NovelToon NovelToon
Manusia Vs Setan

Manusia Vs Setan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Pretty

Kota ini menjadi daya tarik utama bagi siapapun.

Terutama untuk mereka yang datang dari ketinggian maupun seberang lautan.

Sesuai dengan namanya jantung kota di pulau ini memanglah sangat cantik.

Bergaya tradisional dengan paduan nuansa modern yang serba maju.

Salah satu tempat yang wajib didatangi oleh para pelancong adalah pasar kota yang ramai.

Setiap hari Sabtu dan Minggu ada saja kreativitas baru yang ditampilkan.

Bagi laki-laki tanpa pendamping seperti Gombloh dan Bokir. Yang paling memikat mata mereka tentu saja kontes kecantikan para gadis.

Wanita-wanita muda berbusana elok akan berjajar dan melenggak-lenggok di atas panggung.

"Sebentar lagi kita akan sampai",

"Setelah turun nanti aku langsung pulang ke kampung ya",

"Kamu tidak mau bermalam di kota dulu bersama kami?",

"Aku bisa kembali lagi lusa sesudah pulang ke rumah",

Sabdo, Gombloh dan Bokir naik angkutan umum terbuka dari tempat turunnya pesawat sampai ke jantung kota.

Tapi semakin dekat dengan lokasi yang mereka idam-idamkan.

Mulai tercium bau hangus.

"Itu kenapa?",

Sabdo bertanya kepada para penumpang yang lain.

"Kebakaran",

"Kebakaran?",

"Baru tadi pagi apinya bisa dipadamkan",

Pasar kota hangus terbakar.

Bangunan-bangunan kayu semuanya ludes, gosong dan roboh.

Keindahan yang tampak dari atas awan beberapa waktu yang lalu hanyalah sebuah kepalsuan.

Ketika sampai di dataran. Banyak puing-puing dan abu yang rata bersama tanah.

Sabdo, Gombloh dan Bokir turun untuk menyaksikan sisa-sisa keganasan si jago merah yang masih menyisakan asap dan hawa panas.

Begitu juga dengan orang-orang yang meratapi kepahitan dan nasib buruk.

Tatapan mata mereka kosong bak kemalingan.

Tidak sedikit yang menangis dan tergeletak pasrah.

Gombloh dan Bokir memperhatikan gadis-gadis di kota ini yang terkenal memiliki kharismatik sendiri.

Memang betul sedemikian menawan.

Tapi sekarang suasana hati mereka sedang sedih.

"Ayo",

"Kemana?",

"Kalian ikut aku saja pulang ke rumah",

"Apa mau tetap di sini sekalian jadi relawan kebakaran?",

"Ayo",

Tidak berselang lama setelah sampai di pusat kota hiburan yang lagi terkena apes.

Tiga sekawan yang sedang menikmati hari libur itu berganti haluan.

Mereka kembali naik angkutan umum terbuka yang berbeda jurusan.

Gombloh dan Bokir setuju untuk menginap di rumah Sabdo.

Karena sebentar lagi hari akan gelap.

"Turun mana?",

"Kampung dalam",

Kampung dalam. Satu-satunya pemukiman warga yang tinggal di dekat hutan.

"Katamu perkebunan?",

"Itu bahasa formalnya saja",

"Aslinya ya hutan",

Setelah turun dari mobil angkutan mereka tidak langsung sampai di kampung Sabdo.

Mereka masih butuh mengayuh kaki.

"Jauh?",

"Tidak sampai satu kilometer",

"Awas kaki ya",

"Perhatikan baik-baik... ",

"Di sini masih banyak ular",

"Kalau terinjak dia akan gigit",

"Di tempat mu ada listrik tidak Do?",

"Aku belum kasih kabar ke orang rumah",

"Aku juga",

"Kalian berdua tenang saja",

"Biar kata pemukiman di dekat hutan, tapi sudah ada listrik",

"Aman",

"Syukurlah",

"Sinyal juga terjangkau",

"Walau kadang sulit",

"Kamu di rumah tinggal sama siapa Do?",

"Kami berdua tidak enak tidak bawa apa-apa",

"Santai saja",

"Di rumah ada bapak dan ibuku",

Menjelang jam sembilan malam.

Sabdo yang lima tahun terakhir hanya pulang satu tahun sekali ketika hari lebaran sampai di rumah.

Dengan membawa dua tamu dari ranah perantauan. Gombloh dan Bokir.

"Seperti inilah rumahku",

"Tidak kamu ketok dulu?",

"Bapak ibuku sekarang pasti sudah tidur",

"Makanya aku selalu bawa kunci sendiri",

"Ayo masuk",

"Bismillahirrahmanirrahim",

"Assalamualaikum",

"Silahkan duduk dulu... ",

Sabdo meninggalkan Gombloh dan Bokir di ruang tamu.

Anak terakhir pemilik rumah tinggal itu masuk ke dalam untuk melihat kamar orang tua.

Sabdo mendapati ibu dan bapaknya sudah tidur pulas sambil mendengkur lirih.

Sabdo kembali ke ruang tamu dengan membawa kendi berisikan air putih dan satu gepok pisang yang belum sepenuhnya matang.

"Kalau mau bersih-bersih",

"Kamar mandinya ada di paling belakang sesudah dapur",

"Kalian bisa tidur di sini",

Sebuah kamar kosong di dekat ruang tamu.

"Ini dulunya tempat tidur saudaraku",

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!