NovelToon NovelToon
Kembali Ke Meja Yang Sama

Kembali Ke Meja Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Bersama

Tiga hari setelah rapat pertama itu, Alya masih belum sepenuhnya pulih dari kalimat terakhir yang diucapkan Raka. *Aku nggak pernah benar-benar bisa melupakannya.* Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, di sela-sela rapat lain, di tengah makan siang sendirian di kantin, bahkan saat ia mencoba tidur malam harinya. Ia bertanya-tanya apakah kalimat itu benar-benar diucapkan, atau hanya imajinasinya yang terlalu berharap.

Pagi itu, notifikasi email masuk ke laptopnya. Subjek: **Kick-off Proyek Kampanye Q4 — Tim Gabungan Marketing & Brand.**

Alya membuka email itu dengan perasaan campur aduk, dan firasatnya benar. Di daftar tim inti proyek, hanya ada empat nama. Salah satunya: Raka Pradana, sebagai *project lead*. Satunya lagi: Alya Ramadhani, sebagai *penanggung jawab strategi konten*.

Mereka akan bekerja berdampingan, bukan sekali dua kali, tapi selama tiga bulan ke depan.

"Ya Tuhan," gumam Alya pelan, menyandarkan punggung ke kursi kerjanya.

Nadia, yang duduk di sebelahnya, melirik layar Alya. "Wih, kamu masuk tim kampanye besar itu? Selamat dong!"

"Iya," jawab Alya, mencoba tersenyum. "Selamat."

Tapi di dalam hatinya, ia tahu tiga bulan ke depan akan menjadi ujian terberat yang pernah ia hadapi — bukan soal pekerjaan, tapi soal menjaga hatinya tetap utuh setiap kali harus duduk satu meja dengan Raka.

---

Rapat kick-off dimulai pukul sepuluh pagi. Ruangan yang sama, meja yang sama tempat Raka mengucapkan kalimat itu tiga hari lalu. Kali ini, hanya empat orang di ruangan: Raka, Alya, seorang desainer bernama Dimas, dan seorang analis data bernama Ratih.

Raka membuka presentasi dengan profesionalisme yang sama dinginnya seperti rapat sebelumnya, seolah percakapan pribadi mereka waktu itu tidak pernah terjadi. Ia menjelaskan target kampanye, timeline, dan pembagian tugas dengan lancar, tanpa sekali pun menatap Alya lebih lama dari yang diperlukan.

"Alya akan memimpin strategi konten," kata Raka, matanya sekilas melirik ke arah Alya sebelum kembali ke slide presentasi. "Kita akan sering koordinasi berdua untuk memastikan konten sejalan dengan arah brand."

*Koordinasi berdua.* Dua kata itu terasa seperti hukuman dan hadiah dalam waktu yang bersamaan.

Rapat berjalan lancar selama satu jam. Alya berusaha keras menjaga fokusnya pada pekerjaan, mencatat setiap arahan, memberikan masukan yang relevan. Ia berhasil — sampai rapat berakhir dan Dimas serta Ratih pamit lebih dulu, meninggalkan Alya dan Raka berdua di ruangan, seperti déjà vu dari hari itu.

"Kita perlu duduk bareng minggu ini buat bahas draf konten pertama," kata Raka, nada suaranya kembali ke mode profesional yang datar. "Kamu ada waktu Kamis sore?"

"Ada," jawab Alya singkat.

Raka mengangguk, mulai merapikan laptopnya. Tapi sebelum ia benar-benar berdiri, ia berhenti, menatap Alya dengan ekspresi yang sedikit berbeda — lebih lunak dari biasanya.

"Alya," katanya pelan. "Soal yang kemarin—"

"Nggak usah dibahas," potong Alya cepat, mencoba menghindar dari topik yang sudah membuatnya tidak bisa tidur tiga malam berturut-turut. "Kamu bilang sendiri, kan? Kita harus profesional."

Raka terdiam sejenak, tatapannya menajam sedikit, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin ia katakan tapi memilih untuk tidak mengatakannya. "Benar," katanya akhirnya. "Profesional."

Ia berdiri, mengambil laptopnya, lalu berjalan ke pintu. Tapi kali ini, ia tidak berhenti untuk mengucapkan kalimat misterius seperti sebelumnya. Ia hanya keluar, meninggalkan Alya sendirian dengan rasa lega sekaligus kecewa yang aneh — perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan terhadap seseorang yang sudah menyakitinya.

---

Kamis sore tiba lebih cepat dari yang Alya harapkan.

Ia duduk di ruang meeting kecil, laptop terbuka, draf konten kampanye sudah disiapkan rapi. Raka masuk beberapa menit kemudian, membawa dua cangkir kopi — satu diletakkan di depan Alya tanpa berkata apa-apa.

Alya menatap cangkir itu, lalu menatap Raka. "Kamu masih inget aku suka americano tanpa gula?"

Raka duduk di kursi seberangnya, membuka laptopnya sendiri, menghindari kontak mata langsung. "Kebiasaan lama susah hilang," jawabnya singkat, seolah itu bukan hal besar — padahal bagi Alya, itu adalah hal yang sangat besar.

Mereka mulai membahas draf konten, dan untuk sesaat, suasana terasa lebih ringan dari yang Alya duga. Raka memberikan masukan yang tajam tapi membangun, sama seperti dulu saat mereka masih sering diskusi tugas kuliah berdua sampai larut malam. Ada momen-momen kecil di mana mereka tertawa bersama — soal ide konten yang terlalu absurd, soal typo konyol di slide Alya — dan sejenak, semua terasa seperti dulu, sebelum semuanya hancur.

Tapi kemudian, ponsel Raka bergetar di meja. Sebuah nama muncul di layar: **Sarah 🖤**

Wajah Raka berubah seketika. Ia buru-buru meraih ponselnya, mematikan notifikasi dengan gerakan cepat, lalu menatap Alya dengan ekspresi yang sulit dibaca — antara canggung dan sesuatu yang lebih dalam.

"Maaf," katanya, suaranya tiba-tiba lebih kaku dari sebelumnya. "Kita lanjutkan?"

Alya mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang jauh dari draf konten di layar laptopnya. *Sarah.* Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, tapi entah kenapa, emoji hati kecil di samping nama itu terasa seperti tamparan yang tidak terduga.

Ia mencoba fokus kembali ke pekerjaan, tapi satu pertanyaan terus menghantui pikirannya sepanjang sisa rapat: *Siapa Sarah, dan kenapa nama itu membuat Raka begitu gugup?*

Rapat berakhir setengah jam kemudian. Raka berkemas lebih cepat dari biasanya, terburu-buru seperti ingin segera pergi. Di pintu, ia berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu — tapi akhirnya hanya berkata, "Terima kasih buat hari ini," sebelum benar-benar menghilang di lorong kantor.

Alya duduk sendirian, menatap layar ponselnya sendiri, lalu tanpa sadar mengetik nama itu di kolom pencarian media sosial: *Sarah.*

Hasil pencarian muncul dalam hitungan detik, dan jantung Alya seketika berhenti sejenak saat melihat foto profil yang muncul di layar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!