Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dia baru sadar bahwa rumor tentang kekejaman dan kekuatan absolut Rio Dirgantara bukanlah isapan jempol belaka.
Pria tua itu baru saja membangunkan monster yang salah dari tidur lelapnya.
"Ayo kita kembali ke hotel Nadia, udara di sini terlalu kotor karena banyak sampah yang belum dibersihkan," perintah Rio berjalan masuk ke mobilnya.
Mobil hitam itu melaju pergi meninggalkan Darmawan yang masih mematung lemas di tengah jalan.
"Bos... apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa benar perusahaan kita bisa dibeli paksa?" tanya salah satu preman pengawal Darmawan ketakutan.
Plak!
Darmawan menampar kepala anak buahnya itu dengan kasar melampiaskan rasa paniknya.
"Bodoh! Tentu saja bisa! Grup Sentosa itu monster raksasa!" maki Darmawan panik setengah mati.
"Cepat hubungi semua direksi! Kita harus cari cara untuk bertahan dari serangan anak iblis itu!" teriaknya berlari menuju mobilnya.
Sementara itu di dalam mobil Rio yang melaju tenang membelah jalan tol.
Nadia duduk di kursi depan dan sibuk mengetik sesuatu di tabletnya dengan sangat cepat.
"Tuan Rio, tim akuisisi sudah bergerak dan mulai menyerang saham Grup Harimau dari berbagai pintu masuk," lapor Nadia profesional.
"Mereka memperkirakan butuh waktu sekitar lima belas jam untuk mengambil alih lima puluh satu persen saham mayoritas."
Rio mengangguk puas sambil memejamkan matanya menikmati dinginnya AC mobil.
"Bagus, pastikan serangan itu tidak berhenti sedetikpun sampai Darmawan datang mengemis padaku besok."
"Lalu bagaimana dengan interogasi penjaga malam gudang kita?" tanya Rio tanpa membuka mata.
"Tim keamanan internal sudah mengamankan kepala penjaga malam bernama Jono."
"Dari mutasi rekeningnya, dia baru saja menerima transferan lima ratus juta dari rekening perusahaan bayangan milik Grup Harimau," jelas Nadia membongkar alur kejahatan tersebut.
Senyum miring Rio kembali terbit di bibirnya mendengar laporan akurat asistennya.
"Sempurna. Bawa Jono itu ke ruang bawah tanah hotel kita nanti malam."
"Aku ingin mengobrol sedikit dengannya tentang arti kesetiaan pada perusahaan," perintah Rio dengan nada membekukan.
Malam harinya di sebuah hotel bintang lima tempat Rio menginap.
Suasana di lantai paling atas yang disewa penuh oleh Grup Sentosa terasa sangat sunyi dan tegang.
Di sebuah ruangan kedap suara, seorang pria paruh baya bernama Jono diikat di sebuah kursi besi.
Wajahnya babak belur dan tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit dan ketakutan.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka dan Rio melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku.
Dia berjalan mendekat dan menarik sebuah kursi kayu lalu duduk tepat di depan Jono.
"Lima ratus juta ya Jono? Apa harga kesetiaanmu semurah itu pada perusahaan yang sudah menghidupimu selama sepuluh tahun?" tanya Rio memulai percakapan dengan nada tenang.
Jono menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata bos besarnya itu.
"Ampun Tuan Muda Rio, saya khilaf Tuan, saya butuh uang itu untuk biaya kuliah anak saya," isak Jono mencoba mencari belas kasihan.
Rio tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya mendengar alasan klasik pengkhianat tersebut.
"Biaya kuliah? Jangan membohongiku Jono, anakmu itu pemabuk yang sering nongkrong di di club setiap malam."
"Kamu pakai uang lima ratus juta itu untuk membayar utang judimu di kasino gelap kan?" bongkar Rio dengan fakta intelijennya yang menakutkan.
Jono langsung memucat dan tangisnya berhenti seketika karena kebohongannya ketahuan.
Dia tidak menyangka bos muda ini tahu semua detail kehidupannya sampai sedetail itu.
"Saya minta maaf Tuan, saya janji akan mengembalikan uang itu dengan cara memotong gaji saya seumur hidup," mohon Jono panik meronta-ronta di kursinya.
Rio mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Jono dengan sorot mata sedingin es.
"Aku tidak butuh uang lima ratus juta sucimu itu Jono."
"Yang aku butuhkan adalah kamu menjadi saksi kunci besok pagi saat aku menghancurkan Darmawan."
"Kamu akan bersaksi di depan polisi bahwa Darmawan yang menyuapmu untuk mematikan CCTV dan alarm gudang," perintah Rio mutlak.
"Tapi Tuan... kalau saya bersaksi, orang-orang Darmawan pasti akan membunuh keluarga saya," tolak Jono ketakutan membayangkan pembalasan bos mafia itu.
Rio menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dan menyilangkan kakinya dengan santai.
"Kamu pikir setelah mengkhianati Grup Sentosa, keluargamu masih aman dari kemarahanku?" ancam Rio halus namun sangat mematikan.
"Pilihannya cuma dua Jono."
"Bersaksi besok dan keluargamu akan dilindungi penuh oleh orang-orangku di luar negeri."
"Atau kamu diam saja, dan besok pagi anakmu yang pemabuk itu akan ditemukan mengambang di sungai," putus Rio memberikan pilihan yang sebenarnya bukan pilihan.
Jono menelan ludah dengan susah payah merasakan aura kematian yang sangat pekat dari bosnya ini.
Dia akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pasrah menyetujui perintah Rio.
"Baik Tuan, saya akan bersaksi besok pagi, tolong lindungi keluarga saya," tangis Jono menyerah pada nasibnya.
Rio berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Bawa dia ke kantor polisi besok pagi jam delapan tepat," perintah Rio pada dua pengawal berbadan besar di depan pintu.
Malam itu kota Surabaya menjadi saksi bisu pergerakan monster bisnis yang sedang marah.
Saham Grup Harimau terus digempur habis-habisan tanpa ampun membuat semua direksinya panik bukan kepalang.
Darmawan mondar-mandir di ruang kerjanya semalaman dengan wajah pucat dan keringat dingin.
Dia tahu batas waktunya hanya sampai matahari terbit, atau kerajaannya akan benar-benar runtuh hari itu juga.