Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 2
Maya refleks melangkah mundur. Jantungnya berdegup kencang memukul dada. Area parkir basement lantai B2 itu terisolasi dan sepi, jauh dari jangkauan petugas keamanan gedung yang biasanya berpatroli di lantai atas. Suara mesin minibus yang masih menyala samar-samar memantul di dinding beton yang dingin.
Enam pria itu mengepung mereka dalam formasi setengah lingkaran. Salah satu dari mereka pria berbadan gempal dengan bekas luka bakar di leher melangkah maju sambil menimang-nimang tongkat besi di tangannya.
"Nona Maheswari," kata pria berbekas luka itu dengan suara serak. "Ikut kami secara baik-baik. Ada orang yang ingin bicara sebentar denganmu soal RUPS minggu depan. Jangan bikin sulit."
Maya berusaha keras menata napasnya agar tidak terlihat gentar. "Siapa yang menyuruh kalian? Hendra?"
Pria itu hanya terkekeh dingin. "Tidak usah banyak tanya. Serahkan saja dirimu, lalu pahlawan kemeja hitam di sebelahmu ini bisa pulang tanpa patah tulang."
Leo tidak menjawab. Ia hanya melangkah setengah tindak ke depan, memosisikan dirinya tepat di antara Maya dan keenam orang tersebut. Wajahnya tetap datar, namun tatapan matanya fokus memperhatikan tumpuan kaki dan gerakan tangan dari setiap penjahat di depannya.
"Kalian salah pilih hari," ucap Leo datar. "Kemeja ini baru disetrika pagi tadi."
Pria berbekas luka itu mendengus gusar. "Sombong sekali kamu!" Ia memberi isyarat mata kepada dua anak buahnya di sisi kiri. "Habisi dulu pengawalnya!"
Dua pria bertubuh kekar langsung bergerak maju secara bersamaan. Pria pertama mengayunkan tongkat besi secara horizontal menuju kepala Leo, sementara pria kedua mencoba menerjang kaki Leo untuk menguncinya dari bawah. Serangan itu dirancang untuk melumpuhkan lawan dengan cepat.
Namun, gerakan Leo jauh dari perkiraan mereka.
Begitu tongkat besi terayun, Leo merendahkan tubuhnya hanya beberapa sentimeter. Logam berat itu melintas tipis di atas kepalanya. Tanpa buang waktu, Leo mencengkeram pergelangan tangan pria pertama, memutarnya ke arah dalam dengan gerakan efektif, lalu memanfaatkannya sebagai tameng.
BAM!
Lutut pria kedua yang hendak menerjang justru menghantam tubuh rekannya sendiri. Sebelum pria pertama sempat mengaduh, Leo mendorong siku tangannya tepat ke rusuk kiri pria itu. Suara erangan tertahan terdengar keras saat pria itu roboh melipat tubuhnya di aspal basement.
Pria kedua berusaha bangkit dan mengayunkan tinjunya, tetapi Leo memutar tubuhnya lebih cepat. Satu tendangan lurus dan terukur menghantam dada pria itu dengan telak, melempar tubuhnya sejauh dua meter hingga menabrak tiang beton.
Keseluruhan proses itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Ringkas, bersih, tanpa ada gerakan yang terbuang sia-sia.
Dua penjahat yang tersisa di belakang mendadak ragu-ragu. Wajah mereka berganti pucat saat melihat dua rekannya tumbang tanpa sempat memberi perlawanan berarti.
"Kenapa diam?!" teriak pria berbekas luka itu, mulai kehilangan kesabaran. "Serang bersamaan!"
Tiga orang sisanya melangkah maju secara serentak. Pria berbekas luka menarik pisau lipat dari saku jaketnya, sementara dua orang lainnya mengayunkan tongkat besi dari dua arah berbeda. Mereka mencoba mengepung Leo agar fokusnya terpecah.
Leo mengambil satu langkah mundur untuk menjaga jarak pandangnya. Ketika tongkat besi pertama terayun ke arah bahunya, Leo menangkis bagian lengan bawah lawan bukan logamnya dengan telapak tangannya, membelokkan arah serangan hingga menghantam tongkat rekannya sendiri.
PRANG!
Benturan dua tongkat besi itu memicu celah kecil. Leo memanfaatkan sepersekian detik itu untuk melangkah masuk ke dalam area pertahanan lawan. Ia menyikut rahang pria di sebelah kirinya hingga pingsan seketika, lalu memutar tubuhnya untuk menangkap pergelangan tangan pria berpisau.