Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 : Aktingku sempurna,tapi kok pangeran nya tersedak?
"Nona! Nona Yufei, Anda akhirnya sadar! Hamba takut sekali..."
Suara tangisan melengking itu membuat kepala Xie Yufei terasa mau pecah. Perlahan, dia membuka matanya yang berat. Langit-langit kamarnya bukan lagi plafon putih rumah sakit, melainkan ukiran kayu kuno yang sangat rumit.
Di samping tempat tidurnya, seorang gadis kecil berpakaian kain serba hijau kuno sedang menangis sesenggukan sambil meremas saputangan.
Yufei mengerjapkan mata. (Tunggu. Ini di mana? Gue di mana?!)
Memori terakhirnya berputar otomatis. Dia ingat betul sedang rebahan di kamar kost, asyik bermain ponsel sambil menyedot boba brown sugar kesukaannya. Lalu, dia tersedak mutiara boba itu sampai pandangannya gelap.
(Buset... jangan bilang gue mati konyol gara-gara boba?! Terus ini apa? Studio syuting film sejarah?) batin Yufei berteriak histeris.
Melihat gadis di sampingnya masih menangis, ingatan dari pemilik asli tubuh ini mendadak menyatu dengan otaknya. Namanya sekarang adalah Xie Yufei, seorang Nona Muda dari keluarga jenderal yang terkenal lemah lembut, penakut, dan baru saja pingsan karena didorong ke kolam istana.
Sebagai pencinta novel, Yufei langsung paham situasi: dia mengalami transmigrasi!
(Oke, Yufei. Tenang. Rumus utama bertahan hidup di zaman purba begini adalah: jangan bertingkah aneh. Gue harus akting jadi cewek kuno yang lemah lembut, anggun, dan kalem. Biar leher gue aman dari hukuman pancung!) Yufei menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.
Yufei lalu memasang senyum paling tipis, mengangguk pelan, dan berkata dengan suara selembut sutra, "Aku tidak apa-apa, Xiao Mei. Jangan menangis lagi."
"H-hamba sangat bersyukur, Nona!" Xiao Mei, pelayan setianya, buru-buru mengusap air matanya.
Namun, tiba-tiba sebuah suara asing yang sangat nyaring dan berisik bergema langsung di dalam kepala Xiao Mei:
(Aduh Gusti, untung ini anak berhenti nangis. Suaranya melengking banget kayak toa masjid komplek! Pinggang gue juga encok banget ini, kasurnya keras amat sih, gak ada springbed apa ya di zaman ini?)
Xiao Mei seketika membeku. Dia celingukan melihat sekeliling kamar yang sepi. "Toa? Springbed? Suara gaib siapa itu?" Saat dia menatap Yufei, nona nya itu sedang duduk dengan posisi sangat tegak dan tersenyum sangat manis, sangat anggun. Tapi intonasi suara berisik bernada malas di kepalanya tadi jelas-jelas mirip dengan suara nonanya!
Belum sempat Xiao Mei mencerna kebingungannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dari luar. Dua orang pria melangkah masuk.
Pria pertama adalah Xie Jian, kakak kandung Yufei yang merupakan seorang wakil jenderal muda. Namun, pria kedua di sebelahnya langsung membuat atmosfer kamar berubah menjadi sedingin es kutub. Pria itu mengenakan jubah hitam bersulam benang emas. Wajahnya luar biasa tampan, namun tatapan matanya begitu tajam dan pekat. Dialah Pangeran Mo Cheng, jenderal perang bertangan besi yang ditakuti.
Yufei yang otaknya langsung mengenali sosok itu seketika panik. Dia buru-buru turun dari ranjang dan membungkuk memberi hormat dengan sangat takzim.
"Yufei memberi hormat kepada Yang Mulia Pangeran Mo Cheng, dan Kakak Besar," ucap Yufei dengan nada bicara yang sangat sopan dan lembut.
Pangeran Mo Cheng hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Dia melangkah ke kursi kayu, bersiap untuk menginterogasi Yufei tentang insiden di kolam istana beberapa hari lalu. Namun, baru saja Pangeran Mo Cheng duduk dan menerima secangkir teh hangat dari Xiao Mei, sebuah gema suara aneh tiba-tiba meledak secara bersamaan di dalam kepalanya, kepala Xie Jian, dan kepala Xiao Mei!
(MAMAAAKKK!!! Ini kenapa ada psikopat nyasar ke kamar gue?! Gila, aura membunuhnya pekat banget, berasa kayak lagi berhadapan sama malaikat maut! Tapi bentar... buset, ini cowok gantengnya gak ngotak! Spek drakor, visualnya tier SSS! Kulitnya mulus banget, pakai skincare apa ya di zaman purba gini? Tapi sayang, mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan tiga bulan. Galak amat, mending gue buruan kabur sebelum ditebas kepala gue!)
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Pangeran Mo Cheng yang baru saja menyesap tehnya sedikit, seketika tersedak hebat karena syok mendengar suara asing yang tiba-tiba berteriak di otaknya.
Mata Pangeran Mo Cheng melebar. Dia langsung mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh sudut ruangan. "Suara siapa itu?! Berani-beraninya berteriak di dalam kepalaku?! Dan kata-kata aneh apa itu? Si-ki-pat? Dra-kor? Kon-tra-kan? Bahasa sihir dari mana ini?!"
Di sampingnya, Xie Jian juga ikut memegang kepalanya dengan wajah linglung dan bingung. Sebagai seorang jenderal, dia waspada penuh karena mengira kamar ini sedang diserang oleh ilmu hitam atau mantra gaib.
Namun, kecurigaan mereka mulai mengerucut ketika mereka memperhatikan Xie Yufei.
Gadis itu masih dalam posisi membungkuk hormat dengan sangat anggun tanpa dosa. Tetapi, setiap kali suara gaib di kepala mereka mengeluh tentang “leher yang pegal” atau “pangeran berwajah tembok”, bibir Xie Yufei tampak sedikit berkedut cemas, dan matanya melirik ke sana kemari dengan panik.
Xie Jian yang sangat mengenal tabiat adiknya langsung menyadari sesuatu. Suara gaib yang berisik dan blak-blakan ini... memiliki warna suara yang persis sama dengan suara Xie Yufei yang sedang menyapa mereka tadi!
"Tunggu... apakah suara aneh ini adalah isi pikiran Yufei?!" batin Xie Jian terbelalak kaget. Dia menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Sejak kapan pikiran adiknya yang pendiam berubah menjadi seberisik dan seaneh ini?!
Sementara itu, Yufei yang mendengar Pangeran tersedak langsung mendongak, wajahnya memasang ekspresi cemas yang dibuat-buat sealami mungkin. "Yang Mulia Pangeran, Anda tidak apa-apa? Apakah tehnya terlalu panas?" tanya Yufei dengan nada super lembut.
Padahal, sedetik setelah dia berbicara manis seperti itu, gema suaranya di dalam kepala Pangeran Mo Cheng kembali mengomel dengan heboh:
(Lah? Idola kerajaan kok gampang tersedak? Baru juga minum teh segelas, gimana kalau gue suapin seblak level lima, bisa jantungan kali ya ini Pangeran Es?)
Pangeran Mo Cheng buru-buru meletakkan cangkirnya dengan kasar ke meja. Sekarang dia benar-benar yakin! Suara aneh ini muncul tepat saat Xie Yufei sedang menatapnya. Gadis ini tidak membuka mulut, tetapi jiwanya sedang mengomel panjang lebar!
Meskipun Pangeran Mo Cheng sama sekali tidak mengerti apa arti kata psikopat, skincare, atau seblak, dia tahu satu hal: gadis di depannya ini sedang mengatai mukanya jelek dan berniat kabur darinya di dalam hati!
Pangeran Mo Cheng menyipitkan mata, menatap Yufei dengan tatapan mengintimidasi yang tajam. Sementara Yufei tetap tersenyum polos, sama sekali tidak menyadari kalau topeng aktingnya sudah bocor total sejak detik pertama.