Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ino!
# AKU INO! #
"Apa maksudmu, Axcel? Kenapa kau bukan Axcel yang kemarin kukenal, hah? Kukira itu karena kau hanya ingin kupanggil Ino saja," cerocos Sora sembari menatap pria di depannya. "Kau kan Axcel, tak perlu buat lelucon aneh begitulah. Toh, aku juga tak keberatan kalau memanggilmu Ino. Terdengar lucu dan imut."
Axcel mendengus kesal sambil melipat kedua tangan di dada. Matanya tetap terpejam, tanpa menggeser posisinya sedikit pun. Ia kembali mengingatkan Sora untuk tetap memanggilnya Ino. Sora hanya mengangguk patuh dan melanjutkan aktivitasnya memijat kening pria itu. Pandangannya lurus ke depan, seolah ada beban seberat batu meteor yang sedang bersarang di kepalanya yang mungil.
"Hei... hei... hei... Apa kau berusaha meremukkan tengkorakku, Kawan?" tegur Ino tiba-tiba.
Sora tersentak dari lamunannya dan buru-buru meminta maaf. Ia sama sekali tidak merasa menggunakan tenaga dalam, paling-paling hanya sedikit menambah tekanan karena teringat kekesalannya pada Easton yang sudah merusak harinya. Lagipula, Sora hanyalah gadis dengan tenaga feminin. Bagaimana bisa tangan seimut itu menekan tubuh pria dewasa sebesar Axcel sampai kesakitan? Dan kenapa pula Axcel mendadak jadi terus-terusan menggerutu seperti anak kecil?
"Sora... apa rumahmu besar dan punya banyak kamar?" tanya Ino memutus keheningan.
Sora mengangguk cepat. Dengan penuh kebanggaan, ia memamerkan rumahnya yang bak istana, belasan kamar, kolam renang luas, bahkan landasan helikopter pribadi. Namun, belum selesai ia membual tentang aset keluarganya, Ino memotong pembicaraan dengan santai. Mengatakan bahwa ia ingin menginap di rumah Sora karena enggan pulang dan bertemu ibunya. Tanpa menunggu persetujuan, Ino langsung berdiri dan menyeret tangan Sora.
"Haaah?! What?! Tunggu... tunggu! Aku tak bisa membawamu pulang, Ino! Aku tinggal bersama orang tuaku. Bisa digantung hidup-hidup aku nanti! Inooo... tolong dengarkan aku dulu!" pekik Sora histeris.
Ino tetap melangkah riang tanpa menghiraukan rengekan Sora. Ia bahkan acuh pada tatapan heran mahasiswa lain yang berpapasan di koridor kampus.
"Haaah... haaah... Kau ini, ya... Bisa tidak jalannya pelan sedikit? Satu langkahmu itu sudah seperti seratus langkah kakiku, tahu!" keluh Sora terengah-engah begitu mereka sampai di area parkir. "Kita ini mau ke mana, sih? Kau kan masih ada satu kelas lagi? Mana boleh bolos begitu aja?"
Langkah Ino terhenti. Ia melepaskan genggamannya, lalu meraba-raba kantong celana dan jaketnya. Kunci mobil. Ia membutuhkan kunci mobilnya. Setelah meraba bagian dalam jaket, jemarinya akhirnya menemukan benda yang dicari.
"Mmm... sepertinya ini bukan mobilku, kuncinya beda," gumam Ino seraya menatap kunci di tangannya. "Hei, Sora, apa ini merek mobil baru di negaramu?"
Alis Ino bertaut saat melihat logo Benelli di kunci tersebut. Setahunya, ia selalu mengantongi kunci berlogo Porsche. Pria itu bergumam sendiri, menduga kalau sosok "Axcel" di dalam dirinya sedang bosan dan berniat ganti armada.
"Aduh, Ino, mana aku tahu! Benelli...? mungkin itu merek baru seperti katamu. Aku juga nggak paham, aku kan cuma tahu pakai aja. Coba tekan saja tombolnya, nanti kan sensornya menyala. Habis itu baru kita cari." usul Sora yang cemerlang.
Ino menepuk pelan kepala Sora lalu memuji kecerdasannya. Ajaibnya, Sora justru merasa bangga. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti dua sejoli yang frekuensi otaknya sama-sama agak bergeser. Ino mulai menekan tombol kunci. Mereka berdua menajamkan pendengaran, menantikan suara bip-bip yang familier. Namun, sudah sepuluh menit berlalu dan tak ada satu pun mobil yang menyaut.
"Inoooo... apa sensor kuncimu itu rusak? Kita sudah di sini lama sekali, panas banget lagi! Coba ingat-ingat kau parkir di sebelah mana. Parkiran kampus kan bukan cuma di sini. Ayolah, kita pindah ke Area C. Aku yakin mobilmu nggak ada di Area A dan B ini. Ayooo... rasanya aku mau pingsan!" rengek Sora sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
Ino akhirnya menurut. Mereka berpindah ke Zona C, yang artinya mereka sudah hampir mengelilingi separuh wilayah kampus Santosburgh. Di Zona C, parkiran tidak hanya berisi mobil, tetapi juga area sepeda motor.
*Bip! Bip!*
Suara sensor akhirnya menyaut dari salah satu sudut. Dengan semangat membara, Ino dan Sora berlari kecil menuju sumber suara. Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah MOGE (Motor Gede) gagah yang terparkir anggun. Dengan ekspresi melongo sambil berjongkok lelah, Ino kembali menekan tombol kunci. Motor bongsor itu merespon ramah dengan kedipan lampu sein.
"Oh my God... Ino, apa kau sedang mengerjaiku dari tadi, hah?!" jerit Sora frustrasi. "Bisa-bisanya kau lupa tadi pagi berangkat naik apa! Ini sih fix, otakmu pasti sedang cedera! Sekarang kita mau ke mana?"
Ino mengaruk keningnya yang berkerut, sementara tangan kirinya berkacak pinggang. Sora yang menatap kegelisahan Ino ikut-ikutan gelisah tanpa sebab.
"Jadi nggak...? kita jadi bolos kuliah apa nggak ini?" tanya Sora gemas.
"Iyalah, ngapain belajar? Mending kita senang-senang," jawab Ino mantap. Ia lalu terkekeh polos. "Tapi masalahnya... aku nggak bisa naik motor."
Cengiran tanpa dosa Ino sukses membuat Sora menepuk jidatnya sendiri. Baru kali ini ia melihat kasus amnesia yang sanggup menghapus keterampilan berkendara seseorang. Tak ingin rencana bolosnya gagal, Ino akhirnya membujuk Sora untuk pergi menggunakan mobil gadis itu dan meninggalkan Moge mahalnya begitu saja. Toh, kalau hilang, Axcel pasti bisa membelinya lagi.
"Yakin kau mau naik mobilku? Beneran... mau pakai ini?" tanya Sora ragu saat mereka sampai di depan mobil listriknya yang berwarna merah muda cerah. "Atau kita pakai taksi online aja? Kenapa diam begitu? Apa mobilku mencemari matamu, Ino?"
Ino bergeming bukan karena keberatan. Justru sebaliknya, dirinya terlalu kegirangan! Seumur hidupnya, ia belum pernah menaiki mobil selucu dan secantik kotak susu berjalan ini. Meskipun akan terasa sedikit sesak untuk postur tubuhnya yang jangkung, tapi tenang...Ino sudah terbiasa dengan posisi jok sportcar yang terbatas. Tanpa ragu, ia langsung meluncur duduk di kursi penumpang depan saat Sora menekan kunci otomatis.
"Jadi kita mau ke mana? Ini kali pertama aku bolos kuliah, jadi jangan buat aku menyesal, ya," ujar Sora sambil menggeser tuas transmisi.
Ino sama sekali tidak mendengarkan. Ia sibuk mengamati setiap jengkal interior mobil manis itu, memencet tombol-tombol imut, hingga membuka laci dashboard untuk memeriksa isinya. Setelah Sora mengulang pertanyaannya, Ino baru merogoh ponsel dari saku jaket, menelusuri media sosial untuk mencari tempat seru, lalu memasang titik lokasi di layar GPS mobil.
---
"Ino, kau suka main game? Apa ini seru? Bisa ajari aku? Aku belum pernah main game yang seperti ini!" seru Sora dengan mata berbinar.
Di salah satu warnet gamezone terbesar di kota Santosburgh, mereka menyewa ruang VIP. Layar lebar, kursi gaming yang empuk, serta camilan berlimpah dari vending machine menyempurnakan aksi bolos perdana Sora. Puas membantai musuh di alam virtual, petualangan berlanjut ke area permainan arcade di dalam mal hingga malam menjelang.
-----
"Ino... bukannya kau sudah setuju untuk ku antar pulang? Tapi kenapa kau malah menyalakan GPS rumahku, hah?" tanya Sora lemas.
Gadis itu terkulai di atas setir mobilnya. Efek hormon endorfin yang membumbung tinggi seharian tadi membuat fokusnya buyar. Ia sama sekali tak sadar bahwa rute yang ditunjukkan GPS tempat Ino mengotak-atik tadi adalah rute menuju rumahnya sendiri. Betapa cerobohnya!
Ino hanya terkekeh, keluar dari mobil dengan santai, lalu melangkah mantap menuju gerbang utama rumah mewah Sora.
"Inoo! Bocah gila! Apa kau mau ditembak di tempat oleh ayahku?!" bisik Sora setengah menjerit sembari mengejar Ino. "Ayo ke sini! Jangan sampai satpam rumah melihat! Hari ini ayahku sedang di rumah, pasti para pengawalnya ada di dalam. Cepat masuk!"
Sora menarik jaket Ino dan berusaha memaksanya bersembunyi di bagasi. Ino menatap bagasi mobil listrik imut itu, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana bisa badan bongsor setinggi ini dilipat ke dalam bagasi seukuran kotak tisu?!" Kaki Ino pasti akan mencuat keluar seperti isi pastel yang meluap.
Sora menghela napas berat, mengobrak-abrik kotak penyimpanan belakang, lalu menemukan selimut tebal musim dingin. Tanpa buang waktu, Sora mendorong tubuh jangkung Ino ke jok belakang dan menutupi seluruh tubuh pria itu dengan selimut.
"Selamat malam, Nona. Tumben pulang malam sekali?" sapa Pak Didi, satpam rumah Sora yang berbadan tegap. Matanya menyipit menatap gundukan mencurigakan di kursi belakang. "Itu bawa apa di belakang, Nona? Besar sekali?"
"E...eh... ini! Ini patung karya seniku untuk tugas kampus, Pak! Mau kupajang dulu di kamar!" jawab Sora tergagap dengan senyum kaku yang dipaksakan.
Beruntung, Pak Didi percaya dan langsung membukakan gerbang. Pengawasan rumah Sora memang ekstra ketat semenjak peristiwa penyusupan perampok beberapa tahun lalu. Malam ini, dewi fortuna jelas sedang berpihak pada Ino.
Dengan mengendap-endap bak pencuri profesional, Sora berhasil menyelundupkan Ino lewat pintu belakang menuju kamarnya di lantai dua.
"Haaah... haaah... Hahaha! Ternyata seru juga sesekali memacu adrenalin begini," bisik Sora begitu pintu kamarnya terkunci rapat. Gadis itu bersandar di pintu sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang. "Kau tahu, Ino? Ini pertama kalinya aku membawa cowok ke rumah seperti maling. Jantungku rasanya mau melompat keluar!"
Sora merasa seperti remaja nakal yang sukses melancarkan aksi pemberontakan kecil. Meski begitu, ia tahu ini hanya hiburan sekali seumur hidup, ia tetap tak akan rela mengorbankan masa depannya yang berharga hanya demi menjadi anak nakal permanen.
*TOK... TOK... TOK...*
"Nona... Nona Sora? Apa Nona di dalam?" suara Bibi Muna memanggil dari balik pintu. "Tadi Pak Didi bilang Nona sudah pulang, tapi Bibi tunggu di pintu utama kok tidak kelihatan? Nona mau makan malam apa?"
Sora langsung menegang. "Nggak usah Bik! Tadi Sora sudah makan di luar sama teman. Bibi istirahat aja, ya!"
"Oh, baik, Nona. Selamat malam," sahut Bibi Muna sebelum langkah kakinya menjauh.
Sora bernapas lega. Ia berbalik dan melangkah ke area kamar mandi untuk membasuh muka. Namun, matanya hampir melompat keluar saat melihat pemandangan di dalam sana. Ino sedang berdiri di depan cermin, dengan sangat teliti menempelkan sheet mask aroma stroberi milik Sora ke wajah tampannya.
"Eh... Ino?! Kau pakai masker yang mana itu?!" bisik Sora melotot, tak menyangka pria segagah Axcel ternyata telaten melakukan perawatan wajah sebelum tidur.
*TOK! TOK! TOK!*
"Sora! Sayang, buka pintunya. Ayah sedang di rumah, kenapa kau langsung masuk kamar tanpa menyapa? Buka pintunya sebentar."
Suara berat sang Ayah menggema dari balik pintu kamar. Kepanikan tingkat dewa langsung melanda Sora. Tanpa berpikir panjang, Sora mencengkeram lengan Ino dan menyeretnya paksa menuju walk-in closet, ruangan khusus tempat menyimpan koleksi baju, sepatu, tas mewah, dan area ganti pakaiannya.
"Sembunyi di sini! Jangan bersuara sedikit pun!" bisik Sora panik setengah mati sebelum berlari membukakan pintu kamar.
Ayah Sora melangkah masuk dengan pandangan curiga. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres. Beliau berjalan mengitari kamar, mengecek setiap sudut dengan mata elangnya. Hingga akhirnya, langkah kaki tegap itu mengarah lurus menuju walk-in closet.
Dan seperti yang sudah bisa kita duga bersama... tamatlah riwayat Sora.
"AGHH!"
---
⭐⭐⭐⭐⭐
*Aduh\, Sora! Lagian kepikiran dari mana menyelundupkan pria berbadan bongsor bermasker stroberi ke dalam ruang ganti?! Apakah Ayah Sora bakal langsung memanggil para satpam untuk mengeksekusi Ino di tempat? Atau... Ino bakal mengeluarkan persona ajaibnya buat ngeles? Jangan lewatkan bab selanjutnya\, ya! Siapkan mental kalian!*
See ya kiravers....❤️💫⭐