"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sayangnya, sambungan telepon itu mendadak terputus tepat setelah Danu menyapanya.
Danu mengembalikan ponsel tersebut. Belinda segera memasukkannya ke dalam kantong dengan gerakan cepat.
“Siapa?” tanya Danu. Nada suaranya terdengar sedikit berbeda.
“Oh, ini klienku. Kemarin, mereka nawarin aku untuk jadi model produk baru mereka. Mungkin jaringan tidak bagus, jadi sambungannya mati,” jawab Belinda.
Aku memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang membuatku merasa jawabannya tidak sepenuhnya meyakinkan, tetapi aku memilih diam karena memang bukan urusanku.
“Ya, sudah tidak apa-apa,” balas Danu sambil mengelus punggung Belinda.
Aku yang sejak tadi memilih diam perlahan kembali ke bangkuku untuk menghabiskan susu dan roti. Aku sama sekali tidak ingin memedulikan kedua orang itu lagi, meskipun Belinda sepertinya masih belum selesai denganku.
“Dinda, aku sudah diberikan izin oleh Danu untuk mengurus keperluan rumah tangga ini. Jadi, jika kamu tidak ingin ada pembantu di rumah ini, aku bisa memberikan gaji padamu agar kamu mengurus semuanya,” ungkap Belinda.
Aku langsung menoleh kepadanya. Dari caranya menyampaikan kalimat itu, aku bisa menangkap maksud yang tidak perlu dijelaskan. Dia ingin memosisikanku sebagai pembantu di rumah ini.
Aku melirik sekilas ke arah Danu, lalu melempar senyum getir ketika lelaki itu justru buru-buru mengalihkan pandangan.
“Kamu pikir aku seorang pengangguran yang ingin mendapatkan gaji kecil itu? Aku tidak kekurangan uang meskipun pas-pasan. Jadi, kamu bisa menggunakan uang itu untuk menggaji dirimu sendiri.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, kutenggak segelas susu hingga tandas lalu melangkah pergi. Meskipun Belinda memanggil namaku berkali-kali, aku terus mengabaikannya. Tidak ada sedikit pun niat dalam diriku untuk menoleh, bahkan hanya sebentar.
***
Tiba di rumah sakit, aku melanjutkan rutinitasku seperti biasa. Namun, kabar tentang statusku yang kini menjadi istri Danu dan dipoligami rupanya telah menyebar dengan cepat di antara rekan-rekan kerja. Aku berusaha menutup telinga dari bisikan-bisikan yang terdengar di sepanjang koridor. Bukannya ucapan selamat, yang kudengar justru lebih banyak cacian dan ejekan.
“Dinda,” sapa Siska ketika mendekatiku setelah aku selesai melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien.
Aku hanya tersenyum sekilas, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih menggelora di dada. Tentu saja aku tahu sahabatku ini penasaran dan ingin mendengar cerita tentang semua yang terjadi. “Nanti setelah pulang, aku akan menceritakan semuanya. Berdoa saja agar UGD ini tidak penuh oleh pasien. Dan sepi!”
Siska langsung mendelik lalu membungkam mulutku dengan tangannya. Kata sepi memang menjadi kata keramat yang haram diucapkan oleh petugas medis.
Namun, aksinya terlambat. Tak lama suara telepon UGD tiba-tiba berdering nyaring, membawa kabar bahwa akan ada rentetan pasien yang datang akibat kecelakaan lalu lintas.
“Dinda, siap-siap!” teriak Siska.
Seketika, adrenalin terasa menyengat di seluruh tubuhku. Perasaan cemas sekaligus bersemangat menyelimuti diri. Entah mengapa, sejak dulu aku memang lebih tertarik mengambil fokus spesialis Emergency Medicine dibandingkan bidang lainnya. Bagiku, menyibukkan diri dengan kepanikan pasien sedikit banyak bisa mengikis rasa sakit akibat cinta sepihak yang terus menggerogoti pikiranku. Meskipun masih membutuhkan beberapa tahun lagi untuk mendapatkan gelar Sp.Em, semangatku tidak pernah padam.
Aku berlari ke ruang UGD dan langsung menyambut pasien-pasien yang berdatangan dalam kondisi terluka. Tanganku bergerak cepat menyiapkan alat-alat medis. Di tengah kepanikan itu, aku sempat merasakan ada sesuatu yang hilang dari diriku, entah rasa percaya diri atau harapan yang perlahan memudar dari kehidupan.
Ketika pasien pertama dibawa masuk, seorang remaja laki-laki yang terluka cukup parah, aku langsung mengambil alih.
“Ayo, kita butuh kain dan perban! Siapkan infus!” teriakku.
Suara jeritan dan desahan napas berat memenuhi ruang UGD. Suasana kacau membuat jantungku berdegup kencang, tetapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan masalah pribadi. Aku bekerja dengan fokus penuh, mengabaikan kerumunan orang di sekitarku. Instruksi para kolega terdengar saling bersahutan, tetapi di dalam kepalaku hanya ada satu tujuan, menyelamatkan nyawa.
Tak lama kemudian, suara sirene ambulans kembali meraung dari luar, menandakan kedatangan lebih banyak pasien. Hatiku ikut bergetar, tetapi aku sadar semua itu adalah bagian dari tugasku. Setiap pasien datang membawa cerita dan harapan masing-masing, dan aku harus memastikan masalah pribadiku tidak mengganggu pekerjaanku.
Saat beralih memeriksa pasien lain, seorang wanita tua dengan luka robek di kakinya, aku menangkap tatapan penuh harapan sekaligus ketakutan dari matanya. Entah kenapa, dalam sekejap aku merasa seperti melihat bayangan diriku sendiri, seorang wanita yang sedang berjuang keras menghadapi takdirnya.
“Tenang saja, Ibu. Kami di sini untuk membantu,” bisikku pelan sambil berusaha menenangkannya.
Kesibukan di UGD kian memuncak. Aku merasa dunia bergerak begitu cepat, tetapi aku harus tetap tenang agar bisa mengambil keputusan dengan tepat. Setiap tindakan yang kulakukan berkaitan dengan nyawa seseorang, sehingga aku tidak boleh membiarkan rasa sakit akibat pernikahan yang kacau itu mengganggu profesionalitasku.
Dengan helaan napas dalam, aku kembali memfokuskan pikiran dan mengabaikan setiap bisikan miring yang terdengar di belakangku.
Setelah beberapa jam yang terasa seperti bertahun-tahun, akhirnya seluruh pasien berhasil ditangani. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku meluruskan punggung yang terasa hampir patah. Tidak lama kemudian, Siska datang membawakan segelas jus dingin, seolah tahu betapa terkurasnya tenagaku hari ini.
“Minumlah ini. Kamu sudah bekerja keras hari ini,” kata Siska sambil tersenyum.
Aku menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Rasa syukur memenuhi hatiku meskipun kesedihan masih bertengger di kepala. Setidaknya di ruang UGD ini aku masih memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu membantu menyembuhkan pasien dan memberi mereka harapan.
Kami kemudian duduk di bangku luar untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah. Angin malam menyapu wajah kami, memberikan sedikit kesejukan setelah berjam-jam berada di tengah kesibukan UGD.
“Aku tidak tahu takdir macam apa yang disiapkan Sang Pencipta untukku,” ucapku tiba-tiba. Pandanganku terlempar ke langit yang semakin menghitam, dihiasi beberapa titik bintang yang tampak samar.
Siska langsung mengalihkan perhatian kepadaku dan menunggu kalimat selanjutnya.
“Kamu tahu,” aku menarik napas panjang. “Di rumah itu... aku ikut menjadi gila karena harus menghadapi orang-orang yang sudah kehilangan akal.”
Siska tersenyum kecil. Tangannya terulur mengelus bahuku. “Aku justru akan lebih heran kalau kamu tetap normal saat menghadapi mereka. Karena bagi yang melihat dari luar, mungkin bukan mereka yang gila... tapi kamu.”
Aku tersenyum tipis. Entah kenapa, candaan Siska yang sederhana justru berhasil membuat dadaku sedikit lebih ringan setelah seharian menahan banyak hal.
“Maaf, Sis... aku belum bisa menceritakan semuanya. Aku sendiri bahkan bingung harus mulai dari mana.”
“Tidak apa-apa, Dinda,” jawab Siska lembut. “Aku di sini, selalu ada. Kapan pun kamu siap bercerita, aku akan mendengarkan.”
Aku mengangguk kecil. Untuk beberapa saat, kami hanya duduk dalam keheningan yang terasa nyaman.
"Jadi apa rencana kamu selanjutnya, Din? Kamu jadi mau ikut ke tim relawan?" tanya Siska yang membuatku mengingat kembali rencana sebelumnya.
"Berkasku sudah siap, jadi aku tidak mungkin mundur lagi," jawabku.
"Jadi kamu tetap...?"
Siksa belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena seorang perawat yang menghampiri kami.
“Dok, ada pasien mengeluh sakit perut, diduga keracunan makanan.”
Aku dan Siska segera bangkit dari kursi lalu melangkah cepat menuju ruang perawatan. Naluri medis kami kembali mengambil alih begitu mendengar ada pasien yang membutuhkan bantuan.
Namun, saat baru menginjakkan kaki di ambang pintu, langkahku terhenti seketika.
Pemandangan di dalam ruangan membuatku ragu untuk maju.
Di sana berdiri Belinda. Tangannya digenggam erat oleh seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wajah lelaki itu tampak tegang, sementara suaranya terdengar jelas di telingaku.
“Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, jangan salahkan aku kalau aku datang ke suamimu dan memberitahu tentang hubungan kita.”
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...