NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Matahari siang menyengat tanpa ampun di depan gerbang SMA Nusantara. Suara riuh para siswa yang berhamburan keluar saat bel istirahat pertama berbunyi memenuhi udara. Di antara jajaran pedagang kaki lima yang berderet di atas trotoar, lapak gerobak kayu milik Arka menjadi salah satu yang paling ramai diserbu anak-anak sekolah.

​"Mas Arka! Cilok bumbu kacangnya lima ribu, pedasnya sedang ya!" seru seorang siswi berseragam putih-abu dengan uang kertas lecek di tangannya.

​"Siap, Dek. Tunggu sebentar ya," balas Arka ramah.

​Dengan lihai, jemari Arka mengambil tusukan bambu, meraup puluhan butir cilok kenyal dari dalam panci uap yang mengepul, lalu menyiramnya dengan bumbu kacang kental. Senyumnya terkembang sempurna, matanya menyipit ramah setiap kali menyerahkan kantong plastik berisi cilok kepada para pembeli kecilnya. Dari luar, tidak ada satu pun orang yang akan curiga bahwa pria berkaus oblong lusuh ini pernah memimpin ratusan pembunuh berdarah dingin.

​Namun, di balik keramahan dan senyum hangatnya, radar kewaspadaan Arka tidak pernah mati.

​Setiap kali ia menunduk untuk mengambil plastik atau mengaduk kuah bumbu, mata tajam Arka secara berkala melirik ke arah kaca spion kecil yang sengaja ia pasang di sudut kanan gerobaknya. Lewat pantulan cermin berukuran lima sentimeter itu, Arka mengamati seberang jalan.

​Sejak setengah jam yang lalu, sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap terparkir sembarangan di bawah pohon asam. Ada dua pria berbadan tegap yang sesekali keluar-masuk dari mobil tersebut. Meskipun mereka mengenakan pakaian kasual untuk membaur, Arka bisa mengenali gestur tubuh mereka dari jarak berpuluh-puluh meter. Gestur kaku, posisi tangan yang selalu berada di dekat pinggang, dan tatapan mata mengintimidasi yang terus menyapu area sekitar.

​Anak buah Red Dragon, batin Arka dingin.

​Arka tetap menyajikan cilok dengan tenang, tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda panik. Tangan kanannya dengan cekatan membungkus pesanan terakhir, sementara jari-jari kaki kirinya secara halus menekan pedal tersembunyi di bagian bawah gerobak. Pedal itu tersambung dengan mekanisme pengunci kompartemen rahasia tempat senjata apinya bersarang.

​"Ini ciloknya, Dek. Pas lima ribu ya, terima kasih," ucap Arka seraya menerima uang dari pembeli terakhirnya.

​Saat para siswa mulai membubarkan diri dan kembali ke dalam area sekolah, dua pria tegap dari seberang jalan itu akhirnya mulai bergerak. Mereka menyeberangi jalan raya dengan langkah mantap dan lurus mengarah ke gerobak Arka.

​Salah satu dari mereka, pria berwajah brewok dengan bekas luka jahitan di pipinya, berhenti tepat di depan gerobak. Pria itu menyandarkan kedua tangannya yang berurat ke atas papan kayu tempat Arka memotong tahu. Tatapannya menatap Arka dari atas ke bawah dengan nada meremehkan.

​"Satu porsi, Tukang Cilok," kata pria brewok itu dengan suara berat beraksen asing yang sangat kentara.

​Arka mendongak, memasang wajah polos dan sedikit kebingungan ala pedagang kecil yang bertemu pembeli berwajah galak. "Oh, iya, Bang. Mau pakai bumbu kacang atau kecap aja? Ciloknya baru matang ini."

​Pria brewok itu terkekeh sinis, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Arka. "Kita nggak butuh bumbu kacanglu, Kita butuh nyawalu... atau mungkin nyawa istri cantiklu yang mengajar di sekolah sebelah?"

Mendengar nama Kinanti diucap dari mulut pria asing itu, binar ramah di mata Arka mendadak lenyap. Namun, raut wajahnya tetap tenang tanpa kepanikan sedikit pun.

​"Kalian salah orang, Bang," kekeh Arka santai sembari mematikan kompor gas gerobaknya. "Saya cuma pedagang cilok. Tapi kalau mau bicara soal urusan lain, jangan di depan gerbang sekolah. Nanti takutnya ngeganggu anak-anak yang lagi belajar."

​Arka memegang gagang gerobak kayunya, lalu mulai mendorongnya pelan menuju sebuah gang sempit yang sepi di samping sekolah. Dua pria dari klan Red Dragon itu saling melempar senyum meremehkan. Mereka mengira Arka ketakutan dan berusaha melarikan diri, sehingga mereka mengekor dari belakang tanpa rasa curiga.

​Begitu gerobak Arka melangkah masuk cukup dalam ke area gang yang tertutup tembok tinggi dan sepi pengawasan, Arka menghentikan langkahnya. Pria brewok tadi menyusul, memblokir jalan keluar dengan berkacak pinggang.

​"Mau lari ke mana lu, Arka? Pensiun jadi raja mafia lalu jualan tepung berkuah bumbu? Menyedihkan sekali," ejek pria brewok itu seraya menarik pisau lipat dari balik jaketnya. "Serahkan dirilu sekarang, atau kawan kami di luar sana yang akan menjemput istri cantiklu!"

​Arka tidak menjawab. Tangan kirinya masuk ke dalam celana bahan lusuhnya, sementara tangan kanannya meraba kompartemen rahasia di bawah papan kayu gerobak.

​"Kalian melakukan dua kesalahan besar hari ini," ujar Arka dengan suara yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk kedua pria itu berdiri. "Pertama, melacak keberadaanku. Kedua... membawa-bawa nama istriku."

​KLIK.

​Dalam waktu kurang dari satu detik sebelum pria brewok itu sempat mengayunkan pisaunya Arka sudah memutar badan. Glock 19 berperedam suara di tangan kanannya meletup dua kali secara presisi dan tanpa bersuara keras.

​Pftt! Pftt!

​Dua peluru tepat menembus kedua lutut pria brewok tersebut.

"Brengsek dia punya senjata" Teriaknya.

Pria itu menjerit tertahan dan langsung ambruk bersimbah darah. Rekannya yang satu lagi terperanjat kaget dan bergegas merogoh senjata di balik pinggangnya.

"Bukan Cuma lu yang punya senjata anj*ng, gua juga punya" gumamnya.

namun Arka melangkah lebih cepat. Dengan gerakan bela diri yang efisien, Arka menyambar pergelangan tangan pria kedua, memutarnya hingga terdengar bunyi tulang patah, lalu menghantamkan leher pria itu ke tembok hingga pingsan seketika.

​Arka berlutut di depan pria brewok yang tersengal-sengal menahan sakit. Ia menepuk-nepuk pipi pria itu dengan ujung moncong pistolnya yang masih hangat.

​"Bilang pada bosmu di Red Dragon," bisik Arka tepat di telinga musuhnya. "Kota ini adalah kuburan bagi siapa saja yang berani menyentuh Kinanti. Paham?"

​Pria brewok itu mengangguk cepat dengan wajah pucat pasi. Arka segera mengeluarkan ponsel bajanya, menekan satu tombol cepat.

​"Bereskan dua sampah di gang samping SMA Nusantara. Jangan sampai ada setetes darah pun tersisa di jalanan," perintah Arka singkat pada anak buah tepercayanya dari masa lalu, lalu mematikan sambungan.

​Arka menyapu pakaiannya, memastikan tidak ada percikan darah yang menempel di kaus oblong abu-abunya. Pistol dimasukkan kembali ke tempat tersembunyi, lalu Arka mengusap wajahnya. Dalam hitungan detik, aura membunuh yang mengerikan itu menghilang tanpa bekas.

"Merepotkan saja" gumam Arka santai.

Arka kembali tersenyum manis, memegang gagang gerobak, dan mendorongnya keluar dari gang seolah tak ada kejadian apa pun.

​Sore harinya, pintu rumah sederhana mereka terbuka. Kinanti yang baru saja pulang mengajar tampak lelah dengan tas kerja di pundaknya.

​"Mas Arka? udah pulang?" panggil Kinanti seraya melangkah masuk.

​Arka muncul dari dapur dengan mengenakan celemek kain, membawa se piring kantong plastik berisi cilok hangat dan martabak telur kesukaan istrinya.

​"Sudah dari tadi, Kin," menyambut Kinanti dengan senyum hangat, mengecup pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. "Gimana mengajar hari ini? Capek? Ini Mas beliin martabak telur di depan komplek."

​Kinanti tersenyum lebar, rasa lelahnya sirnah begitu melihat perhatian suaminya. Ia memeluk pinggang Arka hangat. "Makasih ya, Mas. Mas Arka memang suami terbaik."

​Arka membalas pelukan itu, mengusap lembut rambut Kinanti dengan tatapan mata yang menyimpan rahasia besar. Bagi Arka, bertaruh nyawa di dunia bawah tanah tidak ada artinya, asalkan senyum di wajah istrinya ini tidak pernah pudar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!