NovelToon NovelToon
Terbangun Jadi Istri Gebetanku

Terbangun Jadi Istri Gebetanku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Amnesia / Rumah Tangga-Anak Genius / Gadis Amnesia / Tamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Juliana membuka mata di kamar mewah yang tak dikenalnya dan merasa baru berumur delapan belas tahun. Di cermin, ada perempuan dua puluh empat tahun yang menatap balik. Di jarinya melingkar cincin. Di rumah itu ada anak kecil yang menatapnya penuh harap, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya.

Dan pria yang ada di sampingnya, ayah dari anak itu, adalah Samudra Adhitama Wiratama. Cowok es dari kampus yang dulu dia kejar-kejar. Suaminya.

Masalahnya, Samudra memandangnya seperti orang asing. Seluruh kota mengenalnya sebagai istri yang dingin, matre, dan kejam. Orang tuanya sendiri sudah enam tahun tak mau bicara dengannya. Sahabatnya menyimpan luka. Tak ada yang percaya padanya, dan sebagian besar dirinya pun tak tahu lagi siapa dia.

Enam tahun lenyap begitu saja. Siapa yang merampasnya, dan kenapa?

Sementara Ju berusaha memahami perempuan yang pernah dia jadi, Samudra mulai curiga bahwa kebenaran yang dia pegang selama ini hanyalah cerita yang ditanam orang lain. Ada foto yang terlalu rapi. Ada dokter yang terlalu tenang. Dan ada orang-orang yang diam-diam diuntungkan.

Cinta pertama yang tertunda enam tahun. Keluarga kaya raya yang saling menjerat. Seorang putri kecil yang berhenti bicara. Dan seorang istri yang bertekad merebut kembali namanya.

Kalau cinta bisa dihapus, apakah ia masih bisa ditemukan lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

POV: Ju

Keesokan harinya aku terbangun dengan keputusan yang sudah bulat. Aku tinggal. Aku tinggal di rumah asing ini, bersama suami yang dingin dan anak yang menjauhiku, dan aku akan memperbaiki semuanya, satu keping demi satu keping. Kalau ada yang lebih sulit daripada merebut kembali pria yang ingin bercerai, itu adalah merebut kembali hati anak tiga tahun yang tidak bicara. Jadi dari dialah aku akan mulai.

Kutemukan Kira di ruang keluarga, bertengger di sudut sofa dengan boneka kelincinya terjepit di pangkuan. Kuambil biskuit dari dapur, jenis biskuit susu yang disukai semua anak, lalu kudekati pelan-pelan, tubuh merendah, dengan suara paling lembut yang kupunya.

"Hai, Sayang. Ini ada satu buat kamu."

Dia melihatku datang dan bereaksi seperti hewan kecil yang ketakutan. Dia menyelip ke balik lengan sofa, lalu merosot ke lantai dan masuk ke kolong meja tamu, memeluk bonekanya, mata besarnya terpaku padaku, tanpa suara sedikit pun. Tak ada tangis. Tak ada jeritan. Hanya keheningan yang lebih menyakitkan daripada tantrum apa pun.

Kuletakkan biskuit itu di lantai, di tepi meja, tanpa memaksa, lalu duduk di karpet tak jauh dari sana, menjaga jarak.

Bi Nur muncul membawa keranjang cucian dan berhenti begitu melihatku duduk di lantai. Dia menurunkan keranjangnya dan duduk di kursi berlengan, dengan gerak orang yang sudah lama ingin membicarakan hal ini.

"Dokter memberi nama untuk ini, Bu Juliana. Mutisme selektif." Suaranya direndahkan agar Kira tak mendengar. "Bukan berarti Non Kira nggak bisa bicara. Dia berhenti. Kata dokter, itu akibat terlalu lama merasa sendirian, di rumah di mana semua orang bertengkar atau tak ada yang memperhatikannya." Dia berhenti sejenak, hati-hati. "Katanya ini nggak selamanya. Dengan kesabaran, kasih sayang, dengan orang-orang yang benar-benar ada di dekatnya, dia akan bicara lagi. Tapi nggak ada gunanya dituntut."

Rumah di mana tak ada yang memandangnya. Aku mengerti apa yang tak berani dikatakan Bi Nur secara terang-terangan. Anak ini tidak lahir pendiam. Dia jadi pendiam karena belajar bahwa tak ada yang datang. Dan perempuan yang seharusnya datang adalah aku.

Dadaku sakit sekali sampai aku harus menarik napas dalam agar tak menangis di depannya.

"Siapa namanya?" tanyaku, menunjuk boneka itu dengan dagu.

Bi Nur tersenyum kecil. "Bobo. Non Kira sendiri yang memberi nama, sebelum berhenti bicara. Itu kata terakhir yang kami dengar darinya untuk waktu yang lama. 'Bobo.'" Dia mengangkat keranjangnya dan berdiri. "Dia nggak mau lepas dari kelinci itu. Tidur, makan, mandi, selalu ditemani dia."

Bobo. Kusimpan nama itu seperti orang menyimpan kunci.

Aku tidak mencoba mendekat. Aku justru melakukan sebaliknya. Aku tetap duduk di karpet, bersandar ke dinding dekat meja, dan mulai berbicara sendiri dengan nada pelan, seolah menceritakan rahasia kepada udara.

"Tahu nggak, Kira, waktu aku seumur kamu, aku juga punya boneka. Jerapah. Tapi jelek banget, satu matanya hilang, dan aku manggil dia Jerapah aja, soalnya aku nggak sekreatif kamu." Aku melanjutkan tanpa menatap langsung ke anak itu. "Aku bawa Jerapah ke mana-mana. Dan kalau malam aku takut, aku cerita semuanya ke dia. Soalnya ada hal yang nggak bisa kita ceritakan ke siapa pun, tapi bisa kita ceritakan ke bonekanya."

Di bawah meja, mata Kira bergerak. Dia tidak keluar. Tidak mengambil biskuit. Tapi dia berhenti mundur, dan mendengarkanku dengan dagu bertumpu di kepala Bobo.

"Aku tahu aku agak aneh buat kamu," lanjutku, menatap dinding, bukan dia, supaya tak menakutinya. "Aku juga lagi mengenal semuanya dari awal. Rumah besar ini, papamu, kamu. Tapi ada satu hal yang sudah kuhafal di luar kepala, walau aku nggak ingat. Aku tahu aku sayang kamu. Itu nggak mungkin dilupakan. Pasti tersimpan di tempat yang nggak terjangkau benturan di kepalaku."

Dia berkedip pelan. Dia tidak mendekat, tidak bicara, tidak membuat masa depan kami muat dalam sehari. Tapi ketika aku bangkit untuk pergi, tanpa memaksa, kubiarkan biskuit itu di tempatnya. Satu jam kemudian aku kembali, dan biskuitnya sudah hilang, hanya remah kecil tersisa di sudut meja, dan Bobo duduk di tempat biskuit tadi, seolah dia menukar yang satu dengan yang lain.

Itu kemenangan yang cukup untuk satu hari.

Lebih sore, ketika aku merapikan kamarnya sementara dia tidur siang sambil memeluk kelincinya, aku membungkuk untuk memungut beberapa mainan di bawah lemari laci dan tanganku menyentuh sampul kulit yang kukenal. Diariku. Yang sama dengan yang kutemukan di meja rias dan kusimpan tanpa berani membacanya dengan benar. Seseorang, mungkin aku sendiri, telah mendorongnya ke bawah perabot anak itu, seolah ingin menyembunyikannya bahkan dari diriku sendiri.

Aku duduk di lantai dan membuka halaman acak dari bagian akhir, di bawah cahaya redup lampu tidur Kira.

Tulisannya buruk. Gemetar, rapat, tergesa, tulisan orang yang menulis dengan tangan gelisah. Dan di antara baris-baris coretan itu, satu kalimat yang membuat jantungku berdegup begitu keras sampai kudengar dentumannya di telinga:

kenapa aku takut terus-terusan? obat yang dia kasih

Sisa kalimatnya buram, terhapus noda lama, seolah setetes air mata pernah jatuh di sana dan tak pernah benar-benar kering.

Tanganku gemetar. Diari itu nyaris merosot dari pangkuanku.

Itu bukan tulisan perempuan yang meninggalkan keluarganya demi pria lain. Itu tulisan seseorang yang sangat ketakutan. Dan obat apa itu? Siapa "dia" itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!