NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Suami Tak Berguna / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Realitas Kehidupan

Uang yang diberikan Sean pada Hanis beberapa hari lalu sudah menguap tanpa sisa. Ditukar dengan sekantong beras, telur, dan bahan makanan lainnya. Serta digunakan untuk membayar hutang di warung yang sudah menumpuk.

Realitas kemiskinan kembali menghimpit dada. Beberapa menit lalu, pemilik kontrakan baru saja datang menagih tunggakan uang sewa. Mengancam akan mengusir mereka jika tidak bisa segera melunasinya.

Dan yang lebih membuat hati Hanis berdenyut nyeri adalah melihat nasib anak-anaknya yang malang. Empat anak yang harus menanggung penderitaan lahir dari orang tua yang miskin sepertinya.

Seno, anak sulung Hani, sudah berusia lima tahun. Namun di usia tersebut, Seno belum juga bersekolah. Sementara anak-anak tetangga seusianya sudah mengenakan seragam Taman Kanak-kanak, membawa ransel warna-warni dengan berbagai gambar karakter dan berjalan riang menuju ke sekolah, Seno hanya bisa diam di depan rumah kontrakan sempit itu. Memandangi mereka dengan tatapan iri.

“Bu, Seno juga mau sekolah,” rengek Seno pada Hanis yang tengah duduk di atas bangku kayu pendek sambil menyusui bayinya.

“Besok ya, Nak. Besok kalau ayah sama ibu punya uang, Seno bisa sekolah.”

Seno hanya bisa menunduk. Lagi-lagi jawaban itu yang diterimanya. Besok kalau ayah sama ibu punya uang. Tapi nyatanya mereka tidak pernah punya uang, bahkan sekedar untuk menyambung hidup.

Di sebelah Seno, ada Dino yang berusia tiga tahun. Bocah itu tampak mengenaskan. Tubuh kecilnya dibalut oleh kaos oblong usang hasil lungsuran dari anak tetangga bertahun-tahun lalu, awalnya dipakai Seno lalu turun ke Dino.

Kaos itu kini sudah sangat sempit di tubuhnya. Jahitan di bagian ketiaknya robek, dan bagian bawahnya terus terangkat ke atas, mengekspos perutnya. Setiap kali Dino bergerak atau bermain, kaus itu mencekik dada dan ketiaknya, membuatnya sering rewel dan menggaruk-garuk kulitnya yang ruam karena iritasi kain yang kasar dan sempit.

Hanis tak punya uang untuk membelikan sehelai pakaian layak di pasar barang bekas sekalipun. Dino terpaksa harus mengenakannya sampai nanti Rino dapat pekerjaan lagi, atau sampai ada tetangga yang kembali memberinya baju lungsuran.

Sementara itu, anak ketiga mereka yang baru berusia dua tahun, adalah pemandangan yang paling meremukkan hati Rino sebagai seorang ayah. Di usia emas pertumbuhannya, ia nyaris tidak pernah merasakan manis dan gurihnya susu formula.

Anak itu sering menangis di tengah malam, memegangi perutnya yang kelaparan. Sebagai gantinya, Hanis hanya bisa mengaduk air tajin atau sekadar air putih hangat yang dicampur sesendok gula pasir agar ada rasa manis yang menipu lidah mungil itu. Ketiga anak laki-laki itu tumbuh dalam kondisi yang amat menyedihkan, pucat, dan kurus, kehilangan keceriaan masa kecil yang seharusnya mereka miliki.

Dan di sudut ruangan, terbaring di atas kasur busa tipis yang mulai berbau apak, adalah Icha. Anak perempuan bungsu mereka itu baru lahir dua bulan yang lalu. Kehadirannya yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menambah beban keputusasaan di pundak Rino dan Hanis.

Biaya persalinannya di bidan dua bulan lalu masih belum lunas. Bidan itu memang baik hati, namun ada rasa sungkan tiap kali Hanis harus melewati rumah sekaligus tempat praktek sang bidan.

Hanis sendiri masih menyusui, namun pola makan yang tidak terjaga membuat air susunya cenderung sedikit dan sering kali encer. Ia khawatir jika makannya tidak teratur dan jauh dari kata bergizi, maka anaknya juga tidak cukup mendapat nutrisi.

Malam itu, jarum jam sudah menunjuk angka sebelas. Keempat anak mereka akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Rino baru saja pulang. Langkahnya terseret berat, wajahnya ditekuk dalam, dan tangannya kosong melompong. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding batako yang tidak dicat, lalu merosot duduk ke lantai semen. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Bahunya mulai bergetar.

Hanis, yang baru selesai melipat kain lampin Icha, mendekat dengan langkah gontai. Ia ikut duduk bersimpuh di samping suaminya. Tidak ada teh hangat malam ini, tidak ada sisa nasi yang bisa dihangatkan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan suara napas anak-anak mereka yang beradu dengan derik jangkrik.

“Mas…” panggil Hanis lirih, menyentuh lengan Rino yang kasar dan berdebu.

Sentuhan lembut itu justru meruntuhkan seluruh pertahanan Rino. Pria itu mengangkat wajahnya yang kini basah oleh air mata. Matanya merah, menyorotkan rasa bersalah yang teramat dalam dan keputusasaan yang tak berujung.

“Aku suami yang gagal, Han,” suara Rino pecah, serak dan gemetar. Ia memukul lantai semen dengan kepalan tangannya yang gemetar. “Aku bapak yang nggak berguna! Suami macam apa aku ini? Berangkat pagi buta, pulang tengah malam, tapi bawa uang seribu perak saja tidak bisa. Aku gagal, Han... aku gagal menghidupi kalian!”

Mendengarnya, Hanis terisak pelan. Ia meraih kepalan tangan suaminya, menggenggamnya, sesekali mengusap. Menyalurkan kekuatan dan cintanya.

“Jangan ngomong gitu, Mas. Kita harus bertahan, sebentar lagi.”

“Tapi sampai kapan, Han?!” Rino setengah berbisik, berusaha agar suaranya tak membangunkan anak-anak, meski dadanya terasa mau meledak.

“Lihat anak-anak kita! Lihat Seno... dia cuma bisa lihat pagar sekolah dari jauh. Lihat Dino, bajunya sampai kekecilan. Hutang di bidan saja aku tidak tahu harus bayar pakai apa. Kalau pemilik kontrakan mengusir kita minggu depan, kalian mau tidur di mana? Di kolong jembatan? Di emperan toko?”

Air mata Hanis mengalir deras, membasahi daster lusuhnya. Kalimat Rino menyuarakan seluruh ketakutan yang sejak tadi ia pendam rapat-rapat.

“Mas, kita pasti bisa lewati ini. Besok aku bantu cari kerjaan lagi. Aku jadi buruh cuci atau…” kata-kata Hanis tercekat di tenggorokan.

“Atau apa, Nis? Dengan bawa empat anak ke sana-kemari? Siapa yang mau terima?” Rino mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi menguasai seluruh akal sehatnya.

Hanis memeluk leher suaminya erat-erat, ikut menangis sejadi-jadinya. “Kita usahain sama-sama ya, Mas. Kayak janji nikah kita.”

Akhirnya Rino membalas pelukan itu. “Makasih ya, Han. Makasih sudah mau susah bareng aku.”

Satu hal yang pasti, Hanis mencintai Rino dan anak-anak mereka. Bahkan sejak awal, Hanis rela hidup susah bersama Rino. Namun, perlahan Hanis merasa jika ia salah. Ia boleh rela hidup menderita demi cinta, tapi anak-anaknya, mereka layak mendapat kehidupan yang lebih baik.

...****************...

1
falea sezi
sean ini bodoh mau ma jiny bekas gt🤣 mending bantuin haniscerai dr suami nya 🤣 trs elu ama hanis aja
Quoari: Eh nanti gelut dong sama Reno 😭
total 1 replies
falea sezi
egois ini sean🤣 dan lu masih mau ma istri yg bekas di obok2 mantan pcrnya menjijikkan
falea sezi
🤣goblok istri bekas aja mau
Quoari: Terlalu baik sih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!