NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 24.

Kebisingan aula SMA Pancasila mencapai puncaknya siang itu.

Aroma cat kayu, berondong jagung, dan keringat bercampur di udara—khas hari pertama Festival Seni Tahunan.

Di sudut panggung utama, Stella sedang berada di elemen alaminya. Bergerak tanpa henti, tertawa keras, dan menunjuk-nunjuk dekorasi spanduk kain raksasa dengan antusiasme yang meluap-luap.

Bagi Stella, hidup adalah panggung besar yang harus diisi dengan suara.

Sebaliknya, bagi Lingga, hidup adalah bangku paling pojok di dekat jendela kelas, tempat dia bisa menghilang di balik tudung jaketnya.

Lingga duduk di barisan kursi penonton yang masih kosong, memegang buku sketsa kecil. Matanya tidak benar-benar melihat hiruk-pikuk sekitar, kecuali satu titik yaitu kuncir kuda Stella yang bergoyang heboh setiap kali cewek itu melompat kecil.

Lingga selalu memperhatikan. Diam-diam, tanpa suara. Dia tahu Stella adalah tipe cewek yang akan tertawa paling keras untuk menutupi fakta bahwa dia sedang terluka, atau cewek yang akan mengomel sepanjang koridor hanya karena warna tali sepatunya tidak sengaja berbeda sebelah.

Stella itu nyata, berisik, dan melelahkan untuk dilihat dari jauh. Namun, sejak Stella memberinya payung di tengah badai dua tahu lalu, mata Lingga selalu terbiasa mencari keberadaan cewek petakilan itu di tengah keramaian.

"Geser dikit ke kanan! Nah, pas!" seru Stella pada anak-anak dekorasi yang berada di atas perancah.

Stella mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak pandang yang lebih baik.

Dia terus mundur tanpa menyadari bahwa tiang penyangga dekorasi berbahan besi hollow di belakangnya mulai miring akibat beban spanduk yang terlalu berat ke satu sisi.

Suara derit besi yang bergesekan dengan lantai semen terdengar samar di tengah riuh musik soundcheck. Seseorang di atas panggung berteriak, "Awas! Tiangnya lepas!"

Semua terjadi seperti rekaman video yang diputar lambat. Stella menoleh ke atas, matanya membelalak mendapati struktur besi setinggi tiga meter itu ambruk tepat ke arahnya.

Kakinya seperti terpaku di lantai aula. Otaknya menyuruhnya lari, tetapi tubuhnya membeku akibat syok. Dia refleks memejamkan mata, bersiap menyambut benturan keras yang tak terhindarkan.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Sebelum besi itu menyentuh helai rambut Stella, sebuah bayangan melesat dari arah samping. Itu Lingga. Cowok yang biasanya dikenal pendiam itu tiba-tiba memotong jarak dengan kecepatan berlari karena panik. Instingnya mengambil alih seluruh kesadarannya.

BRAKK!

Lingga menerjang tubuh Stella, melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di sekeliling pundak dan kepala cewek itu, menariknya masuk ke dalam pelukan yang sangat erat—seolah ingin menyembunyikan Stella sepenuhnya dari dunia. Mereka berdua jatuh berdebum ke lantai kayu panggung, berguling beberapa kali menjauhi area runtuhan. Sedetik kemudian, tiang besi itu menghantam lantai tepat di tempat Stella berdiri sebelumnya, menimbulkan suara dentangan memekakkan telinga yang membuat seluruh aula mendadak hening.

Debu-debu halus beterbangan di udara yang mendadak mati.

Di lantai panggung, posisi mereka begitu rapat. Stella bisa merasakan detak jantung yang berpacu gila-gilaan—bukan miliknya, melainkan milik cowok yang mendekapnya.

Kulit wajahnya menempel erat pada dada Lingga yang naik-turun dengan napas memburu.

"Lo... nggak apa-apa?" Suara Lingga terdengar rendah, serak, dan bergetar tepat di atas telinga Stella.

Stella perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah rahang tegas Lingga yang mengeras karena menahan beban benturan di punggungnya, lalu sepasang mata elang yang biasanya redup dan tak acuh, kini menatapnya dengan kilat kecemasan yang begitu pekat. Ada emosi mentah yang tidak bisa disembunyikan di sana. Ketakutan yang nyata.

"Ling... ga?" Stella berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. Jantungnya kini ikut menggila, bukan lagi karena tiang yang hampir meremukkannya, melainkan karena kehangatan protektif yang tiba-tiba mengurungnya.

Lingga perlahan melonggarkan pelukannya, memastikan tidak ada bagian tubuh Stella yang terluka, sebelum akhirnya membiarkan cewek itu duduk. Punggung Lingga sendiri terasa mati rasa akibat bergesekan keras dengan lantai panggung saat mereka terjatuh tadi, tetapi dia mengabaikannya. Matanya menyapu wajah Stella yang pucat.

"Bisa berdiri?" tanya Lingga lagi, suaranya sudah kembali datar, mencoba memakai kembali topeng misteriusnya yang sempat retak selama beberapa detik tadi. Dia bangkit berdiri lebih dulu, mengulurkan tangan kanannya yang sedikit gemetar.

Stella menatap telapak tangan Lingga yang lebar. Dia terbiasa dikelilingi banyak orang, tetapi berada di dekat Lingga saat ini rasanya seperti memasuki sebuah ruang kedap suara yang intens.

Keramaian aula yang perlahan kembali bising dengan teriakan panik anak-anak lain seolah meredup. Yang tersisa hanya mereka berdua dan sisa-sisa getaran kepanikan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang canggung, namun mendalam.

Stella menyambut uluran tangan itu. Saat jemari mereka bertautan, ada sengatan listrik halus yang membuat keduanya sempat saling tatap selama satu detik yang terasa sangat lama, sebelum Lingga dengan cepat menarik Stella berdiri dan langsung melepaskan genggamannya seolah baru saja menyentuh api.

"Makasih..." gumam Stella, kehilangan semua energi petakilannya yang biasanya meledak-ledak. Wajahnya mendadak terasa panas.

Stella masih melihat pergerakan Lingga, Lingga kini terdiam, merasakan tangan kanan nya terkilir.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!