NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Ketemu Lagi

Jari Karina menekan bel.

Suara dari dalam kamar langsung berhenti. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki dan bunyi pengaman pintu dibuka.

"Makanannya taruh saja di..."

Andri membeku.

Karina berdiri di hadapannya dengan punggung tegak. Dia tidak tahu dari mana kekuatan itu datang. Mungkin dari sepuluh tahun yang baru saja diinjak-injak. Mungkin dari lilin kecil di atas troli yang masih menyala di sampingnya.

"Rin?"

Tamparannya mendarat lebih dulu.

Suara keras itu memantul di lorong. Kepala Andri terlempar ke samping. Bekas lima jari cepat memerah di pipinya.

"Perjalanan dinasmu nyaman?" tanya Karina.

Andri memegang pipi, matanya bergerak liar ke kanan dan kiri. "Kamu ngapain di sini?"

"Aku yang bertanya." Karina menunjuk ke dalam kamar. "Surabaya pindah ke lantai sepuluh Hotel Astoria sejak kapan?"

"Dengar dulu, Rin. Aku bisa jelaskan."

"Silakan. Jelaskan kenapa kamu check-in pakai KTP sambil merangkul perempuan lain. Jelaskan suara siapa yang memanggilmu Aa dari kamar ini."

Wajah Andri kehilangan warna. "Maaf. Aku khilaf."

"Khilaf tidak memesan kamar, steak, mawar, dan lilin sekaligus. Itu namanya rencana."

Pintu terbuka lebih lebar. Seorang perempuan muncul dengan gaun tidur tipis berwarna merah marun. Rambutnya masih basah, wajahnya cantik dan jauh lebih muda daripada Karina.

"Aa, lama banget. Siapa sih?"

Tatapan perempuan itu jatuh pada Karina. Kejutan di wajahnya hanya berlangsung sebentar sebelum berubah menjadi senyum tipis.

Jadi dia tahu.

"Tania, masuk dulu," kata Andri cepat.

"Kenapa aku harus masuk?" Tania menyilangkan tangan di dada. "Dia istrimu?"

Karina menatap Andri. "Setidaknya dia lebih berani daripada kamu."

"Jangan bikin keributan di sini," desis Andri. "Kita bicara di rumah."

"Rumah? Kamu masih ingat kita punya rumah?"

Tania mendecakkan lidah. "Kalau suami sampai cari perempuan lain, harusnya introspeksi. Jangan datang dan teriak-teriak seperti orang gila."

Tangan Tania melayang ke arah wajah Karina.

Karina menangkap pergelangannya.

Gerakannya begitu cepat hingga Andri terlambat bereaksi. Karina menarik tangan itu ke samping, membuat keseimbangan Tania goyah. Perempuan muda tersebut jatuh terduduk di atas karpet.

"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru kamu pakai memeluk suamiku."

Tania menatapnya dengan mata membesar. Lalu telapak tangannya segera menutupi perut.

"Aduh... perutku. Aa, anak kita."

Dua kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan mana pun.

Anak kita.

Andri langsung berlutut di samping Tania. "Sakit di mana? Kita ke rumah sakit sekarang."

"Aku takut, Aa."

"Nggak apa-apa. Aku di sini."

Nada lembut itu pernah dipakai Andri untuk menenangkan Karina di ruang tunggu klinik kesuburan. Dulu, tangan yang sama mengusap punggungnya ketika hasil pemeriksaan kembali buruk.

Sekarang tangan itu melindungi perut perempuan lain.

Karina tidak menangis. Rasa sakitnya terlalu besar sampai tubuhnya lupa caranya.

"Dia hamil?" Suaranya nyaris tak terdengar.

Andri menengadah. Tidak ada lagi ruang untuk berbohong di wajahnya. "Rin, aku sebenarnya mau bilang."

"Kapan? Setelah anaknya lahir? Atau setelah ibumu mengusirku karena aku tidak bisa memberi cucu?"

"Jangan bawa Mama. Ini salahku."

"Benar. Ini salahmu." Karina mengeluarkan ponsel dari saku blazer dan menghentikan rekaman. "Dan sekarang aku punya cukup bukti supaya kamu tidak bisa mengubah ceritanya besok pagi."

Andri berdiri. "Rin, tunggu."

Karina mundur sebelum dia sempat menyentuhnya. "Jangan panggil namaku seolah kamu masih berhak."

Dia berbalik dan berjalan menuju lift. Di belakangnya, Tania kembali mengaduh. Langkah Andri yang sempat mengejar langsung berhenti.

Pilihan yang sederhana.

Andri tetap memilih perempuan itu.

Pintu lift terbuka. Karina masuk, menekan tombol lobi, lalu berdiri di sudut. Saat pintu menutup, lututnya kehilangan tenaga. Dia bersandar pada dinding logam dan menggigit bibir sampai terasa asin.

Jangan menangis di depan mereka.

Angka lantai turun satu per satu.

Di lantai tiga puluh enam, Nathan sebenarnya baru saja menjatuhkan tubuh ke ranjang. Penerbangan dari Singapura terlambat dua jam, Nick sudah tiga kali menelepon mengajak keluar, dan dia menolak semuanya. Dia hanya ingin mandi lalu tidur.

Namun wajah perempuan di lobi terus muncul di kepalanya.

Pelukan panik itu masih meninggalkan jejak hangat di pinggangnya. Perempuan tersebut terlihat lebih dewasa darinya, mungkin hampir tiga puluh, dengan mata berwarna madu yang sedang ketakutan. Nathan terbiasa dikejar perempuan yang tahu siapa dirinya. Yang satu itu bahkan tidak sempat menanyakan namanya.

Justru itulah yang membuatnya penasaran.

Dia juga ingin tahu siapa lelaki yang sanggup membuat perempuan seteguh itu bersembunyi di pelukan orang asing, lalu berjalan pergi dengan wajah sehancur tadi.

Ketika hendak memesan makan malam, dia melihat koper yang tadi sempat terjatuh dan menyadari tag bagasinya terlepas. Dia memasukkan tag itu ke saku, lalu keluar untuk mencari minuman dingin. Entah kebetulan atau bukan, lift yang datang membawa perempuan yang sama.

Tiga puluh enam.

Pintu terbuka lagi.

Seorang pemuda masuk sambil memasukkan kartu kamar ke saku. Rambut abu-abunya sedikit berantakan, seolah dia baru mandi lalu berubah pikiran untuk keluar. Karina mengenali anting hitam itu lebih dulu.

Pemuda yang tadi dipeluknya.

Dia juga mengenali Karina. Tatapannya turun ke wajah pucat, lalu ke tangan Karina yang masih gemetar.

"Kamu lagi," kata Karina pelan.

"Harusnya aku yang bilang begitu."

Karina memalingkan wajah. Pantulan dirinya di dinding lift tampak menyedihkan. Dia mengusap sudut mata dengan kasar, tetapi satu tetes air telanjur jatuh.

Pemuda itu tidak bertanya. Dia hanya menekan tombol penahan pintu ketika Karina tampak kesulitan bernapas.

"Mau keluar dulu?"

"Nggak perlu."

"Kalau pingsan, aku tetap harus nangkap kamu. Kita baru kenal lima menit, tapi pekerjaanku banyak juga."

Karina hampir marah. Namun nada malas itu justru membuat simpul di dadanya sedikit longgar.

"Aku nggak akan pingsan."

"Bagus." Dia berdiri di samping Karina, tidak terlalu dekat. "Berarti masih bisa marah."

Karina menatap angka lantai yang terus turun. Di kepalanya, suara Tania bergema.

Anak kita.

Delapan tahun dia berusaha. Delapan tahun dia meminta maaf kepada Andri untuk sesuatu yang tidak pernah dia pilih. Perempuan lain datang dan memberi Andri apa yang tidak bisa dia berikan.

Mungkin itu sebabnya dia disingkirkan semudah ini.

"Dia selingkuh?" tanya pemuda itu akhirnya.

Karina tertawa tanpa suara. "Kelihatan sekali, ya?"

"Aku lihat kamu mengikuti pasangan dari lobi. Lalu kamu memelukku seperti nyawamu bergantung di situ."

"Lupakan saja."

"Sulit."

Karina menoleh. "Kenapa?"

Tatapan pemuda itu singgah di wajahnya dengan keberanian yang membuat napasnya tersendat. Tidak ada rasa kasihan di sana. Hanya ketertarikan yang terang-terangan dan sedikit bahaya.

Lift berbunyi saat mencapai lantai dua puluh.

Dia tersenyum tipis.

"Ketemu lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!