Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 28
Langkah kaki Theodore sangat pelan ketika ia mendorong pintu depan rumah keluarga Mahendra yang tidak dikunci. Suasana dalam rumah tua itu sudah hening. Lampu ruang tamu utama sengaja dimatikan oleh Martha, menyisakan pendar redup dari lampu gantung di lorong tengah. Theodore melangkah melintasi dapur, lalu masuk ke dalam kamar tidur kecil mereka di sudut belakang.
Di dalam kamar, Yevone masih duduk bersandar di kepala ranjang dengan gaun tidur sederhana. Matanya sedikit bengkak, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tertutup gorden tipis. Pikiran Yevone masih sangat kacau membayangkan kebohongan besar yang dibuat ibu dan sepupunya di pesta perjamuan Kakek Surya tadi malam.
"Belum tidur, Yev?" Theodore bersuara lembut sambil menutup pintu kamar tanpa suara.
Yevone terkejut pelan, lalu menoleh menatap suaminya. "Theo... kamu dari mana aja? Kok jalannya lama banget?"
"Aku memutar sebentar ke ujung pasar malam tadi," Theodore tersenyum hangat. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu menyodorkan kotak karton berbungkus plastik bersih yang dibawanya. "Ini, aku beliin martabak cokelat keju kesukaanmu. Masih hangat kok."
Melihat kotak martabak itu, raut wajah Yevone yang tadinya tegang perlahan-lahan melunak. Kehangatan menyeruak di dalam dadanya. Di saat seluruh keluarga besarnya menginjak-injak dan memanfaatkannya, hanya pria bersahaja di hadapannya ini yang selalu ingat pada hal-hal kecil yang membuatnya bahagia.
"Makasih ya, Theo," panggil Yevone dengan suara agak serak, menerima kotak itu lalu membukanya. Aroma wangi cokelat leleh dan keju parut langsung memenuhi kamar sempit mereka. Yevone mengambil sepotong kecil dan mengunyahnya pelan. "Kamu nggak makan?"
"Buat kamu aja. Aku udah kenyang tadi di jalan," Theodore mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Makan yang banyak, terus istirahat. Besok kamu masih harus ke kantor, kan?"
"Iya..." Yevone mengangguk pelan, walau keraguan terpancar jelas di matanya. "Aku bingung besok harus ngomong apa di kantor. Ibu sama Kakek pasti makin ngelunjak gara-gara mikir aku yang beliin obat herbal harga ratusan miliar itu..."
"Nggak usah dipikirkan," bisik Theodore penuh keyakinan. "Biarkan aja mereka menikmati imajinasi mereka sendiri. Yang penting kamu fokus urus perusahaanmu sendiri. Apapun yang terjadi di luar sana, aku yang bakal urus."
Yevone menatap mata suaminya lekat-lekat. Entah kenapa, ketenangan di wajah Theodore selalu sanggup menjadi benteng pelindung paling kokoh bagi jiwanya. Yevone akhirnya mengangguk pelan, menikmati tiap gigitan martabak hangat itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Dua puluh menit kemudian, setelah Yevone tertidur lelap di ranjang, Theodore melangkah keluar menuju balkon kecil di samping jemuran baju. Angin malam berembus dingin menyapu wajahnya.
Theodore merogoh ponsel pintarnya, lalu mendial sebuah nomor terenkripsi. Sambungan langsung terhubung pada nada dering pertama.
"Lapor, Tuan Besar!" suara Exel terdengar sangat tegap dan penuh hormat dari seberang saluran. "Laporan dari tim pengintai di lapangan, kelompok Serigala Hitam yang disewa Zico sudah kocar-kacir melarikan diri dari kota. Marko bahkan langsung mengemas barang-barangnya dan kabur menyeberang pulau malam ini juga karena ketakutan."
"Aku tahu," balas Theodore datar, menatap pendar lampu kota dari kejauhan. "Bagaimana dengan persiapan invasi finansial kita?"
"Semua infrastruktur sudah siap seratus persen, Tuan Besar!" Exel menjawab penuh semangat. "Tim analis Aegis Corp sudah memetakan seluruh struktur kepemilikan saham dan anak perusahaan milik Mahendra Group. Keluarga mertua Anda selama ini menopang gaya hidup mewah mereka lewat empat anak perusahaan utama di bidang logistik, bahan bangunan, ritel, dan properti menengah."
"Bagus," mata Theodore berkilat dingin di tengah kegelapan malam. "Mulai serangan tahap pertama sekarang. Suntik mati empat anak perusahaan itu satu per satu dari balik layar. Jangan sentuh perusahaan utama milik Yevone sedikit pun. Buat keluarga mertuaku merasakan bagaimana rasanya fondasi kekayaan yang mereka banggakan runtuh perlahan-lahan."
"Siap laksanakan, Tuan Besar! Dalam hitungan jam, anak perusahaan mereka akan lumpuh total!" tegas Exel sebelum mengakhiri sambungan telepon.
***
Di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit pusat kota, ruang kendali siber Aegis Corporation tampak dipenuhi puluhan layar monitor raksasa yang menayangkan grafik saham, aliran modal, dan data perbankan secara real-time. Exel berdiri di tengah ruangan dengan jas hitam rapi, memegang tongkat komando kecil di tangannya.
"Leo, buka eksekusi perintah Alpha-1," perintah Exel dengan nada dingin nan berwibawa.
"Siap, Komandan!" Leo menari-narikan jarinya di atas keyboard berkecepatan tinggi. "Memulai pembekuan anak perusahaan Mahendra Group!"
Dalam hitungan detik, serangan finansial tak kasat mata berkecepatan tinggi diluncurkan menembus jaringan perbankan nasional. Aegis Corp yang memegang lima puluh persen aset likuid raksasa mulai menggerakkan taringnya.
Sasaran pertama adalah PT Mahendra Logistik, anak perusahaan yang dikelola langsung oleh Kevin. Exel memborong seluruh surat utang operasional PT Mahendra Logistik dari tiga bank swasta, lalu mengesekusi klausul kewajiban pelunasan seketika gara-gara adanya indikasi kecurangan manajemen.
Detik berikutnya, seluruh rekening bank PT Mahendra Logistik dibekukan total. Belasan truk kontainer milik mereka yang sedang berada di pelabuhan ditahan oleh otoritas bea cukai gara-gara izin operasionalnya mendadak dicabut oleh perusahaan induk Aegis.
"Anak perusahaan pertama lumpuh!" seru Leo melaporkan.
"Lanjutkan ke PT Surya Konstruksi!" balas Exel tanpa rasa iba sedikit pun.
PT Surya Konstruksi adalah anak perusahaan terbesar Mahendra Group yang memegang proyek-proyek pembangunan fisik di kota. Tanpa buang waktu, Aegis Corp memutus rantai pasokan bahan baku semen dan baja dari seluruh vendor utama yang sudah dibeli sahamnya oleh Exel kemarin. Pada saat yang sama, dana pinjaman modal kerja sebesar lima puluh miliar rupiah yang baru diajukan PT Surya Konstruksi mendadak dibatalkan secara sepihak oleh konsorsium bank.
Hanya dalam waktu kurang dari dua jam sebelum fajar menyingsing, empat anak perusahaan yang menjadi sumur uang utama keluarga Mahendra telah terisolasi sepenuhnya. Aliran dana segar yang biasanya mengalir miliaran rupiah setiap harinya ke kantong Kakek Surya dan Martha mendadak terhenti total bagaikan kran air yang disumbat semen padat.
***
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit memancarkan sinar hangat di atas gedung kediaman utama Keluarga Mahendra.
Di dalam ruang makan mewah, Kakek Surya sedang duduk santai menikmati teh hangat premium sambil membaca koran pagi. Di sampingnya, Martha dan Kevin sibuk menatap layar tablet, memamerkan rencana pembelian mobil sport baru yang rencananya akan dibeli dari hasil proyek anak perusahaan pekan ini.
"Kevin, nanti siang kamu ikut Kakek ke kantor ya," ucap Kakek Surya dengan wajah tersenyum lebar dan penuh rasa percaya diri. "Setelah berita kado Akar Salju Murni Milyaran rupiah dari Yevone itu menyebar di kalangan pengusaha, Kakek yakin banyak investor besar yang mau menanamkan modal di PT Surya Konstruksi!"
"Pasti, Kek!" jawab Kevin sambil tertawa sombong. "Nanti Kevin bakal minta komisi lima persen dari tiap investor yang masuk. Biar si gembel Theodore makin gigit jari ngelihat kesuksesan kita!"
"Hahaha! Benar banget!" Martha ikut menimpali sambil mengoleskan selai ke atas rotinya. "Si benalu itu pasti makin sadar diri kalau dia cuma cacing tanah yang nggak ada artinya dibanding keluarga kita!"
Namun, sebelum gelak tawa mereka bertiga selesai menggema di ruang makan, suara dering telepon kantor dan telepon genggam mendadak membahana secara bersamaan dari berbagai sudut rumah.
Dering telepon itu begitu keras, konstan, dan saling bersahutan tanpa henti, menciptakan suasana panik yang sangat ganjil di pagi hari yang tenang itu.
Kakek Surya mengerutkan dahinya heran. "Kevin, angkat telepon rumah itu. Siapa pagi-pagi begini yang menelepon seperti orang kesetanan?"
Kevin berdiri santai melangkah mendekati meja telepon kabel di sudut ruangan, lalu mengangkat gagangnya. "Halo, dengan kediaman Mahendra—"
"PAK KEVIN! GAWAT, PAK!" suara direktur operasional PT Mahendra Logistik berteriak histeris dari seberang telepon hingga suaranya memantul keluar dari gagang. "SELURUH REKENING PERUSAHAAN KITA DIBEKUKAN BANK! TRUK-TRUK KITA DITAHAN DI PELABUHAN DENGAN TUDUHAN PELANGGARAN KONTRAK! KITA BANGKRUT, PAK!"
Brak!
Gagang telepon di tangan Kevin seketika merosot jatuh menghantam lantai marmer. Wajah pemuda arogan itu mendadak pucat pasi bagaikan mayat, matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang mencekam.