Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATA TERAKHIR SUBJEK 07
Badan mereka membeku. Sama sekali tidak menyangka bahwa kos yang selama ini Anaxa tinggalin adalah laboratorium psikologi.
Suasana di ruang itu mendadak menjadi keheningan yang mencekam. Sampai kemudian pintu ruang rawat inap Anaxa diketuk beberapa kali. Alya segera tersadar dari lamunan dan kemudian melangkah membukakan pintu. Ternyata itu adalah seorang perawat yang memberikan titipan amplop coklat untuk pasien. Alya menerimanya dan menyodorkan nya ke Anaxa.
Anaxa tersenyum lemah. Tatapan matanya seolah-olah meredup. Dia hanya bisa menghela nafas berat. "Tidak cukup untuk membuat duniaku hancur, lalu aku harus mendapatkan amplop coklat lagi?" Kata Anaxa sambil menerima amplop coklat tersebut.
"King..." Ucap Keenan. Hatinya ikut sakit melihat penderitaan yang menimpa temannya
Anaxa membuka amplop itu dan membacanya dengan seksama. Tapi semakin Anaxa membacanya, rasanya semakin sakit seperti dadanya ditusuk oleh belasan pisau. "Hahaha...." Anaxa seperti mentertawakan kehidupan yang menyedihkan. Air mata kembali mengaburkan pandangannya.
Anaxa menyodorkan kertas nya ke Dimas "Hahhh... Sialan. Seterah mereka saja. Aku capek." Anaxa terisak pilu. Dia menarik selimut nya keatas untuk menutupi seluruh tubuhnya dan kepalanya. Tangis Anaxa lebih hebat dari sebelumnya. Sementara itu tangan Alya menggenggam tangan Anaxa mencoba untuk membuat pria itu tenang. Tetapi bukannya tenang, tangan Anaxa balas mereka tangan nya kuat seolah-olah pria itu menanggung rasa sakit diluar batasnya.
Dinas yang menerima kertas dari Anaxa langsung membacanya. Keenan dan Ribka juga ikut baca dari belakang. Dan isi kertas tersebut membuat mereka bertiga terkejut.
SURAT PEMBERHENTIAN HUBUNGAN KERJA
PT PSIKO DATA NUSANTARA
Nomor: PDN/HR-EVA/07/FIN-XXX
Perihal: Pemberhentian Hubungan Kerja
Yth.
Elrad, Anaxa Daemyn
Data Entry Staff
Dengan hormat,
Berdasarkan hasil evaluasi internal terhadap kinerja, perilaku kerja, serta rangkaian pemantauan selama masa kerja Saudara di PT Psiko Data Nusantara, kami menyampaikan bahwa hubungan kerja Saudara dinyatakan berakhir terhitung sejak surat ini diterbitkan.
Selama masa kerja, Saudara telah menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyelesaikan tugas administratif dan pengolahan data. Namun, berdasarkan catatan evaluasi internal, terdapat beberapa perubahan perilaku dan pola komunikasi yang tercatat selama periode observasi.
Beberapa laporan yang sebelumnya disampaikan kepada pihak manajemen mengenai kesulitan berkomunikasi dengan Saudara, respons yang cenderung singkat, perubahan pola interaksi, serta kecenderungan menarik diri dari lingkungan kerja telah menjadi bagian dari rangkaian pengamatan perilaku yang dilakukan secara berkala.
Pengamatan tersebut tidak hanya mencakup kinerja pekerjaan, tetapi juga respons Saudara terhadap lingkungan sosial, tekanan pekerjaan, perubahan situasi, serta pola perilaku selama berada di lingkungan kerja.
Saudara tidak pernah diberitahukan mengenai seluruh rangkaian observasi tersebut.
Berdasarkan hasil evaluasi akhir, data yang diperoleh selama Saudara bekerja dinilai telah memenuhi kebutuhan penelitian dan analisis perilaku yang berkaitan dengan Program EVA-213, Subject 07.
Dengan demikian, pihak perusahaan tidak lagi memerlukan keterlibatan Saudara dalam kegiatan kerja maupun observasi lanjutan.
Kami menyampaikan terima kasih atas waktu, tenaga, serta kontribusi Saudara selama bekerja di PT Psiko Data Nusantara.
Sebagai bentuk kompensasi atas berakhirnya hubungan kerja, hak Saudara akan diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Hormat kami,
Human Resources & Research Administration
PT Psiko Data Nusantara
"Ini... Sudah keterlaluan. Ini harus dilaporkan ke pihak berwenang." Ucap Dimas pada akhirnya. Ucapan itu didengar Anaxa, kemudian pria itu mencoba menahan tangisannya lalu berkata "Apakah itu semua cukup jadi bukti sidang dewan kampus?"
"Mungkin cukup." Ucap Dimas. Kemudian mata Dimas menyorot ke dua tas besar tergeletak di atas lantai "Lagipula kita punya ini. Bukti yang sangat jelas untuk mengkonfirmasi adanya penelitian ilegal. Karena mustahil seorang mahasiswa diberikan uang sebanyak ini."
Anaxa menurunkan selimut nya kembali. Dia memandang ke Dimas, Keenan, dan Alya. "Tolong..." Cukup satu kata itu saja, dan teman teman Anaxa langsung mengangguk mengerti. "Aku juga akan bawa kertas kertas dan blueprint ini sebagai bukti" Ucap Dimas lagi.
"Semangat king! Jangan nangis terus. Kita akan beresin hal ini." Keenan mencoba menyemangati Anaxa.
Alya tersenyum tipis. Tangannya tetap meremat tangan Anaxa. "Kami gak akan biarin kamu sendirian menghadapinya."
Air mata mengalir lagi. "Terimakasih..."
"Kami juga akan menelusuri ruang bawah tanah rahasia nya hari ini. Mungkin sebelum sidang dewan dimulai." Ucapan Keenan membuat Dimas mengerutkan dahi.
"Ruang bawah tanah apa?" Tanya Dimas
"Ah kamu mah malah pergi kemarin. Biar ku kasih tau. Tau gak—" Dan Keenan masuk kedalam mode gosip. Menceritakan kembali pembicaraan kemarin hari.
Sementara itu, Ribka malah terdiam, memperhatikan Dimas dan Keenan, tetapi sebagian perhatian nya juga tertuju ke Anaxa dan Alya. Kedekatan mereka... Terasa mencurigakan untuk Ribka.
Maka iseng lah Ribka bertanya. "Anaxa. Alya."
"Ya? / apa?" Ucap mereka berdua bersamaan
Ribka terkekeh pelan. "Kalian berdua pacaran ya? Kok kalian dekat banget aku lihat?" Dan ucapan Ribka sukses membuat Dimas menoleh
"Tidak! Cuma teman" Ucap Alya. Tetapi pipinya malah terlihat sedikit merah.
Sementara itu Anaxa hanya tertawa saja. Kemudian pria itu menghapus air mata yang sedari tadi mengalir
"Ah cius nih? Teman atau teman? Kalian saling suka ya? Hahaha" Ledek Ribka
"Iya / Enggak kok! Eh..." Ucap mereka berdua. Tetapi Alya langsung terkejut setelah mendengar ucapan Anaxa, dan gadis itu menolehkan pandangan ke Anaxa.
Ribka yang memberikan pertanyaan itu juga ikut kaget. Apalagi Dimas dan Keenan.
"Naxa, kamu beneran suka Alya nih?" Tanya Ribka lagi. Dan siapa sangka jawaban Anaxa...
"Jika ditanya apakah suka atau tidak... Justru rasa nyaman dengannya sudah melampaui rasa suka itu sendiri." Ucap Anaxa kemudian memasang senyum tipis
Alya yang mendengar jawaban Anaxa, langsung salah tingkah. Pipinya juga semakin merah seperti kepiting rebus.
"Cieee king kita. Naksir cewek nih?!" Godaan Keenan langsung dibalas oleh tawa Anaxa.
Dimas yang mendengar itu semua, hanya bisa tersenyum lemah. Dimas mengaku kalah, dan kini mulai menyesali kenapa dirinya gak dari dulu saja mencoba mendekati Alya
"Selamat bro." Ucap Dimas pada akhirnya
"Nanti saja ucapan selamat nya. Aku... Belum resmi pacaran dengan Alya. Masih ada banyak hal yang perlu diurus. Kamu gak papa kan dengan itu?" Tanya Anaxa dengan terang-terangan. Dan Alya hanya mengangguk membalas pertanyaan Anaxa.
"Nice. Calon pacar." Ucap Anaxa kembali tersenyum. Dan ucapan itu langsung di cie-cie in oleh Keenan.
"Ayok ke kampus. Kita lihat ruang bawah tanahnya." Ucap Dimas yang sebenarnya udah pengen pergi karena gak kuat melihat interaksi Anaxa dan Alya. Dirinya masih patah hati
"Oke. Yuk! Aku udah bawa alat pembuka kuncinya. Muehehe." Ucap Keenan sambil merogoh saku celananya dan menunjukkan alat pembuka kunci tersebut.
"Aku juga akan kembali ke kamarku. Jangan setres-stres ya Anaxa." Ribka melambaikan tangannya dan keluar dari ruang Anaxa.
Kini tinggal Alya yang berada di ruangan. "Aku... Kamu banyak istirahat ya? Kalau kondisi mu sudah lebih stabil, beberapa hari kemudian sudah boleh pulang dari rumah sakit."
Anaxa langsung terdiam... "Pulang kemana? Aku... Tempat tinggal ku..." Sorot mata Anaxa kembali meredup. "Hah..."
"Mungkin papa ku bakal mengizinkan kamu tinggal sementara di rumah aku."
"Ta-tapi..."
"Mengingat kondisi kamu yang sekarang, kamu perlu orang untuk memastikan pemulihan mu. Tenang aja, papa mama aku baik kok." Ucap Alya kembali menggenggam tangan Anaxa
"Hahhh... Alya."
"Ya?"
"Bahkan disaat sebagian hidup yang ku kira adalah benar-benar punya ku, tetapi ternyata bagian dari penelitian... Aku masih punya dirimu. Terimakasih..."