Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Gila di Tengah Hujan
Alya duduk sendirian di sudut sebuah kedai kopi kecil tak jauh dari rumah sakit, tempat yang biasa dia singgahi sebelum atau sesudah jaga malam. Pakaiannya masih basah, rambutnya menempel di dahi, dan tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena syok yang baru saja dia alami mulai terasa nyata.
Dia membuka aplikasi rekening di ponselnya, menghitung sisa tabungan dengan tatapan kosong. Cukup untuk sebulan. Mungkin dua bulan kalau dia benar-benar berhemat tidak makan di luar, tidak membeli apa pun selain kebutuhan pokok.
Setelah itu? Dia tidak tahu.
Reputasinya sebagai dokter sudah dihancurkan dalam satu pagi. Rumah sakit mana pun yang menerima lamarannya pasti akan menghubungi Rumah Sakit Harapan Bunda untuk referensi, dan jawabannya sudah bisa ditebak: lalai, tidak bertanggung jawab, dipecat karena komplikasi fatal pada pasien.
Ponselnya bergetar di atas meja. Nomor tak dikenal.
Awalnya dia ingin mengabaikannya hari ini sudah cukup buruk tanpa harus berurusan dengan telepon spam atau penawaran asuransi. Tapi entah kenapa dia mengangkatnya juga.
"Halo?"
"Dokter Alya Pramesti?" Suara di seberang tegas dan profesional, jelas bukan telepon spam biasa. "Saya asisten pribadi dari Bapak Raka Wirawan. Beliau ingin bertemu Anda secepatnya, jika memungkinkan sekarang juga."
Alya mengernyit, nyaris tertawa getir. "Maaf, saya rasa Anda salah sambung. Saya tidak kenal siapa pun bernama itu."
"Ini terkait tawaran pekerjaan," potong suara itu cepat, seolah sudah mengantisipasi penolakan. "Dengan kompensasi yang sangat besar, Dokter. Saya rasa Anda akan tertarik mendengarnya langsung."
Nama Raka Wirawan. Alya baru menyadarinya setelah menutup telepon dan mencarinya sekilas di internet CEO muda Wirawan Group, salah satu konglomerasi properti dan kesehatan terbesar di negeri ini. Fotonya di berbagai artikel bisnis menunjukkan wajah yang familier: pria yang tadi hampir menabraknya di tengah hujan.
Rasa penasaran mengalahkan kewaspadaannya. Toh, dia tidak punya apa pun lagi untuk dipertaruhkan hari ini.
Setengah jam kemudian, Alya berdiri di lobi megah Wirawan Tower, masih dengan pakaian basah kuyup yang belum sempat dia ganti, merasa sangat tidak pada tempatnya di antara marmer mengkilap dan orang-orang berjas mahal yang lalu lalang. Seorang resepsionis mengantarnya langsung ke lift ekspres menuju lantai tertinggi, tanpa banyak bertanya seolah kedatangannya sudah diperkirakan.
Di ruang pertemuan pribadi, Raka Wirawan duduk tenang di balik meja kayu solid, sudah berganti pakaian kering, rambutnya masih sedikit basah. Secangkir teh hangat telah disiapkan di seberangnya, tepat di hadapan kursi kosong seolah dia sudah tahu persis Alya akan datang dan duduk di situ.
"Duduklah," katanya, tanpa basa-basi, tanpa menyapa atau menanyakan kabar seperti layaknya pertemuan bisnis pada umumnya.
Alya duduk, meski masih waspada. "Anda bilang ini soal pekerjaan?"
"Aku butuh istri," kata Raka, langsung, datar, seolah sedang membicarakan agenda rapat direksi biasa.
Alya nyaris tersedak air liurnya sendiri. "Maaf?"
"Bukan istri sungguhan," Raka melanjutkan tanpa perubahan nada sedikit pun, menyodorkan sebuah map cokelat tebal ke seberang meja. "Kontrak. Selama satu tahun. Nenekku sedang sakit keras, dan permintaan terakhirnya sebelum dia meninggal adalah melihatku menikah. Aku butuh seseorang yang bisa memerankan peran itu dengan meyakinkan cerdas, tidak mudah diintimidasi oleh keluargaku, dan yang terpenting, tidak akan berharap ini menjadi sesuatu yang sungguhan."
Alya menatapnya lama, mencoba mencerna apakah pria di depannya ini serius atau sedang mempermainkannya. Tidak ada tanda-tanda bercanda di wajahnya.
"Kenapa saya?" tanyanya akhirnya. "Anda bahkan baru bertemu saya sekali, dan itu pun karena hampir menabrak saya."
"Karena kau baru saja kehilangan segalanya," jawab Raka, tanpa berusaha memperhalus kata-katanya sedikit pun, seakan fakta pahit itu adalah sesuatu yang biasa diucapkan begitu saja. Timnya sudah menyelidiki latar belakang Alya hanya dalam hitungan menit pemecatan mendadak, pembatalan pertunangan, semuanya. "Kau butuh uang untuk bertahan hidup, tempat tinggal sementara sampai kau menata ulang hidupmu, dan mungkin alasan untuk membuktikan pada orang-orang yang sudah menghinamu hari ini bahwa mereka salah besar. Aku bisa menawarkan ketiganya sekaligus."
Kata-kata itu menusuk, tapi juga entah kenapa terasa benar. Alya membuka map yang disodorkan padanya, membaca deretan angka kompensasi yang tertera di lembar kontrak. Jumlah itu untuk satu tahun saja cukup untuk membuka klinik kecilnya sendiri kelak, cukup untuk membuktikan pada dunia bahwa dia bisa berdiri tanpa perlu bergantung pada reputasi lama yang sudah hancur.
"Kalau saya menolak?" tanyanya, mencoba mempertahankan sedikit kendali dalam situasi yang jelas-jelas sudah di luar kendalinya.
"Maka aku akan mencari kandidat lain," jawab Raka tanpa nada memaksa sedikit pun, benar-benar netral, seolah keputusan Alya sama sekali tidak memengaruhinya secara personal. "Tapi dari caramu menatapku barusan, aku rasa kau bukan tipe orang yang suka kalah begitu saja hari ini."
Kalimat itu, entah kenapa, terasa seperti tantangan langsung ke harga dirinya yang sudah remuk. Dan Alya, yang hari ini sudah kehilangan pekerjaan, tunangan, dan reputasinya sekaligus, merasa tidak ada lagi yang tersisa untuk benar-benar dia pertaruhkan.
Tangannya meraih pena yang tergeletak di atas map.
"Saya setuju," katanya, menandatangani dokumen itu sebelum keraguan sempat menghentikannya.
Raka menatap tanda tangannya sejenak, lalu untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, sudut bibirnya terangkat sedikit ekspresi yang nyaris tak kentara, tapi cukup untuk membuat Alya bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang baru saja dia setujui untuk nikahi ini.