Rania menatap tubuh Rina yang terlihat begitu kurus kering seolah tidak memiliki daging, padahal bisa dibilang bahwa Rina memiliki porsi makan yang begitu banyak ketika sedang mengisi perut, namun entah ke mana semua makanan yang sudah masuk sehingga dia terlihat begitu kurus dan pucat.
"Kok Mbak punya air susu?" Rania bertanya dengan nada heran.
Namun pertanyaan itu tidak pernah Rina jawab, tentu saja membuat Rania semakin bingung sehingga dia memutuskan untuk mencari tahu Dan setelah sedikit demi sedikit mengetahui maka Rania yang menjadi sangat syok, terlebih lagi dia juga menyadari bahwa Rina sama sekali tidak memiliki bayi namun dia terus memiliki air susu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Menemukan mayat
Arin dan juga Ayu bergegas menuju halaman belakang karena mereka mendengar suara jerit itu dari arah sana, Ros mulai merasa tidak enak namun dia tetap ikut saja karena bila tinggal sendiri yang di dalam rumah maka itu terasa jauh lebih menakutkan lagi, entah apa yang akan dia lihat nanti namun yang jelas lebih baik untuk tetap ikut seperti ini.
Ayu masih mendengarkan lebih seksama karena mereka tidak tahu suara itu berasal dari mana dengan lebih jelas, bila terdengar sekali lagi maka dapat dipastikan mereka bisa mendengar dan mendatangi lokasi itu, bahkan tadi suara tersebut juga terdengar sama sekali sehingga membuat mereka merasa agak ngeri, ditambah lagi sekarang adalah malam hari.
Ros bergegas memegang tangan Arin karena dia tidak mau bila berjalan sendirian dan nanti justru akan melihat sesuatu yang mengerikan, bila dia melihat sendiri maka nanti yang ada Ros akan membuat heboh seluruh kampung karena dia pernah melihat arwah Rina secara sendirian.
Angin gemerisik dan juga suara jangkrik memenuhi pendengaran mereka sehingga membuat suasana semakin terasa, berulang kali mata Arin melirik ke arah pohon pisang yang ada di dekat rumah Ilham karena sejak tadi dia melihat bayangan yang terus melintas namun bayangan itu tidak mau berhenti sehingga Arin tidak bisa memastikan itu bayangan siapa.
Tapi yang jelas Arin melihat sendiri bahwa ada bayangan melintas ke sana dan kemari sehingga membuat dirinya sangat penasaran, Ayu berjalan terlebih dahulu meski dia menyimpan rasa takut namun tetap saja rasa penasaran yang ada di dalam hati jauh lebih besar lagi sehingga dia memutuskan untuk mendatangi tempat tersebut.
''Yu, kenapa malah mendatangi pohon pisang itu?'' Arin berteriak memanggil sang adik.
''Kenapa dia berani sekali seperti itu?'' Ros menatap kanan kiri dan tetap memegang erat tangan Arin.
''Kau jangan kencang sekali memegang aku seperti ini, nanti kalau ada apa-apa malah aku tidak bisa lari.'' Arin segera melepaskan diri.
Beda dengan Ayu yang masih tetap berniat untuk mendatangi pohon pisang gerombolan yang ada di belakang rumah tersebut, ada sesuatu yang sangat menarik perhatian dia sehingga membuat wanita ini tertarik untuk mendekati dan melihat Apakah memang ada yang tidak beres dengan pohon pisang di belakang rumah milik Ilham itu.
Krosaaak.
''Allahu Akbar!'' Ayu berteriak keras karena dia kaget ada sesuatu yang keluar dari pohon pisang.
''Apa?!'' Arin dan juga Ros segera datang mendekat karena mereka sama sekali tidak melihat apa-apa.
''A... ada bocah kecil tadi.'' Ayu menjadi gugup Bukan main karena barusan memang melihat bocah kecil.
''Hiiihh udahlah tidak usah dicari lagi karena kita juga tidak tahu itu tadi apa.'' Ros sudah tidak memiliki nyali lagi.
''Eh itu kok seperti darah yang mengalir di dekat pintu dapur Ilham.'' Arin menggunakan senter pada ponsel untuk melihat lebih dekat.
''Ya allah, ini kapan masuk ke dalam rumah lagi?'' Ros mengeluh karena dia memang sudah tidak tahan.
Tadi Ayu yang tetap kekeh ingin mendatangi pohon pisang itu dan sekarang malah Arin melihat sendiri ada darah merembes dari bawah pintu rumah milik Ilham, darah yang lumayan banyak sehingga membuat mereka penasaran apa yang telah terjadi di dalam sana sehingga darah itu bisa sampai keluar.
''Darah, ini memang darah yang keluar dari dalam rumah.'' Arin agak berteriak karena dia merasa agak kaget.
''Ayo cepat Panggil Ilham karena aku takut ada sesuatu terjadi, mana Aku tidak melihat Rania seharian.'' Ayu sudah cemas bukan main.
''Loh iya, aku memang tidak melihat Rania sehari ini.'' Ros juga kaget dan mendadak dia merasa takut.
''ILHAAAAAM!'' Ayu berteriak keras dan menggedor pintu belakang.
''Ya allah, semoga tidak terjadi apa-apa kepada Rania.'' Arin juga takut dan merasa kasihan dengan gadis yang sebatang Kara itu.
''Biar aku panggil dari bagian depan karena Siapa tahu saja dia ada di sana.'' Ros berlari kencang dan dia lupa dengan rasa takut itu.
''Ilhaaaaam, buka pintu kau ini.'' Ayu masih saja terus berteriak kencang sembari mendobrak.
''Jangan begitu, mau bagaimana juga ini adalah rumah dia Dan kita tidak pantas bertamu seperti itu.'' Arin berusaha menghentikan sang adik yang sudah dilanda oleh panik dan emosi.
Ros yang sudah ada di bagian depan mendadak saja semakin tegang ketika melihat Ilham yang baru pulang sambil membawa kantong kresek, agak kaget sehingga dia tersentak dan mengira tadi Ros bukan manusia, sebab Ros keluar dari arah samping sehingga membuat pria itu merasa bahwa tadi ada sosok hantu yang mendatangi dirinya.
''Apa sih, membuat orang kaget saja karena muncul secara mendadak.'' Ilham menatap Ros dengan pandangan tidak suka.
''Kau buka sekarang juga pintu belakang itu dan mari kita lihat siapa yang sudah celaka di dalam sana!'' Ros berkata sambil berkacak pinggang.
''Apa sih, kalian itu kalau tidak mengusik hidup aku sehari saja mungkin sangat rugi ya.'' Ilham malah berkata dengan sinis.
''Heh gila, aku datang ke sini karena merasa cemas setelah tidak melihat Rania seharian dan sekarang di pintu belakang kau itu banyak darah.'' bentak Ros.
''Fitnah apa lagi ini? tidak cukup hanya mengambil uang aku seperti itu dan sekarang malah mau membuat fitnah juga!'' sengit Ilham.
''Apa salah nya sih tinggal buka saja, wong aku yo ndak mau ambil harta mu!'' Ros kesal Bukan main dengan tingkah Ilham.
''Ini hak ku, mau buka Atau tidak kalian tidak perlu ikut campur karena ini adalah rumah yang aku miliki sendiri.'' Ilham tetap saja keras kepala.
Tapi mendadak saja dia semakin kaget ketika mendengar suara Ayu yang terus berteriak memanggil nama dia, belum lagi dia juga mendengar suara pintu yang dihantam berulang kali sehingga membuat Ilham merasa begitu kesal dan akan membantai mereka bila tidak mau pergi sekarang juga dari rumah dia ini.
Maka pria ini segera masuk ke dalam rumah dan membuka pintu depan, Ros juga mengikuti dan tidak peduli walau nanti Ilham akan marah-marah namun yang jelas dia harus memastikan terlebih dahulu apakah yang ada di dalam itu adalah Rania, sejak tadi dia sudah kepikiran tentang hal tersebut dan takut bila ternyata nanti Rania yang akan celaka.
''Hah!'' Ilham tersentak kaget ketika melihat Delisa tergeletak di atas lantai.
''Bukan Rania kan?!'' Ros maju terlebih dahulu untuk melihat wajah wanita itu.
''Delisa! apa yang terjadi kepada dirimu?'' Ilham berteriak dan memeluk jasad wanita yang akan dia nikahi itu.
Ros tertegun sesaat namun di dalam hati dia masih merasa senang karena ternyata bukan Rania yang menjadi korban, cepat-cepat Ros membuka pintu belakang agar Ayu dan juga Arin bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Delisa yang di dalam rumah ini, sebab sampai sekarang Ayu masih terus saja berteriak dan menendang pintu belakang.
Selamat malam, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya, Terima kasih sudah membaca cerita saya hari ini.