Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Hujan perlahan mereda, menyisakan gerimis tipis yang membasuh Halaman Barat Kediaman Keluarga Ye. Area ini adalah bagian paling kumuh dari seluruh kompleks klan, tempat pembuangan bagi mereka yang tak lagi memiliki nilai.
Ye Xuan menatap kedua mayat pengawal Keluarga Lin tanpa ekspresi. Dengan sisa tenaga di tubuh fisiknya yang lemah, ia menyeret kedua jasad itu dan melemparkannya ke dalam sumur tua yang sudah lama mengering di sudut halaman. Suara benturan tumpul bergema dari dasar sumur. Ia lalu menendang tumpukan jerami dan dedaunan busuk untuk menutupi bibir sumur tersebut.
Bagi seorang mantan Kaisar Dewa, membereskan jejak pembunuhan adalah insting dasar.
Baru saja Ye Xuan membasuh tangannya di genangan air hujan, derit pintu kayu tua terdengar dari arah luar halaman. Seorang gadis kecil berusia sekitar tiga belas tahun berlari tertatih-tatih menembus gerimis. Pakaiannya yang terbuat dari kain kasar basah kuyup, dan wajahnya yang kurus pucat dipenuhi kepanikan. Di pelukannya, ia melindungi sebuah bungkusan kertas cokelat agar tidak terkena hujan.
"Tuan Muda!" jerit gadis itu saat melihat Ye Xuan berdiri dengan pakaian berlumuran darah. Ia menjatuhkan bungkusan itu dan menubruk kaki Ye Xuan, air matanya tumpah bercampur air hujan. "Tuan Muda, syukurlah Anda masih hidup! Pelayan rendahan ini mendengar Tuan Lin datang dan membawa pengawal... Saya berlari ke apotek mencari obat luka, saya pikir... saya pikir..."
Melihat gadis yang menangis tersedu-sedu di kakinya, sebuah emosi asing menyelinap ke dalam hati Ye Xuan yang sedingin es. Itu adalah sisa perasaan dari pemilik tubuh aslinya.
Gadis ini bernama Qing'er. Ia adalah anak yatim piatu yang dipungut oleh ibu Ye Xuan belasan tahun lalu. Ketika seluruh klan membuang dan mencemooh Ye Xuan karena meridiannya yang cacat, hanya Qing'er yang tetap setia melayaninya, bahkan sering kali rela kelaparan dan dipukuli oleh pelayan lain demi menyembunyikan jatah makanan untuk Ye Xuan.
Ye Xuan menghela napas pelan. Ia membungkuk dan menepuk puncak kepala gadis itu.
"Berhentilah menangis. Bukankah aku berdiri di sini dengan baik-baik saja?" suara Ye Xuan terdengar tenang, namun memiliki otoritas tak terlihat yang membuat tangisan Qing'er terhenti seketika.
Qing'er mendongak, menatap mata tuan mudanya dengan bingung. Tuan mudanya selalu penakut dan sering mengutuki nasib, tetapi pria yang berdiri di hadapannya saat ini memancarkan ketenangan yang menyerupai gunung karang di tengah badai.
"Tapi... darah ini... dan Tuan Lin..." Qing'er tergagap, menyeka air matanya.
"Lin Zhentian hanya datang untuk membatalkan pertunangan. Mulai malam ini, Keluarga Ye dan Keluarga Lin tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," potong Ye Xuan datar. Ia membungkuk untuk memungut bungkusan obat yang dijatuhkan Qing'er. "Masuklah dan siapkan air panas. Aku butuh ketenangan untuk memulihkan diri. Jangan biarkan siapa pun mendekati kamarku."
"B-baik, Tuan Muda!" Qing'er mengangguk cepat, masih sedikit linglung dengan perubahan drastis sikap tuan mudanya, lalu bergegas menuju dapur kecil di samping rumah reot mereka.
Masuk ke dalam kamarnya yang redup dan lembap, Ye Xuan melepas pakaiannya yang robek dan duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras. Ia menutup matanya, mengarahkan kesadarannya ke dalam tubuh.
Pemandangan di dalam Dantiannya benar-benar mengenaskan. Sembilan meridian utamanya terputus di berbagai titik, layaknya jalan raya yang hancur lebur terkena gempa bumi. Dantiannya—pusat penyimpanan energi—kering kerontang dan penuh dengan kotoran bawaan. Di dunia kultivasi Benua Bawah, kondisi ini adalah vonis mati mutlak. Bahkan pil dewa tingkat sembilan pun akan kesulitan memperbaikinya jika fondasinya sudah serapuh ini.
Namun, di sudut bibir Ye Xuan justru terukir senyum arogan.
"Buku kuno itu tidak berbohong. Seni Sembilan Reinkarnasi Naga menuntut praktisinya untuk mati sebelum hidup, hancur sebelum utuh. Hanya Dantian yang benar-benar kosong dan meridian yang terputus total yang bisa menahan hegemoni Qi Naga Primordial."
Di kehidupan sebelumnya, Ye Xuan telah mencapai puncak Alam Dewa Sejati menggunakan teknik kultivasi ortodoks. Ketika ia menemukan Seni Sembilan Reinkarnasi Naga di sisa-sisa peninggalan era primordial, ia sudah terlalu kuat. Untuk mempraktikkannya, ia harus melumpuhkan kultivasinya sendiri, sebuah risiko yang terlalu besar saat ia sedang berada di tengah pusaran perang kekuasaan.
Kini, takdir telah memberinya lembaran baru yang sempurna.
Ye Xuan mengubah segel tangannya. Jari-jarinya membentuk postur cakar naga yang rumit, dan bibirnya mulai merapalkan mantra kuno yang bahasanya telah punah dari semesta jutaan tahun lalu.
Boom!
Udara di dalam kamar reot itu bergetar hebat. Energi spiritual langit dan bumi yang sangat tipis di Kota Awan Merah tiba-tiba tersedot dengan brutal, membentuk pusaran angin kecil yang berpusat di atas kepala Ye Xuan.
Saat helai pertama energi spiritual memasuki tubuhnya melalui pori-pori, rasa sakit yang luar biasa meledak. Rasanya seperti jutaan semut api sedang memakan daging dan menggerogoti tulangnya dari dalam. Otot-otot Ye Xuan menegang hingga urat-urat kebiruan menonjol di lehernya.
"Hancurkan yang fana, bentuk tubuh naga!" geram Ye Xuan melalui gigi yang terkatup rapat. Mantan Kaisar Dewa ini bahkan tidak mengerang sedikit pun. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pengkhianatan yang membakar jiwanya.
Energi yang masuk tidak diarahkan untuk memperbaiki meridian yang putus, melainkan digunakan sebagai godam untuk menghancurkan sisa-sisa sumbatan kotoran di dalamnya.
Krek! Krek!
Suara retakan pelan terdengar dari dalam tubuhnya. Cairan kental berwarna hitam legam dengan bau busuk yang menyengat mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah kotoran fana dan sisa racun yang selama bertahun-tahun mengendap di tubuh Ye Xuan asli.
Satu jam berlalu, lalu dua jam.
Tiba-tiba, dari dalam Dantiannya yang kosong, sebuah raungan naga ilusi yang sangat samar terdengar bergema di lautan kesadarannya. Setitik cahaya keemasan seukuran biji beras terbentuk di tengah-tengah Dantian tersebut.
Cahaya itu menyebar, mengalir melewati jalur meridian yang hancur, namun bukannya bocor, energi emas itu justru membentuk jembatan cahaya yang menyambungkan kembali jalur-jalur yang terputus dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih tangguh dari meridian manusia normal.
Ye Xuan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya sempat berkilat dengan cahaya keemasan vertikal layaknya mata naga, sebelum kembali normal.
"Alam Kondensasi Qi Bintang Satu," gumam Ye Xuan sambil mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan tenaga liar mengalir di bawah kulitnya.
Meskipun baru Bintang Satu, Qi yang mengalir di tubuhnya bukan lagi Qi spiritual biasa, melainkan Qi Naga Primordial. Kepadatan dan daya hancurnya jauh melampaui kultivator Alam Kondensasi Qi Bintang Tiga atau Empat pada umumnya. Dengan tubuh ini, mengalahkan pengawal Lin Zhentian tidak lagi membutuhkan titik akupunktur, melainkan cukup dengan adu tinju mentah.
Namun, bau busuk yang menyengat segera menyadarkannya. Seluruh tubuhnya tertutup lumpur hitam yang merupakan kotoran dari proses pembersihan sumsum.
Ye Xuan bangkit dan berjalan keluar. Qing'er rupanya sudah menyiapkan bak kayu berisi air hangat di dapur dan tertidur sambil duduk bersandar di dinding.
Tanpa membangunkan gadis itu, Ye Xuan membersihkan tubuhnya. Setelah membilas seluruh kotoran, kulitnya yang dulunya pucat dan memar kini terlihat lebih cerah, sehalus batu giok, namun otot-otot di baliknya sekeras baja.
Ia mengenakan jubah bersih yang sudah disiapkan Qing'er, lalu menatap ke arah pusat Kota Awan Merah yang mulai disinari cahaya fajar. Proses pembersihan tubuhnya belum selesai. Untuk memperkuat meridian naga yang baru terbentuk dan menembus Bintang Dua, ia membutuhkan pil obat.
"Dantianku masih terlalu lemah untuk menahan api alkimia, jadi aku tidak bisa meracik pil sendiri untuk saat ini. Aku butuh Ramuan Pengumpul Roh dan Rumput Tulang Besi," batin Ye Xuan sambil menghitung kepingan koin tembaga di kantongnya yang sangat menyedihkan.
Ia tersenyum dingin. "Sepertinya sudah saatnya mengunjungi Paviliun Obat Keluarga Ye. Sebagai Tuan Muda dari garis keturunan utama, mengambil sedikit rumput liar dari klan sendiri bukanlah sebuah kejahatan, bukan?"
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt