Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahap Revisi ( Pertukaran Bab)
Sementara itu di zaman kuno---
Di waktu yang berbeda...
Tubuh Yun Shang bersujud kaku di atas tanah yang dingin, jemarinya yang gemetar mencengkeram erat sebuah jepit rambut emas—milik sang putri tercinta yang kini terasa bagai belati yang menusuk ulu hatinya.
Di sampingnya, Lin Jia berdiri mematung, tenggelam dalam labirin pikirannya sendiri yang berkecamuk. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum mereka menginjakkan kaki di tempat ini? Takdir macam apa yang telah merenggut ketiga buah hati mereka dalam sekejap mata?
Beberapa saat lalu mereka mendengar adanya suara ledakan--- suara itu sampai ke Paviliun Naga, membuat mereka memutuskan untuk memeriksa sumber dari ledakan itu. Saat mereka tiba di tempat dimana ledakan itu terjadi, mereka melihat adanya retakan aneh di langit.
Mereka turun ke bawah jurang untuk memastikan--- namun yang mereka temukan adalah barang-barang milik ketiga anak mereka. Jepit rambut emas milik Putri Mahkota Yun Sheren--- bagian pakaian robek milik Putra Mahkota Yun Shadom dan Pangeran Yun Sharam.
Hati kedua orang tua itu seketika hancur, di liputi oleh rasa takut kehilangan.
Saat pikiran sepasang suami istri penguasa itu kian melayang memikirkan segala kemungkinan terburuk, kesunyian itu robek oleh derap langkah kaki yang terburu-buru dan kacau.
Seorang prajurit datang dengan napas memburu, terengah-engah seolah paru-parunya hendak meledak.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa keberanian sebelum melontarkan sebaris kalimat yang seketika membuat seluruh otot tubuh sang Kaisar Tiran menegang sempurna.
"Yang Mulia Kaisar... ka—kami sudah memeriksanya dengan teliti... tapi... Putra Mahkota, Pangeran, dan Putri Mahkota... mereka semua... tidak ada di tempatnya!"
DUAR!
Bagai disambar petir di siang bolong, tatapan mata Yun Shang yang semula kosong dan redup seketika berkilat tajam memancarkan murka.
Tangan kekarnya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, melepaskan gelombang aura membunuh yang begitu menindas, membuat udara di sekitar jurang itu mendadak berputar sesak dan berat.
Semua prajurit yang ada disana spontan langsung ambruk, jatuh berlutut di tanah karena tak kuasa menahan tekanan magis yang menghimpit dadanya.
"Temukan mereka..." bisik Yun Shang dengan suara yang begitu pelan, dingin, dan bergetar menahan gejolak emosi.
Namun, hanya dalam hitungan detik berikutnya, suara itu menjelma menjadi raungan yang menggelegar dahsyat, mengguncang dinding-dinding tebing batu di sekitar mereka.
"CARI KETIGA ANAKKU SAMPAI KETEMU!" teriak sang Kaisar, urat-urat di lehernya menegang. "Jika kalian tidak bisa menemukan mereka, bersiaplah karena kalian harus mengganti kegagalan itu dengan nyawa kalian sendiri!" ancam sang Kaisar tiran tanpa ampun.
Mendengar titah kematian tersebut, semua prajurit secara spontan langsung berpencar layaknya kawanan semut yang sarangnya diinjak, berlarian panik ke segala arah demi menyelamatkan kepala mereka sendiri.
Sementara itu, Lin Jia yang sejak tadi hanya terdiam, perlahan mulai memejamkan matanya rapat-rapat.
Di balik kelopak matanya yang bergetar, badai kepanikan di hatinya perlahan surut, digantikan oleh secercah ketenangan yang aneh saat sebuah kecurigaan liar mendadak melintas di kepalanya.
'Retakan di langit...' gumam hati Lin Jia, mengingat fenomena aneh yang sempat terjadi beberapa saat lalu. 'Mungkinkah... mungkinkah mereka berada di sana sekarang?' lanjutnya, menjerit histeris dalam keheningan batin yang tak terdengar oleh siapapun.
Waktu berlalu begitu mencekam. Setelah beberapa menit yang terasa bagai berabad-abad, siluet para prajurit mulai kembali satu per satu. Wajah mereka pucat pasi seputih kain kafan, dan lutut mereka gemetar hebat hingga nyaris tak mampu menopang berat tubuh mereka sendiri.
"Ma--maaf... Ya--Yang Mulia Kaisar..." lapor salah satu prajurit dengan suara bergetar ketakutan, tidak berani menatap langsung sepasang mata sang penguasa. "Tapi... tapi kami sudah menyisir setiap sudut di sekitar jurang ini... keberadaan Putra Mahkota, Pangeran, dan Putri Mahkota... sama sekali tidak bisa ditemukan. Mereka lenyap tanpa jejak."
Mendengar laporan itu, bendungan amarah di dalam diri Yun Shang pecah seutuhnya. Aura membunuh yang jutaan kali lipat lebih kuat meledak keluar dari tubuhnya, menguar bagai kabut kematian yang siap mencabut nyawa siapapun yang mendekat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mulai melangkahkan kakinya maju. Dan di setiap tapak langkah yang ditinggalkannya di atas tanah jurang itu, atmosfer kematian yang kelam ikut merayap, menjanjikan sebuah pertumpahan darah.
"Bukan kalimat itu yang ingin kudengar," desis Yun Shang. Suaranya rendah, namun ketajamannya mampu menyayat keheningan malam.
Seketika itu juga, semua langsung jatuh berlutut, menundukkan kepala dalam-dalam seolah sedang memohon ampunan terakhir. Mereka semua sadar betul sedang berhadapan dengan siapa.
Sang Kaisar tiran, seorang penguasa berdarah dingin yang saat ini akal sehatnya sedang dikacaukan oleh badai keputusasaan karena kehilangan ketiga belahan jiwanya sekaligus. Dalam situasi seperti ini, tidak akan ada jalan keluar hidup-hidup bagi mereka yang gagal.
Namun, tepat sebelum pedang Yun Shang terhunus untuk menumpahkan darah, sebuah suara lembut namun sarat akan ketegasan terdengar membelah angin malam, langsung menghentikan langkah sang Kaisar.
"Hentikan, Yun Shang," ucap Lin Jia. Langkah kakinya terdengar tenang saat ia berjalan mendekat. "Kemarahan tidak akan pernah bisa membawa anak-anak kita kembali."
Yun Shang menoleh dengan cepat. Meskipun badai emosi masih bergemuruh hebat di dalam dadanya, tatapan mata yang semula merah menyala itu perlahan-lahan sedikit melembut saat menatap sang permaisuri nya.
"Apa maksudmu, Lin Jia? Apa kau mengetahui sesuatu? Apa kau tahu di mana keberadaan mereka saat ini?!" tanya Yun Shang bertubi-tubi dengan suara yang bergetar penuh harap. Ia mencengkeram kedua bahu istrinya, mencari setitik kepastian.
Lin Jia tidak langsung menjawab. Ia mendongak, menatap hamparan langit malam yang gelap tanpa bintang, seolah sedang menembus batas dimensi yang tak kasatmata.
"Mereka saat ini berada di sebuah tempat yang sangat jauh... tempat yang tidak akan pernah bisa kita jangkau dengan cara biasa," katanya pelan, lalu mengalihkan lirikan matanya langsung ke dalam manik mata Yun Shang. "Tapi, itu bukan berarti kita tidak akan bisa pergi ke sana."
Kerutan di dahi Yun Shang semakin dalam, wajahnya dipenuhi rasa bingung sekaligus frustrasi yang membuncah. "Katakan padaku, di mana mereka?! Jika mereka berada dalam bahaya, kita harus menyelamatkan mereka!"
Lin Jia terdiam selama beberapa detik. Tatapannya menyiratkan kesedihan yang mendalam, namun juga penuh keyakinan.
Ia menurunkan tangan Yun Shang dari bahunya, lalu menggenggam jemari suaminya yang dingin dengan begitu lembut, mencoba menyalurkan kehangatan.
"Tidak sekarang, Yun Shang," bisik Lin Jia menenangkan. "Karena untuk saat ini, kita sama sekali tidak memiliki gerbang ataupun jalan untuk menyeberang ke sana. Kita tidak bisa memaksa masuk."
Yun Shang hendak menyanggah, namun Lin Jia memotongnya dengan kalimat yang penuh teka-teki. "Namun... suatu hari nanti, merekalah yang akan membuka jalan itu. Merekalah yang akan memanggil kita untuk datang ke tempat mereka berada."
Lin Jia kemudian melepaskan genggamannya perlahan, lalu berjalan melewati tubuh Yun Shang. Yun Shang membalikkan badannya dengan cepat, menatap punggung istrinya dengan pikiran yang semakin kalang kabut dan tidak mengerti.
"Biarkan mereka menjalankan takdir baru mereka di sana. Anak-anak kita kuat, mereka pasti bisa menjaga diri mereka sendiri dengan baik," ujar Lin Jia pelan, mencoba terdengar tenang meski sebenarnya jantungnya berdebar keras menahan sesuatu yang menyiksa.
Ia mengepalkan tangannya. "Sampai hari itu tiba... hari di mana benang takdir mempertemukan kita kembali, dan mereka akan memanggil kita untuk datang ke dunia itu."