Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suara raungan mesin kendaraan lapis baja mendadak tersedak saat mereka memasuki perbatasan kota mati Sektor Utara. Jalur utama yang seharusnya menjadi akses tercepat menuju stasiun relay kini tertutup rapat oleh ratusan bangkai mobil yang saling bertumpuk dan sisa barikade kawat duri yang membatu.
"Hayden, lihat ke depan!" seru Dr. Helena panik dari kabin belakang.
Dari balik reruntuhan gedung dan bayang-bayang jalan layang, puluhan figur manusia berlari pincang keluar. Kulit mereka membusuk, bergerak dengan dorongan lapar yang liar. Jumlah mereka terus bertambah ratusan dari berbagai sudut gang, mengepung kendaraan dari segala arah.
"Infeksi massal... mereka terjebak di zona karantina tua!" pekik Dr. Helena.
Hayden menginjak pedal gas, mencoba menerobos kerumunan makhluk terinfeksi itu. *Brak! Brakk!* Tubuh-tubuh terinfeksi menghantam bumper depan kendaraan, namun tumpukan bus yang melintang di depan membuat jalan benar-benar tak bisa dilalui. Kendaraan taktis mereka mulai tertahan, terkepung rapat oleh gelombang zombie yang memukul-mukul kaca lapis baja.
"Jalur ini buntu! Kita harus putar balik!" tegas Hayden seraya membanting stir ke kiri dan memundurkan kendaraan secara ekstrem. Ban bersuara mencicit keras, melindas apapun di belakangnya demi keluar dari kepungan.
Namun, guncangan hebat akibat menerobos barikade membuat sistem transmisi bawah kendaraan mengeluarkan asap tebal dan mendadak mogok persis di mulut gang sempit, beberapa ratus meter dari area bahaya zombie.
"Mesinnya mati!" geram Hayden. Ia mengambil senapan serbunya. "Kalian tetap di dalam. Aku akan periksa komponen mesin di luar."
Hayden melompat keluar, membuka kap mesin yang membara di bawah rintik hujan malam. Namun, di saat fokus Hayden teralih pada perbaikan cepat dan suara erangan zombie yang masih bergema di kejauhan, bayangan hitam bergerak cepat dari atas atap gang.
*CTAK!*
Satu tembakan stun elektro-magnetik menghantam dada Hayden, membuat tubuhnya kejang dan ambruk ke tanah.
Sebelum Dr. Helena sempat bereaksi, pintu belakang kendaraan didobrak paksa dari luar oleh sekelompok pria bertopeng berpenampilan liar. Mereka adalah komplotan bandit penjarah Sektor Utara.
"Lihat apa yang kita dapat! Wanita, anak kecil, dan koper mahal!" tawa seorang bandit berkepala botak seraya menyemprotkan gas pembius ke dalam kabin.
"Lepaskan mereka!" teriak Dr. Helena mencoba melawan, namun ia dihantam hingga pingsan.
Fiora yang masih lemah akibat keguguran berusaha melindungi Leo dengan tubuhnya. "Jangan sentuh anak ini!" jeritnya parau, mencoba meraih pisau di pinggangnya.
Namun rasa pening pembius dengan cepat menguasai kesadarannya. Bandit-bandit itu menyeret Fiora dan Leo secara paksa keluar dari kabin, menyambar koper baja berisi vaksin Genesis, lalu menghilang ke dalam kegelapan lorong-lorong kota mati.
Kesadaran Hayden perlahan kembali. Dengan tubuh lemah dan pandangan kabur, ia merayap di atas tanah yang basah. Kabin kendaraan belakang sudah terbuka kosong. Fiora, Leo, dan koper vaksin telah lenyap.
Hayden mencengkeram tanah dengan jemari berdarah, matanya menyala merah oleh kemarahan murni. Fiora dan Leo telah diculik, dan ia akan memburu setiap bandit di kota ini hingga ke sarangnya.
Hayden mencengkeram kemudi dengan jemari memutih, menahan kejang sisa efek tembakan stun yang masih menjalar di sarafnya. Di kabin belakang, Dr. Helena sibuk mengikat kepala sendiri yang bocor akibat hantaman para bandit, tangannya bergetar hebat saat mencoba mengakses peta satelit lokal melalui pemindai portabel.
"Nggak ada sinyal pelacak!" seru Dr. Helena frustrasi, menepuk layar pemindai yang hanya menampilkan pola *noise* statis. "Sinyal radio di wilayah ini sepenuhnya diacak. Sistem navigasi darat milik bandit-bandit itu pasti menggunakan frekuensi tertutup. Kita nggak punya cara untuk melacak ke mana mereka membawa Fiora, Leo, dan koper vaksin itu!"
Hayden menggeram dingin, mengepal jemarinya hingga terdengar bunyi retakan sendi. Ia memungut pelacak inframerah dari rompinya, namun pemindai biologis itu pun tak berguna—gang-gang sempit Sektor Utara terlalu padat oleh reruntuhan besi yang memantulkan radiasi panas.
Belum sempat Hayden menentukan arah pencarian manual, raungan mengerikan memecah kegelapan malam.
Dari kegelapan lorong dan balik jendela gedung-gedung tua, erangan pelan berganti menjadi jeritan melengking yang memekakkan telinga. Gerombolan terinfeksi yang tadinya bergerak lamban di siang hari kini mengalami mutasi biologis mendadak akibat paparan udara malam Sektor Utara. Mata mereka menyala kemerahan, otot-otot tubuh mereka membengkak, dan gerak-gerik mereka menjadi luar biasa agresif serta cepat.
"Zombie Muatan..." bisik Dr. Helena dengan wajah pucat pasi. "Virus di sektor ini terkontaminasi limbah kimia. Pada malam hari, laju metabolisme mereka melonjak sepuluh kali lipat. Mereka berburu dalam kelompok besar dan menyerang apapun yang bernapas!"
Satu makhluk terinfeksi berukuran raksasa melompat dari atap lantai dua, menghantam kap depan kendaraan lapis baja hingga penyok berat. *Brak!*
Hayden membanting setir dan menembak mati makhluk itu tepat di kepala melalui celah kaca, namun puluhan makhluk serupa mulai bermunculan dari segala sudut gang, merayap cepat di dinding gedung bagai laba-laba raksasa.
"Kita nggak bisa melakukan pencarian malam ini, Hayden!" teriak Dr. Helena mengatasi gemuruh pukulan di badan mobil. "Menembus kota dalam kondisi seperti ini sama saja bunuh diri! Kita bahkan nggak bakal bertahan lima menit di luar mobil!"
Hayden menatap kegelapan lorong tempat Fiora dan Leo diseret pergi. Dadanya bergemuruh oleh campur aduk antara amarah dan rasa bersalah yang membakar. Namun sebagai mantan prajurit, logikanya tahu Dr. Helena benar. Membuka pintu mobil sekarang hanya akan membuat mereka berdua mati konyol sebelum sempat menyelamatkan Fiora.
"Sialan!" raung Hayden seraya memukul roda kemudi.
Ia terpaksa mengunci seluruh sistem keamanan kendaraan taktis, mematikan seluruh lampu dan mesin untuk menyamarkan keberadaan mereka. Di dalam kabin yang gelap dan dingin, Hayden dan Dr. Helena hanya bisa terpaku mendengarkan raungan liar ribuan Zombie Muatan yang menguasai jalanan malam, sementara Fiora dan Leo makin jauh tenggelam di sarang para bandit.
Di dalam sebuah gudang tua bekas pabrik pengolahan limbah yang temaram, bau karat, minyak, dan darah menyengat udara. Lampu gantung yang remang-remang berayun pelan, memancarkan bayangan panjang di antara barikade kontainer dan tumpukan besi tua.
Fiora terkulai di lantai dingin dengan tangan terikat rantai tebal ke pilar besi. Tubuhnya masih sangat lemah, rasa nyeri di perutnya terus menggigit, tetapi pandangannya tetap mengunci rapat ke arah Leo yang terikat di kursi kayu tak jauh darinya.
"Lepaskan anak itu... Dia tidak tahu apa-apa!" suara Fiora parau namun penuh ancaman.
Seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular di sepanjang lehernya—pemimpin komplotan bandit itu—melangkah mendekat. Di tangannya, ia memegang koper baja berisi sampel vaksin Genesis yang telah berhasil mereka bobol paksa.
"Diam, Perempuan!" bentak sang ketua bandit seraya mengangkat salah satu tabung cair biru bening ke arah lampu. "Kami tahu barang apa ini. Aegis Corporation menawarkan imbalan ribuan ton pasokan makanan dan senjata bagi siapa saja yang menemukan sampel antibodi ini!"
Ia lalu berpaling menatap Leo, menyunggingkan senyum licik yang memamerkan deretan giginya yang kuning.
"Dan bocah ini... mukanya ada di setiap lembar poster buronan bernilai tinggi milik Aegis. Kalian berdua adalah tiket emas kami untuk keluar dari neraka Sektor Utara ini."
Leo gemetar ketakutan, air mata menetes di pipinya yang kotor, namun ia berusaha tidak menjerit saat menatap Fiora. "Tante Fiora..."
"Jangan sentuh dia!" jerit Fiora, menegang menahan sakit saat rantai besi menekan pergelangan tangannya hingga berdarah.
Sang ketua bandit tertawa mengejek, lalu menoleh ke arah anak buahnya yang berjaga di dekat jendela baja yang tertutup rapat. Di luar, suara erangan dan cakaran ribuan Zombie Muatan terus bergema menghantam dinding luar gudang.
"Nikmati malam kalian," pangkas ketua bandit itu dingin seraya menyimpan kembali tabung vaksin ke dalam koper. "Begitu fajar tiba dan zombie-zombie brengsek di luar tidur, kita bakal serahkan kalian langsung ke pasukan penjemput Aegis."