NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Amplop cokelat itu tergeletak di atas meja kerja Nadira ketika ia tiba di kantor pada Senin pagi.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada perangko. Hanya namanya yang tertulis di bagian depan dengan tinta hitam, menggunakan huruf-huruf yang terasa asing sekaligus mengganggu.

Nadira berhenti sebelum menarik kursinya.

“Punya penggemar rahasia?” Keisha bertanya dari meja sebelah, sambil mengunyah roti.

“Kalau penggemarku mulai mengirim amplop tanpa nama, aku akan mempertimbangkan pindah profesi.”

“Jadi, buka saja. Siapa tahu isinya uang.”

“Kalau isinya tagihan, kamu yang bayar.”

Keisha mengangkat kedua tangan. “Aku tidak terlibat dalam urusan keuangan orang-orang misterius.”

Nadira mengambil amplop itu, membaliknya, lalu memeriksa setiap sisinya. Tidak ada alamat atau petunjuk lain. Lemnya bahkan masih tertutup rapat.

Ia akhirnya membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat satu lembar kertas dan sebuah foto lama.

Begitu melihat foto itu, jemari Nadira mendadak kaku.

Foto tersebut memperlihatkan ibunya, Ratih Prameswari, sedang duduk di kursi rumah sakit. Wajah Ratih tampak pucat, tubuhnya kurus, dan senyum kecil yang dipaksakannya tidak mampu menyembunyikan kelelahan di matanya.

Nadira mengenali foto itu.

Lima tahun lalu, beberapa hari sebelum ibunya menjalani operasi.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari foto yang selama ini tersimpan dalam album keluarga. Di bagian belakang foto yang baru diterimanya, seseorang menuliskan sebuah kalimat.

Tidak semua pertolongan diberikan tanpa harga.

Nadira membaca tulisan itu dua kali.

“Ada apa?” Keisha bertanya, kali ini tanpa nada bercanda.

Nadira segera membalik foto tersebut agar Keisha bisa melihatnya.

Senyum di wajah temannya menghilang.

“Ini foto ibumu?”

Nadira mengangguk pelan.

“Siapa yang mengirimnya?”

“Entahlah.”

Ia mengambil kertas di dalam amplop. Hanya ada dua baris kalimat.

Kalau ingin tahu siapa yang sebenarnya membayar operasi ibumu lima tahun lalu, berhentilah percaya pada cerita yang selama ini kamu dengar.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya kalimat yang membuat sesuatu dalam ingatan Nadira bergerak, membuka pintu yang selama ini sengaja tidak disentuhnya.

Lima tahun lalu, ibunya menjalani operasi besar setelah kondisi kesehatannya memburuk. Biayanya jauh melampaui kemampuan keluarga mereka. Ayah Nadira sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya, sementara penghasilan ibunya sebagai pemilik usaha kecil tidak pernah cukup untuk menanggung biaya sebesar itu.

Nadira masih ingat malam-malam ketika ia menghitung tabungan, menghubungi kerabat, dan mencari pinjaman ke mana-mana.

Ia juga ingat ketika ibunya akhirnya mengatakan bahwa masalah biaya telah diselesaikan.

Ratih tidak pernah menjelaskan secara terperinci siapa yang membantu mereka. Ia hanya mengatakan bahwa seseorang telah memberikan bantuan melalui jalur yang tidak perlu mereka cemaskan.

Waktu itu, Nadira terlalu sibuk memastikan ibunya bisa menjalani operasi dengan aman untuk mengajukan pertanyaan lebih jauh.

Sekarang, seseorang sedang memberitahunya bahwa cerita itu mungkin tidak lengkap.

“Jangan langsung percaya pada surat anonim,” kata Keisha hati-hati. “Kita tidak tahu siapa pengirimnya atau apa tujuannya.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu akan mencari tahu, kan?”

Nadira memandangi foto itu sekali lagi.

“Ya.”

Jawabannya terdengar tenang, tetapi pikirannya mulai bergerak cepat.

Dan untuk pertama kalinya sejak konferensi Adhitama Global, sebuah pertanyaan lain muncul di kepalanya.

Apakah semua yang baru saja terjadi benar-benar kebetulan?

Di sisi lain Jakarta, Raka sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa hidupnya kembali normal.

Usaha itu tidak berjalan baik.

Ia sudah menjalani latihan pagi, menghadiri rapat strategi, dan menyelesaikan dua pertandingan latihan tanpa membuat kesalahan besar. Namun, setiap kali ada jeda, pikirannya kembali kepada Nadira.

Sudah beberapa hari sejak wawancara mereka. Nadira belum membalas pesannya, meskipun ia sesekali melihat perempuan itu aktif di media sosial.

Raka tahu ia seharusnya tidak terus memeriksa.

Ia tetap melakukannya.

“Kalau lo menatap ponsel lebih lama lagi, gue akan mulai curiga lo sedang menunggu pengumuman hadiah undian,” ujar Bima.

Raka meletakkan ponselnya.

“Tidak ada yang gue tunggu.”

“Bagus. Berarti lo tidak keberatan kalau gue pinjam ponsel lo untuk menghubungi Nadira dan bilang bahwa kapten kita sudah berubah menjadi patung?”

“Coba saja. Gue pecat.”

Bima tertawa.

“Ancaman yang mengerikan. Sayangnya, lo bukan pemilik tim.”

Raka melemparkan bantal kecil ke arahnya. Bima menghindar sambil tertawa semakin keras.

Suasana santai itu terputus ketika ponsel Raka berdering.

Nama yang muncul di layar membuatnya segera berdiri.

Ayah.

Ia menjauh dari ruang latihan sebelum menjawab.

“Ada apa, Yah?”

“Kamu sudah menerima dokumen yang saya kirim?”

“Sudah.”

“Bagus. Saya ingin kamu mempelajari laporan itu sebelum pertemuan berikutnya.”

Raka mengembuskan napas.

“Saya sedang menjalani jadwal latihan.”

“Dan saya sedang membicarakan masa depanmu.”

“Kalau begitu, kita bisa membicarakannya setelah musim kompetisi selesai.”

“Raka, jangan membuat semuanya menjadi sulit hanya karena kamu tidak menyukai cara saya mengatur sesuatu.”

Raka menahan rahangnya agar tidak mengeras.

“Ayah selalu menganggap masalahnya adalah saya tidak menyukai cara Ayah mengatur sesuatu. Pernahkah Ayah mempertimbangkan bahwa mungkin saya memang ingin menentukan hidup saya sendiri?”

Hening sejenak terdengar dari seberang telepon.

“Jangan bersikap seolah-olah keluarga ini tidak pernah memberimu pilihan.”

Raka hampir menjawab, tetapi ia tahu percakapan itu akan kembali berputar pada titik yang sama.

“Akan saya pelajari dokumennya,” katanya akhirnya. “Tapi saya tidak berjanji akan menyetujui semua yang tertulis di sana.”

“Setidaknya kamu mulai berpikir lebih dewasa.”

Panggilan berakhir beberapa detik kemudian.

Raka menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk.

Ia tidak tahu apakah ayahnya benar-benar tidak memahami keinginannya atau sekadar memilih untuk tidak memahaminya.

Namun, satu hal pasti: ada terlalu banyak bagian dalam hidupnya yang masih dikendalikan oleh keputusan orang lain.

Dan sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah kebiasaannya menyembunyikan sesuatu dari orang lain juga berasal dari sana.

Menjelang siang, Nadira meninggalkan kantor untuk mengunjungi rumah ibunya.

Ratih sedang duduk di ruang tengah, melipat pakaian bersih ketika Nadira masuk. Rambutnya yang mulai beruban diikat sederhana, sementara kacamata baca bertengger di ujung hidungnya.

“Kamu pulang lebih awal?” tanyanya.

“Ada yang ingin kutanyakan.”

Ratih meletakkan pakaian di pangkuannya. “Tentang apa?”

Nadira duduk di sofa seberang, lalu mengeluarkan foto dan surat dari tas.

Begitu melihat keduanya, wajah Ratih berubah.

Perubahan itu sangat kecil. Hanya jeda singkat sebelum ia mengambil napas. Namun, Nadira mengenal ibunya cukup baik untuk menyadari bahwa perempuan itu terkejut.

“Ibu pernah melihat foto ini?” tanya Nadira.

Ratih tidak segera menjawab.

“Foto itu diambil saat Ibu dirawat di rumah sakit,” katanya akhirnya.

“Aku tahu. Tapi siapa yang mengambilnya?”

“Ibu tidak ingat.”

“Bu.”

Ratih menatap putrinya.

Nadira meletakkan surat di atas meja.

“Siapa yang membayar operasi Ibu lima tahun lalu?”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Dari dapur terdengar suara jam dinding berdetak. Nadira menunggu, berusaha menahan dorongan untuk mengajukan sepuluh pertanyaan sekaligus.

Ratih akhirnya menghela napas.

“Ibu sudah pernah bilang bahwa ada seseorang yang membantu kita.”

“Siapa?”

“Seseorang yang mengenal keluarga kita.”

“Kalau begitu, kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku namanya?”

Ratih meremas ujung kain di pangkuannya.

“Karena waktu itu Ibu hanya ingin kamu bisa melanjutkan hidup tanpa harus merasa berutang kepada siapa pun.”

Nadira menatap ibunya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

“Apakah bantuan itu benar-benar tanpa syarat?”

Ratih mengangkat wajah.

Untuk sesaat, Nadira melihat ketakutan yang tidak pernah ia temukan dalam percakapan mereka sebelumnya.

“Ibu tidak tahu apa maksud surat ini,” kata Ratih. “Tapi kamu harus berhati-hati, Nadira. Tidak semua orang yang menawarkan bantuan ingin kita bahagia.”

“Apakah orang itu mengancam Ibu?”

“Tidak.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Nadira menyadarinya, tetapi ia tidak langsung mendesak.

Ia meraih tangan ibunya.

“Bu, aku bukan anak kecil lagi. Kalau ada sesuatu yang perlu kuketahui, aku ingin mendengarnya dari Ibu, bukan dari surat anonim.”

Ratih membalas genggaman tangannya.

“Ibu mengerti.”

“Tapi Ibu belum menjawab pertanyaanku.”

Ratih memejamkan mata sejenak.

“Ada hal-hal yang belum bisa Ibu ceritakan sekarang.”

Nadira merasa dadanya sesak.

Kalimat itu terdengar terlalu mirip dengan jawaban yang belakangan terus ia terima dari orang-orang di sekitarnya.

Belum bisa diceritakan.

Belum waktunya.

Ada alasan sendiri.

Ia melepaskan genggaman tangannya perlahan, bukan karena tidak menyayangi ibunya, melainkan karena ia membutuhkan waktu untuk menerima bahwa bahkan orang terdekatnya pun mungkin menyimpan sesuatu.

“Baik,” katanya pelan. “Tapi aku akan mencari tahu.”

Ratih tidak melarangnya.

Dan diamnya justru membuat Nadira semakin khawatir.

Malam itu, Nadira kembali ke apartemennya dengan membawa foto lama tersebut.

Ia meletakkannya di atas meja, membuka laptop, lalu mulai menelusuri dokumen dan berita lama mengenai rumah sakit tempat ibunya menjalani operasi.

Ia tidak menemukan banyak hal. Beberapa arsip sudah tidak tersedia, sementara catatan pembayaran tentu bukan informasi yang bisa diakses begitu saja.

Namun, setelah hampir satu jam mencari, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti mengetik.

Sebuah berita lama tentang program bantuan medis yang didanai oleh yayasan keluarga Adhitama.

Berita itu diterbitkan pada tahun yang sama dengan operasi ibunya.

Nadira membaca artikel tersebut dari awal hingga akhir. Tidak ada nama ibunya. Tidak ada daftar penerima bantuan. Hanya penjelasan singkat mengenai program yang membantu pasien dengan kondisi medis serius.

Ia menatap layar cukup lama.

Adhitama.

Nama itu kembali muncul dalam hidupnya ketika ia bahkan belum selesai memahami arti nama tersebut bagi Raka.

Nadira segera menutup laptop.

Ia tidak memiliki bukti bahwa keluarga Raka ada hubungannya dengan operasi ibunya. Menghubungkan dua peristiwa hanya berdasarkan waktu dan nama yayasan akan menjadi kesimpulan yang tidak bertanggung jawab.

Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan itu.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Nomor Tidak Dikenal: Sekarang kamu mulai memahami mengapa beberapa orang memilih untuk menyimpan rahasia.

Nadira membeku.

Sebelum ia sempat membalas, pesan kedua muncul.

Nomor Tidak Dikenal: Jangan bertanya kepada Raka. Dia bukan orang yang akan memberimu jawaban yang kamu cari.

Jantung Nadira berdegup semakin cepat.

Ia membaca kedua pesan itu berulang kali, kemudian mengambil tangkapan layar.

Untuk beberapa detik, jarinya berhenti di atas nama Raka pada daftar kontaknya.

Ia ingin bertanya apakah Raka mengetahui sesuatu. Ingin mendengar langsung darinya bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Adhitama.

Namun, ia teringat percakapan terakhir mereka.

Kalau informasi itu memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap saya, berarti saya harus menerima bahwa keputusan saya menyembunyikannya punya konsekuensi.

Nadira meletakkan ponselnya.

Ia belum tahu apakah Raka terlibat. Ia juga belum tahu siapa yang mengirim surat dan pesan tersebut.

Tetapi seseorang jelas mengetahui masa lalu keluarganya.

Dan orang itu tampaknya tahu lebih banyak daripada yang selama ini diceritakan ibunya.

Nadira kembali menatap foto lama di atas meja.

Wajah ibunya dalam foto itu terlihat lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum.

Lima tahun lalu, Nadira mengira operasi tersebut adalah akhir dari masa tersulit dalam hidup mereka.

Sekarang, ia mulai takut bahwa itu justru awal dari sesuatu yang belum pernah benar-benar mereka pahami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!