Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pukul 20.00
"Kan saya sudah bilang, tidak ada libur untuk meminum obat itu!" ujar Dokter El tegas seraya mengarahkan ujung pulpennya ke hadapan Aura.
Aura hanya bisa menunduk lesu. "Saya tidak bermaksud melupakan obatnya, Dok. Saya..."
"Apa yang belum kamu ceritakan kepada saya, Aura?" potong Dokter El seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Aura menarik napas panjang, menahan gemetar di dadanya. "Ayah... dia mendatangi apartemen saya lagi."
Aura meremas kedua tangannya erat-erat. "Dia membentak saya... dan seketika semua memori pahit yang sudah bertahun-tahun berusaha saya lupakan, mendadak berputar kembali."
Dokter El menghela napas berat, menatap pasiennya dengan tatapan iba. "Aura, sudah saatnya kamu membuka diri dan mencari seseorang yang bisa membuatmu melupakan masa lalu pahit itu. Kamu layak dicintai dan bahagia."
Dokter El menyandarkan tangannya di meja. "Membagi kisah pahit bukan berarti kamu mengulang trauma itu, tapi untuk mengurangi beban berat di dalam hatimu."
Saat kata-kata itu terucap dari bibir Dokter El, satu nama mendadak melintas begitu cepat di benak Aura: Darrel.
Aura tersentak kecil, buru-buru menggelengkan kepala untuk menghempaskan bayangan itu dari pikirannya.
"Ada apa?" tanya Dokter El sigap.
"Tidak... tidak apa-apa, Dok. Saya cuma merasa sedikit lelah saja."
"Saya resepkan beberapa obat tambahan untukmu. Kali ini harus diminum teratur, jangan sampai terlewat lagi!" pesan Dokter El penuh penekanan.
Aura mengangguk pelan seraya mengulas senyum tipis.
.
.
.
Aura kembali ke studio naskah dengan langkah lesu, menggendong tas laptopnya di bahu. Saat melangkahi koridor, ia melewati Desi yang tengah mengambil botol minuman dari dalam kulkas. Desi menatapnya dengan raut heran.
"Kenapa lesu terus, sih?" tanya Desi. Jemarinya secara tidak sengaja menggeser botol multivitamin pemberian Darrel minggu lalu yang masih tersegel utuh di dalam kulkas.
Aura menatap botol itu, gumaman pelan lolos dari bibirnya tanpa sadar, "Darrel..."
"Cieee... ada apa nih, Calon Istri Pak Darrel?" goda Desi langsung.
Aura terperanjat, buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah. "Nggak kok! Aku mau lanjut ngetik naskah dulu, jangan diganggu."
"Nggak bakal diganggu kok. Tapi tadi Pak Darrel sempat chat nanya kamu ada di studio atau enggak. Baru aja aku balas kalau kamu ada di sini," kekeh Desi jenaka.
Aura memelototkan matanya ke arah Desi, sementara Desi hanya membalasnya dengan tawa renyah.
Tak berselang lama, sesosok tubuh tegap menduduki kursi kosong tepat di hadapan Aura. Aroma parfum familier—aroma maskulin khas Darrel yang selalu dihafal Aura setiap kali pria itu berada di dekatnya—merebak memenuhi udara.
Tanpa permisi, Darrel menurunkan layar laptop Aura. "Sibuk banget?"
"Iya," sahut Aura singkat seraya mendorong kembali layar laptopnya ke atas.
"Tinggal satu langkah lagi. Kita cuma butuh tanda tangan persetujuan dari Kak Daffa," ujar Darrel memberi tahu kelanjutan proyek filmnya.
Jemari Aura masih sibuk mengetik di papan ketik. "Pak Daffa tidak akan setuju. Saya juga sudah bilang pada Bapak, lebih baik kerja sama ini dibatalkan saja."
Dengan gerakan cepat dan sigap, Darrel merebut laptop Aura sebelum wanita itu sempat mencegahnya. Darrel menutup benda itu lalu menyingkirkannya ke tepi meja. Begitu Aura hendak menyambar kembali laptopnya, pria bertopi hitam itu dengan cekatan menahan kedua pergelangan tangan Aura. Cengkeramannya cukup kuat, mengunci pergerakan wanita itu.
"Datang ke mansion nanti malam. Saya jemput jam delapan," bisik Darrel tepat di depan wajah Aura dengan tatapan mengintimidasi yang tajam.
Usai melepaskan pergelangan tangan Aura, Darrel menggeser kembali laptop itu ke hadapannya, lalu berbalik pergi seraya menyembunyikan senyum tipis di balik topinya yang dirapatkan.
Desi yang baru datang membawa dua botol minuman memandangi punggung Darrel dengan raut penasaran. "Aneh banget... ganteng-ganteng kok senyum-senyum sendiri begitu?" ujarnya seraya meletakkan botol di meja.
Aura yang mendengar celetukan Desi langsung mengerutkan dahi. "Senyum? Siapa, Mbak?"
"Itu... Pak Darrel," tunjuk Desi ke arah pintu keluar di mana bayangan Darrel baru saja menghilang.
Aura menunduk. Sebuah senyum tipis yang hangat terulas di bibirnya tanpa bisa ia cegah.
Pukul 20.00 WIB.
Bukan karena Aura sengaja mengabaikan perintah dokter, melainkan jadwal minum obat dari Dokter El memang ditetapkan pukul delapan malam. Sayangnya, Aura terlelap di sore hari akibat kelelahan fisik usai bekerja seharian di studio.
Saat nada alarm di ponselnya bergema nyaring—alarm yang memang dipasang khusus untuk mengingatkannya minum obat—dampak dari pergantian fase tidur justru mengejutkan sistem sarafnya. Alarm itulah yang memicu switching.
Clara mengambil alih.
Perempuan itu membuka matanya lebar-lebar, lalu duduk di tepi ranjang. Ponsel Aura di atas nakas terus berdering tanpa henti. Clara meraihnya dengan santai, menatap nama yang tertera di layar.
"Aura! Aku sudah di depan unitmu. Aku sudah menekan bel berkali-kali. Kamu di mana?" cecar suara Darrel dari balik telepon.
Clara menyilangkan kakinya, mengulas senyum miring yang licik.
"Tunggu lima menit... Sayang," bisik Clara sensual, lalu mematikan panggilan secara sepihak.
Di balik pintu apartemen, Darrel membeku seketika. Sensasi dingin merambat di tengkuknya saat menyadari suara siapa yang baru saja menyahut di telepon.
Pria itu menurunkan ponsel dari telinganya, menatap nama di layar dengan napas tertahan: Aura Clarissa.