NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Masjid Tua Tanpa Karpet

Setelah aku minum Banyu Suci perjanjian darah itu, tubuhku panas dingin selama 3 jam.

Aku demam. Tapi bukan demam sakit. Badanku terasa ringan, tapi telingaku bisa dengar suara yang tidak didengar manusia biasa.

Aku bisa dengar Pohon Beringin Kembar di ujung dusun menangis. Aku bisa dengar 20 anak bermata hitam di halaman yang tadi pagi pergi, sekarang menggeram marah di dalam hutan karena mereka tahu perjanjian sudah diperbarui.

Dan yang paling jelas, aku bisa dengar azan. Azan tanpa toa, azan yang merdu sekali, datang dari arah masjid tua yang terkunci di tengah dusun.

"Arga, itu panggilan," kata Malik yang masih duduk di depanku, jubah putihnya masih bercahaya. "Masjid memanggil penjaga barunya. Kamu harus lihat sendiri kenapa masjid itu tidak punya karpet...."ucap Malik.

Aku berdiri, kaki masih lemas. Keluarga Kiai Jirji membantu aku. "Tuan, kami tidak bisa ikut masuk ke masjid itu. Hanya keturunan penjaga dan Malik yang bisa masuk ke ruang dalamnya. Kami tunggu di luar pagar..."ucap Kiai Jirji.

Jam menunjukkan 15:30.

Matahari Banyuwangi masih terik, tapi di Dusun Krajan, langit selalu mendung tipis seperti ada kabut di atasnya.

Aku dan Malik berjalan kaki dari rumah kakek ke masjid tua. Jaraknya hanya 100 meter. Sepanjang jalan, aku melihat apa yang tidak aku lihat kemarin pagi.

Rumah-rumah warga yang pintunya tertutup itu, di atas atapnya ada banyak sekali makhluk hitam. Bentuknya seperti monyet besar tapi matanya merah, bulunya gimbal, kukunya panjang. Mereka duduk, mengintip aku. Begitu melihat Malik, mereka mendesis dan mundur.

Di bawah atap-atap itu, berdiri pasukan Jin Islam berjubah putih, memegang tongkat cahaya. Mereka mengangguk hormat pada Malik dan pada aku.

Aku bukan lagi Arga yang buta. Aku sudah bisa lihat perang yang sebenarnya.

Sampai di depan masjid tua.

Masjid itu dari luar terlihat sangat menyedihkan. Kayunya lapuk dimakan rayap, catnya terkelupas, gentengnya banyak yang pecah. Pintunya digembok rantai besar yang berkarat. Di plang kayunya tertulis: "MASJID JAMI' AL-IKHLAS KRAJAN - DITUTUP SEJAK 1984". Rumput liar setinggi lutut menutupi halamannya.

Tidak ada yang berani mendekat.

Malik menempelkan telapak tangannya ke gembok karat itu. "Bismillah..."ucap Malik.

Gembok itu tidak terbuka, tapi... meleleh. Jadi cahaya putih dan hilang.

"Masjid ini tidak pernah dikunci manusia, Arga. Yang mengunci adalah kami, agar manusia tidak masuk sembarangan dan menginjak segelnya," jelas Malik.

Pintu kayu itu didorong Malik. Berderit keras.

Begitu pintu terbuka, aku kaget setengah mati.

Dari luar, masjid terlihat kecil, ukuran 6x6 meter.

Dari dalam, masjid itu LUAS SEKALI. Luasnya seperti masjid agung, mungkin 30x30 meter. Pilar-pilarnya besar dari marmer putih yang bercahaya. Lampu gantungnya bukan lampu listrik, tapi bola-bola cahaya yang melayang.

Dan yang paling aneh, lantainya...

Tidak ada karpet. Tidak ada sajadah. Tidak ada tikar.

Lantainya adalah cahaya putih yang mengalir seperti air. Kalau diinjak, kaki tidak tenggelam, tapi ada riak-riak cahaya.

Ratusan Jin Islam sedang duduk bersila di lantai cahaya itu, mereka sedang mengaji. Suara ngaji mereka merdu, tapi kalau aku fokus, aku bisa lihat mulut mereka tidak bergerak seperti manusia, cahayanya yang bergetar.

"Kenapa tidak ada karpet, Ustadz?" tanyaku pelan, takut mengganggu yang mengaji.

Malik tersenyum dan mengajakku jalan ke tengah masjid. Setiap langkah, lantai cahaya itu beriak.

"Karena karpet akan terbakar, Arga. Lantai ini bukan lantai. Ini adalah segel pertama. Di bawah lantai cahaya ini, ada segel kedua, yaitu tanah. Dan di bawah tanah itu, ada segel ketiga, yaitu akar Pohon Beringin Kembar. Dan di bawah akar itu, ada gerbang...."ucap Malik.

Kami sampai di depan mimbar. Mimbarnya terbuat dari kayu cendana yang wanginya sangat kuat.

Malik menunjuk ke bawah mimbar.

Di sana, di bawah mimbar, lantai cahaya itu retak.

Retakannya panjang, sekitar dua meter, lebarnya sejari. Dari retakan itu keluar asap hitam tipis yang bau bangkai dan kemenyan busuk. Asap itu naik dan mencoba menyentuh kaki Jin Jin yang mengaji, tapi terpental oleh cahaya lantai.

Asap itu berbisik. Aku bisa dengar bisikannya karena aku sudah minum Banyu Suci.

"Buka... buka... kami lapar... buka..."

Itu suara Banaspati dan pasukan Jin Kafirnya dari bawah.

"Ini yang kamu dengar tangisan tadi?" tanya Malik. "Bukan pohon yang menangis. Ini segelnya yang menangis. Retakan ini muncul pertama kali 10 tahun lalu, tepat saat ibumu meninggal. Saat penjaga kosong, tidak ada yang rawat masjid, segelnya mulai retak. Tiga hari yang lalu saat kakekmu meninggal, retaknya membesar dari sejengkal jadi 2 meter..."ucap Malik.

"Kalau retaknya sampai ke tembok? tanyaku.

Malik menatapku dengan mata putihnya yang sedih.

"Kalau retaknya sampai ke tembok masjid ini, gerbang di bawah Beringin Kembar akan terbuka penuh. Dan semua Jin Kafir di Alas Purwo, jumlahnya ribuan, akan keluar. Dusun ini akan jadi yang pertama tenggelam. Lalu Banyuwangi."

Aku berlutut di depan retakan itu. Asap hitam itu mencoba menyentuh tanganku dan panas.

Aku ingat perjanjian darah. Aku ingat kata Malik, aku sekarang Jembatan, aku bisa buka tutup gerbang dengan doa.

"Bagaimana cara nutupnya, Ustadz? Tanyaku.

Malik meletakkan tangannya di pundakku.

"Pakai darahmu lagi, Arga. Tapi bukan diteteskan. Harus dengan sujud. Sujud penjaga di atas retakan ini. Sama seperti yang dilakukan kakekmu setiap malam Jumat selama 40 tahun. Makanya dia lututnya kapalan, makanya orang kampung kira dia gila karena sholat sendirian di masjid terkunci...."jawab Malik.

Aku mengerti sekarang.

Kenapa masjid ini tanpa karpet. Karena karpet akan menghalangi dahi penjaga menyentuh lantai segel secara langsung.

Kenapa kakekku selalu hilang tiap maghrib dan pulang jam 2 pagi.

Dia sujud di sini. Menutup retakan dengan dahinya, dengan doanya.

Tanpa pikir panjang, aku sujud.

Dahiku menyentuh lantai cahaya yang retak itu.

Begitu dahi bekas titik putih perjanjian darah itu menyentuh retakan...

DUARRR!

Seluruh masjid bergetar. Lantai cahaya itu menyetrum dahiku. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kepala.

Aku membaca doa yang tiba-tiba muncul di kepalaku, doa yang tidak pernah aku hafal, tapi keluar sendiri dari mulutku: "Ya Hafidz, Ya Mani', Ya Jabbar, Kunci gerbang ini dengan darahku..."

Asap hitam itu menjerit keras sekali. Jeritan Banaspati.

Retakan dua meter itu, perlahan-lahan, mengecil. Dari 2 meter jadi 1 meter. Dari 1 meter jadi sejengkal.

Tapi tidak bisa menutup total. Masih ada sisa retakan sejari.

Aku angkat kepala, nafas ngos-ngosan, dahiku berdarah sedikit, darah putih bercahaya.

Malik membantu aku berdiri, wajahnya kaget dan bangga.

"Subhanallah... 40 tahun kakekmu hanya bisa mengecilkan retakan, tidak bisa menutup. Kamu di hari pertama jadi penjaga langsung bisa mengecilkan setengahnya. Darahmu lebih kuat dari Suro, Arga. Karena darahmu darah muda...."ucap Malik.

Di luar masjid, dari arah Alas Purwo, terdengar raungan marah Banaspati yang kedua kalinya hari ini, lebih keras dari tadi pagi.

Dia tahu segelnya barusan ditutup lagi.

Dan malam ini, dia pasti akan balas dendam.

Malik menatap retakan sejari yang masih ada sisa asap hitamnya dan berbisik,

"Arga, malam ini Jumat Kliwon. Malam di mana semua Jin Kafir sangat kuat. Mereka akan coba jebol lagi retakan ini dari bawah. Kamu harus jaga masjid ini sampai subuh. Dan ingat, jangan sampai ada warga yang kasih sesajen di Beringin Kembar malam ini. Kalau ada sesajen, segel ini akan jebol lagi dari atas...."ucap Malik.

Aku mengangguk, masih lemas di lantai tanpa karpet itu.

Masjid tanpa karpet itu bukan masjid kosong.

Itu adalah tutup botol yang menahan ribuan jin di bawahnya.

Dan aku, penjaga baru, baru saja duduk di atas tutup botol itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!