“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Bayangan Masa Lalu
Dua hari menjelang akad nikah, Yogyakarta diguyur hujan gerimis sejak pagi. Suasana di rumah keluarga Natakusumah begitu sibuk dengan kedatangan kerabat dekat yang mulai meramaikan pendopo. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan dekorasi janur kuning dan susunan tata acara adat, sebuah ketegangan tak terduga menyusup tanpa permisi.
Siang itu, aku sedang berada di area lounge sebuah hotel di kawasan Malioboro bersama Mami untuk mengambil beberapa cetakan undangan VIP yang baru saja selesai dari percetakan. Saat Mami sedang berbicara dengan manajer hotel, perhatianku teralih pada sesosok wanita yang baru saja melangkah masuk dari pintu kaca utama.
Wanita itu tampak sangat mencolok. Ia mengenakan dress berpotongan tegas warna merah marun, dipadukan dengan tas jenama mewah dan kacamata hitam yang disangkutkan di atas kepalanya. Gaya rambutnya yang bergelombang pirang kecokelatan memancarkan aura metropolis khas Eropa. Dari penampilannya, siapapun bisa menebak bahwa ia baru saja kembali dari luar negeri.
Kartika.
Nama itu mendadak terlintas di benakku begitu melihat wajahnya secara jelas dari samping. Kartika adalah mantan kekasih Dimas saat pria itu masih menempuh pendidikan di Eropa beberapa tahun silam. Wanita yang kini menetap di Belanda dan berstatus sebagai istri dari seorang pengusaha asing.
Langkah Kartika terhenti saat matanya beradu pandang denganku. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya. Ia melangkah anggun menghampiriku, memangkas jarak di antara kami.
"Maizara Paramita, betul?" sapa Kartika dengan suara yang renyah namun dingin.
Aku menegakkan posisi berdiriku, menjaga gestur tubuhku tetap tenang dan bermartabat. "Benar. Ada yang bisa saya bantu, Mbak Kartika?"
Kartika terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di dada. Matanya meneliti penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Rupanya calon pengantinnya Arjowibowo memang gadis lokal yang sangat anggun," ujar Kartika dengan nada meremehkan yang terselubung. "Aku baru tiba dari Amsterdam kemarin malam. Dengar-dengar dari teman-teman di Jakarta, Dimas mau menikah lusa. Jadi aku sempatkan terbang ke Jogja."
"Terima kasih atas perhatiannya," balasku datar tanpa emosi. "Tapi seingat saya, nama Mbak Kartika tidak ada dalam daftar tamu undangan keluarga kami."
Kartika melangkah satu tapak lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit. "Aku tidak butuh undangan formal, Mei. Aku dan Dimas punya masa lalu yang terlalu panjang untuk sekadar dihalangi oleh selembar kertas undangan."
Bibir Kartika menyunggingkan senyuman sinis. "Suamiku di Belanda punya harta yang melimpah, tapi dia membosankan. Dalam hal kepuasan, perhatian, dan bagaimana seorang pria memperlakukan wanita... tidak ada satu pun laki-laki yang bisa menandingi Dimas. Dia adalah satu-satunya pria yang pernah memberikan kenikmatan dan gairah yang tidak pernah bisa kudapatkan dari suamiku sendiri."
Kalimat vulgar dan berani yang meluncur lancar dari bibir seorang wanita berstatus istri orang itu membuat dadaku berdesir panas. Namun, aku tidak membiarkan diriku terpancing atau menunjukkan riak kecemburuan yang murahan.
Aku menatap lurus ke dalam mata Kartika dengan pandangan bening yang tajam.
"Mbak Kartika," ucapku tenang, suaraku mengalun jernih namun penuh penegasan. "Apa yang terjadi di masa lalu antara Mbak dan Mas Dimas adalah cerita lama yang sudah kadaluarsa. Kenyataan bahwa Mbak masih mencari kepuasan dari mantan kekasih saat sudah berstatus istri orang lain bukanlah urusan saya, tapi itu menunjukkan betapa malangnya kualitas hidup yang Mbak jalani sekarang."
Wajah Kartika seketika berubah kaku, senyum sinisnya memudar.
"Mas Dimas yang Mbak kenal dulu mungkin pria yang bisa Mbak manipulasi," lanjutku tanpa ragu. "Tapi Dimas yang ada di samping saya hari ini adalah calon suami yang tahu persis artinya kehormatan, kesetiaan, dan bagaimana menjaga batasan. Jadi, saya sarankan Mbak simpan energi itu untuk memperbaiki rumah tangga Mbak sendiri."
Sebelum Kartika sempat membalas, suara derak langkah kaki yang tegas bergema dari arah lorong lobi.
Dimas berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kemeja bahan abu-abu gelap. Wajahnya yang biasa tenang seketika mengeras sempurna saat melihat Kartika berdiri terlalu dekat denganku.
"Kartika? Sedang apa kamu di sini?" suara berat Dimas bergema dingin, memotong udara di antara kami.
Kartika seketika mengubah raut wajahnya menjadi lebih lembut, menyunggingkan senyum manja yang dibuat-buat. "Halo, Dimas... Long time no see. Aku sengaja datang dari Belanda buat ketemu kamu."
Kartika mencoba melangkah mendekati Dimas, hendak menyentuh lengan kemeja pria itu. Namun, Dimas dengan cepat mengambil satu langkah mundur, menepis kemungkinan sentuhan itu sebelum terjadi. Gestur penolakan yang begitu tegas dan tanpa ragu.
"Jangan bertindak tidak sopan, Kartika," tegur Dimas keras, matanya menatap wanita itu dengan pendar rasa tidak suka yang nyata. "Saya tidak punya urusan apa pun lagi denganmu."
Kartika tertegun, raut wajahnya merona merah karena malu ditolak secara terbuka di depan umum. "Dimas! Kenapa kamu dingin sekali? Kita pernah saling memiliki! Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu."
"Cukup!" potong Dimas mutlak, suaranya mengandung tekanan wibawa yang membuat Kartika terbungkam seketika. "Kamu adalah istri orang lain, Kartika. Hormati suamimu, dan hormati calon istri saya yang berdiri di sini."
Dimas berbalik menghadapku. Raut wajahnya yang tadinya kaku dan dingin seketika meleleh menjadi begitu lembut dan cemas saat matanya menatapku. Tangannya yang hangat dan kokoh langsung meraih jemariku, menggenggamnya erat-erat di depan Kartika.
"Kamu tidak apa-apa, Mei?" tanya Dimas lembut, menyapu jemariku dengan ibu jarinya. "Dia ada mengatakan hal yang aneh-aneh padamu?"
Aku menggeleng pelan, tersenyum tenang menatap Dimas. "Aku tidak apa-apa, Mas. Mas Dimas tidak perlu cemas."
Dimas berbalik kembali menatap Kartika yang berdiri mematung melihat bagaimana Dimas memperlakukanku seperti seorang ratu—sesuatu yang sama sekali tidak pernah Kartika dapatkan dulu saat Dimas masih diliputi ego muda.
"Dengar baik-baik, Kartika," ujar Dimas dengan nada bariton yang dingin dan tajam. "Saya tidak peduli apa alasanmu kembali dari Belanda, atau masalah apa yang kamu miliki dalam rumah tanggamu. Tapi jika kamu berani sekali lagi muncul di depan Maizara atau mencoba mengganggu ketenangan keluarga kami... saya sendiri yang akan memastikan bisnismu dan suamimu berurusan dengan tim hukum Arjowibowo Group."
"Dimas... kamu tega sekali demi perempuan ini?!" seru Kartika dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah.
"Perempuan ini adalah Maizara Paramita, calon istri saya, dan calon nyonya Arjowibowo," jawab Dimas mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Tinggalkan tempat ini sekarang sebelum saya panggil pengawal untuk menyeretmu keluar."
Kartika mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dengan wajah memerah dan napas terengah-engah, wanita itu akhirnya memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkanku dan Dimas di lobi hotel dengan kekalahan yang mutlak.
Sore harinya, setelah urusan cetakan undangan selesai, Dimas mengantarku pulang ke rumah Natakusumah. Di sepanjang perjalanan, kabin mobil terasa hening. Dimas beberapa kali melirikku dengan raut wajah yang diliputi rasa bersalah.
Setibanya di depan halaman rumah, Dimas mematikan mesin mobil namun tidak langsung membukakan pintu. Pria itu memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya.
"Mei..." panggil Dimas parau, meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.
Aku menoleh, menatap manik mata hitamnya yang bening. "Iya, Mas?"
"Soal perkataan Kartika tadi..." Dimas menelan ludah dengan susah payah, mencerna rasa cemas di dalam dadanya. "Saya minta maaf. Kartika adalah bagian dari masa lalu saya yang salah saat saya masih muda dan bodoh. Tapi saya bersumpah, Mei... sejak saya mengenalmu dan memilihmu, tidak ada wanita lain di dalam pikiran, hati, maupun hidup saya selain kamu."
Aku menatap ketulusan dan ketakutan akan kehilangan yang terpancar dari mata pria tegap di hadapanku ini. Aku tersenyum hangat, membalas genggaman tangannya.
"Mas Dimas..." bisikku lembut, merapikan kerah kemejanya. "Aku tidak pernah meragukanmu. Kalau Kartika berpikir dia bisa menggoyahkan kita dengan membawa masa lalu dan cerita murahannya, dia salah besar."
Dimas tertegun, pandangannya meredup oleh rasa haru yang luar biasa.
"Aku mengenal Mas Dimas yang sekarang," lanjutku tulus. "Pria yang bertanggung jawab, yang tahu cara menjaga kehormatanku, dan yang berdiri tegap melindungiku tanpa ragu. Bagi aku, itu sudah lebih dari cukup."
Dimas menghembuskan napas panjang, kelegaan yang amat sangat terpancar di wajah tampannya. Pria jangkung itu memajukan tubuhnya, menarikku ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif. Ia membenamkan wajahnya di leherku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam.
"Terima kasih, Maizara..." bisik Dimas bergetar di telingaku. "Terima kasih sudah memercayai saya. Saya berjanji, seumur hidup saya... tidak akan pernah ada celah untuk wanita mana pun merusak apa yang sudah kita bangun bersama."
Di dalam dekapan Dimas yang kokoh di balik rintik hujan Jogja sore itu, aku meresapi sebuah kata mutiara yang bergaung indah di dalam jiwaku:
"Sebab masa lalu yang kelam tidak akan pernah sanggup meruntuhkan ikatan dua hati yang saling percaya, dan kesetiaan seorang lelaki sejati diukur dari bagaimana ia menutup rapat pintu masa lalunya demi memuliakan wanita yang dipilihnya."
Dimas melepaskan pelukannya pelan, menatap mataku dengan binar cinta yang abadi, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di dahiku, mengunci seluruh kecemasan dan menyatukan jiwa kami menjelang hari bahagia yang telah menanti di depan mata.