu meringis pelan.
"Lo pikir karena kita di sekolah, lo bisa merasa setara sama gue? Di sini atau di rumah, lo tetap budak yang dibeli bokap gue."
Celin tersenyum meremehkan, meski rahangnya terasa nyeri. "Lo cuma pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan bokap lo. Tanpa uang itu, lo nggak lebih dari sampah, sama kayak bokap gue."
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Celin. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat sudut bibirnya berdarah dan wajahnya tertoleh ke samping.
Celin tidak berteriak. Ia justru terkekeh kecil, lalu kembali menatap Reja dengan mata yang menyala.
"Cuma itu?" tantang Celin. "Tamparan lo nggak sebanding sama sakitnya gue lihat muka lo setiap hari."
Reja geram. Ia melihat ke arah pergelangan tangan Celin yang tertutup jam tangan lebar. Dengan gerakan kasar, Reja menarik jam tangan itu hingga terlepas dan jatuh ke lantai. Perban putih yang melilit kulit Celin kini terpampang nyata.
"Apa ini?" Reja menarik tangan Celin, melihat noda merah yang mulai merembes di perban itu. "Lo mau bunuh diri? Lo pikir dengan mati lo bisa lunasin utang bokap lo?"
Bersambung...