yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 14) dia kembali
Seminggu berlalu begitu damai. Rumah itu kini benar-benar terasa seperti rumah — tawa terdengar di setiap sudut, aroma makanan hangat selalu tercium, dan Marco yang dulu dingin kini selalu terlihat tersenyum saat berada di dekat Yuna. Mereka berjalan beriringan, berbagi cerita di malam hari, dan perlahan menyusun masa depan yang indah bersama. Yuna merasa akhirnya kebahagiaan itu benar-benar miliknya. Dia pikir semua badai sudah berlalu. Dia pikir bahaya sudah lama pergi.
Namun takdir seakan belum selesai menguji mereka.
Suatu sore yang cerah, Yuna sedang menyiram bunga di halaman depan. Pagar gerbang yang biasanya tertutup rapat, perlahan terbuka sendiri. Seorang pria berdiri di sana — mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi, senyum tipis yang terlihat sopan namun matanya memancarkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Yuna berdiri tegak. Dia tampan, dengan rambut hitam yang disisir rapi, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya itu — tajam, licik, dan penuh perhitungan.
Langkah kakinya pelan namun mantap saat masuk ke halaman. Yuna menahan napas, meletakkan selang air perlahan di tanah.
"Siapa kau?" tanyanya lembut namun tegas, berusaha tidak terlihat takut.
Pria itu tersenyum lebih lebar, menatap Yuna dari atas ke bawah seakan sedang menilai sesuatu yang baru saja ia temukan."Jangan takut, cantik. Aku bukan musuhmu. Setidaknya... belum saatnya," suaranya halus namun membuat hati Yuna berdebar cemas. "Namaku Julian. Dan aku datang... untuk menemui teman lamaku."
Belum sempat Yuna menjawab, Marco muncul di ambang pintu. Wajahnya yang biasanya tenang dan hangat seketika berubah pucat. Tubuhnya menegang kaku, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat di lehernya menonjol keluar. Tatapannya bukan lagi sekadar terkejut — melainkan penuh ketakutan yang dalam, seakan hantu dari masa lalu yang paling gelap baru saja muncul di hadapannya.
"Julian..." gumamnya pelan, suaranya rendah dan penuh kebencian yang tertahan. "Kau masih hidup."
Julian tertawa pelan, suara yang terdengar mengejek dan merendahkan. Dia melangkah maju satu langkah, dan refleks Marco langsung melangkah ke depan, berdiri di antara pria itu dan Yuna, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Kenapa kau terdengar kecewa, Marco? Bukankah kau senang melihatku? Kita berdua punya banyak hal untuk diobrolkan, bukan? Tentang masa lalu kita... tentang rahasia yang kau kubur dalam-dalam... dan tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian ibumu."
Kalimat itu menghantam Marco lebih keras dari apa pun. Bahunya bergetar. "Cukup! Pergi dari sini sekarang juga! Kau tidak diundang!"
"Tidak secepat itu," Julian berjalan perlahan mengelilingi halaman, seakan dia adalah tuan rumah di sana. Dia melirik ke arah Yuna yang masih berdiri di belakang Marco, lalu tersenyum miring. "Jadi ini dia? Wanita yang membuat Qing yang kejam itu melemah? Menarik sekali. Dia terlihat begitu polos... begitu tidak tahu apa-apa tentang siapa kamu sebenarnya, Marco. Atau mungkin dia belum tahu siapa ayahnya sendiri?"
Tangan Marco mencengkeram lengan Julian dengan kuat, menekannya hingga pria itu meringis. "Jangan kau berani melibatkannya dalam urusan kita. Urusanmu denganku, selesaikan denganku saja. Pergi sebelum aku benar-benar melupakan bahwa kita pernah tumbuh bersama."
Julian melepaskan cengkeraman itu perlahan, menyeka lengan jasnya seakan kotor disentuh Marco. Tatapannya berubah dingin dan mengancam.
"Aku tidak datang untuk berperang hari ini. Aku hanya ingin menyapa teman lamaku. Tapi ingatlah ini, Marco — dunia ini terlalu kecil untuk bersembunyi. Dan rahasia-rahasia yang kau simpan... tidak akan tetap diam selamanya. Suatu hari nanti, kebenaran akan terungkap. Dan saat itu tiba... lihatlah apakah wanita yang kau cintai ini masih akan berdiri di sisimu."
Dia berbalik perlahan, berjalan menuju gerbang yang terbuka itu. Namun sebelum melangkah keluar, dia berhenti dan menoleh sedikit.
"Sampai jumpa lagi, sahabat lama. Dan sampai saat itu... jaga dirimu dengan baik. Karena aku tidak akan pergi jauh."
Dengan itu dia hilang di balik gerbang. Hening kembali menyelimuti halaman, namun keheningan itu kini terasa jauh lebih berat dan menakutkan dari sebelumnya.
Marco berdiri diam, napasnya terasa berat dan tidak teratur. Punggungnya yang tegap kini terlihat rapuh. Yuna meletakkan tangannya lembut di bahunya, dan saat dia berbalik, dia melihat air mata menahan di sudut mata lelakinya — bukan karena takut pada pria itu, tapi karena ketakutan akan apa yang mungkin akan hancur.
"Siapa dia, Marco?" tanya Yuna pelan namun tegas. "Dan apa yang dia maksud dengan semua itu?"
Marco menutup matanya rapat-rapat, menarik napas panjang yang terasa menyakitkan. Dia memegang kedua bahu Yuna, menatapnya dengan tatapan yang penuh permohonan.
"Dia adalah bagian dari masa laluku yang paling gelap, Yuna. Dia adalah sahabatku dulu... sampai dia mengkhianati ku. Dan dia tahu segalanya — setiap rahasia, setiap kesalahan, setiap luka yang pernah aku alami. Dia tidak datang untuk berdamai. Dia datang untuk menghancurkan apa yang paling berharga bagiku."
Dia memeluk Yuna erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yuna masih di sana, aman di pelukannya.
"Maafkan aku... aku pikir aku sudah menjauhkannya dari hidupku selamanya. Tapi dia kembali. Dan aku takut... aku takut dia akan menggunakan mu untuk menghancurkan ku. Tolong, berjanjilah padamu kau akan tetap di sisiku. Apa pun yang terjadi, apa pun yang dia katakan nanti... percayalah padaku. Hanya padaku."
Yuna merangkulnya balik, mengusap punggungnya dengan lembut, berusaha menenangkan hati yang sedang bergetar itu.
"Aku berjanji. Apa pun yang terjadi, aku percaya padamu. Kita hadapi dia bersama-sama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bukan?"
Marco mengangguk, tapi matanya tidak tenang sepenuhnya. Dia tahu Julian. Dia tahu apa yang mampu dilakukan pria itu. Dan dia tahu satu hal yang belum dia katakan pada siapa pun — satu kebenaran yang jika terungkap, bukan hanya hubungannya dengan Yuna yang hancur, tapi seluruh dunia yang mereka kenal akan runtuh.
Malam itu, Marco tidak tidur. Dia duduk di tepi jendela, menatap kegelapan di luar sana. Julian kembali. Dan pertanda buruk itu baru saja dimulai.
BERSAMBUNG...