NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Kenangan Mengusik Jiwa

Setelah sarapan selesai, Jun-seok segera mengenakan sepatunya, tas ransel kecil itu tergantung rapi di punggungnya, tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang masih ramping. Tangannya menggenggam erat map hitam berisi kertas hasil gambarnya. Junho berdiri di dekat pintu, merapikan jasnya sekali lagi kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan.

Nala berdiri di ambang lorong, memperhatikan keduanya.

“Belajar yang rajin, jangan lupa makan siang. Mommy sudah siapkan,” ucapnya lembut sembari membungkuk sedikit untuk mengecup dahi Jun-seok.

“Iya, Mommy,” jawab Jun-seok ceria, lalu beralih kepada ayahnya. “Daddy, ayo.” Jun-seok menatap ayahnya penuh harap.

Junho mengangguk, lalu menoleh kepada Nala. Tatapan mereka bertemu sejenak, tetapi cukup untuk saling memahami. Junho mengulurkan tangan, lalu merapikan sedikit kerah blus Nala yang terlipat.

“Aku antar Seok dulu. Nanti aku kabari kalau sudah sampai kantor,” ucapnya pelan, dan Nala hanya mengangguk.

“Hati-hati,” ucapnya pelan, lalu menutup pintu.

Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, dan lift pribadi meluncur turun dengan suara halus, nyaris tak terdengar. Dinding kaca memantulkan bayangan ayah dan anak itu yang berdiri berdampingan.

Jun-seok menatap angka lantai yang terus menurun, kakinya berayun pelan tanda gugup yang belum sepenuhnya hilang.

Junho yang menyadari hal itu meliriknya sebentar.

“Sudah tenang?” tanyanya, membuat Jun-seok mengangguk.

“Iya, Daddy,” jawabnya pelan.

“Coba Daddy lihat gambarnya?” pinta Junho.

Jun-seok menatap map itu sejenak, kemudian memberikannya kepada sang ayah. Junho melihat gambar itu sebentar; gambar yang lebih pantas disebut sketsa daripada lukisan. Hanya berupa arsiran pensil dengan beberapa garis yang ditebalkan menggunakan spidol, meskipun tidak sempurna, Junho tahu gambar itu adalah bentuk tanggung jawab putranya.

“Kamu sudah bertanggung jawab pagi ini. Itu bagus,” kata Junho.

Jun-seok tersenyum kecil tanpa sadar, selama ini ia jarang mendengar pujian langsung dari ayahnya namun justru karena itu, setiap kata terasa berarti.

Untuk sesaat, rasa gugup yang sejak tadi menempel di wajahnya menghilang. Ia kembali menatap gambar itu dengan senyum kecil, seolah beberapa garis sederhana di atas kertas telah berhasil menyelamatkan paginya.

Begitu tiba di lantai dasar, mereka melangkah keluar. Mobil hitam itu sudah menunggu, dan sang sopir segera membukakan pintu dengan sigap. Junho memberi isyarat singkat, lalu duduk di kursi belakang bersama Jun-seok. Pintu tertutup, kemudian mobil mulai melaju meninggalkan kompleks apartemen.

Kota Seoul terbentang di luar jendela, pagi yang rapi, lalu lintas yang teratur, dan gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti saksi bisu perubahan zaman. Jun-seok menempelkan keningnya ke kaca, memperhatikan orang-orang yang berjalan cepat di trotoar matanya mengikuti kendaraan yang berlalu-lalang, sesekali tertarik pada papan reklame besar yang terpampang di antara gedung-gedung.

“Daddy,” panggilnya tiba-tiba. Hal itu membuat Junho yang sedang fokus pada tabletnya menoleh.

“Hm?”

“Dulu Daddy terkenal, ya?” tanyanya polos. Hal itu membuat Junho tersenyum samar.

“Mungkin,” jawab Junho.

“Kata teman-temanku, orang tua mereka bilang Daddy dulu artis. Samcheon-samcheon yang lain juga,” lanjut Jun-seok.

Junho tidak langsung menjawab ia menatap ke depan, pada pantulan jalan yang bergerak di kaca jendela.

“Itu sudah lama,” ucapnya akhirnya.

Hal itu membuat Jun-seok berpikir sejenak.

“Jadi… kenapa Daddy berhenti?” tanyanya.

Pertanyaan itu meluncur ringan seperti pertanyaan anak sepuluh tahun yang hanya ingin tahu, tanpa maksud menyentuh luka apa pun. Namun, bagi Junho pertanyaan itu terasa seperti ketukan kecil di pintu yang sudah lama ia tutup rapat.

“Bukankah jadi artis itu enak? Banyak yang suka. Banyak yang dengar lagu Daddy. Seon-woo bilang, Daddy dan Appa-nya katanya dulu sering membuat musik bersama Samcheon yang lain,” lanjut Jun-seok polos.

Mobil terus melaju di luar sana mesin berdengung halus, sementara pemandangan Seoul berganti perlahan di balik kaca. Sang sopir tetap fokus ke depan, seolah tidak mendengar percakapan apa pun.

Junho terdiam karena untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak memiliki jawaban cepat. Pikirannya melayang kembali pada panggung di masalalu, lampu-lampu terang yang diiringi sorak-sorai ribuan orang, usik yang mengalun dari pengeras suara, hingga kehidupan yang gemerlap, penuh tepuk tangan dan kesepian yang tak pernah benar-benar terlihat oleh siapa pun.

Untuk sesaat, suara-suara masa lalu seolah kembali memenuhi kepalanya.

Junho! Junho! Junho!

Ia mengembuskan napas perlahan.

“Enak, mungkin,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah. “Tapi tidak semua hal yang terlihat indah dari luar terasa sama ketika kamu menjalaninya.”

Jun-seok menatap ayahnya dengan kening sedikit berkerut.

“Daddy tidak bahagia?”

Junho menoleh hingga tatapan mereka bertemu di antara pantulan cahaya pagi yang bergerak di dalam mobil.

“Daddy pernah bahagia dan pernah lelah. Karena yang terasa enak dan yang terasa tidak enak… semuanya selalu datang berdampingan. Daddy hanya tidak tahu mana yang lebih kuat,” katanya akhirnya. Jun-seok menoleh penuh minat.

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena saat banyak orang melihatmu, kamu sering lupa melihat dirimu sendiri,” ucap Junho perlahan, memilih setiap kata dengan hati-hati.

Ia tahu Jun-seok mungkin belum sepenuhnya memahami maksudnya. Karena itu, ia memilih kata-kata yang paling mudah dimengerti oleh anak seusianya, meskipun Junho sendiri tidak yakin putranya benar-benar memahami.

“Maksudnya?” Jun-seok mengernyit.

Junho menoleh kepada putranya mata mereka bertemu—mata yang serupa, tetapi menyimpan usia dan pengalaman yang sangat berbeda.

“Daddy berhenti karena ada hal-hal yang lebih penting daripada disukai banyak orang,” lanjut Junho.

“Seperti apa?” tanyanya, membuat Junho terdiam sejenak untuk berpikir. Kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.

“Seperti pulang tepat waktu. Sarapan bersama kamu dan Mommy. Mengantar anak ke sekolah dan membuat cerita bersama kalian,” jawab Junho lagi.

Jun-seok terdiam ia memandang ayahnya lama, seolah sedang menyimpan setiap kata itu dalam ingatannya. Kemudian, pandangannya turun kepada kedua tangannya sendiri.

“Oh…” gumamnya.

Mobil berbelok memasuki area sekolah bangunan KIYOON International Arts School tampak dari kejauhan—bersih, modern, dengan warna-warna seni yang hidup menghiasi dindingnya. Beberapa siswa mulai terlihat berjalan menuju gedung utama, sebagian ditemani orang tua, sementara yang lain sibuk bercanda bersama teman-temannya.

Jun-seok menggenggam tali tasnya lebih erat.

“Daddy…”

“Ya?”

“Aku senang Daddy berhenti,” ucapnya.

Junho sedikit terkejut mendengarnya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena Daddy sekarang ada setiap hari. Walaupun Daddy dan Mommy sibuk bekerja, aku tidak pernah merasa ditinggalkan.” Jun-seok berhenti sejenak, lalu menatap keluar jendela. “Andai Daddy masih jadi artis, mungkin nasibku tidak akan sebaik ini… mungkin seperti Hae-chul. Ayahnya tidak pernah pulang… sampai ibunya pergi dari rumah,” jawab Jun-seok sederhana.

Senyumnya perlahan menghilang.

Junho terdiam, membiarkan putranya menyelesaikan kalimatnya tanpa menyela. Ada sesuatu dalam ucapan sederhana itu yang menyentuh bagian dirinya yang selama ini jarang ia pikirkan.

Bukan tentang panggung... Bukan tentang popularitas, melainkan tentang seorang anak yang merasa beruntung karena ayahnya memilih untuk pulang. Junho mengulurkan tangannya, lalu mengusap pelan kepala Jun-seok.

“Daddy akan selalu pulang,” ucapnya lirih.

Jun-seok menoleh dan tersenyum kecil.

“Daddy tahu? Dia selalu bercerita kepadaku. Katanya, dia rindu kepada ayah dan ibunya, tetapi dia jarang bisa bertemu ayahnya. Sedangkan ibunya… dia tidak tahu di mana. Jadi, mungkin kalau Daddy masih jadi artis itu tidak enak, kan?” lanjutnya pelan.

Junho menarik napas perlahan, memperhatikan bagaimana putranya menyampaikan sebuah pertanyaan besar dengan wajah polos. Pernyataan itu meluncur begitu saja dari mulut Jun-seok tanpa beban, tanpa menyadari betapa berat makna yang terselip di baliknya. Mobil melambat di area drop-off sekolah. Anak-anak berseragam rapi mulai turun satu per satu, suara pagi bercampur dengan tawa dan langkah kaki kecil yang tergesa.

Junho tidak segera menjawab ia menatap ke depan, rahangnya sedikit mengeras. Ada sesuatu di dadanya yang bergetar pelan di hati nya, bukan sakit, bukan pula sesal. Lebih mirip sebuah pengakuan yang selama ini tidak pernah ia ucapkan dengan suara lantang.

“Kamu tidak salah,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Tidak semua hal yang terlihat menyenangkan… benar-benar membuat seseorang bahagia.”

Junho berhenti sejenak membuat Jun-seok menoleh, menunggu kelanjutan perkataan ayahnya.

“Menjadi artis membuat Daddy dikenal banyak orang, tetapi dikenal tidak selalu berarti dipahami. Dan dicintai banyak orang… tidak selalu berarti kamu punya tempat untuk pulang,” lanjut Junho.

Jun-seok memikirkan perkataan itu dalam diam. Alis kecilnya berkerut, mencoba menyusun kata-kata ayahnya menjadi sesuatu yang dapat ia mengerti.

“Jadi Daddy berhenti… supaya tidak seperti ayah Hae-chul?” tanyanya pelan.

Junho menoleh kali ini, ia benar-benar menatap putranya—seolah baru menyadari betapa cepat anak itu tumbuh bukan hanya tubuhnya, tetapi juga kepekaan hatinya.

“Ayah Hae-chul mungkin punya alasan sendiri. Daddy tidak akan menghakimi. Tapi Daddy memilih berhenti… karena Daddy tidak ingin suatu hari nanti, kamu duduk sendirian dan bertanya-tanya mengapa orang yang seharusnya ada… justru selalu jauh,” jawab Junho hati-hati.

Jun-seok menggenggam tali tasnya lebih erat ada jeda sunyi di antara mereka; sunyi yang tidak canggung, justru terasa hangat.

“Daddy…” panggilnya lagi.

“Hm?”

“Kalau aku besar nanti, aku boleh jadi seperti Daddy dulu?” tanyanya ragu-ragu.

Junho terdiam karena pertanyaan itu datang dari tempat yang begitu murni—bukan ambisi, bukan pula keinginan untuk terkenal. Hanya kekaguman sederhana seorang anak kepada ayahnya.

“Kamu boleh menjadi apa pun yang kamu mau, asal kamu tahu… kapan harus berhenti dan untuk siapa kamu pulang,” jawab Junho pelan.

Jun-seok tersenyum kecil sebuah senyum yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Junho perlahan melonggar.

“Algesseo, Daddy,” jawab Jun-seok akhirnya.

Junho tersenyum tipis.

“Good.”

Mobil berhenti sepenuhnya.

“Sudah sampai,” ucap Junho.

Sopir turun lebih dulu, lalu membukakan pintu. Udara pagi segera menyelinap masuk, membawa hawa sejuk yang menyentuh wajah mereka. Jun-seok turun, lalu berbalik sebelum pintu tertutup.

“Daddy,” katanya sekali lagi.

Junho mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Terima kasih… sudah pulang. Terima kasih sudah ada untuk Mommy dan Seok… Seok sangat sayang kepada kalian berdua.”

Senyum tipis muncul di wajah Jun-seok, wajah yang seolah mewarisi seluruh garis wajah Junho.

Kata-kata itu sederhana namun, bagi Junho, terdengar seperti penegasan paling jujur atas semua pilihan yang pernah ia ambil. Junho mengangguk, lalu mengusap singkat kepala putranya.

“Belajar yang baik. Jangan lupa… pulang dengan cerita dan jangan nakal,” ucapnya sembari mengusap lembut kepala putranya sekali lagi.

“Iya, Daddy.”

Jun-seok berlari kecil menuju gerbang sekolah, sesekali menoleh dan melambaikan tangan. Junho menunggu sampai sosok kecil itu benar-benar menghilang di balik pintu kaca sekolah—barulah ia bersandar ke kursi.

“Ke KIM Holdings,” ucapnya singkat.

Mobil kembali melaju di luar sana kota Seoul kembali bergerak di luar jendela, namun pikiran Junho… tertarik mundur.

Sepuluh tahun lalu.

Hari ketika ia berdiri di balik panggung konser terakhir—suara ribuan orang memanggil namanya, cahaya lampu menari di udara, dan di saku jasnya ada ponsel yang tak henti bergetar. Pesan dari rumah. Dari Nala, tentang kelelahan, tentang kesunyian, dan tentang sesuatu yang tidak bisa ditunda lebih lama.

Ia ingat bagaimana dirinya menatap cermin saat itu. Wajah yang dikenal dunia, tetapi mata yang terasa asing bagi dirinya sendiri.

Dan hari ini ia mengantar anaknya ke sekolah.

Junho menutup mata sejenak tarikan napasnya teratur, tetapi pikirannya penuh. Keputusan itu… masih ia jalani sampai sekarang tidak ada yang Junho sesali karena ia mengakhiri semuanya demi wanita yang teramat ia cintai.

Namun, ada penyesalan dan ketakutan yang kini perlahan mengganjal. Ia belum mampu menunjukkan Nala kepada dunia.

Bukan karena malu.

Bukan karena tidak bangga memiliki perempuan itu sebagai istrinya.

Melainkan karena ia takut dunia akan merebut rumah yang telah ia jaga dan tempati selama belasan tahun. Rumah yang tidak dibangun dari sorotan kamera, tepuk tangan, atau popularitas. Rumah yang hanya berisi Nala dan Jun-seok.

Dan untuk pertama kalinya, Junho mulai bertanya-tanya dalam hati… Sampai kapan ia bisa terus menyembunyikan rumah itu dari dunia?

──☾⋆★⋆☾──

Mobil memasuki kawasan perkantoran, gedung KIM Holdings menjulang di hadapan, tenang dan kokoh—simbol stabilitas yang telah ia pilih setelah meninggalkan gemerlap dunia hiburan. Junho membuka mata qajahnya kembali datar, profesional. Sorot matanya berubah menjadi lebih tajam, sikap tubuhnya kembali tegak.

CEO Kim Namjunho kembali mengambil alih.

Namun, jauh di dalam dirinya, ada satu suara kecil yang tetap tinggal—

“Terima kasih… sudah pulang. Terima kasih sudah ada untuk Mommy dan Seok… Seok sangat sayang kepada kalian berdua.”

Suara polos putranya kembali terngiang, membawa kehangatan yang bahkan tidak mampu diberikan oleh sorotan ribuan lampu panggung. Junho menatap gedung perusahaan yang semakin dekat. Tangannya merapikan manset kemeja sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Junho tahu keputusan itu tidak pernah salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!