"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 2] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Langit sore di atas taman kediaman Lezman tergantung kelam, menyisakan bias mega merah keunguan yang tertutup awan mendung. Angin sepoi-sepoi menerpa deretan bunga mawar yang mekar di sekeliling area taman, menghembuskan hawa dingin yang perlahan menghujam tulang.
Di antara bentangan jalan setapak berkerikil halus, Anisa berdiri mematung. Jemari tangannya terangkat perlahan ke udara, telapak tangannya yang halus terbuka lurus mengarah pada pria di hadapannya—sebuah gestur penolakan yang dibalut kehangatan, seolah ingin menyampaikan pesan implisit bahwa ia tetap menghargai sosok tersebut meski ada batasan membentang lebar.
Di balik kain cadar yang menutupi separuh wajahnya, pasang mata Anisa memancar pelan. Senyum di balik kainnya berusaha tetap terjaga agar tidak memancing perdebatan, meski jauh di dasar hatinya, ada gemuruh emosi yang dipaksa terkubur rapat.
"Kamu pria yang hebat, Kak Li," panggil Anisa lembut, nadanya mengayun tenang tanpa getaran berlebih.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara sore yang dingin memenuhi dada sebelum menyambung ucapannya. "Tapi maaf... aku tidak bisa menerima perasaanmu."
An Liu Li berdiri kaku, sepasang matanya menatap Anisa tanpa berkedip sedikit pun. Rahangnya mengeras saat menangkap ketegasan di mata wanita itu.
"Sejak awal, batas iman kita sudah berbeda," lanjut Anisa pelan namun berbobot, seraya menyatukan kedua tangannya di depan tubuh. "Dan aku harus setia pada prinsip agamaku."
Anisa menyunggingkan senyum tipis yang hanya terlihat dari lipatan di sudut matanya.
"Kuharap kita tetap bisa berteman baik seperti biasanya. Tanpa ada yang berubah."
Namun, An Liu Li tak lantas menerimanya. Tatapan pria itu meredup, berganti menjadi sorot keputusasaan yang dibakar kebingungan.
"Hanya karena perbedaan agama kita?" suara Liu Li terdengar berat dan serak.
Ia menghentakkan kakinya, melangkah maju mendekati Anisa selangkah demi selangkah.
"Kamu rela meninggalkanku? Meninggalkan semua momen yang sudah kita lalui bersama selama delapan tahun ini?"
Anisa terdiam di tempatnya. Setiap bait kata yang keluar dari bibir Liu Li terasa menghujam dadanya bak sembilu tajam. Sensasi perih itu merebak, namun Anisa mengepal rapat jemari di balik busana gamisnya untuk menahan diri. Ia tidak boleh goyah.
"Apa karena kamu lebih memilih pria itu daripada aku?" cecar Liu Li lagi, melangkah lebih dekat hingga bayangannya menutupi Anisa.
Dada Anisa makin sesak mendengar tuduhan itu. Ia menatap manik mata Liu Li sejenak sebelum menundukkan pandangannya ke arah tanah.
"Bukan begitu," sahut Anisa pelan, hampir tenggelam oleh deru angin taman. "Ini murni karena iman kita yang berbeda. Tidak ada alasan lain."
Anisa menghela napas lelah. "Maaf, Kak... aku tidak bisa melanjutkan obrolan ini lagi."
Sebenarnya, hati Anisa hancur berkeping-keping.
Jikalau saja Liu Li tahu bahwa pernikahan ini adalah penukaran kartu lamaran demi menanggung utang keluarga Lezman, mungkin pria itu tidak akan menatapnya dengan penuh rasa terluka seperti saat ini.
Pria itu mungkin akan membencinya, atau justru memahami alasannya pergi. Namun demi kebaikan semua pihak, Anisa memilih menyimpan rapat rahasia itu.
Raut wajah Anisa memudar menjadi datar dan lelah.
Pura-pura kuat ternyata menguras habis energinya.
Anisa mengambil satu langkah mundur, memperlebar jarak aman di antara mereka. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberikan penghormatan terakhir secara santun
"Aku pamit duluan, Kak," ujar Anisa pendek, menyunggingkan senyum tipis penutup obrolan.
"Assalamualaikum."
Tanpa menunggu balasan, Anisa membalikkan badan dan melangkah pergi. Perpisahan itu terjadi begitu cepat. Langkah kakinya bergerak tergesa meninggalkan area taman, membiarkan gaun sederhananya berdesir dihembus angin sore.
An Liu Li hanya berdiri mematung di tengah hamparan bunga mawar yang luas. Pria itu menatap punggung Anisa yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik belokan lorong mansion.
Untuk pertama kalinya, Liu Li merasa ada benteng rahasia amat besar yang sedang disembunyikan oleh wanita muda itu dari dirinya.
.
.
.
.
Malam pun jatuh memeluk bumi. Berbeda dengan hawa dingin yang membelenggu taman, kediaman utama keluarga Lezman justru memancarkan hangatnya lampu-lampu kristal dan keriuhan tawa.
Di area pelataran depan yang dipenuhi pilar-pilar megah, Ananira bersama deretan sahabat sosialitanya tampak berkumpul penuh antusias. Mereka mengerumuni An Liu Li yang baru saja tiba dengan balutan jas mahal.
"Wah, Tuan Muda tampan datang sendiri ke sini untuk menjemput calon istri?!" seru salah seorang teman Ananira seraya menutupi mulutnya yang tertawa menggoda.
"Aku iri sekali padamu, Anira! Pria sekelas An Liu Li benar-benar memperlakukanmu seperti ratu!" timpal teman sosialitanya yang lain dengan nada melengking.
Tawa para wanita muda itu pecah bersahut-sahutan.
Mereka tampak bersukacita merayakan tanggal pernikahan Ananira dan Liu Li yang baru saja diputuskan oleh Azriel Lezman.
Ananira tersenyum lebar penuh kebanggaan, merangkul erat lengan kanan Liu Li ke dadanya. "Tentu saja, dia kan calon suamiku," ujar Ananira penuh rasa kepemilikan.
Liu Li hanya merespons dengan sunggingan bibir tipis yang dipaksakan. Rasa ganjal menggelayuti pikirannya saat lengan Ananira makin erat memeluknya.
Di tengah keriuhan itu, pandangan mata Liu Li tanpa sengaja menyapu sudut halaman parkir yang redup. Di sana, di dekat pintu gerbang samping, terlihat sosok Anisa.
Wanita ber-cadar itu sedang berjalan pelan ditemani seorang pelayan tua yang membantunya membawakan koper. Mereka mengarah pada sebuah mobil sedan hitam keluaran lama yang terparkir menyendiri.
Alis Liu Li bertaut rapat. Ada kepulan rasa kecewa dan janggal yang mendadak menyeruak.
Malam ini, Liu Li sengaja tampil sempurna dengan setelan tuxedo buatan penjahit ternama dan mengendarai supercar Lamborghini barunya.
Semua kemewahan itu ia pamerkan karena ingin menantang dan melihat langsung sosok pria dari keluarga Carlous yang telah memenangkan kartu lamaran Anisa.
Namun nyatanya, calon suami Anisa bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
(cih!Pengecut!)
batin Liu Li seraya mendengus sinis.
Bagaimana mungkin seorang pria membiarkan calon istrinya dijemput oleh sedan tua biasa tanpa pengawalan dan tanpa jemputan pribadi? Dengusan Liu Li makin tajam. Pria itu yakin betul bahwa Anisa telah mengambil keputusan salah dan kelak akan menyesali pilihannya.
Sementara di sudut halaman yang sepi, Anisa baru saja selesai meletakkan tas kecilnya ke dalam bagasi mobil sedan hitam. Ia membalikkan badan dan menghampiri wanita paruh baya bermuka hangat yang sejak tadi berdiri menunggunya.
Bi Inah—pelayan tua itu—bukan sekadar pekerja di mata Anisa. Selama bertahun-tahun hidup terasing di mansion Lezman sebagai anak yang dianggap tak diinginkan, Bi Inah-lah satu-satunya sosok yang memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu.
"Terima kasih ya, Bi..." Anisa menatap lembut mata keriput di hadapannya, suaranya mulai bergetar menahan haru. "Selama ini sudah menjaga dan merawat saya dengan sangat baik."
Anisa menunduk pelan. "Maaf, saya tidak bisa memberikan Bibi hadiah atau tanda terima kasih yang layak..."
Bi Inah langsung tersenyum hangat. Jemari tangannya yang kasar mengusap lengan baju Anisa dengan lembut. "Jangan berpikir seperti itu, Non Nisa..."
Wanita tua itu menatap Anisa penuh ketulusan. "Lagipula, setelah Non Nisa pergi dari mansion ini, dalam waktu dekat Bibi juga akan langsung mengajukan undur diri."
Anisa mendongak kaget. "Loh? Kenapa begitu, Bi?"
"Bibi mau pulang kampung, Non," jawab Bi Inah diiringi kekehan kecil untuk mencairkan ketegangan. "Di rumah mewah ini, teman mengobrol Bibi kan cuma Non seorang."
Tatapan Bi Inah melunak saat menatap wajah Anisa. "Terlepas dari status Non yang memang... tidak pernah dianggap di keluarga ini, Bibi merasa tidak sendirian selama ada Non Nisa di samping Bibi."
Kata-kata jujur itu menyenggol titik terlembut di hati Anisa, membuat tenggorokannya mendadak tercekat.
Bi Inah menepuk pelan pundak Anisa seraya berseloroh ringan. "Tapi sebentar lagi Non Nisa sudah jadi istri orang... dan tidak bakal balik ke mansion dingin ini lagi." Ia mengangkat kedua bahunya.
"Jadinya Bibi sudah tidak punya teman mengobrol lagi deh di sini~"
Anisa terkekeh kecil mendengar selorohan itu, meski genangan air mata mulai merebak di pelupuk matanya.
"Maafin Anisa ya, Bi..." bisik Anisa seraya menunduk dalam. "Kalau selama ini Anisa punya banyak salah dan selalu menyusahkan Bibi"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Non," balas Bi Inah menenangkan. "Anggap saja semua tugas Bibi merawat Non sudah selesai dengan baik."
Untuk beberapa saat, kedua wanita beda generasi itu hanya saling menatap dalam keheningan yang sarat emosi. Tidak ada pesta pelepasan. Tidak ada sanak keluarga yang mengantar.
Tidak ada lambaian tangan dari penghuni rumah Lezman.
Malam itu, di sudut pelataran yang sepi, hanya ada perpisahan tulus antara seorang gadis muda dan wanita tua yang telah mencurahkan kasih sayangnya.
Brak.
Pintu sedan hitam itu tertutup rapat setelah Anisa masuk ke dalamnya. Mesin mobil meraung pelan sebelum perlahan bergulir melintasi gerbang besi kediaman Lezman.
Bi Inah berdiri tegak di tepi jalan, menarik napas panjang seraya menatap mobil yang kian menjauh.
"Hati-hati, Non Anisa..." bisik Bi Inah lirih, suaranya tertelan angin malam. "Semoga Non selalu aman dan menemukan kebahagiaan di sana."
Tangan tuanya terangkat kecil, melambai pelan pada bayangan merah lampu belakang sedan yang terus bergerak menjauh, hingga akhirnya kendaraan itu benar-benar menghilang di balik kegelapan malam.
Anisa menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil yang dingin. Ia tahu betul, perjalanan menuju wilayah kediaman keluarga Carlous bukanlah sesuatu yang mudah—melainkan awal dari memasuki wilayah asing yang penuh bahaya.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...