Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Kerjasama Tommy & Velerie.
Suara denting musik pop dari speaker kafe remang-remang di sudut jalanan Jakarta Selatan malam itu tidak mampu mengusir ketegangan di salah satu meja paling pojok. Valerie Clarissa duduk anggun dengan kaki menyilang, menyesap ice americano-nya perlahan.
Riasan wajahnya tetap sempurna, namun kilat matanya memancarkan aura dingin yang penuh dengan rencana busuk.
Di seberang meja, duduk Tommy. Ketua geng motor Griffin itu mengenakan jaket kulit hitamnya yang biasa, menatap Valerie dengan dahi berkerut dalam dan tatapan mata yang dipenuhi kecurigaan. Di sampingnya, Reza bersedekap, mengawasi situasi.
"Jadi, buat apa cewek borjuis kayak lo ngajak ketemuan di tempat kayak gini?" tanya Tommy langsung pada inti masalah, suaranya berat dan serak. "Gue nggak punya waktu buat main-main sama sirkel elit lo."
Valerie terkekeh pendek, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan namun manis. Ia meletakkan gelasnya ke meja.
"Gue ke sini bukan buat main-main, Tommy. Gue ke sini karena kita punya satu kesamaan yang sangat menarik."
Tommy menaikkan sebelah alisnya. "Kesamaan apa?"
"Kita sama-sama benci melihat Langit tersenyum menang bersama Aletha," desis Valerie, senyum anggunnya mendadak lenyap digantikan oleh sorot mata yang penuh dendam.
"Gue tahu harga diri lo sebagai raja jalanan hancur lebur di Jalan Baru minggu lalu. Dan gue juga tahu lo dipermalukan di depan kelas XI-IPA 2 oleh Langit."
Rahang Tommy seketika mengeras mendengar kata 'dipermalukan'. Urat-urat di lehernya menegang, dan cengkeraman tangannya pada cangkir kopi hampir saja memecahkan gelas tersebut. Reza yang berada di sampingnya ikut menatap Valerie dengan gusar.
"Lo sengaja ngajak ketemuan cuma buat ngebahas kekalahan gue, hah?!" bentak Tommy emosi.
"Tenang dulu, *Boys*," Valerie mengangkat satu tangannya dengan tenang, menenangkan emosi Tommy. "Gue ke sini buat nawarin kerja sama. Pesta pertunangan resmi mereka bakal diadakan tiga hari lagi di Hotel Grand Voss. Mewah, eksklusif, dan bakal dihadiri semua relasi bisnis papan atas."
Valerie memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Tommy penuh arti.
"Gue tahu hubungan lo sama Aletha udah berjalan hampir satu tahun. Nggak mungkin kan selama satu tahun itu lo nggak punya rahasia atau 'kartu as' yang bisa menghancurkan reputasi cewek sok suci itu di depan keluarga besar Voss?"
Tommy terdiam. Matanya bergerak liar, memikirkan sesuatu.
"Maksud lo... kita ngerusak pestanya?" tanya Reza yang mulai menangkap arah pembicaraan Valerie.
"Tepat sekali," Valerie tersenyum licik, matanya berkilat puas. "Gue yang bakal pegang akses masuk ke dalam hotel karena keluarga gue adalah tamu VIP. Tugas lo berdua simpel. Kasih gue informasi, foto, atau apa pun masa lalu Aletha yang paling buruk yang bisa bikin Om Wirawan dan Tante Karina merasa jijik dan langsung membatalkan pertunangan itu di tempat."
Valerie merogoh tas desainer mahalnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat dan mendorongnya ke depan dada Tommy. Di dalamnya berisi tumpukan uang tunai bergepok-gepok yang nilainya tidak sedikit.
"Ini uang muka buat modal geng motor lo. Dan kalau rencana ini berhasil, gue bakal pastiin geng Griffin dapet sponsor penuh dari perusahaan bokap gue," bisik Valerie manipulatif, memberikan tawaran yang terlalu menggiurkan untuk ditolak oleh seorang berandalan jalanan.
Tommy menatap amplop cokelat itu lama, sebelum akhirnya beralih menatap wajah Valerie. Rasa sakit hati karena ditolak dicium di bioskop, ditambah rasa malu karena dihantam oleh Langit di lintasan balap, membuat akal sehat ketua geng motor itu menguap sepenuhnya. Dendamnya telah mengalahkan sisa rasa sayangnya pada Aletha.
Tommy mengulurkan tangan kasarnya, menyambar amplop cokelat itu dan memasukkannya ke dalam kantong jaket kulitnya. Sudut bibirnya yang lebam terangkat membentuk seringai sinis yang mengerikan.
"Gue punya sesuatu yang lebih dari sekadar foto biasa, Valerie," ucap Tommy dengan nada suara yang rendah dan licik.
"Sesuatu yang bakal bikin si juara umum spek dewa itu sadar kalau cewek yang dia bangga-banggain... ternyata punya sisi gelap yang nggak pernah dia bayangin."
Valerie tertawa puas, suara tawa yang begitu nyaring dan penuh kemenangan memecah keheningan kafe.
"Bagus. Mari kita kasih kejutan yang paling nggak terlupakan buat calon pengantin spek dewa itu di altar pertunangan mereka."
Malam itu, di balik bayangan remang-remang kota Jakarta, sebuah aliansi iblis resmi terbentuk. Bom waktu telah diaktifkan oleh Valerie dan Tommy, dan tiga hari dari sekarang, badai terbesar yang sesungguhnya siap menghancurkan seluruh kebahagiaan baru yang baru saja mekar di antara Aletha dan Langit.