NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Fajar Tanpa Bayangan

Langit ibu kota pagi itu merona jingga lembut, menyapu bersih sisa-sisa kelam yang semalaman membungkus menara pencakar langit Lu Group. Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas, keheningan merayap begitu pekat tanpa menyisakan secercah pun denyut kehidupan. Arloji saku bersepuh perak tua tergeletak kaku di atas lantai marmer putih, kehilangan detak mekaniknya untuk selamanya bersamaan dengan pendar partikel cahaya terakhir yang melayang musnah. Di ruang kerja yang kini terasa hampa itu, tidak ada lagi jejak raga seorang direktur berwibawa selain kursi kulit hitam yang kosong dan meja mahoni yang menyimpan jutaan rahasia tak bertepi.

Di belahan kota yang berbeda, jauh dari kemegahan distrik finansial, Lin Meiying berdiri di hadapan jendela kaca ruko kecilnya dengan secangkir teh herbal hangat di dalam genggaman. Hembusan angin fajar membawa masuk aroma embun pagi yang menyegarkan, bercampur dengan wangi samar kayu manis yang entah mengapa terasa begitu dekat di lubuk hatinya. Meiying menarik napas dalam-dalam, merasakan kedamaian luar biasa yang belum pernah ia kecap selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan rasa takut. Hari ini adalah hari di mana naskah cetak pertama dari novel Bayang-Bayang Mahoni karyanya dijadwalkan tiba di meja distribusi toko buku nasional.

Langkah kaki ringan berirama tenang tiba-tiba terdengar mendekati pintu depan ruko, disusul oleh ketukan sopan sebanyak tiga kali. Meiying menoleh pelan, meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu berjalan membuka pintu. Di ambang pintu, Sekretaris Han berdiri tegak mengenakan setelan jas kelabu rapi. Pria paruh baya itu membawa sebuah amplop manila tebal berstempel khusus di tangannya, namun ada sorot mata yang berbeda dari biasanya—sebuah ketenangan yang diselimuti oleh kelegaan yang mendalam.

"Selamat pagi, Nyonya Meiying," sapa Sekretaris Han dengan suara tertahan namun ramah, membungkuk hormat secukupnya. "Semoga pagi ini membawa awal yang cerah bagi perjalanan baru Anda."

"Selamat pagi, Pak Han," balas Meiying tersenyum ramah, mempersilakan pria itu masuk ke dalam ruangan. "Anda datang sepagi ini. Apakah ada dokumen penting terkait kontrak penerbitan yang harus saya selesaikan hari ini?"

Sekretaris Han melangkah masuk, meletakkan amplop manila tersebut di atas meja kerja Meiying dengan sangat hati-hati. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling ruangan yang kini dipenuhi oleh tumpukan buku catatan dan draf naskah kepenulisan.

"Bukan sekadar dokumen kontrak penerbitan biasa, Nyonya," ucap Sekretaris Han perlahan, suaranya mengandung getar emosi yang mati-matian ia kendalikan. "Hari ini, yayasan perwalian independen kita secara resmi mengalihkan seluruh hak pengelolaan portofolio aset jangka panjang secara penuh kepada Anda dan Anqi. Dengan ini, tidak ada lagi intervensi, tidak ada lagi batasan, dan tidak ada lagi pihak korporasi yang bisa mengatur masa depan keluarga kecil Anda."

Meiying terpaku mendengarkan penjelasan tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena beban hidup yang selama ini menghimpit pundaknya seolah terangkat dalam satu kedipan mata. Ia menatap lurus ke dalam bola mata Sekretaris Han, mencari sisa-sisa rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh pria paruh baya itu.

"Pak Han..." suara Meiying bergetar lirih, jemarinya meremas ujung kardigan rajut yang ia kenakan. "Selama ini, Anda selalu hadir di saat-saat paling genting dalam hidup kami. Anda melindungi kami dari bayang-bayang Zhao Tianming, mengamankan tempat tinggal kami, hingga menjamin masa depan pendidikan Anqi. Tetapi... ada satu hal yang tidak pernah Anda katakan secara jujur kepada saya."

Sekretaris Han tertegun sejenak. Alisnya yang beruban sedikit berkerut, dan napasnya mendadak terasa berat. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Selama berbulan-bulan, ia menahan diri untuk tidak membongkar batas suci yang telah ditekankan oleh sang atasan sebelum raga itu lenyap.

"Apa yang ingin Anda ketahui, Nyonya Meiying?" tanya Sekretaris Han hati-hati, menjaga agar nada suaranya tetap terkendali.

"Siapa sebenarnya orang di balik yayasan itu?" desak Meiying, tatapannya menajam namun dipenuhi oleh genangan air mata yang mendesak keluar. "Mengapa Direktur Lu Jingyan begitu peduli pada nasib seorang buruh perempuan dan anaknya yang miskin? Mengapa aroma tubuhnya, sorot matanya, dan setiap kata yang ia ucapkan selalu mengingatkan saya pada suami saya yang telah tiada... pada Chen Guowei?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari lubuk hati Meiying yang paling dalam—sebuah akumulasi dari kecurigaan, kerinduan, dan intuisi tajam seorang istri yang tidak pernah bisa dibohongi oleh logika apa pun.

Ruangan ruko itu mendadak senyap total. Tidak ada suara selain detak jarum jam dinding dan hembusan angin pagi yang menggoyang dahan pohon di luar jendela. Sekretaris Han menundukkan kepalanya perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah menetes di atas permukaan meja kerja. Ia teringat pada pesan terakhir Lu Jingyan sebelum fajar membabi buta merenggut raga sang pewaris: “Jangan pernah membuka identitas itu secara gamblang... biarkan ia mengenangnya sebagai pelindung yang membawa kedamaian, bukan sebagai jiwa yang tersiksa oleh batas waktu.”

"Nyonya Meiying..." Sekretaris Han mengangkat wajahnya, menatap Meiying dengan senyuman pahit yang menyayat hati. "Terkadang, di dunia ini, ada hal-hal yang diciptakan melampaui batas nalar manusia. Almarhum Tuan Chen Guowei adalah pria yang sangat mencintai keluarganya. Dan di mana pun jiwa beliau berada saat ini... saya bersumpah, beliau hanya ingin melihat Anda tersenyum bahagia di bawah cahaya matahari, tanpa harus terseret kembali ke dalam kegelapan masa lalu."

Jawaban itu bukanlah penyangkalan, melainkan sebuah pengakuan terselubung yang menghantam pertahanan emosional Meiying bagaikan badai. Isak tangis yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah memenuhi ruangan kecil itu. Meiying menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia tidak lagi butuh bukti fisik atau dokumen pengadilan; hatinya telah lama mengetahui kebenaran mutlak itu.

Tepat pada saat isak tangis Meiying mulai mereda, pintu depan ruko diketuk dengan riang, disusul oleh suara tawa ceria anak kecil.

"Ibu...!" seru Chen Anqi sambil mendorong daun pintu hingga terbuka lebar, membawa serta tas sekolah merah mudanya. "Ibu tahu tidak? Tadi di depan gerbang sekolah, ada mobil pos yang menurunkan kotak besar berisi buku bergambar namaku dan nama Ibu! Kata guruku, buku itu sudah dipajang di toko buku pusat kota!"

Mendengar suara putrinya, Meiying segera mengusap sisa air matanya dengan cepat. Ia bangkit dari kursi, merentangkan tangannya lebar-lebar, lalu menyambut tubuh mungil Anqi ke dalam dekapannya erat-erat. Ia mencium pucuk kepala putrinya penuh kasih sayang, menumpahkan seluruh rasa syukur dan kebahagiaan yang membuncah di dalam dadanya.

"Benarkah, Sayang? Wah, anak Ibu hebat sekali," bisik Meiying lembut, suaranya masih sedikit parau namun memancarkan ketegaran yang luar biasa.

Sekretaris Han berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu membungkuk hormat kepada ibu dan anak tersebut untuk terakhir kalinya sebelum berpamitan undur diri. "Saya harus kembali ke kantor pusat, Nyonya Meiying. Segala urusan administrasi telah selesai. Selamat atas peluncuran buku Anda... Aksara Handini."

Setelah kepergian Sekretaris Han, Meiying menggandeng tangan Anqi melangkah keluar menuju teras depan ruko. Di seberang jalan, sinar matahari pagi memantulkan kilau keemasan pada papan nama toko buku besar yang baru saja membuka pintunya untuk umum. Di etalase terdepan toko tersebut, sebuah tumpukan buku bersampul elegan dengan judul Bayang-Bayang Mahoni karya Aksara Handini terpajang megah di bawah sorotan lampu pameran.

Meiying tersenyum tulus, menghirup udara pagi yang hangat, lalu menggenggam tangan putrinya erat-erat. Lembaran hidup baru telah resmi terbentang di hadapan mereka, bersih dari bayang-bayang kelam masa lalu.

Namun, di sela-sela kebahagiaan pagi itu, tanpa disadari oleh Meiying maupun siapa pun di muka bumi, sebuah bayangan transparan berwujud jubah kelabu tua melintas lembut di atas atap ruko, melebur bersama angin pagi dan meninggalkan sehelai kelopak bunga kamboja putih yang jatuh tepat di telapak tangan Meiying—sebuah tanda abadi bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, melainkan terus menjaga dari keabadian waktu.

Tiba-tiba, telepon genggam di dalam saku mantel Meiying berdering nyaring, memecah lamunannya. Meiying mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal—nomor yang tidak memiliki operator, dengan isi pesan singkat berupa satu kalimat tunggal tanpa pengirim:

“Buku yang bagus, istriku. Teruslah menulis di bawah cahaya matahari.”

Meiying membelalakkan matanya lebar-lebar, jantungnya berhenti berdetak seketika, dan napasnya tertahan saat ia mendongak menatap langit biru tanpa awan di atas sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!