Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sementara Dewi makan dengan sangat lahap, memasukkan potongan besar daging wagyu ke dalam mulutnya tanpa ragu sedikit pun.
"Pelan-pelan makannya, tidak ada yang mau merebut makananmu dari piring," tegur Raka sambil menyodorkan tisu pada Dewi.
Dewi menerima tisu itu dan membersihkan sudut bibirnya yang sedikit berminyak.
"Habisnya daging ini enak sekali Bos, rasanya seperti meleleh begitu saja di lidah," puji Dewi dengan jujur tanpa dibuat-buat.
Di tengah suasana makan siang yang hangat itu, televisi di dinding menyiarkan program berita hiburan siang.
Dewi memang sengaja meminta pelayan menyalakan televisi itu agar ada suara latar yang meramaikan ruangan yang terlalu sepi ini.
"Berita mengejutkan datang dari dunia hiburan internasional hari ini."
Suara presenter televisi itu langsung menarik perhatian Dewi yang sedang menyuapkan sushi ke mulut Elvan.
"Supermodel papan atas asal Indonesia, Marissa, dikabarkan akan segera kembali ke tanah air setelah tiga tahun merintis karir di Paris."
Trang.
Sumpit kayu di tangan Raka tiba-tiba terjatuh dan membentur piring keramik dengan sangat keras.
Suasana hangat di ruangan itu mendadak menguap entah ke mana, digantikan oleh hawa yang sangat dingin.
Dewi menoleh dan melihat rahang Raka mengeras hebat hingga otot-otot di lehernya menonjol menahan amarah.
Mata elang pria itu menatap tajam ke arah layar televisi dengan aura membunuh yang sangat pekat dan kelam.
"Kepulangannya ini mengundang banyak pertanyaan, apakah sang model berniat menetap kembali di Jakarta atau hanya kunjungan singkat?" lanjut presenter itu di televisi dengan nada gosip.
Raka langsung mengambil remote di atas meja dan mematikan televisi itu dengan tombol merahnya secara kasar.
Klik.
Layar televisi menjadi hitam, namun ketegangan di dalam ruangan tertutup itu justru terasa semakin pekat dan mencekik.
Suhu ruangan yang ber-AC itu mendadak terasa menusuk tulang Dewi tanpa alasan yang logis.
Elvan yang sedang mengunyah sushi kereta apinya langsung berhenti bergerak karena menyadari perubahan ayahnya.
Anak kecil itu menatap papanya dengan ketakutan, tubuh mungilnya mulai bergetar pelan.
"Papa... marah?" bisik Elvan lirih sambil memegang lengan kemeja Dewi dengan tangan gemetar.
Dewi dengan sigap langsung menarik Elvan ke dalam pelukannya dan mengusap punggung anak itu dengan ritme menenangkan.
"Bos, kendalikan emosimu. Kau menakuti anakmu sendiri," tegur Dewi dengan suara pelan namun sarat akan ketegasan.
Raka seolah baru tersadar dari lamunannya yang gelap dan penuh monster masa lalu.
Dia menatap Elvan yang ketakutan di pelukan Dewi, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas lututnya sendiri.
"Maafkan Papa, Elvan. Papa tidak marah pada Elvan," ucap Raka dengan suara yang terdengar luar biasa lelah dan serak.
Dewi menatap pria di depannya ini dengan perasaan campur aduk yang meremas batinnya.
Selama ini Raka selalu terlihat seperti benteng es yang sangat kokoh, sombong, dan sama sekali tidak terkalahkan.
Namun hanya dengan mendengar satu nama dari layar televisi, benteng tak tertembus itu langsung runtuh menyisakan pria yang tampak dipenuhi luka.
Marissa. Itu pasti nama mantan istrinya, ibu kandung dari Elvan yang meninggalkan mereka.
Ding!
[Peringatan Sistem!]
[Awan gelap dari masa lalu mulai mendekati wilayah keluarga asuhan Anda dengan kecepatan penuh!]
[Misi Utama Tahap Baru: Lindungi senyum Tuan Muda dari ibu kandungnya yang sangat beracun!]
Dewi mengerutkan keningnya membaca notifikasi peringatan dari layar biru yang menyala di depannya.
Beracun? Seburuk apa sebenarnya sifat wanita bernama Marissa ini sampai sistem melabelinya dengan sebutan seperti itu?
"Bram," panggil Raka tiba-tiba tanpa mengangkat wajahnya dari meja.
Bram yang menunggu setia di luar ruangan langsung membuka pintu geser itu dan masuk dengan cepat.
"Iya, Tuan Raka. Ada yang bisa saya bantu sekarang?" tanya ajudan itu sigap.
"Siapkan mobil di lobi bawah, kita pulang ke mansion sekarang juga," perintah Raka dengan nada dingin tak terbantahkan.
"Tapi Bos, makanan kita belum habis separuhnya," protes Dewi menyayangkan nasib daging mahal di piringnya.
Raka berdiri dari kursinya dengan gerakan kaku dan mengambil jas yang disampirkan di sandaran kursi kayu.
"Bungkus saja bawa pulang untuk dimakan nanti. Aku sudah benar-benar kehilangan nafsu makan," ucap Raka ketus.
Raka berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar dan cepat, meninggalkan Dewi yang masih menenangkan Elvan di pangkuannya.
Bram menatap Dewi dengan pandangan meminta maaf yang sangat dalam atas sikap tidak sopan bosnya barusan.
"Nona Dewi, tolong maklumi sikap Tuan Raka hari ini. Berita di TV tadi... sangat memukul mental dan perasaannya," bisik Bram pelan agar tidak terdengar Elvan.
"Iya Pak Bram, aku mengerti kok. Tolong bantu pelayan membungkus semua sisa makanan ini ya," jawab Dewi dengan senyum sabar.
Dewi menggendong Elvan yang masih terdiam kebingungan dan menyusul langkah panjang Raka menuju lift.
Di dalam mobil mewah yang melaju membelah ibu kota itu, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.
Raka terus membuang pandangannya ke luar jendela gelap, raut wajahnya kembali sedingin balok es di kutub utara.
Elvan yang biasanya bawel dan cerewet kini memilih tidur di pangkuan Dewi, mencari rasa aman yang hilang.
"Sistem, sepertinya pekerjaan sebagai ibu bayaran ini akan semakin sulit dan penuh darah ke depannya ya," batin Dewi sambil menghela nafas pasrah.
Dewi menatap wajah kaku Raka dari pantulan kaca jendela mobil.
"Tapi tenang saja Bos, kalau nenek sihir model itu berani mengganggu senyum anak ini dan ketenangan rumah kita, aku yang akan maju paling depan untuk menamparnya."
Dewi mengepalkan tangan kanannya dengan tekad yang bulat layaknya seorang ksatria.
Bukan lagi karena gaji seratus lima puluh juta yang dijanjikan Raka, tapi karena dia benar-benar sudah menyayangi Elvan selayaknya darah dagingnya sendiri.
Dan anehnya, jauh di lubuk hatinya, dia juga tidak suka melihat pria arogan di sampingnya ini hancur dan terluka lagi.
Perang yang sesungguhnya antara istri kontrak bar-bar jalanan dan mantan istri gila harta baru saja dimulai hari ini.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭