NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. 8 APRIL

Malam kelam 8 April, delapan tahun lalu. Hujan darah seolah membasahi kediaman keluarga Theodore ketika seorang pria berjubah hitam dengan topeng elang menjejakkan kaki, menebar teror kematian tanpa ampun.

"Anak kecil... keluarlah. Aku tahu masih ada satu anak lagi di sini," tawa pria bertopeng itu menggelegar ke setiap sudut ruang tamu, memecah kesunyian yang penuh ngeri.

Di balik celah sempit di belakang lemari bawah tangga, Leo kecil mendekap mulutnya rapat-rapat. Napasnya tercekat, menahan isak tangis di tengah derai air mata dan rasa takut yang melumpuhkan jiwa.

Dor! Dor! Dor!

Peluru-peluru panas berhamburan menembus dinding kayu. Sekejap kemudian, pintu utama didobrak paksa. Liam Theodore datang bersama para pengawalnya, langsung menghadiahi timah panas yang menembus tepat di tangan kanan sang pria bertopeng.

Namun, pemandangan yang menyambut mata Liam menghancurkan dunianya. Jasad anak lelakinya, Lucas, sang menantu Quen, serta cucu pertamanya Levy, tergeletak tak bernyawa dalam genangan darah yang pekat dan mengenaskan.

"Kamu siapa! Berani sekali kamu membunuh keluargaku!" teriak Liam histeris, kembali melepaskan tembakan yang berhasil dihindari sang pembunuh.

"Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Tapi ini balasannya karena dia sudah berani membantai keluarga kekasihku!" pekik pria bertopeng itu sebelum melemparkan bom asap pekat.

Ruangan seketika dipenuhi kepulan asap putih yang menyesakkan. Saat asap mulai menipis, pelaku telah melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Liam terduduk lemas, mendekap jasad putranya sambil meratap pilu. "Lucas..." isap seorang pembunuh bayaran legendaris yang membunuh tanpa menyentuh korbannya secara langsung, kini hatinya hancur berkeping-keping melihat keluarganya musnah.

"Cepat bawa mereka bertiga untuk segera diurus pemakamannya!" perintah Liam dengan suara bergetar. Sesaat kemudian ia tersentak, menyadari sesuatu. "Dimana Leo? Apa kalian melihat jasadnya?" teriaknya panik. "Cepat cari dia sampai ketemu!"

Di dalam persembunyiannya, Leo mengintip lewat celah lemari. Melihat sosok kakeknya, ia merangkak keluar dan menghambur ke pelukan Liam. "Kakek..." isapnya diiringi wajah yang berlumuran darah segar. Liam memeluk cucu keduanya erat-erat, tak kuasa menahan derita melihat bocah delapan tahun itu harus menyaksikan pembantaian keluarganya.

Keesokan harinya, di bawah guyuran hujan deras yang menyapu duka, jasad Lucas, Levy, dan Quen dimakamkan. Leo berdiri kaku mengenakan setelan serba hitam di balik payung legam, menatap kosong pusara orang tua dan kakaknya.

"Kakek... siapapun yang membunuh keluargaku dan membuatku kehilangan mereka, dia harus mati suatu saat nanti," gumam Leo dingin. Liam mengira itu hanya bualan anak kecil, tak menyangka luka itu menjadi benih iblis dalam diri sang cucu. Di usianya yang baru sepuluh tahun, Leo dengan dingin menghabisi anjing-anjing pelacak milik kakeknya sendiri tanpa ragu.

Waktu berlalu kejam. Di usia empat belas tahun, takdir menyeret Leo lebih jauh ke dalam jurang kegelapan. Malam itu, Leo pulang dengan tubuh dan pakaian yang sepenuhnya bersimbah darah segar usai membantai satu keluarga demi klien kakeknya.

"Leo! Apa yang terjadi denganmu?!" bentak Liam saat melihat cucunya mengobati lukanya sendiri tanpa ekspresi.

"Tuan muda habis membantai satu keluarga malam ini, dia bersikeras ikut," sahut pengawal Liam ketakutan.

"Kenapa kamu malah menjadi pembunuh bayaran?!" pekik Liam murka.

Leo menatap kakeknya tajam. "Kakek tidak perlu menasehatiku jika anak kakek sendiri seperti itu. Meskipun kakek punya hati yang baik, darah pembunuh sudah mengalir di garis keturunan kita," sahut Leo dingin sebelum mengusir Liam dari kamarnya.

Delapan tahun berlalu sejak malam berdarah itu. Pagi ini, kediaman Theodore diwarnai tawa riang.

"Kakak, ayo bangun, kita main!" pekik Vellora, menaiki perut Leo yang sedang berbaring di atas tatami.

Leo memutar bola matanya malas, lalu mengangkat tubuh kecil itu dan memindahkannya ke lantai. "Sudahlah, main sendiri sana."

Bibir gembil Vellora mengerucut sedih. "Tapi aku tidak punya teman... aku cuma punya Timi, boneka beruang pemberian ibuku."

Melihat mata anak itu berkaca-kaca, pertahanan dingin Leo akhirnya runtuh. "Iya, iya, aku ikut. Jangan cemberut."

Wajah Vellora langsung berbinar senang. Ia menarik tangan Leo keluar kamar, pemandangan yang disaksikan Liam dengan senyuman tipis dari kejauhan.

Di tepi air terjun kecil di dalam rumah, Vellora menatap ikan-ikan kecil yang berenang. "Kak, apa ikannya bisa dimasak?"

"Tidak," jawab Leo datar.

"Emm... aku ingin makan ikan," rengek Vellora dengan mata memelas.

Melihat ekspresi itu, Leo menghela napas pasrah. "Ya sudah, nanti kita keluar makan ikan."

"Benarkah?!" tanya Vellora antusias.

"Benar," jawab Leo malas, perlahan membiarkan kehangatan kecil itu meruntuhkan dinding es di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!