Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Aroma kopi espresso beradu dengan wangi roti panggang dan riuh rendah suara ratusan mahasiswa yang memenuhi kafetaria utama Universitas California.
Tempat itu menjadi pusat keramaian di jam makan siang, dipenuhi gelak tawa, denting sendok, dan gosip hangat yang berhembus di antara meja-meja bundar.
Di sudut paling tenang yang jauh dari kerumunan pusat, Cinderella—yang kini mendiami raga Marcella Ember Vitiello—duduk sendirian.
Posisinya membelakangi keramaian, menatap datar pada piring pasta yang baru disentuhnya sedikit.
Aura dingin dan berjarak tersirat kuat dari gesturnya, memagari dirinya dari siapapun yang berniat mendekat.
Langkah kaki tergesa mendekat ke mejanya. Seorang gadis berambut ikal dengan pakaian kasual namun mencolok tiba-tiba menarik kursi dan langsung duduk di hadapan Ember.
Prilly.
Ia bukan sahabat Ember di kampus, melainkan rekan kerjanya di bar eksklusif di pusat kota—satu-satunya tempat di mana Ember memeras keringat demi mengumpulkan lembaran dolar.
"Kau sudah sembuh, Ember?" tanya Prilly seraya meneliti wajah pucat di hadapannya dengan tatapan khawatir.
"Aku melihat surat izin tidak masuk kerja milikmu semalam. Manajer sempat bertanya-tanya."
Cinderella menatap Prilly sejenak, mencerna informasi dari ingatan raga ini, lalu mengangguk pelan.
"Ya," jawabnya singkat dengan intonasi tenang. "Aku memang tidak bekerja semalam karena kurang enak badan. Sekarang sudah agak mendingan."
"Syukurlah," helah Prilly lega seraya menyandarkan punggungnya.
"Kau tahu sendiri tempat itu sangat ketat. Kalau kau bolos tanpa kabar dua hari berturut-turut, posisimu bisa digantikan orang lain."
Cinderella hanya merespons dengan gumaman tipis, lalu kembali pura-pura fokus pada pasta di piringnya. Ia memutar garpu dengan gerakan anggun dan lambat, enggan memperpanjang percakapan.
Tak berapa lama, suasana riuh di kafetaria mendadak menyurut sejenak, berganti dengan bisik-bisik heboh yang menyebar cepat dari arah pintu masuk utama.
Draxler Lutolf Ashford baru saja melangkah masuk bersama dua sahabat kuncinya, Brave dan Kal El.
Kehadiran tiga pemuda dari kasta tertinggi kampus itu selalu berhasil menyedot perhatian seluruh isi ruangan.
Tepat saat melewati pintu, pandangan Draxler secara naluriah langsung terlempar menyapu area kafetaria, mencari satu titik spesifik yang biasanya paling bising.
Brave dan Kal El pun ikut mengarahkan pandangan mereka ke sudut yang sama, menantikan aksi yang sudah menjadi rutinitas harian di tempat itu.
Biasanya, detik pertama saat Draxler menginjakkan kaki di kafetaria, suara lengkingan khas milik Marcella Ember Vitiello akan menggelegar menyapa seluruh ruangan.
Gadis itu tidak pernah punya rasa malu—ia akan berdiri, melambaikan tangan tinggi-tinggi, dan berteriak heboh memanggil nama Draxler untuk menyuruhnya duduk di sampingnya.
Pemandangan terobsesi yang selalu membuat Draxler mengelus dada dan menjadi bahan tertawaan mahasiswa lain.
Namun hari ini, tidak ada teriakan itu.
Atmosfer di sudut ruangan itu tetap sunyi. Cinderella tetap menunduk khusyuk, sibuk menikmati makanannya seolah kedatangan sosok Draxler Ashford tidak lebih penting daripada selembar daun kering yang jatuh di luar jendela.
Brave menaikkan alisnya tinggi-tinggi, melirik Draxler yang mendadak menghentikan langkahnya.
"Tunggu... mataku tidak salah lihat, kan? Dia tidak memanggilmu?"
"Aneh sekali," timpal Kal El heran seraya mengamati sudut tempat Ember duduk.
"Gadis berisik itu benar-benar mengabaikanmu sejak pagi?"
Draxler mengernyitkan alisnya rapat-rapat. Manik matanya terkunci lurus pada sosok gadis berambut hitam lurus di sudut sana.
Ada rasa asing yang mengusik benaknya. Perubahan sikap itu terjadi begitu cepat, seolah hanya dalam semalam seluruh kepribadian Marcella Ember Vitiello dirombak total.
Draxler tahu betul alasan di balik obsesi gila gadis itu padanya selama ini.
Ember menyukainya secara terang-terangan murni karena statusnya sebagai keturunan keluarga Ashford, dipadu dengan bonus wajah tampan.
Bagi Draxler, itu adalah alasan yang terlalu jujur—bahkan terkesan sangat materialistis dan tanpa filter.
Justru karena kejujuran yang kelewat batas itulah Draxler sengaja membangun benteng kaku yang tinggi antara dirinya dan gadis bernama Ember tersebut.
Namun melihat perubahan drastis siang ini, benteng yang dibangun Draxler justru goyah oleh rasa penasaran yang tak diundang.
"Drax? Kau mau pesan makan atau berdiri di sini saja?" tegur Brave menepuk bahunya.
Draxler tidak menjawab.
Ia tetap mengernyitkan alis, menatap lekat-lekat pada gerak-gerik Ember dari kejauhan.
Gadis yang biasanya barbar, agresif, dan selalu mengejar-ngejarnya bagaikan benalu itu kini duduk dengan gestur yang teramat sangat anggun.
Cara gadis itu memegang garpu, menyapu ujung bibirnya dengan tisu, hingga tatapan matanya yang dingin dan berjarak... sama sekali tidak mencerminkan sosiaIita palsu kelas bawah yang selama ini ia kenal.
Bukannya merasa lega karena tidak lagi diganggu oleh gadis berisik itu, Draxler justru merasakan desiran aneh yang mengusik ketenangannya.
°°°
Draxler melangkah keluar dari area meja kafetaria, melangkah lebar menuju toilet pria di bagian barat koridor kampus.
Perasaan mengganjal di dadanya bukannya menguap, melainkan semakin membakar rasa penasarannya.
Perubahan sikap Ember yang begitu mendadak benar-benar mengusik ketenangan pikirannya.
Di depan cermin besar toilet yang berdinding marmer mengilap, Draxler menghentikan langkahnya.
Pria tinggi berpostur atletis itu berdiri mematung, menatap pantulan dirinya sendiri di dalam kaca.
Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap inci garis wajahnya dengan dahi berkerut rapat.
Alisnya yang tebal, rahang tegasnya yang sempurna, hingga tatanan rambutnya yang selalu rapi—segalanya masih sama persis.
Tidak ada yang berubah sedikit pun.
"Kira-kira apa yang berbeda dariku hari ini?" gumam Draxler pelan, suaranya bergema di keheningan toilet yang sepi.
Ia meraba pipinya, menatap intens manik matanya di cermin. "Apakah... ketampananku berkurang? Apa Saham keluargaku menurun karena kejadian Semalam?"
Draxler merapikan kerah kemejanya, mengecek berulang kali penampilannya dari atas sampai bawah.
Ini sungguh menggelikan.
Seorang Draxler Lutolf Ashford—pria yang selalu dikelilingi dan dipuja oleh hampir seluruh mahasiswi di kampus ini—kini sibuk memeriksa ketampanannya sendiri hanya karena seorang gadis berisik secara mendadak mengabaikannya total.
Gadis itu bahkan sama sekali tidak menatap matanya saat ia berjalan melewati mejanya tadi. Tidak ada sapaan centil, tidak ada tatapan memuja, dan tidak ada lambaian tangan berlebihan.
"Apakah dia sudah menemukan mangsa baru?" bisik Draxler dengan nada tak suka yang terbersit spontan di dalam dadanya.
"Apa dia sudah menemukan pria lain yang punya lebih banyak uang dariku?"
Gila, gila! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Draxler?! batinnya berteriak keras, menyadarkan otaknya sendiri.
Draxler memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas kasar. Ia memutar keran air, membungkuk, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali demi mengikis pikiran konyol yang mendadak memenuhi otaknya.
Sembari mengeringkan wajahnya dengan tisu, prasangka dan benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kembali merayap naik.
Mengapa ia harus memikirkan gadis seperti itu? Bukankah latar belakang Marcella Ember Vitiello sudah terpatri buruk di mata seluruh penghuni kampus?
Ember adalah gadis yang terobsesi pada uang hingga tega menjual harga dirinya.
Menurut desas-desus kejam yang beredar luas di kalangan mahasiswa, hampir sebagian besar pria populer di kampus ini mengaku pernah 'menggunakan jasanya' di bar eksklusif tempat gadis itu bekerja—sebuah tempat malam remang-remang yang tak pernah sudi Draxler cari tahu lebih dalam, namun reputasinya sudah terkenal tidak sekadar menjual minuman keras.
Plak!
Draxler menampar pipinya sendiri dengan cukup keras.
Suara tamparan itu menggema di toilet.
"Sadarlah, Draxler!" tegurnya pada bayangan di cermin dengan nada tegas.
"Mommy sama sekali tidak mengizinkanmu berpacaran sembarangan, apalagi dengan gadis bermasalah!"
Namun, saat ia mencoba menenangkan dirinya, kilatan memori dari malam sebelumnya mendadak menyengat otaknya tanpa ampun.
Bayangan kecupan lembut dari bibir Cinderella Huntington—wanita asing yang tewas mengenaskan di kamarnya beberapa jam lalu—terbayang begitu jelas.
Ajakan hangat itu mendadak tumpang-tindih dengan ajaran dan ajakan berpacaran barbar yang selalu dilontarkan Ember padanya setiap hari di koridor kampus.
“Draxler! Ayo berpacaran denganku! Kau punya uang, dan kau sangat tampan!”
Suara lengkingan Ember di masa lalu bergema di telinganya, beradu dengan ingatan akan wanita yang ia sentuh semalam.
"Ah, pikiran gila apa itu?!" umpat Draxler frustrasi seraya mengusap rambutnya kasar.
Ia mengerang pelan.
Di balik citra tampan dan status sosialnya yang teratas sebagai keturunan keluarga terpandang Ashford, tidak ada satu orang pun di kampus ini yang tahu rahasia besarnya: Draxler Lutolf Ashford tidak pernah berpacaran sekali pun dalam hidupnya.
Pria berusia 19 tahun ini bahkan masih murni—seorang perjaka yang memegang teguh batas-batas moralitas yang diajarkan ibunya.
Ia tidak akan pernah memanfaatkan wanita mana pun dalam hidupnya demi kepuasan ego belaka.
Draxler menarik napas dalam-dalam, menata kembali sisa-sisa ketenangannya yang sempat berantakan. Ia mengeringkan tangannya, membuang tisu ke tong sampah, lalu memutar tubuhnya.
Dengan wajah yang kembali mengeras dingin dan tidak tersentuh, Draxler melangkah keluar dari toilet, bertekad untuk sepenuhnya menghapus nama Ember dan bayangan kejadian semalam dari pikirannya.
...----------------...
Happy reading 🌷