Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
“Pagi, Bun, Yah!” ucap Jessica sambil buru-buru menuruni tangga.
“Pagi, Sayang,” jawab William dengan mata yang tak lepas dari koran yang digenggamnya.
“Pagi, Sayang. Pelan-pelan, Jes. Nanti kamu jatuh,” ujar Sarah ketika melihat putrinya tergesa-gesa menuruni tangga.
“Nggak bisa pelan-pelan, Bun! Aku udah telat ini. Bunda, sih, nggak bangunin aku. Repot, kan, jadinya?” Jessica mendengus kesal sambil memajukan bibirnya.
“Loh, bukannya tadi Bunda sudah bangunin kamu? Terus kamu bilang, ‘Nanti, Bun, lima menit lagi.’ Akhirnya apa? Kamu tidur sampai setengah jam, kan? Kalau dibangunin, malah kamu yang marahin Bunda balik.”
Jessica mendengus, tidak terima disalahkan.
Tadi Sarah bahkan sudah mengetuk pintu kamar Jessica berkali-kali. Namun, sang empunya kamar terus menjawab lima menit lagi. Masalahnya, lima menit menurut Jessica bisa berubah menjadi setengah jam. Dan kebiasaan itu selalu terulang setiap kali Jessica terlambat bangun. Alih-alih mengakui kesalahannya, gadis berusia 21 tahun itu justru menyalahkan Bundanya.
Sungguh anak yang sulit dinasihati!
“Ya udah, deh. Jesi pergi dulu. Udah telat banget ini!”
“Jes, ada Reyhan di depan,” ucap Sarah.
Langkah Jessica yang hendak menuju ruang makan untuk mengambil roti langsung terhenti.
“Ngapain dia kemari?” tanyanya dengan nada jengkel.
“Dia mau mengantar kamu ke kampus. Sekarang dia ada di depan, lagi ngobrol sama Abang kamu,” jawab Sarah santai.
“GAK! Jessica nggak mau diantar sama dia!”
“Loh, harus mau, Sayang. Itu salah satu cara supaya kamu bisa lebih dekat sama calon suami kamu,” sahut William.
Jessica langsung berbalik menghadap kedua orang tuanya.
“Ck! Kenapa, sih, Yah, Bun, Jesi yang dijodohin? Kenapa nggak Bang Rio aja?” Jessica berdecak sebal.
Sarah langsung menatap putrinya dengan gelengan kepala.
“Jesi Sayang, Abang kamu itu laki-laki. Masa iya, Abang kamu kami jodohkan sama Reyhan? Lagi pula, perjodohan kalian ini sudah direncanakan sejak kalian masih kecil.”
Jessica membulatkan matanya.
“HAH?! Sejak kecil?!”
“Iya, Sayang,” jawab Sarah tenang.
“Tapi, kenapa Jesi baru tahu kemarin?!”
William meletakkan korannya di atas meja, kemudian menatap putri bungsunya.
“Hmm, sebenarnya kami memang sudah merencanakannya sejak dulu. Tapi, tidak lama setelah itu, Reyhan melanjutkan studinya ke luar negeri. Jadi, kami tidak yakin bisa melanjutkan perjodohan ini. Sekarang dia sudah kembali, dan orang tuanya masih ingin perjodohan itu dilaksanakan.”
Jessica terdiam.
Rasanya dia ingin menangis sekarang juga.
Bahkan, ketika gigi susunya pertama kali tanggal, kedua orang tuanya mungkin sudah sibuk merencanakan calon suaminya!
Damn it!
“Ya udah, terserah Ayah sama Bunda, deh! Jesi pamit. Assalamualaikum!”
Jessica langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum bergegas menuju ruang tamu.
“Waalaikumsalam,” jawab William dan Sarah bersamaan.
Jessica berjalan menuju ruang tamu. Pandangannya langsung tertuju pada seorang laki-laki yang mengenakan kemeja putih dengan jas hitam membalut tubuhnya. Celana bahan berwarna senada semakin menyempurnakan penampilannya.
Pria itu sedang berbicara dengan Rio, abang Jessica.
Tidak bisa dimungkiri, Reyhan memang sangat tampan.
Jessica mengakuinya dengan sepenuh hati.
Wajah tegas, rahang yang terbentuk sempurna, tubuh tinggi dan kekar, ditambah penampilan yang begitu elegan membuat pria itu terlihat seperti CEO dalam drama Korea. Namun, kalau diperhatikan lebih lama, pria itu bahkan terlihat lebih tua daripada Abangnya.
Ya ampun, ini calon suami apa calon bapak-bapak yang mau menghadiri rapat direksi?
Tapi, tetap saja, kesan tampan di wajahnya tidak bisa diabaikan.
Bahkan, kalau dilihat lebih teliti, pria itu bisa dikatakan sangat seksi.
Tubuh kekar, bahu lebar, tinggi, dan—
Oke, stop!
Jessica menggelengkan kepalanya sendiri.
Otak gua mungkin udah mulai konslet.
Gadis itu kembali berjalan menuju sofa, lalu menyalami tangan Rio.
“Bang, Jesi pergi. Assalamualaikum.”
“Eh, waalaikumsalam. Kamu perginya sama Reyhan, kan, Dek?” tanya Rio.
“Emm, kata Bunda tadi begitu,” jawab Jessica sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Iya, kamu perginya sama saya. Ayo,” ujar Reyhan datar.
Dia kemudian menoleh kepada Rio.
“Kalau begitu, saya pergi dulu, Rio.”
“Eh, iya. Hati-hati,” balas Rio sedikit kikuk.
Setelah Reyhan dan Jessica menjauh, Rio menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
Formal banget calon suami adik gue. Udah kayak mau sidang skripsi aja. Padahal baru mau nganter ke kampus!
Jessica dan Reyhan berjalan beriringan keluar rumah.
Begitu sampai di halaman, Jessica langsung melihat sebuah mobil Rolls-Royce La Rose Noire Droptail berwarna hitam terparkir manis di sana.
Matanya membulat sempurna.
GILA! Itu mobil yang harganya hampir lima ratus miliar?!
Jessica sampai harus mengucek matanya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
Berarti calon suami gua konglomerat, dong?!
Gadis itu mendadak merasa seperti tokoh utama novel yang tiba-tiba dijodohkan dengan CEO kaya raya. Namun, khayalannya buyar ketika Reyhan berjalan memutari mobil, kemudian langsung masuk ke kursi pengemudi tanpa membukakan pintu untuknya.
Jessica melongo.
Lalu, dia mendengus kesal.
“Ck! Nggak ada romantis-romantisnya! Dibukain pintu kek, biar kayak di film-film. Biar romantis sedikit, gitu!”
Reyhan yang mendengar gumaman itu hanya melirik sekilas dari balik jendela.
“Masuk, Jessica. Saya nggak punya banyak waktu.”
Jessica memutar bola matanya.
“Iya, iya, Pak CEO. Bawel amat!”
Dia membuka pintu sendiri, kemudian duduk di kursi penumpang sambil memasang sabuk pengaman.
Begitu mobil melaju meninggalkan halaman rumah, suasana langsung berubah hening.
Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya alunan musik dari sistem audio mobil yang mengisi keheningan di antara mereka.
Jessica sesekali melirik Reyhan yang fokus menyetir.
Sementara Reyhan tampak sama sekali tidak tertarik untuk mengajaknya berbicara. Akhirnya, Jessica memutuskan untuk membuka suara.
“Eh, Om, jangan kelewatan. Universitas Lentera Bangsa, ya. Jangan lupa, loh. Oke?”
Reyhan langsung menoleh sekilas dengan alis terangkat.
“Om-om? Saya ini calon suami kamu, bukan calon suami tante kamu!”
Jessica terkekeh kecil.
“Lah, salah, ya? Terus Om mau dipanggil apa? Kakek? Mbah? Abah? Atau Mbak?”
Reyhan menginjak rem perlahan ketika lampu lalu lintas berubah merah, lalu menatap Jessica dengan ekspresi tidak percaya.
“Heh, bocah! Saya nggak setua itu sampai kamu panggil Mbah. Memangnya saya Mbah dukun apa?”
“Terus mau dipanggil apa?”
“Panggil nama aja.”
Jessica langsung menggeleng.“Kalau manggil nama langsung, kan, nggak sopan. Masa aku manggil orang yang lebih tua pakai nama doang?”
Reyhan mendengus.“Sudahlah. Toh, kamu memang nggak sopan.”
Jessica langsung menoleh tajam.
“EH! Enak aja! Aku ini anak baik-baik, ya! Cantik-cantik begini, aku diajarin sopan santun, tahu!”
Reyhan meliriknya dengan ekspresi datar.“Kamu memang punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ya?”
Jessica terdiam dua detik. Kemudian, dia menunjuk wajahnya sendiri dengan bangga.
“Ya iyalah! Kalau bukan aku yang memuji diriku sendiri, siapa lagi? Masa Om?”
Reyhan mengembuskan napas kasar.
Ya Tuhan, ujian apa lagi yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini?
Mobil kembali melaju ketika lampu lalu lintas berubah hijau.
Jessica memilih memperhatikan pemandangan ibu kota Jakarta dari balik jendela. Menurutnya, berdebat dengan pria menyebalkan di sampingnya itu membutuhkan tenaga ekstra.
Lebih baik dia menikmati perjalanan daripada harus meladeni mulut pedas calon suaminya.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan gerbang Universitas Lentera Bangsa.
“Sudah sampai. Kamu mau tetap di sini menemani saya?” tanya Reyhan.
Jessica langsung menoleh.“Ish, ya nggaklah! Nanti dikira apa? Mahasiswi bukannya kuliah, malah nempel sama Om-om!”
Reyhan mendengus kesal.“Kamu, ya! Ya ampun, menyebalkan banget, sih! Sudah saya bilang, jangan panggil saya Om!”
Jessica membuka sabuk pengamannya sambil terkekeh.
“Bodo amat! Jangan marah-marah terus, Om. Nanti makin keriput!”
Dia membuka pintu mobil, kemudian turun dengan cepat.
“Makasih tumpangannya, Mbah Dukun! Semoga panjang umur dan nggak gampang emosi!”
“JESSICA!”
Suara Reyhan menggema sampai ke dekat gerbang kampus.
“SAYA BUKAN MBAH DUKUN!”
Jessica hanya tertawa sambil melambaikan tangan.
“IYA, MB— EH, OM!”
Setelah itu, dia berlari memasuki area kampus sebelum Reyhan sempat membalas.
Reyhan mengusap wajahnya kasar.“Gila aja! Masa gue dijodohkan sama gadis seberisik itu? Tabahkan hati hamba, ya Allah.”
Dia mengelus dadanya beberapa kali sebelum kembali menyalakan mesin mobil.
“Cantik, sih, cantik. Tapi mulutnya itu, loh! Bisa bikin tekanan darah naik!”
Setelah mengomel sendirian, Reyhan meninggalkan gerbang kampus dan melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
Sementara itu, Jessica berlari kecil melewati lorong gedung perkuliahan menuju kelasnya di lantai tiga. Napasnya mulai memburu ketika menaiki tangga.
“Ya Allah, semoga dosennya belum datang! Semoga belum! Amin!”
Begitu sampai di depan ruang kelas, Jessica langsung mengintip dari pintu.
Untung saja, dosennya belum datang.
Dengan napas yang belum teratur, dia masuk dan berjalan menuju kursi tempatnya biasa duduk bersama Anggun.
“TUMBEN LO NGGAK DATANG SIANG, JES!”
seru seorang gadis berambut pirang yang duduk di sebelahnya.
Dia adalah Anggun, teman dekat sekaligus teman duduk Jessica sejak awal perkuliahan. Jessica menjatuhkan tasnya ke atas meja, lalu mengatur napas.
“Iya, kesiangan. Gue susah tidur tadi malam.”
Anggun menyipitkan mata.
“Kenapa? Mikirin tugas kuliah?”
Jessica langsung menoleh dengan wajah datar.
“Lebih parah.”
“HAH? APA?”
“Gue dijemput calon suami gue!”
Anggun langsung membulatkan matanya.“ANJIR! SERIUS LO?!”
Jessica buru-buru menutup mulut Anggun.“WOI! Pelan-pelan! Belum ada dosen aja lo udah teriak kayak toa masjid!”
Anggun menepis tangan Jessica.“Ya gimana gue nggak kaget?! Terus gimana orangnya? Ganteng nggak? Kaya nggak? Baik nggak? Cerita, Jes! Jangan setengah-setengah!”
Jessica mendengus.“Ganteng, kaya, tapi nyebelin setengah mati!”
Anggun langsung tertawa terbahak-bahak.“HAHAHAHA! Ya ampun, Jes! Baru juga jadi calon istri, udah ngomel!”
“Lo kalau lihat orangnya juga bakal ngomel!”
“Emangnya kenapa?”
“Dia nggak mau bukain pintu mobil buat gue!”
Anggun terdiam sesaat. Lalu, dia tertawa semakin keras.
“HAHAHAHAHA! YA AMPUN! GUE KIRA DIA NGAPAIN! CUMA GARA-GARA ITU?!”
“Buat lo mungkin sepele. Tapi buat gue, itu masalah harga diri!”
“HAH? Harga diri apaan?!”
“Gue ini calon istrinya, tahu! Masa bukain pintu aja nggak bisa?!”
Anggun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya ampun, Jessica Damian. Lo tuh kalau ngomong suka nggak masuk akal!”
Jessica memajukan bibirnya.“Biarin!”
Belum sempat Anggun membalas, seorang gadis cantik yang duduk di depan mereka berbalik.
“Eh, guys! Nanti pulang kuliah kita ke mal, yuk!” ajak Viola dengan penuh semangat.
Anggun langsung mengangkat tangan.“IHHH, IYA! BENER! Kita nonton, yuk! Udah lama banget kita nggak nonton bareng. Please!”
“Setuju!” sahut Jessica.
Tiba-tiba, Amel yang duduk tidak jauh dari mereka ikut menyahut.
“Kasihan, pada jomblo, jadi gabut. Makanya ngajak ke mal!”
Jessica langsung melotot.
“YEEEE! Si Markonah! Bisanya ngejek mulu! Gue sumpahin lo putus hari ini!”
Amel langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“AMIT-AMIT! Ya Allah, jangan kabulkan doa orang-orang yang dengki dan iri sama hamba-Mu ini. Amin!”
Jessica mengambil pulpen di atas meja, pura-pura hendak melemparkannya.
“AMEL!”
“APA, JESSICA?!”
“BERISIK!”
“LO DULUAN!”
Anggun menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
“Udah, deh! Jangan mulai! Kebiasaan banget kalian berdua kalau ketemu pasti ribut. Nanti kalau salah satu nggak masuk, yang lain malah sibuk nyariin.”
Amel dan Jessica langsung saling melotot.“Gue nggak bakal nyariin dia!” ucap keduanya bersamaan.
Viola tertawa geli.
“Cocok banget kalian berdua. Kayak Tom and Jerry!”
“BIARIN!” balas Jessica dan Amel serempak.
Anggun hanya bisa menggelengkan kepala. Entah kapan kedua temannya itu akan akur tanpa harus berdebat setiap lima menit sekali.
Mungkin nanti, ketika mereka sudah punya anak cucu.
Atau jangan-jangan, sampai tua pun mereka masih akan saling mengejek?
“Oke, balik ke topik!” Viola kembali bersemangat. “Jadi, nanti kita nonton, ya, guys?”
“Iya, Ola!” jawab ketiganya serempak sambil memutar mata.
“YEAY!”
Viola bersorak kegirangan.
Jessica menyandarkan punggungnya ke kursi sambil tersenyum puas.
Setidaknya, hari ini dia masih bisa menikmati kehidupan kampus bersama teman-temannya. Namun, saat mengingat pria yang mengantarnya tadi pagi, senyumnya perlahan berubah menjadi seringai kesal.
Lihat aja, Reyhan Anderson. Lo boleh jadi CEO kaya raya, boleh punya mobil semahal apa pun, tapi jangan harap gue bakal nurut sama semua omongan lo!
Jessica mengangkat dagunya dengan percaya diri.
Ingat, Jessica Damian nggak akan pernah kalah!
Dan tanpa Jessica sadari, kehidupan perkuliahan yang baru dimulainya itu mungkin tidak akan sesederhana yang dia bayangkan. Terutama karena dua minggu lagi, pria menyebalkan bernama Reyhan Anderson itu akan resmi menjadi suaminya.