Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Mas Hendar
"Mas Hendar," bisik Raka.
Hanya dua kata, nyaris tanpa suara. Tapi lelaki itu mendengarnya, dan senyumnya melebar, hangat dan sangat ramah, persis seperti dulu.
"Kau masih ingat," katanya dalam bahasa Indonesia, dan kali ini nadanya benar-benar gembira. "Dua tahun, Rak. Dua tahun sejak terakhir kita bicara. Kupikir kau sudah membuang namaku dari ingatanmu."
Para tamu di sekeliling mereka saling melirik, bingung. Mereka tak memahami sepatah kata pun, tetapi mereka bisa merasakan sesuatu yang aneh di antara tiga orang itu. Wirabhaya, di belakang Raka, perlahan menggeser posisi kakinya, siap bergerak.
Hendarto Wiryawan.
Raka hampir tak percaya. Ia mengenal lelaki itu sejak umur dua puluh, ketika ia mengikuti komunitas pelestari naskah kuno di Surakarta dan Mas Hendar menjadi salah satu anggota senior. Seorang kolektor, peneliti independen, dan, pada masa itu, sosok yang Raka kagumi hampir seperti kakak. Mas Hendar yang mengajarinya membaca aksara Jawa Kuna pertama kali. Mas Hendar yang meminjamkan buku-buku langka. Mas Hendar yang duduk bersamanya sampai larut malam di warung wedangan, membahas Nagarakretagama sambil makan nasi kucing.
Dan Mas Hendar juga yang, dua tahun lalu, berusaha menjual selembar lontar dari abad empat belas ke seorang kolektor asing di Singapura dengan harga tiga ratus juta rupiah.
Raka telah melaporkannya. Mereka bertengkar hebat, untuk pertama dan terakhir kalinya. Setelah itu mereka tak pernah berbicara lagi.
"Kenapa..." Suara Raka serak. "Kenapa Mas ada di sini?"
"Nanti kujelaskan. Percayalah, aku punya banyak sekali hal untuk dijelaskan." Hendar menoleh pada Mpu Kalandara dan mengangguk hormat, tulus, tidak menyindir. "Pak Kalandaru. Maaf kalau penyambutan saya mengejutkan. Tapi saya sudah menunggu bertahun-tahun untuk bertemu dengan Bapak."
"Bertahun-tahun?" Mpu Kalandara mengerutkan dahi. "Kau baru tiba di sini beberapa pekan."
"Di dunia ini, ya. Tetapi di dunia kita, saya sudah membaca tulisan Bapak sejak muda. Buku Bapak tahun delapan puluh sembilan adalah bacaan wajib saya." Hendar tersenyum. "Bapak adalah pahlawan saya."
Pujian itu terdengar tulus, dan justru itulah yang membuat bulu kuduk Raka berdiri.
Hendar tidak membuang waktu. Ia mengangkat kedua tangan, dan seketika seluruh ruangan terdiam, bahkan para pejabat yang tadinya berbisik-bisik. Lalu ia berbicara dalam bahasa Jawa Kuna yang jernih dan berwibawa, nada suaranya seperti seorang pendeta besar.
"Hadirin yang mulia. Saya mohon maaf atas ketidakpantasan saya berbicara dalam bahasa saudara jauh di depan para tamu. Dua orang ini adalah sahabat lama dari negeri tempat saya berasal, Pandita Kalandara, sesepuh yang kami hormati, dan muridnya, Raka. Beberapa tahun lalu kami terpisah oleh nasib. Malam ini, para dewa mempertemukan kami kembali."
Murmur takjub merambat di antara para tamu. Beberapa menyentuh dahi dengan tangan, beberapa menunduk penuh hormat. Raka mengerti dalam sekejap: Hendar sudah menanamkan dirinya begitu dalam di benak mereka sampai orang-orang percaya ia memang utusan langit.
Dan kini ia memakai Raka dan Mpu sebagai bukti lebih lanjut.
"Mari," kata Hendar, kembali ke bahasa Indonesia, merentangkan tangan. "Ada ruang yang lebih tenang di sebelah sana. Kita bicara di sana."
"Dan kalau kami menolak?" tanya Mpu Kalandara.
"Maka Bapak tak akan pernah tahu apa yang saya temukan." Senyum Hendar tak pernah berubah. "Dan saya pikir Bapak terlalu penasaran untuk menolak."
Ruangan itu kecil, berdinding kayu, diterangi dua pelita. Di tengahnya terdapat meja rendah dengan teko dan tiga cangkir. Hendar duduk bersila di satu sisi, mempersilakan keduanya duduk di seberangnya. Wirabhaya, yang diizinkan mengikuti, berdiri diam di dekat pintu dengan tangan di dekat kerisnya.
"Silakan minum," kata Hendar. "Tehnya aman. Aku tak akan meracuni sahabat lama."
"Kau melaporkan kami ke pejabat istana dan menyebut kami 'kerabat'," kata Raka datar. "Kau sudah mengatur sandiwara ini."
"Aku menyelamatkanmu dari kecurigaan, Rak." Hendar mengangkat bahu. "Kalau mereka tahu kau orang asing yang tiba-tiba muncul dari hutan tanpa seorang pun yang menjamin, kau sudah mendekam di penjara sekarang. Anggap saja ini bantuan."
"Aku tak pernah memintanya."
"Kau tak perlu meminta." Hendar menatapnya lekat-lekat, dan untuk sesaat ada kerinduan nyata di matanya, rasa kehilangan yang membuat Raka tak nyaman. "Aku tahu kau marah padaku. Aku tak menyalahkanmu. Aku salah dua tahun lalu. Aku tahu itu sekarang. Tapi aku sudah berubah, Rak."
"Berubah?"
"Aku menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari uang." Hendar bersandar dan menyilangkan jari-jari di pangkuan. "Dua tahun lalu, aku mendapatkan selembar lontar dari seorang tukang batik di Laweyan. Bukan untuk dijual, kau salah paham. Aku hanya ingin menyelamatkannya sebelum rusak."
"Lontar yang sama yang..." Mpu Kalandara bergumam.
"Yang sama dengan yang Bapak cari di tahun sembilan puluh satu. Ya." Hendar mengangguk. "Isinya bukan kidung biasa. Isinya peta. Dan petunjuk-petunjuk tentang siklus, tentang gerbang, tentang cara membukanya."
Raka mengepalkan tangan di bawah meja. Dugaannya benar.
"Aku menghabiskan dua tahun menerjemahkannya," lanjut Hendar. "Menghitung pasaran, mencocokkan bintang, mencari lokasi. Dan malam itu, malam Jumat Kliwon, aku menunggu di Laweyan, di gang sempit tempat gapura itu seharusnya muncul."
"Seharusnya muncul?" ulang Raka.
"Aku sudah menunggu empat Jumat Kliwon berturut-turut, dan tak ada yang terjadi." Hendar menatapnya tajam. "Sampai malam itu. Malam kau melewati gang itu, Rak. Dan aku melihat sendiri bagaimana gapura itu muncul dari kabut, dan bagaimana kau melangkah ke dalamnya seakan sudah menunggu seumur hidupmu."
Dunia seakan miring di bawah Raka.
"Mas mengikutiku?"
"Aku mengikuti gapura itu." Hendar menggeleng sedikit. "Tapi ya, aku melihatmu masuk, dan aku langsung berlari menyusul sebelum gerbangnya menutup. Jam tiga lewat sepuluh. Persis seperti yang tertulis di lontar."
"Itu berarti," kata Mpu Kalandara pelan, "gerbang itu terbuka karenanya."
"Bukan karena aku, Pak. Karena dia." Hendar menunjuk Raka dengan telapak tangan terbuka. "Entah mengapa, gerbang itu membuka untuknya. Dan itu sebabnya aku di sini, hari ini, berbicara dengan kalian, bukan menyembunyikan diri."
"Kenapa?" tanya Raka, suaranya tegang. "Apa yang Mas inginkan?"
Hendar menatapnya lama. Senyumnya memudar, berganti ekspresi yang lebih serius dan jauh lebih berbahaya.
"Aku ingin menyelamatkan tempat ini," katanya pelan. "Kau tahu bagaimana ceritanya berakhir, Rak. Empat belas tahun lagi, Gajah Mada wafat. Majapahit mulai retak. Satu setengah abad kemudian, kerajaan ini runtuh dan dilupakan. Semua ini, kota ini, orang-orang ini, akan menjadi tumpukan bata di tengah ladang jagung." Ia menunjuk dengan jari ke sekeliling ruangan. "Aku bisa mencegahnya. Dengan pengetahuan kita, kita bisa mencegahnya."
"Itu mengubah sejarah," kata Mpu Kalandara tegas.
"Itu menyelamatkan sejarah, Pak." Hendar menyondongkan tubuh. "Dan aku butuh bantuan kalian. Bapak, dengan pengetahuan naskah. Raka, dengan kunci yang entah bagaimana kau pegang."
"Kunci?"
"Gerbang itu, Rak. Kau satu-satunya yang bisa membukanya, atau paling tidak, kau dan seseorang lagi." Matanya berkilat. "Seorang gadis, katanya. Dengan cincin matahari."
Wirabhaya bergerak, dan Raka menahan napas.
"Aku tak tahu siapa dia," lanjut Hendar, nadanya ringan. "Tapi kalau kau bertemu dengannya, kabari aku. Karena dialah satu-satunya jalan pulang bagi kita semua."
Hening menyelimuti ruangan. Pelita berkedip, dan di kejauhan terdengar suara gamelan dari pendopo.
"Besok fajar," kata Hendar akhirnya, bangkit berdiri. "Aku akan menunggu jawabanmu, Rak. Bergabunglah denganku, atau jadilah musuhku. Tapi pikirkan baik-baik."
Ia menepuk bahu Raka dengan ramah, seperti dulu, lalu berjalan keluar, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekik.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹