NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 19

Part 19

Alfan menatap ke sebuah butik, di mana ia akan mengajak Tina mencari gaun untuk acara nanti malam. Sedangkan Tina hanya menunggu di samping bosnya, matanya memerhatikan keadaan luar yang cukup ramai orang. Posisi mereka sedang berada di dalam mobil, tepatnya taksi yang Alfan pesan sejak tadi pagi.

"Pak. Sebenarnya Bapak ini lagi apa? Kita jadi ke mana?" tanya Tina terdengar tak sabar, merasa bosan saja menunggu bosnya diam di tempatnya.

"Iya sudah ayo keluar, kita cari baju kamu di butik itu." Alfan menjawab santai seolah tak memiliki dosa sudah membuat Tina menunggu, sedangkan Tina hanya bisa tersenyum hambar melihat ke arah bosnya yang sudah keluar dari taksi.

"Sabar, Na. Sabar!" Tina menyugestikan kan kata itu di hatinya yang hampir terbakar oleh amarah. Dengan perasaan yang masih kesal, Tina keluar dari taksi, menyusul bosnya yang sedang menunggunya.

"Ayo kita ke sana, cari gaun yang pas buat kamu." Alfan melangkahkan kakinya setelah Tina berada di belakangnya.

Kini keduanya masuk ke dalam sebuah butik, di sana banyak pakaian dan barang-barang khas wanita seperti sepatu dan tas. Alfan yang tidak tahu apa-apa mengenai gaya perempuan, langsung memanggil pemilik dari butik tersebut.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang wanita ke arah Alfan.

"Tolong carikan wanita ini gaun yang masih sopan, tidak terlalu terbuka, tapi pantas dipakai. Usahakan jangan warna putih apalagi pink."

"Baik, Tuan. Mari ikut saya, Nona!" Wanita itu mengarahkan Tina ke arah dalam, sedangkan Tina justru terdiam dengan jawaban bosnya, merasa aneh saja kenapa lelaki itu melarang pemilik butik untuk memberinya gaun putih atau pink, seolah dia tahu bila Tina memang tidak menyukainya.

"Iya." Tina menjawab singkat lalu ikut dengan wanita itu, namun matanya terus tertuju ke arah Alfan yang tampak melihat-lihat sekitarnya. Entah kenapa Tina merasa bila bosnya itu seperti seseorang yang sudah dikenalnya lama, seperti tempat yang sempat membuatnya nyaman.

"Aku memikirkan apa sih?" Tina menepuk kepalanya, merasa heran dengan pemikirannya yang bisa-bisanya berpikir tentang bosnya itu.

"Di sini kami menyediakan banyak gaun dengan berbagai ukuran dan model. Anda mau gaun pendek atau panjang?" tanya wanita itu ke arah Tina yang tampak berpikir, bila panjang mungkin akan menyulitkannya untuk berjalan, itu lah mengapa Tina berpikir untuk memilih gaun pendek.

"Pendek, tidak terlalu banyak hiasan, simpel, dan yang pasti warna gelap."

"Baiklah. Untuk wanita secantik Anda, mungkin saya akan memilihkan ini. Gaun berwarna hitam, polos, tanpa lengan, elegan untuk Anda kenakan. Bagaimana?" Wanita itu memberikan Tina sebuah gaun yang ingin sekali Tina kenakan, merasa cocok saja dengan gaun itu padahal baru pertama kali melihatnya.

"Apa saya boleh mencobanya?"

"Tentu saja. Tempat gantinya di sana," jawab wanita itu sembari tersenyum sopan saat menunjuk ke arah ruang ganti.

"Iya, terima kasih."

Di sisi lainnya, Alfan berbalas pesan dengan sekretarisnya di kantor, ia ingin tahu bagaimana keadaan di sana selama ditinggalnya. Untungnya sekretarisnya itu bisa diandalkan, dia menyortir pekerjaan para karyawan sama seperti yang Alfan lakukan.

"Pak," panggil Tina dari arah depan, membuat Alfan yang tadinya fokus ke ponselnya itu menoleh, menatap Tina dengan mata tenangnya.

"Bagaimana penampilan saya?" tanyanya yang sempat membuat Alfan ingin mendelikkan mata, meski pada akhirnya ia berhasil menguasai keterkejutannya.

"Lumayan bagus, kamu mau yang itu?"

"Iya, Pak." Tina mengangguk antusias, bibirnya tersenyum bahagia terlebih lagi saat melihat penampilannya tadi di kaca.

"Ya sudah, kamu boleh ambil itu."

"Terima kasih, Pak."

"Jangan lupa kamu beli sepatu dan tasnya juga ya, cari yang serasi dengan gaun itu." Alfan memberikan sebuah kartu ke arah Tina, seperti biasa asistennya itu yang akan membayarnya.

"Baik, Pak." Tina mengangguk mengerti sembari mengambil kartu itu lalu kembali masuk ke dalam, tanpa menyadari bagaimana Alfan menghembuskan nafas leganya, merasa tak karuan di dalam dadanya. Jantungnya berdebar kencang, melihat Tina tersenyum dengan cantiknya.

"Apa-apaan ini?" Alfan bergumam kesal, merasa tak percaya dengan matanya yang bisa-bisanya terpesona dengan penampilan Tina sampai membuatnya hampir ketahuan.

"Oke, aku harus tenang. Tina enggak boleh tahu kalau aku suka sama dia. Ya, aku harus bersikap seperti biasanya, tenang dan menyebalkan." Alfan mengangguk mengerti dengan sesekali menghela nafas panjangnya, berusaha untuk menenangkan perasaannya.

"Pak, saya sudah membayarnya." Tina memberikan kartu itu ke pemiliknya, sedangkan Alfan hanya mengangguk dan mengambilnya.

"Kita mau ke mana lagi, Pak?"

"Ke salon."

"Salon? Untuk apa, Pak?"

"Untuk mendandani kamu lah." Alfan melangkahkan kakinya yang diikuti Tina dari belakangnya.

"Saya kan bisa dandan sendiri, Pak."

"Kamu pikir, dandanan kamu selama ini bagus? Enggak, bahkan sangat buruk." Alfan membalikkan tubuhnya ke arah Tina yang terdiam lalu menghela nafas kesalnya.

"Tapi, Pak, saya kan cuma asisten Anda, jadi kenapa saya harus dandan berlebihan? Saya akan dandan seperti biasanya." Tina menjelaskan dengan tegas, sedangkan Alfan yang memang tidak mau mengatur Tina hanya terdiam memikirkannya. Bila mendengar saran mamanya, ia harus membelikan Tina baju, sepatu, tas, dan mengajaknya ke salon. Namun Tina menolak, entah apa yang harus Alfan lakukan untuk membujuknya.

"Jangan buat saya malu, kamu itu harus dandan. Jangan membantah!" Alfan menjawab tegas, membuat Tina geram dengan tingkah laku bosnya. Sebenarnya ia siapa untuk bosnya? Asisten pribadinya yang bekerja untuknya kan, lalu kenapa bosnya itu memperlakukannya seperti ia adalah kekasihnya, pikir Tina kesal.

"Terserah Bapak." Tina menjawab pasrah pada akhirnya, merasa tidak bisa membantah ucapan bosnya, atau kalau tidak ia akan kehilangan pekerjaannya.

"Bagus. Ayo pergi ke salon!" Alfan kembali melangkahkan kakinya, sedangkan Tina hanya mengangguk lalu berjalan di belakangnya.

***

Setelah mengantarkan Tina ke salon, Alfan pulang ke kamar hotelnya setelah tadi sempat makan siang di sebuah restoran. Sekitar jam empat sore, ia akan menjemput Tina yang harus sudah berdandan rapi.

Mereka harus datang ke acara pertunangan anak dari rekannya, mewakili orang tua Alfan yang sengaja tidak datang dan harus diwakilkan oleh Alfan. Acara itu dicatat sebagai perjalanan bisnis, hal itu sengaja Alfan lakukan supaya ia memiliki alasan untuk mengajak Tina ke Surabaya.

Sebenarnya tanpa Tina pun, Alfan bisa datang sendiri, bahkan orang tuanya ikut pun tidak akan kenapa, saking dekatnya hubungan mereka sebagai rekan kerja. Namun Alfan justru memiliki ide ini beberapa hari yang lalu, ia bahkan sudah berbicara dengan orang tuanya yang sepenuhnya mereka setuju.

Jujur saja, bisa mengajak Tina ke sebuah perjalanan seperti ini itu rasanya menyenangkan, Alfan bisa melihat Tina terlelap, sesuatu yang hanya bisa ia bayangkan sebelumnya. Meskipun mereka tidak seranjang, namun tetap saja Alfan merasa sangat bahagia.

Sekarang yang harus Alfan lakukan adalah mandi dan membersihkan diri, ia juga harus bersiap-siap sebelum menjemput Tina di salon.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!