NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

BRAK!!

Pintu jati tebal bernilai ratusan ribu dolar itu dibanting dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman pekat yang menggelegar ke seluruh penjuru penthouse mewah di lantai teratas bangunan megah itu.

Dimitriou Kaetos Ashford melangkah masuk bagaikan sosok iblis yang kelaparan. Dengan gerakan kasar yang sarat akan frustrasi luar biasa, Kaetos melemparkan tas punggung mahalnya hingga terlempar menghantam dinding kaca dan mendarat mengenaskan di atas lantai marmer yang dingin.

Dada pria itu naik turun terengah-engah. Dasi hitam yang tadinya terikat rapi kini ia sentak lepas dengan kasar, melonggarkan kancing atas kemejanya yang mendadak terasa mencekik lehernya.

Pria itu menyapu kasar rambut hitamnya ke belakang, merangkak dalam lorong keputusasaan yang tidak pernah menemukan titik terang.

Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Parrie yang menangis histeris di lorong rektorat kemarin sore kembali terbayang.

Teriakan parau gadis itu—“Aku mencintaimu, sialan! Hingga hari ini aku masih mencintaimu! Jalangmu ini mencintaimu!”—bergema tanpa henti di dalam kepalanya bagaikan dentang lonceng kematian yang menyiksa jiwanya.

Dan hari ini, di dalam kelas... pertanyaan jujur dari mata teduh itu kembali merobek pertahanan dirinya.

Kenapa, Kaetos? Kenapa?

"Arghhhh!" Kaetos mengerang frustrasi, memukul dinding marmer keras di sebelahnya hingga jemarinya memerah dan lecet.

Dengan langkah terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk, Kaetos berjalan menuju kamar tidur utamanya. Ia mendorong pintu kamar, lalu merosot jatuh dan duduk hancur di sudut ruangan, di samping ranjang king size berseprai kain sutra yang sangat luas.

Mata tajam pria itu menatap kosong ke arah permukaan ranjang empuk tersebut. Ranjang yang selama Lima bulan terakhir menjadi saksi bisu atas setiap malam-malam percintaan mereka yang membara, panas, dan dipenuhi oleh desahan serta gairah tanpa jeda.

Di atas ranjang itulah ia pernah memeluk tubuh dingin Parrie, menghangatkannya dari kejamnya dunia, dan menghirup aroma tubuh gadis itu seolah-olah oksigen di dunia ini hanya bersumber dari Parrie seorang.

Kaetos menyandarkan kepalanya yang berat ke sisi kasur. Pria angkuh yang diagungkan di universitas, pria yang ditakuti karena auranya yang dingin, kini bertekuk lutut di dalam kegelapan kamar yang sunyi. Air mata yang selama ini ia tahan dengan dinding keangkuhannya akhirnya menetes hangat, membasahi pipinya yang tegas.

"Aku juga mencintaimu, Parrie..." bisik Kaetos dengan suara pecah yang terisak hampa. "Aku sangat... sangat, sangat mencintaimu, Gadis Bodoh..."

Pengakuan itu bergema hampa di ruangan yang kosong. Tak ada yang mendengarnya. Tak ada yang tahu betapa hancurnya seorang Kaetos Ashford di balik topeng iblis yang ia kenakan.

Parrie Rose.

Hanya gadis itulah yang sanggup membuat seorang Dimitriou Kaetos Ashford—pria yang paling anti-sosial dan dipenuhi benteng trauma—jatuh cinta pada pandangan pertama.

°

Kejadian itu bermula beberapa bulan yang lalu. Setelah berjuang bertahun-tahun melewati terapi ketat dan bolak-balik bertemu psikiater untuk menyembuhkan trauma hebatnya terhadap sentuhan fisik manusia, Kaetos akhirnya dinyatakan benar-benar pulih secara medis.

Hal pertama yang terlintas di pikirannya saat itu adalah berkunjung ke butik busana mewah milik sang ibu, Tessa Ashford. Kaetos ingin melatih dirinya berinteraksi secara langsung di lingkungan sosial yang terkendali, mencoba mentoleransi kemungkinan rasa mual atau jijik yang timbul jika tubuhnya tak sengaja tersenggol oleh para karyawan.

Pria itu memaksa dirinya melatih kesabaran agar emosinya tidak meledak, mengingat para staf di sana adalah karyawan kesayangan Mommy-nya yang wajib ia jaga seperti keluarga sendiri.

Selama dua minggu pertama berkunjung dan memantau butik, Kaetos berhasil mengendalikan dirinya. Namun, di minggu ketiga... sebuah takdir mengubah seluruh hidupnya.

Di salah satu sudut butik, mata Kaetos tak sengaja beradu dengan sepasang mata paling teduh yang pernah ia lihat seumur hidupnya—mata milik Parrie.

Rupanya, alasan mengapa Kaetos tidak pernah melihat gadis itu di dua minggu pertama adalah karena Parrie sedang mengambil cuti kerja.

Dan dari manajer butik, Kaetos mengetahui bahwa gadis itu terpaksa mengambil cuti demi merawat ibunya yang sedang sakit keras di rumah sakit.

Namun, hal yang membuat Kaetos terhenyak adalah interaksi pertama mereka. Parrie dengan berani menolak dan mengabaikan kehadirannya!

Bukankah itu sebuah bentuk penghinaan besar bagi seorang pria Ashford?

Kaetos terbiasa dipuja dan dipandang dengan mata memuja oleh siapa pun. Namun gadis bernama Parrie ini... setiap kali Kaetos mendekat, ia justru selalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan saat Kaetos mengajaknya berbicara secara langsung, Parrie sama sekali tidak pernah mau mendongak ataupun menatap matanya.

Apa aku semenakutkan itu di matanya? batin Kaetos saat itu, merasa keheranannya membuncah. Membuatnya bahkan tidak berani menatap wajahku dengan baik? Apa wajah tampan yang selalu diagungkan oleh Mommy ini sama sekali tidak berguna di hadapannya hingga dia lebih memilih menatap lantai porselen yang dingin?

Sikap unik itu membuat Kaetos tertantang dan tanpa sadar selalu memperhatikan gerak-gerik Parrie.

Berbeda jauh dengan karyawan wanita lain yang selalu berdandan tebal dan berusaha mencari perhatian di depannya, Parrie adalah sosok gadis yang sangat beda dan polos.

Lewat layar monitor CCTV di ruang kerja pribadi butik ibunya, Kaetos sering kali tertangkap basah oleh dirinya sendiri sedang memantau Parrie secara diam-diam. Pria itu menyandarkan dagunya, mengamati bagaimana wajah polos gadis itu sering kali terlihat mengumpat pelan tanpa suara di tengah jam kerjanya yang melelahkan.

Lebih lucu lagi, jika tidak ada pengunjung atau saat ruangan sepi, Parrie akan memukul udara kosong dengan tinju kecilnya untuk meluapkan kekesalan.

Apa dia tidak tahu di butik ini ada CCTV di setiap sudut? Kaetos selalu terkekeh pelan dan tersenyum sendirian melihat tingkah konyol dan menggemaskan gadis itu.

Hingga pada suatu sore, tepat setelah jam kerja karyawan berakhir, Kaetos tak sengaja berpapasan dengan Parrie di lorong belakang butik. Saat berjalan terburu-buru, sebuah buku harian bersampul cokelat terjatuh dari tas Parrie yang retsletingnya terbuka.

Kaetos menyadari hal itu dan sempat memanggilnya. "Hey, Buku Harianmu jatuh!"

Namun apa yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaan Kaetos.

Parrie berbalik badan, dan tanpa rasa takut sedikit pun, gadis itu mengacungkan jari tengahnya dengan sangat lantang ke udara.

"Aku sedang tidak berada di jam kerja, Tuan Ashford! Jangan menganggu!" seru Parrie galak sebelum memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja.

Kaetos membeku di tempatnya. What?! pikir Kaetos saat itu, syok luar biasa.

Apa itu sifat aslinya yang sebenarnya? Sialan... dia benar-benar membuatku penasaran!

Kaetos bahkan sempat berniat memecatnya sore itu juga karena kelakuan tidak sopannya. Namun wewenang di butik itu berada di tangan sang ibu, dan Nyonya Tessa Ashford memiliki aturan ketat untuk tidak pernah memperlakukan karyawan secara semena-mena.

Malam itu, dengan buku harian cokelat milik Parrie yang tertinggal di tangannya, Kaetos duduk di meja kerjanya. Pria itu berencana membacanya, berharap ia bisa menemukan rahasia atau kelemahan gadis berani itu untuk dijadikan senjata membendung keangkuhannya.

Namun saat jemarinya membuka lembar demi lembar buku harian itu... harapan Kaetos hancur.

Alih-alih menemukan kesalahan atau rahasia jahat, Kaetos justru dibuat sesak napas oleh untaian kalimat yang tertulis di dalam sana.

Setiap lembar dipenuhi oleh tumpahan air mata, penderitaan, dan keputusasaan seorang gadis muda yang berjuang sendirian menopang hidup ibunya yang sekarat.

Air mata Kaetos menetes tanpa henti malam itu.

Dadanya terasa sangat sesak membayangkan betapa malangnya nasib gadis yang selalu tampak pura-pura kuat di tempat kerja itu.

Kaetos, dengan dorongan perasaan hangat yang tiba-tiba membuncah, berniat membantu meringankan beban Parrie.

Meskipun di dalam diary itu tertulis bahwa penyakit ibu Parrie sudah memasuki stadium akhir, Kaetos ingin memberikan bantuan uang dalam jumlah yang sangat besar agar gadis itu tak perlu pusing memikirkan biaya rumah sakit dan bisa fokus mendampingi ibunya.

Namun saat Kaetos menyampaikan niatnya pada sang ibu, Nyonya Tessa menggelengkan kepala pelan.

"Parrie tidak suka dikasihani, Son," kata sang mommy lembut. "Dia karyawan Mommy yang sangat luar biasa dan berharga diri tinggi. Mommy bahkan sudah pernah menawarkan bantuan untuk menanggung seluruh biaya pengobatan ibunya sampai sembuh. Tapi tawaran itu dia tolak mentah-mentah. Dia hanya mau menerima suster perawat kiriman Mommy... dan itu pun dia bersikeras agar uang gajinya dipotong setiap bulan untuk membayar jasa suster itu."

Deg.

Kaetos mematung mendengar cerita ibunya. Betapa naif dan keras kepalanya wanita itu... ucap Kaetos di dalam hatinya saat itu, mengagumi sekaligus meratapi kepolosan Parrie.

Hingga suatu hari, sebuah ide gila terpikirkan oleh otak Kaetos yang mulai terdistorsi oleh obsession. Pria-pria di lingkaran pertemanannya sering kali membicarakan konsep wanita simpanan atau wanita bayaran.

Kenapa aku tidak menggunakan cara itu untuk Parrie? pikir Kaetos gila.

Dan... kenapa aku tidak sekaligus menggunakan tubuhnya sebagai percobaan pertama proses kesembuhan total trauma sentuhanku?

Keesokan harinya, Kaetos mendatangi Parrie dan menawarkan perjanjian kontrak gila itu: biaya rumah sakit sang ibu dibayar lunas, dengan imbalan Parrie harus menjadi wanita penghangat ranjangnya.

Parrie yang sudah terdesak akhirnya menerima tawaran itu. Namun, apa yang Kaetos kira hanya sekadar rasa simpati dan eksperimen fisik, dalam waktu singkat justru berubah menjadi sebuah pusaran perasaan yang mengerikan.

Kaetos terperangkap dalam perasaannya sendiri. Rasa ingin memiliki Parrie tumbuh begitu pekat dan liar di dadanya. Pria itu menyadari bahwa ia telah jatuh cinta setengah mati pada Parrie tepat di bulan pertama mereka hidup bersama dalam satu atap.

Namun bukannya membawa pikiran jernih, rasa cinta yang terlalu besar itu justru memicu kegilaan baru di dalam otak Kaetos yang cacat secara mental.

Pikiran-pikiran gila dan mengerikan mulai sering muncul di benak Kaetos setiap kali ia menatap Parrie yang tertidur pulas di sampingnya.

Pria itu mulai berpikir ingin membunuh Parrie, mengurungnya di dalam kamar ini selamanya, atau bahkan mengawetkan tubuh cantik gadis itu agar Parrie tidak akan pernah bisa pergi, tidak akan pernah bisa disentuh oleh pria lain, dan hanya akan menjadi miliknya seorang sampai akhir hayat.

Bayangan-bayangan mengerikan itu kerap membuat Kaetos terbangun dengan napas memburu di tengah malam. Ia merasa sangat ketakutan—bukan takut pada orang lain, tapi takut pada dirinya sendiri! Ia takut kegilaan di otaknya suatu hari nanti akan benar-benar membunuh dan merusak gadis yang paling ia cintai di dunia ini.

Sebab itulah, Kaetos berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak mencintai Parrie lebih jauh. Pria itu berusaha membuang pikiran-pikiran distorsi tersebut.

Namun rasa ingin memiliki Parrie kian hari justru kian tak terkendali. Puncaknya terjadi di bulan keempat kebersamaan mereka.

Malam itu, Parrie dengan mata berbinar dan kepolosan jiwanya jujur mengakui perasaannya—Meminta ijin untuk jatuh cinta pada Kaetos.

Mendengar kata cinta yang tulus keluar dari bibir Parrie, otak Kaetos seketika mengalami konslet hebat.

Rasa bahagia yang meluap bercampur dengan kegilaan murni yang mendadak membakar saraf kepalanya.

Saat itu juga, dorongan gila untuk meremas dan mencekik leher Parrie hingga mati agar gadis itu abadi bersamanya hampir tak terkendali!

Trauma mentalnya yang hampir sembuh mendadak bergejolak hebat, mengancam akan melukai Parrie.

Kaetos menahan napasnya sekuat tenaga. Demi menghentikan tangan gila ini agar tidak mencekik mati wanita pujaannya, Kaetos memilih untuk mengalihkan emosinya secara mendadak.

PLAK!

Ia menampar pipi Parrie. Tamparan yang teramat sangat ia sesali seumur hidupnya, namun terpaksa ia lakukan sebagai bentuk pengalihan atas kegilaan otaknya yang hampir saja menewaskan gadis itu malam itu juga.

Sejak malam penamparan itu, Kaetos memaksa dirinya mengenakan topeng pria jahat, kasar, dan tanpa perasaan. Ia melontarkan cacian, hinaan, dan memperlakukan Parrie seperti barang murah.

Semua itu ia lakukan hanya demi satu tujuan: agar Parrie membencinya! Agar Parrie menghapus rasa cinta berbahaya itu dari hatinya dan memilih lari menjauh dari pria gila seperti dirinya.

Kaetos sadar betul... dirinya adalah pria yang tidak pernah pantas untuk dicintai oleh gadis sebersih Parrie.

Kaetos adalah pria yang rusak, pria yang masih harus bolak-balik menemui psikiater, dan pria yang memiliki benih-benih kegilaan di dalam kepalanya.

Hingga malam terakhir itu tiba—malam di mana Parrie menemukan ratusan video rekaman tersembunyi yang sengaja Kaetos pasang di setiap sudut kamar.

Video-video itu sebenarnya dipasang Kaetos semata-mata sebagai sarana obsesifnya untuk memantau keselamatan Parrie saat ia sedang tidak berada di rumah. Namun malam itu, demi menyempurnakan rasa benci di hati Parrie agar gadis itu mau melangkah pergi selamanya, Kaetos terpaksa mengulangi kebohongannya yang paling menyayat hati:

"Mungkin bisa kujual?"

Dan keesokan harinya, Parrie pergi. Meninggalkannya dalam kehampaan yang tak tertahankan.

•••

Kembali pada masa kini di dalam kamar penthouse yang dingin.

Kaetos mengusap air mata di wajahnya. Pria itu berlahan bangkit berlutut, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar ke bawah bantal ranjang king size tersebut.

Dari bawah sana, Kaetos menarik keluar sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang tampak usang. Buku harian milik Parrie yang sengaja ia ambil kembali dan simpan dengan sangat rapi.

Dengan jemari yang bergetar penuh kerinduan, Kaetos membuka lembar demi lembar buku harian itu di bawah temaram cahaya lampu kamar.

Dan di sana, di halaman-halaman terakhir yang ditulis Parrie beberapa hari lalu sebelum buku ini hilang... diary itu masih dipenuhi oleh coretan-coretan pensil yang mengukir nama satu pria.

Kaetos...

Kenapa rasanya masih begitu sakit?

Kenapa aku masih merindukanmu, Kaetos...?

Kaetos mendekap buku harian itu erat-erat di dadanya, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara di dalam kegelapan malam.

"Maafkan aku, Parrie..." bisik Kaetos lirih dalam keputusasaan yang mendalam. "Maafkan pria gila ini... yang terlalu mencintaimu hingga harus menghancurkan mu..."

1
Debu Nakal
masih menunggu update statusnya bang kae
Rosdianah 🌷: author up besok lagi 🫶🥰
total 1 replies
safaana
sama2 merindukan TPI terhalang oleh kesalahpahaman,,
safaana
aneh kan Ken,ko seorang asford tak bisa menggali jejak parrie,
Yusry Ajay
temukan mereka dong Thor 🤗🤗🤗 kasian mereka Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
kirain ketemu ma kaetos Thor 🥺🥺uda deg..deg.. eh ga jd ketemu 🤗🤗
Mei TResna Rahmatika
semangat kak up nya😍
winpar: lnjut kk 💪
total 1 replies
Nita Nita
keren ♥️🔥
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Nita Nita
lanjut kakkkkk
Mei TResna Rahmatika
nah cocok ini aubrey sama kendrick🤣
Nita Nita
😱
nayla tsaqif
Ketemunya pas gedhe aja thor,, biar bpknya di roasting dulu sama anak2 😌
Rosdianah 🌷: nah niat author begitu 🤭
total 1 replies
safaana
yaaah kirain bkl ketemu sama parrie,kasian Thor anak empat lahiran tanpa di temani bpknya
Asriani Rini: Jodohmya kendrik ituthir cocok banget ama aubrey
total 1 replies
safaana
cari sampe ujung dunia Tessa,
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Semoga kak Readers semakin suka karya ku 🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Makasih byk thor karena up nya byk hari ini
Rosdianah 🌷: Semoga kak Readers semakin suka karya ku 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bisa nih Aubrey jodoh nya kendrick🤭
Rosdianah 🌷: kan udah ketebak 🤭🤣
total 1 replies
Debu Nakal
semoga selalu mdpatkan inspirasi luar biasa untk bisa mbuat karya2 yg selalu aku tunggu dtiap chap nya
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳🥳
total 3 replies
Debu Nakal
have nice dream author
Rosdianah 🌷: See you 🫶
total 1 replies
Nita Nita
parah ini mah😄😄😄
Rosdianah 🌷: hehehe🤭
total 1 replies
safaana
kalau sudah tiada baru terasa kan mommy,baru menyadari kalau parrie tidak terlibat kemaren2 kemana aja tu hati padahal udah di kasih tau bahwa parrie tidak terlibat,,yang tenang ya parrie di sana
Rosdianah 🌷: Merana mommy tessa🤣🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!