NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 15 - Gerbang Kenangan yang Terlupakan

Gerbang kelima tidak seperti yang lain. Ia tidak menjulang tinggi, tidak memancarkan cahaya menyilaukan — justru berdiri tenang di tengah dataran luas yang tertutup kabut perak lembut, terbuat dari kayu tua yang warnanya seperti gading yang sudah berusia ribuan tahun. Di permukaannya terukir ribuan wajah — bukan lukisan, melainkan bayangan yang bergerak pelan, seakan hidup di balik kayu itu sendiri.

"Ini Gerbang Kenangan," bisik Lirael suaranya pelan, segan mengganggu keheningan tempat itu. "Dikatakan di sini tersimpan semua yang pernah ada, semua yang pernah dirasakan — dan semua yang sengaja dilupakan."

Kai melangkah mendekat, Aurelia di genggamannya. Saat ia menyentuh permukaan kayu itu, bayangan-bayangan di sana berhenti bergerak serentak, lalu perlahan menatap ke arahnya. Gerbang itu terbuka perlahan, tanpa suara, dan di baliknya bukan jalan menuju dunia lain — melainkan lembah yang ia kenal sangat baik.

"Rumah…" bisiknya tak percaya.

Di sana berdiri rumah kecil yang sederhana, dikelilingi kebun bunga yang mekar indah, langitnya biru cerah tanpa awan. Di depan pintu, seorang wanita berdiri menunggu — wajahnya lembut, matanya penuh kasih sayang, rambutnya tertiup angin lembut.

"Ibu…" suara Kai tercekat di tenggorokan. Wanita itu telah pergi saat ia masih kecil, namun wajahnya tak pernah pudar sedikit pun dari ingatannya.

"Ayah, itu…" Aurelia menatapnya bingung. "Apakah sungguh Ibu Besar?"

Sebelum Kai sempat menjawab, sosok itu berbalik dan tersenyum — senyum yang hangat namun tak menyentuh matanya. "Kau akhirnya datang, Nak. Sudah lama aku menunggumu."

Langkah kaki Kai terasa berat. Sesuatu di hatinya berbisik — ini bukan nyata. Namun rindu yang terpendam begitu kuat hingga ia tak sanggup menolak. Ia melangkah masuk, dan teman-temannya mengikuti dari belakang, tak ingin mengganggu namun tetap waspada.

"Semuanya bisa kembali seperti dulu," ucap ibunya pelan, mengulurkan tangan. "Kau tak perlu berjuang, tak perlu terluka, tak perlu kehilangan apa pun. Tinggalah di sini — bersamaku, bersama Aurelia. Dunia di luar sana penuh bahaya. Tinggalkan saja."

Kai berhenti tepat di hadapannya. "Kalau sungguh Ibu… katakan padaku — apa yang paling aku takutkan sejak kecil?"

Sosok itu terdiam sesaat, lalu tersenyum lagi. "Kau takut sendirian, tentu saja. Takut ditinggalkan."

"Itu benar," jawab Kai pelan namun tegas, menarik tangannya mundur. "Tapi itu bukan yang paling dalam. Yang paling aku takutkan… adalah menjadi orang yang melupakan bagaimana cara mencintai. Menjadi orang yang menutup pintu hatinya karena luka yang diderita."

Sosok itu berubah. Wajahnya perlahan memudar, senyumnya hilang, dan suara yang keluar bukan lagi suara ibunya — melainkan suara yang dingin dan mengejek.

"Kau mengenalinya terlalu cepat. Padahal aku sudah menyusunnya begitu indah."

Seluruh pemandangan indah itu lenyap seketika. Rumah, kebun, langit cerah — berubah menjadi ruangan luas yang dikelilingi cermin-cermin tinggi. Di setiap cermin terbayang sesuatu yang berbeda: momen pengkhianatan, kehilangan, keputusasaan — semua hal yang pernah menyakiti hati Kai, terlihat begitu nyata seakan baru saja terjadi.

Di tengah ruangan itu berdiri sosok yang baru saja menyamar sebagai ibunya — makhluk yang wujudnya seperti kabut abu-abu, matanya tajam dan penuh penilaian.

"Aku adalah Penjaga Gerbang ini," ucapnya datar. "Namaku Nirupa. Tugasku menguji setiap yang lewat — apakah mereka memilih jalan yang paling mudah: melupakan rasa sakit dan hidup dalam khayalan, atau membawa beban kenangan itu dan tetap melangkah."

Ia menatap Kai tajam. "Banyak yang memilih tinggal di sini. Bahkan leluhurmu sendiri pernah berhenti di tempat ini. Kenapa kau menolak kedamaian itu?"

"Karena damai yang dibangun di atas kebohongan bukan damai sejati," jawab Kai mantap. "Kenangan yang menyakitkan juga bagian dari diriku. Dari situlah aku belajar — apa yang salah, apa yang benar, dan apa yang pantas diperjuangkan."

Nirupa beralih menatap Aurelia. "Dan kau, gadis kecil? Kau ingin tetap menderita karena orang-orang yang menyakitimu? Atau kau ingin hidup di dunia di mana semua orang menyayangimu, tak ada yang berkhianat, tak ada yang terluka?"

Aurelia melangkah maju, tak takut sedikit pun. "Dunia di mana tak ada yang menyakiti itu indah. Tapi kalau di sana tak ada Ayah, tak ada Elara, tak ada teman-teman… aku tidak mau. Dan kalau semua indah itu palsu… rasanya pasti tidak sama."

Nirupa terdiam lama sekali. Perlahan kabut di sekelilingnya menipis, menampakkan wajah yang sebenarnya — bukan mengerikan, melainkan wajah yang tampak sangat lelah, seakan telah berdiri di tempat ini sejak permulaan dunia.

"Belum pernah ada yang menjawab seperti itu," bisiknya pelan. "Semua orang selalu ingin lupa. Semua orang selalu ingin melarikan diri dari kesedihannya."

Ia menunjuk ke arah salah satu cermin besar yang kini berubah — menampilkan bayangan sosok yang berdiri sendirian di tempat gelap, memegang sesuatu yang berkilauan gelap.

"Orang yang kalian cari… dia pernah lewat sini juga," ucap Nirupa pelan. "Dia memilih menghancurkan semua cermin yang menampakkan kenangannya. Dia berkata: 'Aku tidak butuh masa lalu. Aku hanya butuh kekuasaan.' Dan sejak saat itu, dia menjadi kosong — tak punya ingatan, tak punya kasih sayang, tak punya belas kasihan."

Kai menatap bayangan itu. "Siapa dia?"

Nirupa menggeleng pelan. "Namanya sudah hilang dari ingatan semua orang. Tapi dia dikenal sebagai Penguasa Tanpa Nama. Dia lahir dari tempat yang tercipta saat dunia pertama kali terbelah — tempat di mana cahaya dan kegelapan belum terpisah. Dan dia menginginkan satu hal: menyatukan semua dunia di bawah kekuasaannya, lalu menghapus segala perasaan dari setiap makhluk hidup — agar tak ada yang bisa menyakiti siapa pun lagi."

"Menghapus perasaan?" Ren tersentak. "Itu bukan kedamaian. Itu kematian yang lebih mengerikan."

"Itulah yang dia yakini sebagai kebenaran," jawab Nirupa sedih. "Dia percaya semua penderitaan lahir dari perasaan. Cinta membawa kesedihan, harapan membawa kekecewaan, persahabatan membawa pengkhianatan. Maka dia memutuskan — hilangkan perasaan, hilangkan penderitaan."

Aurelia mencengkeram tangan ayahnya erat. "Itu salah. Kalau tak ada perasaan… hidup tak ada artinya."

Nirupa tersenyum tipis, senyum yang pertama kali tulus. "Kau paham. Dan itulah sebabnya kalian berbeda. Kalian membawa perasaan itu sebagai kekuatan, bukan kelemahan."

Ia melangkah ke cermin terbesar, menyentuh permukaannya. Cermin itu berubah menjadi pintu bercahaya keemasan.

"Jalan menuju gerbang berikutnya terbuka. Tapi ketahuilah — Penguasa Tanpa Nama telah menyiapkan sesuatu untuk kalian di gerbang keenam. Sesuatu yang dirancang khusus untuk mematahkan ikatan di antara kalian."

Ia menatap Kai dalam-dalam. "Percayalah pada mereka yang berjalan di sisimu. Itulah satu-satunya perisai yang tak bisa dia hancurkan."

Saat mereka melangkah keluar, Kai berhenti sejenak di ambang pintu. "Kenapa kau memberi tahu kami semua ini?"

Nirupa tersenyum. "Karena setelah ribuan tahun… akhirnya ada yang mengerti. Bahwa kenangan — sekalipun yang menyakitkan — adalah anugerah yang tak boleh dibuang."

Pintu itu tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan keheningan yang kini terasa damai. Di hadapan mereka terbentang jalan yang menanjak menuju gerbang berikutnya — gerbang yang menjulang tinggi, dikelilingi kabut yang berwarna abu-abu kelam, tempat di mana angin berdesir sedih seakan meratapi sesuatu yang hilang.

"Gerbang Keenam," gumam Lirael suaranya berat. "Tempat di mana persahabatan diuji sampai ke akarnya."

Kai menatap teman-temannya satu per satu — wajah mereka teguh, namun di mata masing-masing tersirat kekhawatiran. Ia meremas tangan Aurelia, lalu tersenyum meyakinkan mereka semua.

"Kita sudah melewati begitu banyak hal bersama. Tak ada yang bisa memisahkan kita. Tak ada."

Namun jauh di kejauhan, di balik kabut gerbang keenam, Penguasa Tanpa Nama berdiri diam. Di tangannya, tujuh pecahan bercahaya berputar perlahan — masing-masing menyimpan sesuatu yang paling berharga bagi setiap anggota Pasukan Kebangkitan.

"Kau yakin?" bisiknya sendiri, suaranya bergema tanpa gema. "Kau akan melihatnya sendiri, Kai — bahkan ikatan yang paling kuat pun bisa putus jika ditarik dari arah yang tepat."

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!