Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Episode 1

Bab 1

Sudah Puas Memeluknya?

Kartu tanda penduduk di tangan pria itu membuat darah Karina membeku.

Di depan meja resepsionis Hotel Astoria Jakarta, Andri berdiri sambil merangkul pinggang seorang perempuan muda. Jari perempuan itu memainkan kancing kemejanya dengan akrab. Terlalu akrab untuk disebut rekan kerja.

Padahal lima belas menit lalu, suaminya baru menelepon.

"Aku masih di Surabaya. Besok siang baru pulang," katanya dengan suara selembut biasa.

Karina bahkan sempat mengingatkan agar dia tidak lupa makan.

Sekarang Andri menyerahkan KTP kepada resepsionis, menerima kartu kamar, lalu mengecup pelipis perempuan di sisinya.

Suara tawa rekan-rekan kantor di belakang Karina mendadak menjauh. Denting sendok dari restoran buffet lantai enam masih memenuhi lobi, tetapi telinganya berdenging seperti baru dihantam sesuatu.

"Bu Karina, jadi ikut mobil saya?" tanya seorang rekan.

Karina menggenggam tali tasnya sampai buku-buku jarinya memutih. "Nggak usah. Aku sudah pesan Grab. Kalian duluan saja."

Senyumnya terasa seperti retakan di atas kaca.

Satu per satu rekannya pergi. Karina tetap berdiri di dekat pilar marmer, menyaksikan Andri dan perempuan itu berjalan menuju lift. Lengan suaminya tidak pernah lepas dari pinggang ramping tersebut.

Sepuluh tahun.

Mereka pacaran sejak kuliah, menikah setelah lulus, lalu pindah ke Jakarta dengan dua koper dan tabungan yang bahkan tidak cukup untuk uang muka rumah. Karina ikut membayar cicilan mobil, mengurus kebutuhan rumah, dan menelan komentar Mama Kusnadi setiap kali meja makan kembali sepi tanpa tangis bayi.

Delapan tahun pemeriksaan. Delapan tahun obat, vitamin, dan harapan yang selalu runtuh di akhir bulan.

Andri pernah menggenggam tangannya di ruang praktik dokter dan berkata, "Nggak apa-apa. Kita berdua juga keluarga."

Ternyata keluarga baginya bisa diganti di meja resepsionis hotel.

Pintu lift hampir menutup. Karina memaksa kakinya bergerak.

"Andri!"

Suaranya tertahan di tenggorokan. Pria itu menoleh sedikit, seolah mendengar sesuatu. Karina panik dan berbelok tajam.

Tubuhnya menghantam dada seseorang.

Koper beroda jatuh. Karina kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai. Sakit menjalar dari tulang ekornya, tetapi dia tidak sempat mengeluh. Dari sudut matanya, dia melihat Andri masih menoleh ke arah lobi.

Tanpa berpikir, Karina bangkit dan menerjang orang asing di depannya. Kedua lengannya memeluk pinggang pria itu erat-erat. Wajahnya menempel pada kaus hitam yang beraroma cedar dan udara kabin pesawat.

Tubuh yang dipeluknya menegang.

"Tolong," bisik Karina. "Jangan bergerak."

Sebuah tangan terangkat, ragu sesaat, lalu mendarat ringan di punggungnya.

Karina berani melirik dari balik bahu pria itu. Pintu lift telah tertutup. Andri hilang.

Napas yang sejak tadi terjebak di dadanya akhirnya lepas. Bersamaan dengan itu, dia menyadari betapa memalukannya posisi mereka.

Pria yang dipeluknya tinggi sekali. Rambutnya berwarna abu-abu pucat, sebuah anting hitam menghiasi telinga kiri, dan garis tato menyembul dari balik lengan kaus. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang baru turun dari penerbangan panjang. Matanya gelap, sedikit malas, tetapi jelas sedang menertawakannya.

"Sudah puas memeluknya?"

Karina tersentak dan langsung mundur. "Maaf. Aku... saya kira kamu orang lain."

"Kalau orang lain, boleh dipeluk selama itu?"

Panas menjalar sampai ke telinganya. "Maafkan saya."

Dia berjongkok hendak mengambil koper pria itu, tetapi tangannya gemetar terlalu hebat. Pemuda tersebut lebih dulu menarik gagang koper, lalu menatap ke arah lift yang baru saja tertutup.

"Kabur dari siapa?"

"Bukan urusanmu."

"Galak juga." Sudut bibirnya naik. "Padahal tadi nempel seperti takut aku direbut orang."

Karina tidak menjawab. Dia menekan tombol lift berkali-kali. Angka digital bergerak lambat dari lantai dua puluh.

Saat pintu terbuka, lift itu kosong. Dia masuk dan memandangi deretan tombol. Andri naik ke lantai berapa?

Sepuluh? Dua belas? Dua puluh?

Karina menekan lantai enam dengan jari dingin, kembali ke restoran tempat acara kantor berlangsung. Begitu pintu lift terbuka, dia bergegas ke toilet perempuan.

Di depan wastafel, wajahnya terlihat seperti milik orang lain. Pucat. Bibir tanpa warna. Maskara di ujung mata mulai luntur meski dia belum menangis.

Jangan menangis sebelum tahu semuanya.

Karina membuka ponsel dan menekan nama suaminya.

Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua baru tersambung.

"Kenapa, Rin? Aku lagi makan sama klien."

Suara Andri terdengar santai. Ada musik pelan di belakangnya.

"Aku cuma kangen," kata Karina, memaksa suaranya tetap ringan. "Kamu benar di Surabaya?"

"Iya. Kenapa sih?"

"Ingat hotel pertama kita waktu honeymoon?"

Andri tertawa kecil. "Tiba-tiba bahas itu."

"Kamar kita waktu itu 1001, kan? Kamu sampai salah masuk lantai."

"Bukan. Yang 1001 itu sekarang. Waktu honeymoon kita 801." Jawaban itu meluncur tanpa curiga. Lalu suaranya berhenti.

Karina menutup mata.

Dari sambungan telepon terdengar suara perempuan, manja dan dekat sekali.

"Aa, makanannya sudah datang. Cepat sini."

Andri buru-buru berkata, "Aku telepon lagi nanti."

Sambungan terputus.

Ponsel nyaris terlepas dari tangan Karina. Dia mencengkeram tepi wastafel. Ubin di bawah kakinya seperti bergerak, tetapi kali ini dia tidak membiarkan dirinya jatuh.

Bertahun-tahun lalu, saat mereka baru menikah, Karina pernah berkata sambil bercanda bahwa pengkhianatan adalah satu hal yang tidak akan pernah dia maafkan.

"Kalau kamu selingkuh, aku akan membuatmu membayar semuanya."

Andri memeluknya dari belakang dan tertawa. "Aku nggak akan sebodoh itu."

Ternyata dia memang sebodoh itu.

Karina membasuh wajah, merapikan rambut, lalu keluar dari toilet. Dia tidak lagi menunggu lift. Angka sepuluh sudah tertanam di kepalanya.

Di lantai sepuluh, lorong berkarpet begitu sunyi sampai bunyi hak sepatunya terdengar seperti hitungan mundur. Nomor kamar berurutan di sisi kanan.

Setiap langkah menarik satu kenangan ke permukaan. Andri menyuapinya bubur saat demam. Andri menunggu di luar ruang pemeriksaan ketika dokter pertama kali menyebut peluang hamilnya nyaris tidak ada. Andri tidur membelakanginya setelah Mama Kusnadi kembali bertanya kapan mereka memberi cucu.

Mana yang sungguh-sungguh? Mana yang sekadar kebiasaan seorang lelaki yang terlalu pengecut untuk pergi?

Karina membuka galeri ponsel. Foto terakhir mereka diambil tiga bulan lalu, pada ulang tahun pernikahan. Andri tersenyum sambil memegang kue murah yang dibeli di minimarket. Di balik foto itu, mungkin sudah ada pesan-pesan yang dihapus, alasan lembur, dan tiket perjalanan yang tidak pernah ditunjukkan kepadanya.

Jempol Karina berhenti di tombol rekam suara. Dia menyalakannya, lalu memasukkan ponsel ke saku blazer. Kalau Andri kembali berbohong, malam ini kebohongan itu akan punya suara.

995.

997.

999.

Di ujung lorong, seorang pelayan mendorong troli keluar dari kamar 1001. Di atasnya ada dua piring steak, sebotol minuman, mawar merah, dan lilin makan malam yang belum sempat padam.

Karina berhenti tepat di depan pintu.

Aroma mentega dan lada hitam dari troli mengaduk perutnya. Pada ulang tahun terakhir mereka, Andri mengaku terlalu sibuk untuk makan malam di luar. Sekarang dia menyiapkan lilin untuk perempuan lain.

Pelayan itu sempat memandang wajahnya, lalu cepat-cepat menunduk. Karina tahu apa yang terlihat olehnya: seorang istri yang datang terlambat ke pesta pengkhianatannya sendiri.

Tangannya terangkat menuju bel kamar 1001.

Terpopuler

Comments

nuraeinieni

nuraeinieni

aq mampir thor

2026-10-29

0

Jane Nguyễn

Jane Nguyễn

/Smile/

2026-09-11

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!