Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Keesokan paginya, suasana tenang di apartemen seketika pecah oleh dering telepon Rimba yang berbunyi nyaring tak henti-hentinya.
Pria itu mengangkat panggilan dari Dio, dan seketika raut wajah sang CEO membeku total.
Berita duka mendadak mengguncang: kapal kargo utama pembawa pasokan tonan ikan segar—yang diperuntukkan bagi kelangsungan operasional pabrik pengolahan serta pasokan utama para pedagang di pasar—tenggelam dihantam ombak besar di perairan selatan.
Rimba terdiam mematung di sudut ruang tengah, jemarinya mengepal erat.
Pikiran pria itu berputar hebat; pasokan ikan segar dalam jumlah ribuan ton bukan hal yang mudah didapatkan dalam hitungan jam.
Tanpa pasokan itu, pabrik akan mati total dan ratusan pedagang pasar yang menggantungkan hidup padanya akan kehilangan mata pencaharian.
Ia benar-benar buntu dan tidak tahu harus mencari pasokan pengganti ke mana dalam waktu singkat.
Di saat yang bersamaan, ponsel Dayang di kamar berdering.
Suara Bang Jaka di ujung telepon terdengar panik luar biasa.
"Nduk! Gawat, Nduk! Kapal pasokan tenggelam!" seru Bang Jaka dengan napas memburu.
"Lapak-lapak di pasar kosong melompong, ikan tangkapan pelelangan lokal habis total! Kalau sampai nanti siang ndak ada pasokan masuk, semua pedagang rugi besar dan pabrik bisa bangkrut!"
Dayang terperanjat, berusaha duduk tegak di atas ranjang meski kakinya masih berbalut gips.
Belum sempat Rimba meredakan keterkejutannya, layar ponsel pribadinya kembali menyala dari nomor yang tidak dikenal. Pria itu mengangkatnya dengan dingin.
"Halo, Rimba Suryo," suara berat di ujung telepon tertawa tertahan penuh nada kemenangannya.
Tim dari musuh bebuyutan bisnis Rimba yang selama ini mengincar asetnya berada di balik panggilan itu.
"Bagaimana berita pagi ini? Menyenangkan, bukan?" kekeh musuh bisnisnya dengan licik.
"Kapalmu karam, pabrikmu terancam gulung tikar, dan pedagang-pedagang pasarmu akan kelaparan. Tapi aku punya penawaran menarik. Serahkan seluruh saham mayoritas perusahaanmu padaku sekarang juga, maka aku akan membuka kran pasokan armada kapalku untuk menyelamatkan pabrik dan pasarmu."
Rimba mengepalkan rahangnya, mata tajamnya berkilat menahan amarah yang membakar dada.
Dayang menggelengkan kepalanya tegas. "Jangan, Mas. Jangan pernah serahkan sahammu ke orang licik seperti mereka. Kita pasti bisa cari bantuan!"
Rimba mematikan ponselnya kasar, melemparkannya ke atas meja dengan napas memburu.
Ia meraup wajahnya kasar, tampak begitu tertekan dan terpuruk.
"Bantuan dari mana, Dayang?" tanya Rimba dengan suara bergetar dan sarat akan keputusasaan.
"Semua ikan tangkapan utama kita hanyut di laut. Pabrik terancam berhenti beroperasi, dan para tengkulak serta pedagang sekarang panik meminta ganti rugi yang ndak sedikit. Dalam hitungan jam, kerugian kita bisa mencapai puluhan miliar."
Dayang menatap calon suaminya yang sedang terpuruk itu dengan sorot mata lembut namun penuh ketegaran.
Pria yang biasanya berdiri kokoh, berwibawa, dan tak tergoyahkan sebagai seorang CEO, kini terlihat begitu rapuh di hadapannya.
Dayang mengulurkan tangannya, meraih jemari Rimba yang dingin dan mengepal erat, lalu menggenggamnya hangat.
"Mas Rimba," panggil Dayang pelan tapi penuh penekanan.
"Mas lupa kalau sebelum kenal Mas, aku dibesarkan di pesisir, Mas. Jaringan nelayan tradisional dari ujung barat sampai timur itu bukan sekadar pedagang buat aku, mereka itu keluarga."
Rimba mendongak, menatap mata Dayang dengan raut wajah bingung sekaligus secercah harapan yang mulai memercik.
"Maksudmu bagaimana, Sayang?" bisik Rimba.
Dayang tersenyum menenangkan. "Kapal kargo besar memang tenggelam, tapi ratusan kapal nelayan rakyat di pesisir selatan hari ini baru saja rapat dermaga setelah panen besar. Mereka belum menjual hasilnya ke tengkulak kota. Ambilkan ponselku, Mas. Biar Dayang yang hubungi Ketua Paguyuban Nelayan Pesisir."
Dayang memegang erat ponselnya, namun raut wajahnya mendadak berubah keruh.
Di ujung telepon, suara Ketua Paguyuban Nelayan yang biasanya hangat kini terdengar dingin dan memanfaatkan situasi terdesak yang dialami pabrik serta pasar.
"Dayang, kami tahu kapal kargo besar itu tenggelam dan pabrik CEO-mu itu lagi kepepet," ujar suara di telepon.
"Kalau mau pasokan seluruh ikan panen kami hari ini dikirim sekarang juga ke pabrik dan pasarmu, harganya tiga kali lipat dari harga normal. Harus tunai hari ini juga."
Dayang terbelalak tak percaya. Napasnya terengah menahan amarah yang membuncah di dadanya.
"Harga tinggi?! Kalian mau memerasku?!" tanya Dayang dengan suara bergetar menahan kekecewaan mendalam pada orang-orang yang dulu dianggapnya seperti keluarga sendiri.
"Terserah kamu, Dayang. Kalau ndak mau, pasokan ini langsung kami jual ke pihak lain yang sudah siap bayar tunai harga tinggi," ancam mereka dingin dari ujung telepon sebelum mematikan panggilan secara sepihak.
Dayang memejamkan mata erat-erat. Musuh Rimba rupanya sudah bergerak lebih dulu memprovokasi para nelayan pesisir dengan uang agar mereka menahan pasokan.
Kerugian puluhan miliar serta ancaman kebangkrutan pabrik kini benar-benar di depan mata jika pasokan tidak segera didapatkan hari ini.
Dayang menatap Rimba yang terduduk lesu di sampingnya dengan wajah pucat.
Tanpa ragu sedikit pun, Dayang kembali menyetel ponselnya dan mengetikkan pesan singkat.
"Baik, aku beli dengan pembayaran sertifikat rumah peninggalan orang tuaku sebagai jaminannya!" tegas Dayang pelan namun mantap.
Rimba yang mendengar hal itu langsung terperanjat.
Ia menahan tangan Dayang dengan mata membelalak panik.
"Dayang, jangan! Rumah itu satu-satunya kenangan dan harta peninggalan almarhum orang tuamu bersama Bintang! Mas, tidak akan biarkan kamu mengorbankan itu!"
"Mas, tidak apa-apa," bisik Dayang tulus, menyentuh pipi Rimba dengan kelembutan yang melimpah.
"Rumah bisa dicari lagi, tapi nama baik Mas, nasib ratusan pedagang pasar, dan keberlangsungan pabrik ndak bisa ditukar dengan apa pun."
"Tapi Dayang—"
"Mas juga sedang tidak ada dana tunai sebanyak itu sekarang karena semua Aset Mas dibekukan sementara akibat musuh, kan?" potong Dayang lembut.
"Izinkan Dayang bantu Mas kali ini. Kita berjuang sama-sama, ya?"
Rimba membeku, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan dan pengorbanan yang begitu luar biasa dari wanita yang sangat dicintainya itu.
Dayang dengan sigap mengetik nomor telepon Jamal.
Begitu panggilan terhubung, ia memberikan instruksi tegas namun tenang agar Jamal segera mengambil sertifikat rumah peninggalan orang tuanya dari lemari terkunci di rumah lama, lalu langsung menyerahkannya kepada Bang Jaka yang sudah bersiap di dermaga.
"Jamal, tolong ambilkan sertifikat rumah di lemari
kamar lama, kasihkan ke Bang Jaka sekarang juga ya. Ini darurat," pesan Dayang mantap sebelum menutup telepon.
Rimba yang menyaksikan semua itu tak mampu lagi menahan gejolak emosi di dadanya.
Mata sang CEO berkaca-kaca. Ia menarik tubuh Dayang ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu erat-erat dengan tubuh yang sedikit bergetar karena rasa haru dan penyesalan yang mendalam.
"Dayang, aku janji akan mengambil sertifikat itu lagi. Aku bersumpah demi hidupku, rumah itu akan kembali ke tanganmu dan Bintang tanpa kurang satu apa pun," bisik Rimba dengan suara serak, menyalurkan seluruh tekad dan janjinya.
Dayang mengusap lembut punggung Rimba, memberikan kehangatan dan kekuatan yang selama ini amat dibutuhkan calon suaminya.
"Iya, Mas. Aku percaya sama kamu," sahut Dayang tulus seraya mengurai pelukan mereka pelan.
Ditatapnya mata tajam Rimba yang kini kembali menyala.
"Sekarang Mas harus bangkit. Mas jangan menyerah! Hubungi Dio, temui para investor dan otoritas pelabuhan. Kita tidak boleh kalah sama permainan licik mereka!"
Sentuhan dan kata-kata tegar Dayang seketika membakar kembali semangat Rimba yang sempat padam.
Pria itu mengangguk mantap, mengusap air mata di sudut matanya, lalu meraih ponselnya untuk segera menyusun serangan balik bersama Dio.
Rimba menyambar kunci mobilnya di atas meja, lalu melangkah cepat menghampiri Dayang yang masih duduk di tepi tempat tidur.
Sebelum melangkah keluar pintu, pria itu membungkukkan tubuhnya, meraih lembut kedua pipi Dayang, lalu mencium bibir Dayang dengan begitu hangat, dalam, dan penuh kepastian.
Sebuah ciuman yang menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan pengorbanan wanita yang dicintainya itu sia-sia.
"Tunggu aku dan jangan ke mana-mana," bisik Rimba tepat di depan wajah Dayang, matanya menatap tajam penuh tekad yang tak tergoyahkan.
Dayang menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tulus yang memberikan dorongan energi terbesar bagi Rimba.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Aku tunggu kamu di sini."
Rimba mengusap lembut kening Dayang sekali lagi, lalu berbalik dan berlari kecil melangkah keluar dari apartemen.
Langkah kakinya yang mantap bergema di sepanjang koridor menuju area parkir.
Begitu masuk ke dalam mobil mewahnya, Rimba menyalakan mesin yang menderu kencang.
Aura keputusasaan yang sempat melingkupinya kini menguap sepenuhnya, berganti menjadi ketegasan seorang pimpinan yang siap menghancurkan permainan licik para musuhnya.
Rimba langsung menyambungkan ponselnya ke speaker mobil dan menekan tombol panggilan cepat ke nomor Dio saat mobilnya melaju kencang membelah jalanan kota.
"Dio! Siapkan seluruh tim hukum, periksa rekaman radar pelabuhan, dan lacak aliran dana utusan musuh yang menyusup ke pesisir! Hari ini kita ratakan mereka!" perintah Rimba dengan suara dingin yang penuh ancaman.
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,
bahagia selalu dayang dan kluarga ,,
kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂