NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: SUARA DI BALIK WALKIE-TALKIE

"Vane? Vane, apa sudah beres? Anak itu dan Shen Mo sudah kau urus? Jangan lupa... bakar juga foto Li Wei. Jangan sampai bocah itu tahu ayahnya masih hidup."_

Suara itu keluar dari walkie-talkie tua milik Vane yang tergeletak di lantai ruang arsip yang hangus.

Suara berat, tua, serak karena rokok, tapi sangat tenang. Tenang seperti seorang guru yang mengajar muridnya.

Shen Mo membeku.

Bukan karena kalimat "ayahnya masih hidup" - itu memang mengejutkan, tapi Shen Mo sudah curiga 10 tahun Li Wei tidak mungkin mati kecelakaan kerja biasa.

Ia membeku karena ia kenal suara itu.

Sangat kenal.

Suara yang membesarkannya sejak ia umur 8 tahun. Suara yang mengajarinya cara memegang pistol pertama kali. Suara yang membacakan dongeng tentang raja dan pengkhianat saat ia demam.

Paman Luo.

Bukan paman kandung. Paman angkat. Penasihat paling setia keluarga Yucheng. Orang yang selama 24 tahun duduk di kursi sebelah kanan ayah Shen Mo, dan sekarang duduk di sebelah kanan Shen Mo sendiri.

Orang yang 5 menit lalu menelepon Shen Mo dan bilang, _"Mo, hati-hati, Blackwood serbu, aku kunci semua pintu basement biar aman."_

Ternyata dia yang kunci pintu untuk jebak mereka.

Chen yang pertama bereaksi. Bocah 7 tahun itu langsung menyambar walkie-talkie itu dari lantai sebelum Shen Mo sempat bergerak.

Jari kecilnya menekan tombol bicara.

"Foto Li Wei ada di aku," ucap Chen, suaranya datar, dingin, tanpa gemetar. Padahal jantungnya berdegup kencang seperti mau meledak. Ayahnya masih hidup. "Kalau mau bakar, bakar aku sekalian."

Hening 3 detik di seberang walkie-talkie. Hanya suara hujan statis.

Lalu suara tua itu tertawa pelan. Tawa yang hangat, seperti kakek.

_"Oh? Jadi ini anak Li Wei? Luo Chen? Suaramu mirip sekali dengan ayahmu waktu kecil. Pintar. Berani."_

Suara itu tidak panik ketahuan. Justru terdengar bangga.

_"Nak Chen, dengarkan Paman. Ayahmu itu masih hidup, ya. Tapi dia sakit. Sangat sakit. Dia di tempat yang aman. Kalau kau mau lihat dia, jangan percaya Shen Mo. Shen Mo yang buat ayahmu seperti itu 10 tahun lalu. Dia yang tembak ayahmu dan buang ke pelabuhan."_

Chen menatap Shen Mo. Mata bocah itu goyah untuk pertama kalinya malam itu.

Shen Mo balas menatap Chen. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak merebut walkie-talkie itu. Ia biarkan Chen dengar. Karena ia tahu, kalau ia merebut, Chen akan curiga seumur hidup.

_"Bawa foto itu ke gudang pelabuhan utara. Gudang nomor 7. Ayahmu di sana. Datang sendiri. Jangan bawa Shen Mo. Kalau kau bawa dia, Paman terpaksa... pindahkan ayahmu ke tempat yang lebih dalam. Paham ya, Nak?"_

Klik. Sambungan putus.

Walkie-talkie itu mati.

Ruang arsip kembali gelap, hanya diterangi senter kecil Shen Mo yang tergeletak di lantai.

Vane yang terkapar di lantai, darah dari pelipisnya masih mengucur, tiba-tiba tertawa lemah, meski pistol Shen Mo masih menginjak dadanya.

"Heh... heh... kalian dengar sendiri kan... Paman Luo... dia yang suruh semua... aku cuma disuruh..."

Shen Mo menendang Vane hingga pingsan lagi.

Lalu ia berlutut di depan Chen. Lagi. Kedua kalinya malam ini ia berlutut agar sejajar dengan bocah 7 tahun.

"Chen, lihat aku," kata Shen Mo, suaranya rendah, tapi tidak lagi dingin mutlak. Ada retak di sana. "Aku tidak pernah tembak ayahmu."

"Semua pembunuh bilang begitu," jawab Chen, tapi suaranya kecil. Foto polaroid di sakunya terasa panas.

"Aku tahu kau tidak akan percaya kata-kataku," Shen Mo menghela napas. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku dalam kemejanya yang basah.

Sebuah liontin perak kecil, berbentuk mahkota duri, sama dengan pin di jasnya. Tapi di balik liontin itu, ada foto kecil.

Foto dua anak kecil. Yang satu Shen Mo umur 8 tahun, kurus, ketakutan. Yang satu lagi Li Wei umur 16 tahun, merangkul Shen Mo, tersenyum.

"Li Wei adalah kakak angkatku. Satu-satunya yang lindungi aku waktu ayah kandungku mau bunuh aku karena aku anak haram. 10 tahun lalu, malam dia hilang, dia yang suruh aku lari. Dia bilang ada yang mau bunuh aku. Dia yang hadang orang itu. Bukan aku yang tembak dia."

Shen Mo menaruh liontin itu di telapak tangan Chen yang kecil.

"Aku cari dia 10 tahun. Aku pikir dia mati. Tapi kalau Paman Luo bilang dia hidup..."

Shen Mo berdiri, matanya kembali hitam pekat berbahaya, menatap ke arah jendela pecah tempat hujan masuk.

"...berarti Paman Luo yang sekap dia 10 tahun. Dan Paman Luo yang ganti obat ibumu. Karena ibumu tahu Li Wei masih hidup."

Chen menggenggam liontin itu erat. Dingin. Berat.

Dua cerita. Dua versi.

Versi Paman Luo: Shen Mo penjahatnya.

Versi Shen Mo: Paman Luo penjahatnya.

Siapa yang harus dipercaya bocah 7 tahun yang baru kehilangan ibu?

Chen memejamkan mata 2 detik. Otaknya memutar ulang semua data malam ini.

Fakta 1: Transfer 50 juta dari rekening Shen Mo ke ibu - benar.

Fakta 2: Vane, orang kepercayaan Shen Mo, yang bakar arsip dan sekongkol dengan Blackwood.

Fakta 3: Suara Paman Luo di walkie-talkie Vane - berarti Vane anak buah Paman Luo, bukan Shen Mo.

Fakta 4: Paman Luo suruh Chen datang sendiri ke gudang pelabuhan utara nomor 7 - tempat Vane culik Chen di kerangka lama.

Pola.

Chen membuka matanya. Tatapan datarnya kembali.

"Gudang 7 pelabuhan utara itu jebakan," ucap Chen. "Kalau aku datang sendiri, aku mati. Kalau Tuan datang sama aku, ayahku dipindahkan dan kita kehilangan jejak."

Shen Mo mengangkat alis. "Lalu?"

"Kita tidak datang malam ini," jawab Chen. Bocah itu memasukkan liontin dan foto ayahnya ke saku, lalu mengambil walkie-talkie Vane yang mati. "Kita buat dia yang datang ke kita."

Chen menunjuk ke arah jendela. Di bawah, sirene polisi mulai terdengar samar dari kejauhan. Seseorang pasti lapor ledakan di Crown Tower.

"Polisi akan datang 10 menit lagi. Blackwood pasti sudah kabur. Tapi Vane masih hidup di sini. Kalau polisi temukan Vane dengan dua mayat Blackwood di ruang arsip Crown Tower, yang ditangkap siapa? Kita atau Paman Luo?"

Shen Mo tersenyum. Senyum tipis yang kali ini benar-benar terlihat.

Bocah ini... bukan cuma jenius. Licik.

"Kita serahkan Vane ke polisi," lanjut Chen. "Tapi kita tidak serahkan walkie-talkie ini. Kita pakai frekuensi ini untuk jebak Paman Luo balik. Dia pikir kita takut dan akan datang ke gudang 7. Biarin dia tunggu di sana semalaman dalam hujan."

Chen menatap Shen Mo.

"Besok pagi, saat dia lelah menunggu, kita yang datang. Berdua. Dengan polisi."

Shen Mo menatap bocah 7 tahun di depannya lama.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun selama 12 tahun jadi Raja Yucheng.

Ia mengulurkan tangannya, bukan sebagai raja ke anak buah, tapi sebagai mitra.

"Kesepakatan?"

Chen menatap tangan besar itu 2 detik, lalu menjabatnya dengan tangan kecilnya yang masih kotor abu.

"Kesepakatan. Tapi satu syarat."

"Apa?"

"Jangan panggil aku anak. Panggil aku Chen. Atau Tuan Muda Chen, seperti tadi."

Shen Mo tertawa pelan untuk pertama kalinya malam itu. Tawa yang berat dan serak.

"Siap, Tuan Muda Chen."

Di luar, hujan Yucheng masih mengguyur tanpa belas kasihan.

Tapi di dalam ruang arsip yang hangus itu, untuk pertama kalinya, dua pewaris Yucheng - satu raja yang kehilangan kakak, satu anak jenius yang kehilangan ibu - berdiri di sisi yang sama.

Dan di walkie-talkie yang mati itu, lampu indikator kecil berkedip merah pelan.

Seseorang masih mendengarkan dari seberang.

Paman Luo.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!