NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Maya di Ambang Pesisir

Deru halus mesin SUV hitam milik Mahija membelah jalanan pesisir yang diapit rindangnya pepohonan nyiur. Sinar jingga matahari sore menerobos tipis melalui kaca mobil, membiaskan cahaya keemasan di dalam kabin yang tenang.

Di kursi penumpang, Mahika terkulai lelap. Kelelahan hebat dari revisi skripsi dan luapan emosi tadi siang akhirnya menumbangkan pertahanannya. Kepalanya miring ke kiri, mengarah pada Mahija. Pasmina hitam yang ia kenakan mengalir jatuh menutupi sebagian bahunya, melingkupi wajah polos tanpa polesan bedak yang kini tampak begitu tenang dalam tidurnya.

Mahija memperlambat laju kendaraan. Sesekali, matanya melirik ke arah Mahika dengan sorot mata yang teramat teduh. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengejutkan gadis itu, Mahija mengulurkan tangan kanannya, memelankan aliran hembusan AC agar Mahika tidak kedinginan.

Sementara itu, di area parkiran umum pesisir dekat dermaga kecil—tak jauh dari deretan rumah warga desa—Pak Danu selaku Kepala Desa tengah berdiri santai bersama istrinya, Bu Lasmi. Mereka sedang menyapa beberapa nelayan yang baru saja menepi setelah menyandarkan perahu.

"Lho, Pak... itu bukannya mobil Nak Mahija?" tunjuk Bu Lasmi seraya menepuk pelan lengan suaminya saat melihat SUV hitam memasuki pelataran parkir batu kerikil.

"Iya, Bu. Tepat waktu betul dia," sahut Pak Danu sembari tersenyum ramah. "Kemarin bilang mau minta izin ajak Mahika keluar sore ini. Anak tentara memang kalau pegang janji gak pernah meleset."

"Alhamdulillah. Saya itu senang banget lihat Mahika belakangan ini, Pak. Sejak kenal Nak Mahija, mukanya gak sekusam dulu waktu pertama datang ke desa kita. Kelihatan ada yang jagain," tambah Bu Lasmi penuh rasa syukur.

Namun, ketenangan sore itu mendadak menguap ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti secara kasar tepat di samping pelataran parkir. Suara gesekan ban dengan tanah berbatu terdengar nyaring dan mengganggu.

Dari dalam mobil sedan tersebut, turun sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian necis khas kelas atas kota besar. Wanita paruh baya itu mengenakan kacamata hitam dengan gaya angkuh, menyapu pandangannya ke sekeliling pemukiman pesisir dengan raut wajah jijik.

"Duh, tempat pembuangan sampah mana lagi ini? Kumuh sekali," cibir wanita itu—ibu kandung Mahika—seraya mengipas-ngibaskan tangannya di udara seolah udara pantai itu beracun.

Pria di sampingnya, ayah kandung Mahika, melangkah maju dengan raut wajah keras dan dingin. Tanpa basa-basi atau mengucap salam, ia langsung menghampiri Pak Danu dan Bu Lasmi yang berdiri tak jauh dari sana.

"Hei, kamu! Kepala desa di sini, kan?" tanyanya dengan nada sarkas dan penuh penekanan, sama sekali tanpa kesopanan. "Mana anak perempuan saya yang namanya Mahika? Saya tahu dia sembunyi di kampung kumuh ini!"

Bu Lasmi terperanjat. Ia menatap sepasang suami istri itu dari atas sampai bawah dengan kening berkerut. "Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ya? Datang-datang kok membentak dan bicara kasar begitu?"

"Gak usah banyak tanya!" potong sang ibu kandung dengan nada melengking yang ketus.

"Kami ini orang tuanya! Anak gak tahu diri itu sudah kabur bertahun-tahun, mengabaikan utang budi dan kewajibannya sama keluarga! Cepat kasih tahu di mana rumahnya sebelum saya bawa polisi ke sini!"

Pak Danu melangkah maju, memosisikan tubuhnya di depan Bu Lasmi. Raut wajah sang Kepala Desa berubah tegas dan dingin. "Jaga etika dan sopan santun Anda, Pak, Bu. Di desa ini ada aturannya. Kalau Anda mengaku orang tua Mahika, harusnya Anda tahu bagaimana cara memperlakukan anak secara manusiawi, bukan mencari dengan membentak warga kami."

"Halah! Jangan sok ceramah kamu, Pak RT atau Kepala Desa kampung!" semprot sang ayah dengan mata mendelik. "Dia itu anak kami! Kami berhak membawa dia pulang sekarang juga!"

Tepat saat ketegangan itu memuncak, pintu SUV hitam Mahija terbuka. Mahija melangkah keluar dari mobil. Pria tegap berbalut kemeja abu-abu gelap itu menutup pintu dengan suara berdentum pelan namun tegas, memastikan Mahika yang masih lelap di dalam tidak terganggu.

Pandangan mata Mahija yang tajam bak elang langsung mengunci sepasang suami istri yang sedang membuat kegaduhan tersebut. Dengan langkah terukur dan aura perwira militer yang begitu mengintimidasi, Mahija menghampiri Pak Danu dan Bu Lasmi.

"Ada masalah apa di sini, Pak Danu?" tanya Mahija dengan suara bariton yang berat dan tenang, namun menyimpan ketegasan yang mutlak.

Ayah Mahika menoleh, menatap Mahija dari atas sampai bawah. Walau Mahija sedang tidak mengenakan seragam dinas, postur tegap, rahang mengeras, dan tatapan dingin sang perwira sanggup membuat pria paruh baya itu tertegun sejenak.

"Siapa lagi kamu? Gak usah ikut campur urusan keluarga orang lain!" cetus sang ibu kandung, meski suaranya sedikit bergetar menahan tekanan aura Mahija.

Bu Lasmi membisikkan sesuatu ke telinga Mahija dengan cepat. "Nak Mahija... ini orang tua kandungnya Mahika. Datang-datang langsung marah-marah dan nyari Mahika pakai kata-kata kasar..."

Mendengar hal itu, mata Mahija seketika menyempit. Rahangnya mengatup rapat. Ini adalah orang-orang toksik yang selama ini menjadi sumber trauma dan penderitaan wanita yang ia kasihi—orang-orang yang membuat Mahika harus menangis kelelahan dan mengurung diri dari dunia luar.

"Saya adalah calon suami Mahika," ucap Mahija dengan nada mutlak, dingin, dan tidak memberikan celah sedikit pun untuk dibantah.

Sepasang orang tua itu melotot kaget. "Calon suami?!"

"Dan di kawasan ini," lanjut Mahija seraya melangkah satu tapak lebih dekat, membuat ayah Mahika secara refleks mundur setengah langkah. "Tidak ada yang boleh membuat kegaduhan, apalagi mengancam warga dan Mahika. Kalau Anda berdua datang untuk beritikad baik, bicaralah dengan sopan. Tapi kalau Anda datang hanya untuk menyakiti batin Mahika lagi... saya tidak akan segan-segan menggunakan kewenangan saya untuk mengusir Anda dari kawasan pesisir ini."

"Kamu... kamu mau mengancam kami?!" seru sang ibu dengan wajah memerah tahan malu.

Pak Danu ikut menimpali dengan tegas, "Benar kata Nak Mahija. Mahika saat ini berada di bawah perlindungan warga desa kami dan kesatuan pangkalan. Lebih baik Anda berdua pergi sekarang sebelum warga berkumpul."

Di dalam SUV hitam, Mahika mulai menggeliat pelan. Ia mengucek matanya yang terasa berat, lalu menyesuaikan pasmina hitamnya yang sedikit berantakan. Saat matanya terbuka penuh, ia memandang keluar jendela dan mengernyit bingung melihat Mahija, Pak Danu, dan Bu Lasmi sedang berdiri mengelilingi dua orang yang sangat familiar dari masa lalunya.

Dada Mahika mendadak sesak. Ketakutan lama itu kembali mencengkeram.

Namun sebelum Mahika sempat menyentuh gagang pintu mobil untuk turun, Mahija yang menyadari gerak-gerik dari arah mobil langsung berbalik. Ia memberi isyarat tangan yang sangat jelas ke arah kaca mobil agar Mahika tetap berada di dalam dan mengunci pintu.

Mahija kembali menatap sepasang suami istri itu dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.

"Mahika sedang tidak ingin ditemui oleh siapa pun yang hanya membawa luka," tegas Mahija, suaranya tenang namun bagai perintah militer yang tak dapat diganggu gugat. "Silakan tinggalkan tempat ini sekarang."

Suasana di pelataran parkir pantai itu mendadak hening dan tegang. Di bawah sorotan keemasan langit sore, sang perwira berdiri kokoh bagai benteng tak tertembus, melindungi wanita pujaannya dari bayang-bayang masa lalu yang mencoba merenggut ketenangannya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!