NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kemungkinan yang Tak Terpikirkan

Suara ketukan di pintu ruang kerja Arvid terdengar.

"Masuk."

Juki muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya.

Arvid langsung mengangkat pandangan dari laptopnya. "Gimana?"

Juki tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan gelang dengan bandul berbentuk huruf Z di atas meja.

"Saya sudah nemu pembuatnya, Bos."

Arvid menatap gelang itu. "Siapa?"

"Namanya ada. Bengkelnya juga ada." Juki menarik napas. "Masalahnya, orangnya udah ninggal beberapa tahun lalu."

Arvid terdiam untuk beberapa saat. "Usahanya?"

"Sudah tutup."

"Catatan pesanan?"

Juki menggeleng. "Keluarganya masih nyimpen beberapa buku catatan lama, tapi kondisinya buruk. Sebagian halaman hilang, sebagian tulisannya luntur."

"Kenapa?"

"Katanya pernah kena air saat tempat penyimpanan mereka kebanjiran. Buku-buku itu sempat basah dan gak semuanya bisa diselamatkan."

Arvid menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi gak ada data pembeli?"

"Ada beberapa. Tapi gak lengkap." Juki menggeleng lagi. "Dan untuk gelang ini, mereka gak bisa mastiin siapa yang mesan."

Arvid menatap gelang di atas meja. "Udah dicari dari foto atau desainnya?"

"Sudah. Nggak ada katalog digital. Bengkelnya usaha lama. Kebanyakan desain cuma digambar di buku."

"Dan bukunya rusak."

Juki mengangguk. "Iya."

Keduanya sama-sama diam untuk beberapa waktu.

Juki memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jadi untuk sementara, petunjuk buntu, Bos."

Arvid tidak menjawab. Tangannya bergerak mengambil gelang itu. Ia membaliknya perlahan. Bandul Z itu bergoyang kecil di antara jarinya. Entah mengapa, benda itu terasa...

Familiar.

Bukan karena bentuk hurufnya. Bukan pula karena bahannya. Ada sesuatu pada gelang itu yang membuat ingatannya seperti tertarik kembali pada malam di pantai.

Angin laut, suara ombak, dan sepasang tangan yang pernah berada di dekatnya.

Arvid mengernyit. Ia mencoba mengingat lebih jelas, tetapi potongan-potongan malam itu datang tidak beraturan.

Wajah yang tidak pernah sempat ia kenali. Tatapan penuh ketakutan. Kemudian tangannya berhenti. Pergelangan tangan.

Arvid menatap gelang tersebut lebih lama. "Aku kayak pernah lihat ini."

Juki mengangkat kepala. "Di mana?"

Arvid tidak langsung menjawab. Ia sendiri tidak yakin. "Entahlah."

Juki menunggu.

Arvid mengusap bandul berbentuk Z dengan ibu jarinya. "Rasanya kayak pernah lihat gelang ini dipakai seseorang."

"Perempuan di pantai?" tebak Juki cepat.

"Mungkin."

"Bos ingat gelangnya?"

Arvid menggeleng pelan. "Bukan ingatannya yang jelas."

Ia menatap benda itu sekali lagi. "Lebih kayak... tubuhku mengenalinya sebelum aku sempat mengingatnya."

Juki terdiam. Kali ini ia tidak melontarkan candaan.

Arvid menggenggam gelang tersebut. "Petunjuk ini memang buntu."

Ia mengangkat pandangan kepada Juki. "Tapi bukan berarti gelang ini gak ada hubungannya sama dia."

Juki mengangguk. "Kalo begitu?"

"Cari lagi."

"Mulai dari mana?"

Arvid menatap gelang di tangannya. "Siapa pun yang pernah kerja di bengkel itu. Karyawan lama, pemasok bahan, pelanggan tetap. Cari orang yang mungkin masih mengenali desain ini."

Juki menghela napas. "Baik, Bos."

Juki menatap gelang yang masih berada di tangan Arvid. "Bos mau nyimpen gelang itu?"

Arvid diam beberapa detik. "Ya." Tatapannya kembali jatuh pada bandul Z. "Aku merasa benda ini bisa membawaku lebih dekat sama dia."

Juki mengangguk, kemudian meletakkan laporan yang dibawanya. "Ada satu hal lagi, Bos. Soal kejadian malam itu."

Arvid melirik map yang baru diletakkan Juki. "Keracunan?"

"Benar. Saya sudah minta tim memeriksa kemungkinan bahwa Bos bukan target sebenarnya."

"Kesimpulannya?"

"Sejauh ini, ada kemungkinan Bos hanya salah sasaran."

Arvid meletakkan gelang itu di atas meja. "Kemungkinan?"

Juki mengangguk. "Belum ada bukti yang cukup buat mastiin siapa targetnya. Kami juga belum dapat motif yang jelas."

"Kalo begitu, atas dasar apa kalian bikin kesimpulan kalo aku salah sasaran?"

Juki terdiam sesaat. "Itu salah satu kemungkinan dari informasi yang berhasil dikumpulin. Tapi saya gak bilang kesimpulan itu sudah pasti benar."

Arvid menyandarkan punggungnya ke kursi. Jemarinya mengetuk permukaan meja satu kali, lalu berhenti.

Malam itu, ia memang tidak ingat banyak hal dengan jelas. Namun, ia masih ingat bagaimana tubuhnya mendadak terasa panas setelah meminum sesuatu. Ia juga ingat bahwa kondisinya memburuk begitu cepat.

Seseorang telah membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Dan sampai sekarang, ia bahkan belum tahu siapa orang itu.

"Kalo aku memang salah sasaran, siapa yang harusnya mereka incar?"

"Saya belum nemu jawabannya, Bos."

"Siapa yang punya akses ke minuman itu? Siapa yang nyiapin? Siapa yang tau aku bakal ada di sana malam itu?"

Juki menggeleng pelan. "Kami masih menelusurinya."

Arvid menatapnya tajam. "Jangan berhenti cuma karena ada dugaan aku bukan targetnya."

"Tentu, Bos."

"Justru kalo aku salah sasaran, berarti ada orang lain yang mungkin mereka incar. Kita belum tau siapa orang itu, dan kita juga gak tau apa orang yang meracuniku udah dapat apa yang mereka mau."

Juki mengangguk. Kali ini wajahnya benar-benar serius. "Jadi, kita selidiki semua kemungkinan?"

"Semuanya." Arvid mengambil gelang tadi, lalu memasukkannya ke dalam laci meja. "Termasuk kemungkinan kalo aku memang target mereka."

Juki mengamati wajah atasannya selama beberapa detik. "Bos sendiri merasa ada orang yang mau celakai Bos?"

"Aku merasa terlalu banyak hal yang belum kita tau untuk menyimpulkan sebaliknya."

Arvid menutup laci itu. "Temukan siapa yang meracuniku. Cari tau gimana mereka melakukannya, siapa yang punya kesempatan, dan apa motifnya. Jangan mengarahkan penyelidikan cuma ke satu dugaan."

"Baik, Bos." Juki berbalik menuju pintu.

"Juki."

Ia berhenti. "Ya?"

"Terus cari perempuan itu juga."

Juki melirik laci tempat gelang tersebut disimpan. "Saya mengerti."

Setelah Juki keluar, Arvid kembali menatap layar laptopnya. Namun, pikirannya tidak lagi tertuju pada laporan perusahaan.

Ada dua hal yang belum bisa Arvid lepaskan: perempuan yang ditemuinya di pantai dan seseorang yang telah membuatnya keracunan.

Untuk sementara, ia menganggap keduanya sebagai dua masalah yang berbeda.

Satu harus ditemukan. Satu lagi harus diselidiki.

Namun, ketika pikirannya kembali pada perempuan di pantai, sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul. Arvid melirik laci tempat gelang itu disimpan.

"Siapa kamu?"

Ia terdiam. Kemudian, ingatannya kembali pada malam itu. Pada kondisi tubuhnya yang tidak terkendali. Pada apa yang telah terjadi setelahnya.

Dada Arvid terasa sesak. Satu kemungkinan yang sejak tadi tidak terpikirkan mendadak menghantamnya.

"Gimana kalo perempuan itu hamil?"

Arvid membeku.

 

...🔸🔸🔸...

...“Ada akibat yang tidak dapat kita hapus dengan penyesalan. Karena itu, ketika kesalahan telah terjadi, tanggung jawab berarti berani menghadapi kemungkinan terburuk dan tidak meninggalkan orang yang ikut menanggung akibatnya.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia belum menemukan orang yang dia cari setelah malam itu dan bagaimana nasibnya ke depan yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Zinnia harus segera memutuskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!