**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - SENGATAN DINGIN DI RUANG KACA
Aroma khas rumah sakit—campuran yodium, alkohol antiseptik, dan uap pendingin udara yang steril—menyambut langkahku saat pintu ganda sayap barat Rumah Sakit Pusat Pertamina terbuka otomatis.
Lantai marmer putih berkilau tanpa noda di bawah temaram lampu plafon. Di sepanjang koridor sayap VVIP lantai tujuh, delapan orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam tanpa dasi berdiri mematung dalam jarak lima meter satu sama lain. Di kerah jas mereka, tersemat pin baja kecil berbentuk trisula perak. Begitu ujung sepatuku melangkah masuk ke lorong, kepala regu pengawal Varell langsung menegakkan punggungnya, menundukkan kepala empat puluh lima derajat tanpa berani menatap langsung ke arah mataku.
"Nona Besar," sapa pria itu rendah dan disiplin. "Tuan Muda Ethan baru saja selesai diperiksa oleh dokter spesialis saraf. Kondisinya sangat baik. Nyonya Maria dan Tuan Edward berada di dalam."
"Ada pihak luar yang mencoba mendekat?" tanyaku datar, tanganku membetulkan letak tas jinjing kulit hitam di pundakku.
"Dua orang pengacara yang mengaku diutus oleh kurator keluarga Arkana mencoba menyerahkan surat permohonan perdamaian satu jam yang lalu," jawabnya dingin. "Kami menyita dokumen mereka dan menyerahkannya ke tim penyidik Bareskrim di lantai bawah. Pihak keluarga Arkana tidak akan bisa melewati gerbang depan rumah sakit ini."
"Bagus. Tetap waspada. Musuh kita bukan lagi sekadar anjing jalanan yang menggonggong di depan pintu."
Aku melangkah maju, mendorong pintu kayu jati kamar rawat Presidensial 701.
Di dalam ruangan yang luasnya menyerupai griya tawang mewah itu, ketegangan yang sejak dua hari lalu mencekik keluargaku perlahan mencair. Di atas ranjang medis elektrik berlapis seprai katun putih, Ethan duduk bersandar pada tumpukan bantal. Perban putih masih membebat dahinya, dan ada memar hijau keunguan di pelipis kirinya, namun rona merah alami telah kembali ke kulit wajah pemuda delapan belas tahun itu.
Di samping ranjang, ibuku, Maria Arlena, duduk menggenggam jemari Ethan. Wajahnya yang lembut tampak sembap oleh sisa air mata, namun senyum hangat seorang ibu merekah di bibirnya saat melihat kehadiranku. Ayah berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman dalam rumah sakit, mengenakan kemeja katun abu-abu santai—sosok seorang kepala keluarga yang baru saja terbebas dari jerat maut finansial.
"Kak Nadia!" Ethan berseru serak begitu pandangan kami bertaut.
Pemuda itu berusaha menegakkan tubuhnya, namun ringisan tertahan lolos dari bibirnya saat otot dadanya yang memar tertarik.
"Jangan banyak bergerak, Ethan," ujarku cepat seraya melangkah menghampiri ranjang, meletakkan mangkuk termal berisi bubur ayam hangat yang kubawa dari rumah di atas meja nakas.
Aku duduk di tepi ranjangnya, jemariku yang dingin terulur menyentuh pipinya yang lebam, memeriksa setiap inci luka di wajah adikku dengan cermat. Denyut hangat dari kulitnya mengalir ke telapak tanganku, memberikan kepastian nyata bahwa bayangan mayat berselimut kain kafan di garis waktu pertamaku benar-benar telah kuhancurkan.
"Kamu... kamu benar-benar menabrak mobil Ryan kemarin, Kak?" bisik Ethan dengan mata membelalak lebar, nada suaranya campur aduk antara kekaguman luar biasa dan rasa ngeri yang belum sepenuhnya hilang. "Dokter dan para pria berjas hitam di luar itu... mereka bilang kalau mobil sedan Mercedes hitam itu tidak menghantam Porsche yang kukendarai tepat sebelum tikungan tebing, aku sudah terjun bebas ke dasar sungai."
Jemariku merapikan poni rambutnya yang berantakan dengan kelembutan yang jarang kuperlihatkan di hadapan dewan direksi.
"Ryan Arkana memotong selang minyak rem mobilmu sebelum menyerahkan kuncinya kepadamu di parkiran kampus, Ethan," ucapku tenang, membiarkan kebenaran itu meresap ke dalam benaknya tanpa ditutupi kebohongan pelindung apa pun. "Dia sengaja memancingmu ke jalur lingkar luar agar kematianmu tampak seperti kelalaian remaja yang ugal-ugalan. Dia berniat melumpuhkan keluarga kita secara mental sebelum menelan sisa saham Arlena Holding."
Napas Maria tercekat di tenggorokan. Ibuku menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kembali merebak di pelupuk matanya. "Tuhan... Ryan... anak yang selama ini kita jamu di meja makan keluarga kita... bagaimana bisa dia sejahat itu, Edward?!"
Ayah melangkah mendekat, meletakkan tangannya di pundak Maria yang bergetar. Sorot mata pria tua itu begitu tajam dan mengeras bagai batu karang tua yang ditempa badai.
"Ryan dan ayahnya telah menuai apa yang mereka tabur, Maria," suara Ayah terdengar berat dan final. "Darmawan terbaring koma di bawah pengawasan jaksa, dan Ryan akan menghabiskan masa mudanya di balik jeruji besi Cipinang tanpa jaminan penangguhan penahanan. Pagi tadi, seluruh utang dan jerat konsorsium mereka telah disapu bersih oleh Nadia."
Ethan menatapku lekat-lekat, matanya yang jernih menyiratkan kedewasaan baru yang ditempa oleh perjumpaan singkat dengan maut. "Kak... pria tinggi berjas hitam yang berdiri bersamamu di jembatan layang kemarin... siapa dia sebenarnya? Pengawal di luar memanggilnya 'Tuan Besar Varell'."
"Sekutu kita, Ethan," jawabku singkat seraya menyuapkan sesendok bubur hangat ke bibirnya. "Pria yang memegang separuh kendali pelabuhan bersama keluarga Arlena mulai hari ini. Kamu tidak perlu mencemaskan urusan kantor lagi. Fokusmu sekarang hanyalah memulihkan tulang rusukmu dan menyelesaikan kuliahmu dengan baik."
Ethan menelan bubur itu perlahan, lalu tersenyum tipis—senyum jahil khas adik laki-lakiku yang dulu begitu kurindukan di kehidupanku yang sepi. "Asal Kakak tidak menjodohkanku dengan putri keluarga konglomerat lain demi bisnis, aku akan patuh seratus persen."
Tawa kecil yang hangat akhirnya pecah di dalam kamar rawat itu, menghapus sisa-sisa aroma teror yang membayangi kami sejak kemarin subuh.
Namun di tengah kehangatan itu, ponsel satelit berenkripsi milikku yang tersimpan di dalam tas jinjing bergetar pelan.
Tiga getaran pendek berirama khusus.
Aku menarik ponsel layar sentuh hitam itu keluar, melirik layarnya yang menyala di balik telapak tanganku. Sebuah pesan teks singkat berkode Alpha-Zero dari Bastian terpampang di sana:
"Satu paket diplomatik tanpa stempel pos baru saja tiba di griya tawang Tuan Besar di kawasan SCBD. Dikirim langsung melalui kurir bayangan dari Zurich, Swiss. Di dalamnya terdapat surat segel lilin bertuliskan nama Helena Arlena dan nomor brankas rahasia Bank Pictet. Tuan Besar menunggu Nona di lantai enam puluh tepat pukul tujuh malam."
Jantungku berdegup sepersekian detik lebih kencang.
Helena Arlena. Zurich. Bank Pictet.
Nama ibuku kembali muncul dari jantung perbankan rahasia Eropa. Misteri di balik kebakaran tahun 1996 dan siapa sebenarnya pria yang menjadi ayah biologisku... tabir itu mulai tersingkap lembar demi lembar, bergerak menuju babak konspirasi yang jauh lebih masif daripada sekadar persaingan lokal di Selat Malaka.
Aku bangkit dari kursi tepi ranjang, merapikan blazer sutra merah anggurku dengan gerakan anggun yang tenang.
"Ayah, Ibu," pamitku seraya mencium pipi Maria dan memeluk pundak Ayah singkat. "Ada dokumen akuisisi pelabuhan barat yang harus kutandatangani bersama tim legal Varell petang ini. Aku akan kembali ke rumah sakit besok pagi."
Edward Arlena menatapku lurus. Ada kerutan kekhawatiran yang dalam di keningnya, namun juga rasa percaya mutlak yang tak lagi tergoyahkan. "Jaga dirimu, Nadia. Adrian Varell adalah pedang bermata dua yang sangat tajam. Jangan biarkan dirimu terluka oleh bilah yang kamu genggam sendiri."
"Saya tahu cara memegang gagang pedang itu tanpa menyentuh mata pisaunya, Yah," bisikku pelan sebelum berbalik dan melangkah keluar dari kamar rawat.
Pukul sembilan belas lewat lima belas menit malam.
Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta bermandikan cahaya neon keemasan dan lampu lalu lintas yang merayap padat bagai aliran lava cair di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang.
Lift pribadi berkecepatan tinggi dengan dinding kaca tembus pandang melesat naik tanpa henti, membelah enam puluh lantai menara The Varell Residences hanya dalam tempo empat puluh detik. Tekanan udara yang berubah membuat telingaku sedikit berdenging saat lift berhenti dengan dentingan halus di lantai teratas.
Ting.
Pintu lift bergeser membuka, langsung menyajikan pemandangan ruang tamu griya tawang (penthouse) seluas delapan ratus meter persegi dengan langit-langit setinggi enam meter.
Dinding kaca raksasa di sekeliling ruangan memperlihatkan panorama cakrawala ibu kota tiga ratus enam puluh derajat. Lampu-lampu kota yang berpendar di bawah sana tampak tak lebih dari hamparan permata yang tercecer di atas beludru hitam. Lantai marmer hitam Italia yang dipoles cermin memantulkan temaram cahaya perapian gas modern yang menyala tenang di sudut ruangan.
Udara di dalam ruangan hangat, sarat akan aroma kayu cedarwood, tembakau cerutu tua, dan wangi bunga sedap malam liar yang ditaruh di dalam vas kristal di atas meja konsol.
Tidak ada pengawal, tidak ada pelayan. Keheningan di griya tawang ini begitu pekat dan intim, terisolasi sempurna dari hiruk-pikuk bursa saham yang sedang bergolak di bawah kaki kami.
Aku melangkah masuk, tumit sepatu hak tinggiku berketuk teratur di atas marmer hitam.
Di depan jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah selatan, berdiri Adrian Varell.
Pria itu telah menanggalkan setelan jas kerjanya. Kini ia hanya mengenakan celana panjang kain wol hitam berpotongan pas badan dan kemeja sutra hitam longgar dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan bidang dadanya yang padat dan urat lehernya yang kokoh. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi brendi berputar lambat, memantulkan lidah api perapian.
Mendengar ketukan langkahku, Adrian perlahan membalikkan tubuhnya.
Tatapan matanya yang hitam kelam menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku telah mengganti pakaianku sebelum tiba di sini: mengenakan gaun malam sutra bertali tipis (slip dress) berwarna hijau zamrud gelap yang melekat sempurna mengikuti setiap lekuk tubuh rampingku, dengan punggung yang terbuka rendah hingga batas pinggul. Gaun itu bergerak gemerisik halus di sekitar betisku saat aku melangkah mendekat.
Ada kilatan gelap yang seketika membakar dasar mata Adrian saat melihat penampilanku. Tanda kemerahan samar di atas tulang selangkaku yang ia tinggalkan subuh tadi tampak berkilat halus di bawah pendar lampu dinding temaram.
"Tepat waktu, Nona Arlena," suara bariton Adrian bergetar rendah, parau bagai getaran dawai selo di tengah malam.
"Saya tidak pernah membiarkan sekutu saya menunggu terlalu lama jika ada kabar dari Zurich di atas mejanya, Tuan Varell," sahutku tenang, berhenti tepat tiga langkah di hadapannya.
Adrian meletakkan gelas brendinya di atas meja marmer rendah di sampingnya. Pria itu tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang panjang dan mantap memangkas jarak yang tersisa di antara kami tanpa suara.
Setiap inci langkahnya membawa tekanan gravitasi maskulin yang luar biasa menekan. Ketika ia berhenti tepat di depanku, aroma panas tubuhnya, tembakau dingin, dan wangi brendi mahal seketika mengurung seluruh inderaku. Pria itu begitu tinggi dan menjulang, membuatku harus sedikit mendongakkan kepala untuk menatap rahangnya yang kokoh dan bibirnya yang tegas.
"Paket dari Zurich itu tidak akan lari ke mana-mana malam ini, Nadia," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan getaran gelap yang tak lagi ia bungkus dalam formalitas korporasi.
Tangannya yang besar dan hangat terangkat perlahan. Ujung jemarinya yang kapalan menyentuh bahu telanjangku yang dingin, lalu jemari itu merayap turun dengan sentuhan yang sangat lambat, menelusuri lekuk lenganku hingga ke pergelangan tangan, mengirimkan gelombang panas yang menyengat langsung ke kesadaranku.
Napas di tenggorokanku tertahan sejenak. Panas kulitnya terasa bagai bara api yang menyulut kain sutra tipis yang kukenakan.
"Lalu apa yang ingin Anda selesaikan terlebih dahulu, Tuan Varell?" bisikku balik seraya mengangkat alisku, tatapan mataku menyipit menantang kedalaman iris matanya yang kelam.
Sudut bibir Adrian terangkat membentuk seringai tipis yang begitu memikat sekaligus mematikan.
Tanpa sepatah kata pun, tangan kanannya meluncur ke lekuk punggung bawahku. Kulit telapak tangannya yang panas dan kasar mencengkeram pinggang rampingku dengan kekuatan mutlak yang menarik tubuhku maju hingga membentur dadanya yang bidang tanpa menyisakan celah udara sedikit pun.
DEG.
Sensasi pertemuan tubuh kami begitu intens hingga sebuah helaan napas tanpa sadar lolos dari bibirku. Kain sutra hijau zamrud gaunku yang tipis tak mampu menahan panas tubuhnya yang membakar. Aku bisa merasakan kerasnya otot-otot dadanya menekan dadaku, merasakan detak jantungnya yang berdentum berat dan berkuasa.
"Menagih utang makan malam privat yang kamu janjikan di helipad pagi tadi," bisik Adrian serak tepat di depan bibirku.
Hawa napasnya yang panas membelai bibir merah alamiku. Matanya yang gelap terpaku menatap bibirku, seolah menuntut upeti dari tanah taklukannya.
"Saya belum melihat meja makan ditata di ruangan ini, Adrian," gumamku serak, jemariku bergerak naik menyentuh dada kemeja sutranya yang terbuka, merasakan panas kulit di balik kain tipis itu.
"Karena perayaannya bukan di atas meja, Nadia," desis Adrian rendah.
Sebelum aku sempat membalas kalimat itu, bibir Adrian telah menghantam bibirku dalam sebuah ciuman yang luar biasa menuntut dan menyesakkan napas.
Tubuhku tersentak ke belakang dalam cengkeramannya saat ciuman itu merangsek tanpa kompromi, menuntut kepatuhan mutlak yang seketika meluluhkan seluruh pertahanan logikaku. Ciuman malam ini adalah api pembakaran lambat yang menghanguskan akal sehat, sebuah penyatuan dua jiwa pemburu yang saling mengklaim kekuasaan atas satu sama lain.
Tanganku meremas kain kemeja sutranya erat-erat saat cengkeraman tangannya di pinggangku semakin mengencang. Ia mengangkat tubuhku sedikit dari lantai marmer sebelum melangkah mundur, membimbingku menuju dinding kaca raksasa di tepi ruangan.
Punggungku membentur permukaan kaca tebal yang dingin.
Perbedaan suhu yang ekstrem antara dinginnya kaca di punggungku dan panas membara dari tubuh Adrian yang menekan di depanku membuat seluruh saraf di tubuhku bergetar hebat. Di balik punggungku, ribuan lampu pencakar langit Jakarta terbentang megah di bawah kegelapan malam, menjadi saksi bisu atas penyerahan diri dan pertempuran intim yang meledak di puncak tertinggi kota ini.
Adrian melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu berat di ceruk leherku.
Bibirnya yang panas menyusuri garis rahangku yang tegas, menuruni leher jenjangku dengan kecupan-kecupan yang tegas dan sensual, memperdalam segel kepemilikannya dengan intensitas yang membuat kepalaku terkulai bersandar di atas bahunya yang keras.
Ketegangan di antara kami beresonansi seiring gerakan tangannya yang menyapu lekuk pinggulku, menembus batas kesopanan dan menarik batas-batas dominasinya lebih jauh. Setiap sentuhannya menegaskan bahwa di atas sana, di lantai enam puluh yang menyentuh awan hitam, dua penguasa baru kota ini saling menaklukkan dalam pertarungan kenikmatan yang menuntut penyerahan diri seutuhnya.
Waktu seolah melambat ketika Adrian merengkuhku dalam dekapan yang tak memberi celah untuk mundur. Di tengah remang cahaya perapian, tak ada lagi negosiasi korporasi; hanya ada ikatan murni antara dua jiwa yang terikat oleh sumpah darah dan takdir pembalasan dendam yang sama.
Bibirnya kembali menawan bibirku, membawa kesadaranku melayang ke dalam pusaran gairah pekat yang memutus seluruh belenggu masa lalu. Hembusan napas kami yang menyatu menjadi satu-satunya melodi yang menggema di dalam ruangan, membuktikan bahwa malam itu, kami adalah kaisar dan ratu yang berkuasa mutlak.
Tiga puluh menit berlalu dalam kebisuan yang sarat akan ikatan baru yang tak terucapkan.
Adrian membuka matanya perlahan, mengelus rambutku yang bersandar di bahunya, sebelum menatap ke arah meja konsol marmer di tengah ruangan.
Di sana, di samping vas bunga sedap malam, tergeletak sebuah kotak kayu kenari kecil berpelindung segel lilin merah dengan lambang singa bertongkat emas—segel resmi perbankan privat tertua di Swiss, Bank Pictet & Cie.
"Waktunya membuka warisan rahasia ibumu, Nadia," suara bariton Adrian kembali mengalun rendah dan dingin, membawa kami kembali ke atas medan perang korporasi yang menanti di depan mata.
Aku mengangkat kepalaku perlahan dari dadanya, menatap kotak kayu kenari itu dengan sepasang mata yang kembali tajam berkilat bagai kristal es.
Misteri kelahiranku... rahasia darah yang membuat ibuku dibakar hidup-hidup sembilan belas tahun yang lalu... akhirnya berada dalam jangkauan tanganku.
Dan dengan pria paling berkuasa di negeri ini yang kini berdiri mendampingiku sebagai sekutu abadi... tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup menghentikan langkah pembalasan dendamku.
Bersambung...