NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat cesa

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari kediaman megah tersebut. Sekitar jam sembilan pagi, Cesa baru saja terbangun dengan wajah yang sangat segar tanpa beban hidup sedikit pun. Ia sama sekali tidak memikirkan drama pernikahan dadakan atau kemarahan Devan semalam.

Dengan sangat anteng, Cesa keluar dari kamarnya dan turun dari lantai atas. Penampilannya pagi itu benar-benar nyentrik dan jauh dari citra menantu konglomerat pada umumnya. Ia hanya mengenakan celana jeans pendek yang sangat santai, tanktop putih ketat yang dipadukan dengan cardigan rajut berwarna cokelat longgar yang sengaja melorot di satu bahunya. Rambut panjangnya digulung asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badai, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah cantiknya yang glowing alami meski tanpa riasan.

Begitu kakinya menapak di anak tangga terakhir lantai bawah, barisan pelayan sudah berdiri rapi di sisi kanan dan kiri koridor utama.

"Selamat pagi, Nyonya Muda Cesa," sapa para pelayan secara serempak sambil membungkuk hormat.

Cesa menghentikan langkahnya, menatap mereka dengan binar mata jenaka. "Pagi! Gimana semalam? Tidur nyenyak kan? Si monyet Ragunan itu gak ganggu kalian kan?"

"A-aman, Nyonya. Tuan Muda Devan semalam mengamuk sampai jam dua pagi, lalu langsung pergi lagi menggunakan mobil sport-nya dengan membawa sisa baju yang tidak robek," jawab kepala pelayan dengan nada gemetar namun penuh hormat.

Cesa tertawa renyah, menepuk tangannya bangga. Bak istri sultan yang memegang kendali penuh atas takhta kerajaan, ia berjalan menuju meja makan panjang yang sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan mewah. "Bagus. Dia pergi makin jauh makin baik, rumah ini jadi milik gue seutuhnya. Sekarang, kalian semua boleh santai. Gue mau menikmati fasilitas rumah baru ini dengan tenang."

Setelah menghabiskan sarapan paginya yang porsinya setara dengan porsi makan tiga orang pria dewasa, Cesa memulai rangkaian kegiatan random ala sultannya.

Tujuan pertamanya adalah kolam renang outdoor yang sangat besar yang terletak di halaman belakang rumah. Kolam renang itu dikelilingi oleh tanaman tropis yang asri dan kursi-kursi jemur yang mewah. Cesa kembali ke kamar, mengganti pakaiannya dengan baju renang bermotif macan tutul yang sangat mencolok, lengkap dengan kacamata hitam besar bermerek luar negeri.

Dengan gaya anggun yang dipaksakan, ia berjalan menuju tepi kolam. Bukannya menceburkan diri secara perlahan layaknya wanita anggun, Cesa justru mengambil ancang-ancang dari jarak lima meter, berlari kencang, dan melakukan lompatan bombal alias cannonball ke dalam kolam.

BYURRRRR!

Air kolam renang mencuat ke mana-mana, membasahi lantai marmer di sekitarnya. Cesa muncul ke permukaan sambil tertawa puas, mengusap air di wajahnya. Ia kemudian berenang dengan gaya punggung, gaya bebas, hingga gaya batu yang tidak jelas, meluncur ke sana kemari di dalam kolam yang luas itu sendirian, merasa seperti putri duyung yang menguasai lautan berlian.

Setelah puas basah-basahan selama hampir satu jam, Cesa keluar dari kolam dan berjalan menuju ruang olahraga (gym) pribadi yang ada di lantai dua. Masih dengan rambut yang basah dan hanya berbalut sport bra serta celana legging, ia masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi alat-alat kebugaran canggih senilai ratusan juta rupiah.

dalam ruang olahraga, tingkat kerandoman Cesa makin menjadi-jadi. Bukannya menggunakan alat treadmill dengan benar, ia justru menyalakan mesin treadmill pada kecepatan tertinggi hanya untuk menaruh boneka teddy bear besar di atasnya agar boneka itu terpental ke dinding. Setelah itu, ia mencoba mengangkat barbel yang paling ringan, memainkannya seperti tongkat mayoret sambil berjoget mengikuti lagu dangdut yang ia putar dengan volume maksimal melalui speaker ruangan. Ia juga menggunakan bola yoga besar untuk guling-gulingan di lantai, menabrakkan dirinya ke lemari es kecil yang berisi minuman suplemen di sudut ruangan.

"Ah, capek juga jadi orang kaya," gumam Cesa sambil mengelap keringat fiktif di dahinya, padahal ia sama sekali tidak melakukan olahraga yang membakar kalori secara benar.

Menjelang sore hari, Cesa merasa bosan berada di dalam rumah terus-menerus. Otak bar-bar-nya mulai merencanakan aksi kocak berikutnya. Ia mandi, berdandan super cantik mengenakan dress santai tapi terkesan mahal, lalu memutuskan untuk jalan-jalan keliling komplek perumahan elit tersebut. Komplek itu dihuni oleh kalangan jetset, pejabat, dan pengusaha kaya yang biasanya sangat menjaga privasi dan gengsi.

Cesa melangkah keluar gerbang rumah dengan dagu terangkat, memamerkan pesona kecantikannya yang luar biasa kepada siapa saja yang lewat. Namun, bukan Cesa namanya kalau jalannya normal. Setiap kali melewati rumah tetangga yang sedang ada orangnya di depan halaman, Cesa sengaja mengubah raut wajahnya menjadi sangat melas, lesu, dan sesekali menghela napas panjang dengan dramatis seolah memikul beban seluruh dunia.

Di dekat taman komplek, ada sekumpulan ibu-ibu sosialita yang sedang berkumpul bersama anjing-anjing ras mahal mereka. Melihat mangsa yang pas untuk menyebarkan huru-hara, Cesa sengaja berjalan mendekat sambil memegangi pergelangan tangannya sendiri seolah-olah sedang kesakitan.

"Aduh... sakit banget ya Tuhan... tapi aku harus kuat," bisik Cesa dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh kuping tajam para ibu-ibu gosip tersebut.

Benar saja, salah satu ibu-ibu dengan rambut sasakan tinggi langsung menoleh dan menghampiri Cesa. "Jeng, kamu menantu barunya Pak Abraham yang nikah kemarin ya? Kok mukanya sedih gitu? Ada apa, Jeng?"

Cesa menatap ibu itu dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, mengejapkan matanya beberapa kali agar terlihat seperti istri yang teraniaya. "Eh... enggak apa-apa kok, Tante. Saya cuma... cuma agak pusing aja karena semalam kurang tidur."

"Kurang tidur kenapa, Jeng? Waduh, malam pertama ya? Harusnya kan bahagia!" timpal ibu-ibu yang lain sambil tersenyum penuh arti.

Cesa menggelengkan kepalanya dengan dramatis, lalu menutup mulutnya seolah-olah keceplosan. "Bukan... bukan karena itu, Tante. Semalam... semalam mas Devan pulang dalam keadaan marah-marah. Dia... dia ternyata gak suka sama perempuan, Tante!" bisik Cesa dengan nada penuh rahasia namun sangat meyakinkan.

"Hah?! Maksudnya gimana?!" Ibu-ibu sosialita itu langsung merapat, mata mereka berbinar-binar mendapatkan asupan gosip segar tingkat tinggi.

"Iya, Tante... Mas Devan itu sebenarnya terpaksa nikah karena dijodohkan. Semalam dia ngaku sendiri kalau dia itu... gay," dusta Cesa tanpa berkedip sedikit pun. "Dia bilang dia cuma cinta sama cowok bertubuh kekar dari klub malam. Makanya baju-baju mahalnya semalam saya guntingin karena saya syok nemuin foto-foto dia sama cowok lain di dalam dompetnya! Saya disiksa secara batin, Tante... hiks..." Cesa pura-pura terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan padahal di balik tangannya ia sedang menahan tawa setengah mati.

"Ya ampun!! Ganteng-ganteng ternyata belok?!"

"Kasihan banget kamu, Jeng! Masih muda padahal cantik banget!"

"Wah, keterlaluan ya si Devan! Tega banget sama istri sendiri!"

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, gosip palsu ciptaan Cesa langsung menyebar ke seluruh penjuru komplek elit tersebut melalui grup WhatsApp internal ibu-ibu. Cesa yang melihat misi hancurnya reputasi Devan berjalan lancar langsung pamit dengan alasan ingin "menangis di kamar", padahal di sepanjang jalan pulang ia berjalan sambil melompat-lompat girang dan bersenandung ria.

Tingkah kocak dan bar-bar Cesa seharian penuh itu benar-benar sukses menguasai rumah dan lingkungan baru mereka. Cesa sama sekali tidak sabar menantikan bagaimana ekspresi si cowok tengil Devan saat mengetahui dirinya telah resmi dinobatkan sebagai "suami gay yang menyiksa istri" oleh seluruh warga komplek saat ia pulang nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!